
Neyla duduk di ruang tamu, ia duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya agar terasa sedikit tenang.
"Loh! ada apa denganmu, sayang?" seru ibunya dengan keras dan duduk disebelah putrinya.
"Maaf Tante, waktu mau berangkat pergi tiba tiba Neyla terlihat pucat." Jawab Seyn dengan cemas.
Sang ibu segera memeriksa suhu badan putrinya, takut ada sesuatu hal buruk mengenai putri kesayangannya. Namun setelah diperiksanya, suhu badannya pun lumrah dan sama sekali tidak panas.
"Neyla! kamu kenapa? sakit?" teriak sang ayah sontak kaget saat melihat kondisi putrinya terlihat pucat.
"Neyla tidak apa apa kok, Ma ... Pa. Neyla hanya ..." tenggorakannya pun terasa tercekik saat ingin melanjutkan kalimatnya. Neyla pun menatap satu persatu yang ada dihadapannya, termasuk calon suaminya.
"Neyla, ada apa dengan Neyla?" tanya sang kakek yang tiba tiba datang.
"Apa apaan sih, kenapa semuanya menegang? Neyla hanya baik baik saja, serius." Ujar Neyla mencoba meyakinkannya. Sedangkan Seyn masih menatap lekat wajah calon istrinya yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Lihatlah, Ney baik baik saja. Jadi, jangan khawatirkan Ney. Kenapa semuanya menjadi heboh, sudahlah ayo bubar semuanya." Ucap Neyla penuh alasan, ia tidak berani berkata jujur pada keluarganya.
"Terus? kamu tidak jadi keluar nih?" tanya sang ibu sambil menatap lekat pada putrinya.
"Tidak, Neyla memilih di rumah saja. Dan, Neyla mau minta tolong sama Papa untuk menyuruh anak buah Papa mengambilkan baju pernikahan Neyla dengan Seyn di Butik milik Zayen." Jawab Neyla memohon.
Seketika, kakek Angga menaruh curiga pada cucu perempuannya yang sangat mudah untuk diperhatikan ekpresimya. Begitu juga dengan Seyn, yang mencoba berusaha untuk tetap tenang menghadapi calon istrinya itu yang terlihat menyimpan sesuatu dalam dirinya.
'Ada apa sebenarnya? apakah ada sesuatu yang disembunyikannya? atau ... ia teringat kejadian lampau yang sudah aku lewati bersama Afna. Apakah Neyla ketakutan akan perihal itu, dan membuatnya takut jika akan terjadi hal yang sama seperti Afna. Tapi ... kenapa mesti sepucat itu.' Batin Seyn yang terus mencoba menerka nerkanya.
__ADS_1
"Kalau memang itu permintaan kalian berdua, baiklah akan Papa turuti." Ucap tuan Ganan mencoba untuk tidak menaruh curiga pada putrinya.
"Ada apa sih, kok! sepertinya serius banget." Zakka yang tiba tiba sudah berdiri di antara yang lainnya.
"Kamu, dari tadi kemana saja, hah? sudah sana berangkat ke Kantor." Jawab sang ayah, dan menyuruh putranya untuk segera berangkat ke Kantor. Karena jika pertanyaan Zakka diladenin, hasilnya akan terus ada pertanyaan yang tidak ada habis habisnya.
"Seyn, aku pergi duluan." Ucap Zakka pamit pada Seyn, yang sebentar lagi akan menjadi iparnya.
"Hati hati dijalan, semangatlah untuk bekerja." Jawab Seyn, sedangkan Zakka mengangguk dan pergi meninggalkan ruang tamu. Kemudian Zakka segera bersiap siap untuk berangkat ke Kantor.
Kini, tinggal lah beberapa anggota keluarga yang masih duduk di ruang tamu. Sedangkan Seyn sendiri merasa canggung saat dirinya harus berhadapan anggota keluarga Wilyam.
"Seyn!" seru Zakka dari jauh dan melangkah mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Seyn.
"Jangan! Neyla mohon, kak Zakka jangan pergi menggunakan motor milik Seyn. Lebih baik kak Zakka menaiki mobil kakak sendiri, itu jauh dari aman." Ucap Neyla, seketika ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Berharap, ucapannya tidak dicurigai oleh siapapun termasuk calon suaminya sendiri.
"Apa Ney?" semua serempak mengucapkan kalimat yang sama, termasuk Seyn yang ikut kaget mendengarnya.
Kemudian, Zakka segera mendekatkan dirinya pada saudara kembarnya. Setelah itu, ia duduk disebelahnya.
"Kenapa tiba tiba kamu berubah seperti peramal? apa karena ilmu beladiri kamu itu tengah menguasaimu? hingga membuatmu menjadi mistis." Tanya sang kakak menatap lekat pada adik perempuannya.
"Hem, tidak segitunya juga dong kak. Neyla masih wa*ras dan normal, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan hal mistis. Lalu, kenapa kakak sendiri yang tiba tiba berpikiran sesuatunya dikaitkan dengan hal mistis. Aneh aneh saja ini, kak Zakka." Jawab Neyla berusaha untuk tenang, dan tetap terlihat biasa biasa saja.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu melarangku memakai motor Seyn?" masih menatap lekat dengan serius, Zakka berusaha menangkap apa yang dimaksudkan saudara kembarnya itu.
"Tidak, aku hanya berjaga jaga saja." Ujar Neyla berusaha untuk meyakinkan sang kakak.
Seyn terus berpikir, bagaimana caranya untuk membuat Neyla mengatakan sejujurnya. Kepalanya pun semakin pusing dan terus berusaha untuk mencerna disetiap kata yang Neyla ucapkan.
Saat Neyla sedang sibuk berdialog dengan Zakka, Seyn memberi kode kepada kakek Angga dan calon mertuanya. Tuan Ganan dan kakek Angga mengangguk saat Seyn memberi isyarat padanya. Tuan Ganan mengerti, jika calon menantunya menaruh ada sesuatu yang tidak beres pada Neyla putrinya.
"Neyla, ikut aku sekarang juga." Perintah Seyn tanpa perduli Neyla yang sedang berbicara dengan Zakka.
"Ikut kemana?" tanya Neyla kembali cemas.
"Ayo, ikutlah denganku diseberang jalan." Ajak Seyn sambil memegangi tangan milik calon istrinya.
"Untuk apa?" tanya Neyla penasaran.
"Nanti kamu akan tahu, setidaknya kamu ikuti aku terlebih dahulu." Jawab Seyn, sedangkan Neyla menatap lekat satu persatu yang ada di sekelilingnya seperti meminta pendapat. Semua mengangguk, termasuk Zakka yang tiba tiba mengerti maksud dari semuanya.
Mau tidak mau, Neyla nurut dengan apa yang diminta calon suaminya itu.
"Keluarlah, Papa sudah memberikan pengawasan pada kalian berdua. Papa pastikan, semua akan baik baik saja." Perintah sang ayah dengan tatapan yang serius, sedangkan sang ibu sama sekali tidak mengerti dengan rencana suaminya dan yang lainnya. Begitu juga dengan Omma Qinan yang juga sama sekali tidak mengerti.
"Ayo, kita naik motor. Kita hanya di seberang jalan, itu saja. Dan, kita tidak akan pergi jauh. Percayalah denganku, ada banyak suruhan keluarga kamu untuk mengawasi kita. Jadi, kamu tidak perlu takut maupun khawatir. Semua akan baik baik saja, percayalah denganku." Ucap Seyn yang sudah menaiki motornya, sedangkan Neyla masih berdiri didekatnya..
Neyla merasa berat untuk naik motor bersama calon suaminya, ingatannya kembali ke sebuah pesan yang ia terima. Neyla kembali ketakutan, ia terus berpikir dan mengingatnya kembali.
__ADS_1
Seyn yang memperhatikan calon istrinya itu, terlihat jelas ketakutan pada raut wajah Neyla. Akhirnya, Seyn kembali turun dari motor dan mendekati calon istrinya itu untuk dimintai jawaban.
"Ney, sebenarnya ada apa denganmu? katakan padaku. Jangan kamu sembunyikan sendirian, cepat ceritakan semuanya padaku." Tanya Seyn semakin penasaran dengan calon istrinya itu, Neyla seakan terhipnotis dengan sesuatu yang tengah membuatnya ketakutan, pikir Seyn yang terus berusaha untuk menerkanya.