Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Merasa malu didepan para tamu undangan


__ADS_3

Kedua telah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi, yaitu tepatnya acara pesta peenikahan Adelyn dan Viko.


"Tuh, kan ... acaranya sudah banyak para tamu undangan. Ini semua gara gara kamu, andai saja tadi aku dijemput oleh supir papa. Yang pastinya aku tidak akan datang terlambat, sial." Gerutunya yang masih duduk dijok motor sambil berdecak kesal, Seyn langsung menoleh kebelakang dan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? memang kenyataannya, 'kan?" tanyanya seolah tidak ada salah dengan ucapannya.


"Turun, apa kamu mau duduk di atas motor sampai nih bannya meletus?" perintahnya. Kemudian Seyn segera turun, lalu masuk kedalam gedung yang sudah dipadati oleh para tamu undangan dan diikuti oleh Neyla dari belakang.


"Seyn, tunggu!!" teriak Neyla. Seyn tidak memperdulikannya, ia terus berjalan.


"Aaaawww!!!" teriak Neyla dan terjatuh. Seyn menoleh kebelakang, dan dilihatnya Neyla yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. Dengan cepat, Seyn lari mendekati Neyla yang sedang menahan sakit.


Sesampainya dihadapan Neyla, ia segera berjongkok dan melihat kondisi Neyla yang masih menahan rasa sakitnya.


"Ayo, aku bantu kamu." Ucap Seyn mencoba memeriksanya, Neyla sendiri langsung menepis tangan milik Seyn.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ujar Neyla yang menjaga gengsinya.


"Jangan bandel, nanti kaki kamu semakin sakit jika tidak di urut. Ayo aku gendong kamu, didalam pasti ada ruangan untuk istirahat." Ucap Seyn dengan tatapannya yang serius, Neyla sedikit ragu. Namun, ia tidak dapat memungkiri jika dirinya tidak mampu menahan rasa sakit pada kakinya.


"Terserah kamu saja, asal jangan mencuri kesempatan." Jawabnya dengan muka masamnya, Seyn hanya tersenyum mendengarnya.


"Mencuri kesempatan yang bagaimana menurutmu? jelaskan, agar aku bisa menjaga sikapku yang menurutmu itu mencuri kesempatan." Tanya Seyn pura pura tidak mengerti, Neyla sendiri bingung untuk menjawabnya. Bahkan ia merasa canggung dan malu untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Yang jelas mencuri kesempatan, itu saja." Jawabnya yang tidak bisa berucap atas permintaannya sendiri, lagi lagi Seyn hanya tersenyum melihat ekspresi Neyla yang justru terlihat menggemaskan.


Tanpa pikir panjang, Seyn langsung menggendongnya dan masuk kedalam gedung.


"Apa kata orang nanti? aku tidak ingin menjadi pembicaraan para tamu undangan, turunkan aku saja." Ucap Neyla yang merasa malu berada di gendongan Seyn yang terlihat suami istri.


"Palingan juga kita disangka suami istri, itu saja sih. Tidak buruk buruk amat, jangan khawatir." Jawab Seyn dengan entengnya sambil menggendongnya. Neyla sendiri kembali menatap tajam kearah Seyn, sedangkan Seyn hanya tertawa kecil saat Neyla menatapnya dengan tatapan yang tajam.


Seyn pun tidak meresponnya, justru Neyla terlihat menggemaskan. Sesampai didalam gedung yang megah dan banyak para tamu undangan, membuat Neyla tidak percaya diri saat posisinya berada pada gendongan seorang duda perjaka yang tampan.


Semua para tamu undangan tengah memperhatikan keduanya, Neyla hanya menyumput pada dada bidang milik Seyn. Sedangkan Seyn sendiri tetap terlihat tenang, bahkan tetap bersikap saat orang orang tengah memperhatikannya.


"Kak Seyn," seru Zayen memanggilnya dan mendekatinya Seyn kakak dari orang tua asuhnya. Neyla sendiri masih menyumput, sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan wajahnya kepada siapapun dengan posisinya yang masih berada digenodongan seorang laki laki.


"Zayen, maafkan aku datang terlambat. Oh iya, ruang untuk istirahat ada sebelah mana, ya?" Ucap Seyn dan bertanya.


'Mam*pus aku, ada Ayen lagi. Pasti akan mengira jika aku ada hubungan spesial dengan duda reseh ini.' Batin Neyla sedikit cemas jika Zayen akan mengetahuinya.


"Bukan siapa siapa, sepertinya akan menjadi kakak iparmu." Ucap Seyn sedikit memancing emosi Neyla, berharap akan menunjukkan wajahnya didepan Zayen.


"Sudah lah, turunkan aku. Sudah aku bilang, jangan mencari kesempatan." Ucap Neyla dengan tiba tiba dan membuat Seyn dan Zayen kaget mendengarnya. Setelah itu, justru Zayen tertawa kecil melihat apa yang dipikirannya benar adanya.


"Oooh Ney ney, kenapa kamu menyembunyikan wajahmu? tenang saja, aku merestui hubungan kalian." Ucap Zayen sambil meledek sang kakak dan juga teman sekolahnya.

__ADS_1


Keduanya hanya menelan salivanya masing masing. Karena tidak ingin semakin panjang urusannya, Seyn langsung membawa Neyla untuk masuk ke ruang istirahat. Sedangkan Zayen hanya tersenyum melihat sang kakak dan Neyla yang terlihat serasi.


"Senyum senyum sendiri, hem ..." ucap seorang perempuan yang tidak asing ditelinga Zayen. Kemudian, segera ia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya perempuan yang tetap terlihat cantik dengan penampilannya, meski dengan perutnya yang semakin membesar. Zayen kembali tersenyum mengembang melihatnya, dan mendekati istri yang dicintainya.


"Jangan cemburu, baru saja aku melihat kak Seyn bersama Ney ney. Maksud aku, Neyla putri dari paman Ganan." Ucap Zayen menjelaskan, ia tidak ingin istrinya akan salah paham.


"Iya, aku sudah melihatnya. Mereka berdua sangat serasi, dan aku berharap semoga mereka berdua berjodoh." Jawab Afna dan tersenyum.


"Semoga, dan tidak ada lagi yang kesepian. Viko sendiri sudah menikah dengan Adelyn, aku berharap setelah ini giliran kak Seyn semoga cepat menyusulnya." Ucap Zayen penuh harap, Afna pun mengangguk dan tersenyum.


"Sayang, kakiku merasa pegal. Bagaimana kalau kamu antar aku pulang, aku merasa sudah tidak nyaman. Kepalaku mulai terasa pusing, perutku sedikit mual. Aku tidak tahan mencium banyak aroma parfum yang berbeda beda, dan aku memilih untuk pulang. Agar aku bisa istirahat dengan nyaman, dan ditemani kamu." Ucap Afna yang mulai merasa tidak nyaman berada didalam gedung yang dipenuhi oleh para tamu undangan.


"Ya sudah kalau begitu, kita berpamitan dulu bersama papa dan mama." Jawab Zayen, dan menggandeng tangan milik istrinya.


Sedangkan ditempat lain, Seyn dan Neyla sedang berada didalam ruangan. Keduanya ditemani seorang pelayan karena permintaan Neyla yang takut terjadi sesuatu diluar dugaannya.


"Disini tidak ada tukang urut, biarkan aku yang mengurutmu. Jangan protes, nanti rasa sakit pada kaki kamu akan menambah sakit jika dibiarkan." Ucap Seyn dengan tatapan seriusnya.


"Iya, terserah kamu saja." Jawabnya datar, dan tidak lagi memperpanjang ucapannya.


"Tenang saja, kamu tidak perlu takut. Ada pelayan yang menunggu keberadaan kita didalam ruangan ini." Ucap Seyn, kemudian mencoba memeriksa kaki milik Neyla dan mencoba untuk mengurutnya. Sedangkan Neyla hanya bisa pasrah, berharap rasa nyeri dan sakit pada kakinya segera mereda.


"Aw!! pelan pelan dong ... sakit, tau." Ucapnya dengan kencang sambil menahan rasa sakit pada kakinya.

__ADS_1


"Bersabarlah, jika kamu ingin sembuh." Jawab Seyn sambil mengurutnya dengan pelan, Neyla sendiri hanya memperhatikan Seyn dengan seksama.


'Ternyata Seyn tidak seperti yang aku duga, dan rupanya dia tidak sekejam seperti yang aku tahu saat Seyn membatalkan pernikahannya bersama Afna.' Batinnya yang teringat saat Kazza menceritakan soal pembatalan pernikahan Seyn terhadap adiknya, yaitu Afna.


__ADS_2