Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Rasa penasarannya


__ADS_3

Zayen maupun Afna hanya tersenyum mendengarnya.


"Afna, Mama dan Papa mau pulang. Apakah kamu masih ingin tetap disini? jika kamu butuh istirahat, kamu boleh pulang. Besok, kamu masih bisa untuk kembali lagi. Tapi, Mama tidak memaksamu. Hanya saja, ada janin didalam rahim kamu."


Sedangkan Afna sendiri bingung untuk memilihnya, sesekali menatap wajah suaminya dengan lesu. Seakan, dirinya tidak ingin jauh dari suaminya dan ingin selalu berada di dekatnya. Ditambah lagi, Afna sedang hamil muda. Yang kapan saja bisa berubah ubah moodnya, dan terkadang juga bisa berbanding terbalik dari kebiasaannya.


"Mama kamu tidak memaksamu untuk pulang, Afna. Hanya saja, mengkhawatirkan akan kesehatan kamu." Uap ibu mertua ikut menimpali.


"Papa mengerti dengan tatapanmu itu, Afna. Kamu masih ingin bersama suami kamu, 'kan? papa izinkan kamu untuk menginap di rumah sakit ini. Tapi, jadwal istirahat jangan sampai kamu langgar. Istirahatlah, jika sudah waktunya untuk istirahat. Dijaga kesehatan kamu, jangan memaksakan sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan kamu. Ada suami kamu, yang juga butuh istirahat yang cukup." Ucap sang ayah sebijak mungkin, dan berusaha melakukan yang terbaik untuk putri kesayangannya.


"Terimakasih, Pa." Jawab Zayen dan Afna dengan kompak.


"Yang kembar siapa, yang kompak siapa? hem!" lagi lagi Adelyn meledek saudara kembarnya dan juga kakak iparnya.


Semua yang ada didekatnya tertawa kecil, saat mendengar Adelyn yang suka meledek saudara kembarnya sendiri.


"Makanya, buruan segera menikah. Biar kamu tidak lagi meledek kita berdua, begitu." Ucap Zayen ikut meledek saudara kembarnya.


"Sabar dong, belum dipertemukan." Jawabnya dengan enteng, yang lainnya hanya tersenyum mendengarnya kecuali Afna yang hanya diam.


Sedangkan Afna tiba tiba teringat akan sesuatu yang membuatnya teriris hatinya, siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya sendiri yang bernama Kazza.


Afna masih teringat jelas dengan ucapan dari saudara kembarnya sendiri, yang tega tengah memisahkan dirinya dengan suami yang dicintainya. Meski perbuatan sang kakak ada benarnya, namun bukan dengan cara yang seenaknya melakukan rencananya.


Afna sangat menyayangkan atas perbuatan saudara kembarnya sendiri terhadap adik iparnya dengan gegabah dan emosi. Kazza melakukannya tanpa berpikir sesuatu yang akan menjadi imbasnya, siapa lagi kalau bukan adiknya sendiri dan juga rumah tangga saudara kembarnya sendiri.


Afna masih dengan posisinya, tanpa bersuara dan tatapan kedua matanya seakan entah kemana pikirannya berada.

__ADS_1


"Sayang, kamu melamun?" tanya suami sambil menepuk punggung istrinya dengan pelan. Afna sendiri dibuatnya kaget oleh suaminya yang tiba tiba menepuk punggungnya.


"Tidak, aku hanya rindu tinggal dirumah kamu yang sederhana itu." Jawabnya beralasan, sedangkan Zayen sedikit tidak percaya. Zayen merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya. Zayen sendiri belum berani meminta istrinya untuk berterus terang, Zayen akan mempertanyakannya diwaktu yang tepat, pikirnya.


"Ya sudah, Papa dan Mama mau pulang. Dijaga kesehatan kalian berdua, jika ada sesuatu yang dibutuhkan hubungi Papa dan Mama." Ucap sang ayah berpamitan, Afna dan Zayen mencium punggung milik kedua orang tua Afna secara bergantian.


Setelah kedua orang tua Afna berpamitan dengan anak dan menantu maupun ibunya Zayen dan Adelyn, tuan Tirta dan istrinya segera pulang.


Kini, tinggal lah Adelyn beserta ibunya dan Afna yang menemani Zayen di rumah sakit.


"Kalian berdua, istirahatlah. Mama dan Adelyn mau keluar sebentar. Kalian berdua jangan khawatir, sudah ada penjagaan ketat untuk kalian berdua di ruangan ini." Ucap sang ibu beralasan, karena tidak ingin menggangu pertemuan putra kesayangannya dengan istri tercintanya.


"Iya, Ma. Zayen pesan, belikan ayam geprek untuk makan siang nanti." Pinta Zayen yang sudah lama tidak menikmati ayam geprek bersama istrinya.


"Oh iya, Ma. Teh hangatnya juga ya, Ma." Ucap Zayen yang hampir lupa dengan minumannya."


Setelah Adelyn dan ibunya pergi, kini tinggal lah Afna dan Zayen yang berada didalam ruangan. Keduanya nampak terlihat bahagia, meski sebenarnya sangat sedih yang sedang Zayen rasakan. Perihal dirinya yang tidak lama lagi akan berpisah untuk sementara waktu, dan pastinya harus bertahan di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatannya dengan kasus penyelundupan barang barang illegal dan perdagangan illegal atas barang barang yang didapatkannya.


Zayen tetap berusaha untuk tenang, dan tidak menunjukkan kegelisahannya atas apa yang sedang ia pikirkan.


Sedangkan ditempat lain, ada sosok laki laki paruh baya yang sedang duduk santai didalam rumah megahnya sambil meneguk menimumannya. Ada rasa kebencian dan juga kekesalan yang sudah terpendam bertahun tahun lamanya. Susah payah ia lakukan demi ambisinya tercapai dan dapat terbalaskan, apapun ia lakukan. Meski harus mengalami kegagalan, namun tidak menyurutkan untuk menyerah.


"Sekarang! kamu boleh menang, tapi selanjutnya aku akan menghancurkan keluarga kamu dengan tanganku sendiri. Ingat! itu Alfan." Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya sangat kuat, kemudian memukulnya diatas meja.


BRAKI!!! begitulah amarahnya yang terpendam.


Hingga rela memisahkan bayi mungil dari pangkuan ibunya.

__ADS_1


Di lain sisi, Zayen yang tengah bermanja dengan istrinya. Tiba tiba terdengar ketukan pintu, Afna pun segera membukanya.


Ceklek, Afna membuka pintunya pelan.


"Paman, silahkan masuk." Ucap Afna yang lupa akan siapa yang datang.


"Kok, Paman? bukankah sekarang ini kamu sudah menjadi menantu paman? eh! maksudnya menantu Papa." Ucapnya yang juga ikutan lupa dengan panggilannya yang baru.


"Maaf Pa, Afna lupa." Jawab Afna, kemudian mencium punggung tangan milik ayah mertuanya. Zayen yang mendengarnya pun tersenyum, saat Afna yang sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan paman.


Zayen benar benar tidak menyangka, jika keluarga besarnya adalah masih saudara dari keluarga istrinya.


Tidak lama kemudian, Adelyn dan ibunya kini sudah kembali sambil menenteng pesanan yang dimintai putra kesayangannya.


"Tara ... Adelyn sudah mendapatkan ayam gepreknya." Ucap Adelyn yang tiba tiba mengagetkan.


"Awas! kalau ayam gepreknya tidak enak, kamu yang menghabisinya."


"Tenang, ayam geprek langganan Adelyn tidak mengecewakan. Rupanya selera kita sama ya, kak. Adelyn juga suka dengan ayam geprek, apalagi dengan level pedas yang super ekstra. Mantap, pokoknya."


"Hem!! begitu, ya." Jawabnya membuat Adelyn mengerucutkan bibirnya.


Afna yang melihat keakraban suaminya dengan saudara kembarnya mengingatkan dirinya dengan saudara kembarannya sendiri. Namun, hubungan pada keduanya kini sedang tidak lagi hangat. Bahkan Afna masih memendam kekesalannya terhadap saudara kembarnya, luka yang begitu dalam telah Kazza torehkan pada saudara kembarannya sendiri.


"Tuh, kan ... Kak Afna kenapa melamun?" tanya Adelyn mengagetkan. Zayen sendiri semakin penasaran dengan istrinya yang sedari tadi hanya melamun dan seperti ada sesuatu yang benar benar dipendamnya.


'Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, sayang ... tidak seperti biasanya kamu banyak melamun. Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?' batin Zayen yang kepikiran akan perubahan pada istri tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2