Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Teriak minta tolong


__ADS_3

Zayen masih berdiam diri mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan sang istri. Perasaannya pun melebihi anak muda yang sedang janjian untuk bertemu dan saling mengenal. Zayen nampak gelisah dan juga sedikit tegang, entah apa yang akan terjadi setelah sang istri melihatnya yang berubah drastis pada suaminya itu.


"Vik, kira kira istriku masih mengenalku tidak, ya?"


"Mana aku tahu, Bos. Memang kenapa, Bos? takut?"


"Bukan soal takut, penampilanku seperti preman saja istriku tidak takut." Jawab Zayen, sedangkan Viko nyengir pasta gigi.


"Nyengir lagi, ayo turun."


"Wahat? bukannya aku pulang, Bos."


"Pulangnya nanti, temani aku. Takut, istriku tiba tiba tidak percaya kalau aku suaminya."


"Percayalah sama aku, Bos. Semua akan baik baik saja, aman." Ucap Viko meyakinkan, agar dirinya bisa lolos dari Zayen.


"Aku tidak percaya sama kamu soal beginian, kalau soal pekerjaan aku percaya sama kamu. Bahkan satu ribu persen aku percaya sama kamu, Vik."


'Apes dah, gue.' Batinnya sambil mengelus dada lebarnya.


"Iya iya iya, Bos."


"Nah, gitu dong. Ayo, turun."


"Tidak pakai kaca mata nih, Bos?"


"Tidak sekalian bawa buku tulisnya, Vik." Jawab Zayen dengan enteng, sedangkan Viko hanya tertawa lepas.


Setelah banyak bicara dengan Viko, kini Zayen benar benar mengumpulkan mentalnya. Agar dirinya tetap terlihat sosok Zayen yang dipandang seperti preman.


"Vik, Diam. Tertawa, lagi. Nanti istriku bangun, aku mau memberi kejutan untuknya."


"Iya, Bos. Iya iya ..." jawabnya lirih.


Sedangkan Zayen kini seperti orang yang sedang mau merampok rumah elit, membuka kunci pintu dengan sangat hati hati. Agar tidak terdengar dari belakang. Senyum mengembang berada di kedua sudut bibir milik Zayen.


"Yes! lampunya mati, sekali dayung ikannya pada lari." Gurutu Zayen kembali menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Vik, kamu tunggu didepan pintu. Ingat, jongkok." Perintah Zayen dengan meninggikan satu alisnya.


Viko yang mendapat perintah dari Zayen hanya mengangguk sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal.


"Yang benar saja, Bos. Aku disuruh jongkok didepan pintu ini, kenapa tidak sekalian lilinnya. Kenapa Bos aku jadi oon begini, ya. Cinta ... apakah itu cinta ... kenapa aku jadi nyanyi." Gerutunya sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Setelah memberi perintah kepada Viko, Zayen kembali mengendap ngendap untuk masuk kedalam kamar. Dengan pelan, bahkan sangat pelan. Suara nafasnya sedikit sedikit ditahan, agar tidak terdengar oleh gendang telinga istrinya.


Namun sayangnya, Afna sendiri tidak bisa tidur. Dirinya bolak balik ganti posisi agar bisa tertidur pulas, sayangnya Afna tidak bisa tidur.


"Jam berapa sih, ini. Kenapa belum pulang juga, padahal sudah lewat dari tengah malam. Apa menginap apa, ya? sepi juga rupanya tanpa dia. Hidupku terasa hampa dan kenapa jadi gelisah begini." Gerutunya sambil duduk bersandar di atas tempat tidur.


Tiba tiba gendang telinga milik Afna dapat menangkap suara yang terdengar seperti orang sedang melangkah, jantung Afna pun terasa mau copot. Detak jantungnya juga berdegup sangat kuat, bahkan dentuman salon pun kalah bagusnya.


Karena penasaran, Afna segera turun dari tempat tidurnya. Berharap bukan orang yang sudah masuk kedalam rumah, melainkan hanya suara kucing yang sedang mencari tempat untuk bercinta.


"Suara apa tadi, ya ... suara kucing apa suara maling, aku harus bagaimana ini. Aku hubungi suami saja apa, ya? kalau benar benar maling, bagaimana? aaah! kenapa juga sehoror ini rumahnya. Tau begini aku tidak mau ditinggal, kenapa tadi aku sok sokkan mengizinkannya untuk berangkat." Gerutunya sangat lirih, agar tidak terdengar dari luar.


Karena rasa takutnya, Afna langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi suaminya secepatnya. Berkali kali Afna menghubungi suaminya, namun tetap saja tidak bisa.


Sedangkan Zayen menunggu didepan kamarnya, berusaha untuk tenang. Agar sang istri tidak mencurigainya.


'Aku masuk saja, apa ya? mana nyamuk banyak banget lagi. Jontor jontor nih area kulitku yang tidak tertutup. Langsung masuk terus meluk istri, dan menciu*mnya. Pasti tetap mengenaliku.' Batin Zayen sambil membayangkan yang tidak tidak, tentunya memuji ketampanan Zayen yang sudah dipermak.


Karena penasaran, Afna langsung memberanikan diri untuk melihatnya langsung. Dirinya pun tidak mau dikerjain sama si kucing yang sedang bercinta, pikirnya.


'Aku bawa saja nih tongkat, siapa tahu saja kucing jantannya lebih ganas dari suamiku.' Batin Afna sambil mengambil tongkat penyangganya untuk dijadikan pegangan saat panik dan tegang.


'Semoga saja memang benar benar kucing yang sedang bercinta, dan bukan kucing garong beneran.' Batinnya lagi sambil mengatur pernapasannya agar dijauhkan dari rasa takut, meski kenyataannya sangat takut.


Ceklek, Afna membuka pintunya pelan. Afna celingukan sambil memeriksa disekelilingnya, sedangkan Zayen sedang berdiam diri di samping tembok kamar. Zayen pun berusaha untuk tenang, agar dirinya tidak ketahuan oleh istrinya yang sedang bersembunyi.


'Sepi, tidak ada kucing yang sedang bercinta. Lalu, suara apa tapi. Apa iya, suara hantu. Aaah! tidak mungkin, apa tikus? aku rasa bukan. Tunggu! seperti ada orang yang sedang bernapas.' Batinnya lagi, dan dengan serius Afna memasang pendengarannya begitu sangat jeli.


"Ha ha ha ha huaaaaaaccciimm!!!"


"Sialan!!" Ucapnya tanpa sadar.

__ADS_1


"Siapa kamu!" ucap Afna dengan keras. Sedangkan Zayen kembali terdiam, namun Afna sudah dapat menangkap dimana seseorang yang dicurigainya berada.


"Ayo katakan! siapa kamu, hah! tanya Afna dengan bentakan. Zayen masih saja diam, sebisa mungkin untuk menahan tawa.


'Ganas juga istriku, pantaslah jadi istrinya seorang preman sepertiku.' Gumam Zayen sambil menahan tawa, sedangkan Afna mulai menyalakan lampunya.


Klek, Afna menyalakan lampunya dan langsung berteriak histeris saat melihat sosok laki laki yang merasa tidak dikenalinya. Zayen pun langsung menahan istrinya agar tidak histeris.


"Maling ... tolong ... maling... tolong ada maling..." teriak Afna sekencang mungkin sambil memukuli suaminya dengan sekuat tenaganya. Sedangkan Viko pun kaget mendengarkan teriakan dari Afna, Viko dengan cepat langsung masuk kedalam dan menyaksikan pertunjukan yang membuatnya tercengang. Bukannya melerai situasi, justru Viko tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya.


"Sayang, aku suami kamu. Aku Zayen, suami kamu." Ucap Zayen sambil membekap mulut istrinya agar tidak berteriak terus menerus


"Bukan! suamiku gondrong, brewokan dan pastinya lebih gagah dari kamu." Jawab Afna yang terus memberontak dan terus berusaha untuk melepaskan dari dekapan suaminya sendiri.


"Tolong ... lepaskan aku, aku mohon ... berkali kali Afna teriak meminta tolong. Sedangkan Zayen masih terus menahan istrinya agar tidak lepas.


Zayen langsung membalikan tubuh istrinya untuk menatapnya, agar benar benar percaya bahwa dirinya adalah suaminya. Zayen memegangi pundak milik istrinya, dan keduanya saling pandang.


"Aku suami kamu, sayang ... Zayen! Zayen." Ucap Zayen berulang ulang.


Dengan ragu, Afna mencoba mengusap pipi milik suaminya dengan seksama. Afna berusaha memastikan, bahwa laki laki yang berada dihadapannya adalah suaminya.


"Benarkah kamu suamiku?"


"Tentu saja benar, apa kamu ingat? ayam geprek milikku diminta sama papa kamu?" jawab Zayen berusaha meyakinkan.


Tanpa berucap sepatah katapun, Afna langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Maafkan aku, sayang ... kenapa kamu mengerjaiku. Kamu tahu, aku sangat ketakutan. Dan aku berharap kamu cepat pulang, karena aku benar benar tidak bisa jauh dari kamu." Jawab Afna yang masih pada posisinya dalam keadaan memeluk suaminya sangat erat, seakan tidak ingin melepaskannya.


Sedangkan warga yang mendengar teriakan meminta tolong dari rumah Zayen, semua yang merasa terpanggil dengan suara Afna meminta tolong para tetangga pergi menuju rumah Zayen untuk memastikan kebenarannya.


Beberapa warga segera masuk kedalam rumah Zayen untuk memastikan kebenarannya.


"Dimana malingnya."


Viko, Zayen, dan Afna hanya saling melempar pandang silih berganti.

__ADS_1


__ADS_2