
Keadaan Afna sudah lumayan membaik, dan Dokter pun telah mengizinkannya untuk pulang. Perasaan Zayen terasa lega, begitu juga dengan Afna yang sudah tidak sabar ingin segere keluar dari rumah sakit.
"Sayang, pagi ini kita jadi pulang, 'kan?" tanya Afna penuh harap.
"Jadi dong, sayang ... Dokter sudah mengatakannya kepadaku, bahwa kamu sudah diperbolehkan untuk pulang." Jawabnya penuh yakin, Afna pun tersenyum bahagia.
Tiba tiba Afna perut Afna terasa mual, segera ia bangkit dari posisinya diatas tempat tidur pasien.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zayen panik.
"Perut aku mual, dan seperti diaduk aduk." Jawab Afna sambil memegangi bagian perutnya. Kemudian, Afna langsung masuk ke kamar mandi ditemani sang suami.
Dengan pelan, Zayen mengusap usap punggung istrinya berulang kali.
Wajah Afna pun seketika itu juga terlihat pucat, bahkan tubuhnya terasa lemas. Zayen pun langsung panik melihat kondisi istrinya.
"Sayang, ayo aku gendong." Ucap sang suami langsung menggendongnya sampai di tempat tidur pasien. Afna pun hanya bisa pasrah, dikarenakan kondisinya sendiri tidak sanggup untuk berjalan. Zayen pun segera menyandarkan tubuh istrinya sambil diluruskannya kedua kaki milik Afna, Zayen pun segera menekan tombol untuk memanggil seorang Dokter.
Setelah itu, Zayen mengambilkannya air hangat untuk sang istri. Berharap rasa mualnya sedikit berkurang, dan tidak sampai terjadi pusing.
Tidak lama kemudian, sang Dokter telah datang dan segera memeriksa keadaan Afna.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Zayen dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Tidak apa apa, hamil muda sudah biasa mengalami mual dan terlihat pucat. Yang terpenting, dijaga pola makannya. Dijaga juga kesehatannya, diperbanyak makan makanan yang sehat. Vitamin dan susunya jangan sampai terlewatkan, dan berikan perhatian penuh kepada sang istri. Biasanya wanita hamil muda itu mudah sensitif, bahkan hal sepele pun bisa menjadi besar. Intinya harus bersabar, karena ini hanya waktu sementara. Biasanya lewat di usia empat bulan, sudah tidak lagi mengalami gejala mual. Mungkin, hanya saat saat tertentu saja." Jawab sang Dokter menjelaskan panjang lebar, Zayen pun mengangguk dan sedikit mengerti.
"Terima kasih atas sarannya, Dok. Sebisa mungkin saya akan melakukannya sebaik mungkin kepada istri saya." Ucap Zayen penuh yakin, sang Dokter pun segera pamit dan kembali ke ruang kerjanya.
Sedangkan Afna dan Zayen segera bersiap siap untuk pulang, dikarenakan Afna sudah tidak sabar ingin beristirahat di rumah. Zayen pun langsung mengurus administrasi.
Setelah selesai mengurus administrasi, Zayen kembali ke ruang rawat istrinya dan mengajaknya untuk pulang.
Didalam perjalanan keduanya terlihat bahagia, masalah demi masalah pun sudah dapat dilewatinya. Senyum mengembang terlihat begitu jelas di kedua sudut bibir milik Afna dan juga Zayen. Keduanya saling menoleh dan tersenyum bersama.
"Sayang, aku merindukan sesuatu. Apakah kamu juga merindukannya? coba tebak lah." Ucap Afna membuka suara, ia merasa merindukan sesuatu bersama sang suami.
Zayen terus berpikir dengan apa yang tengah diucapkannya oleh sang istri. Berkali kali Zayen mencoba menebaknya, namun takut salah dan tidak sesuai dengan jawaban istrinya.
"Aku pun sama, aku juga merindukan sesuatu yang tidak bisa aku lupakan. Aku merindukan masa masa kita tinggal bersama di rumah yang cukup sederhana, ditempat itu aku menemukan sebuah cinta darimu. Aku sangat bahagia mendapatkan seorang istri sepertimu. Kamu mampu menerima dari segala kekuranganku, dan kamu juga tidak menuntut apa yang kamu inginkan. Kamu sendiri tidak memiliki rasa malu sedikitpun tentang kesederhanaanku ini. Terima kasih, sayang. Atas cinta yang kamu berikan untukku, aku sangat beruntung dan bersyukur telah memilikimu." Jawab Zayen panjang lebar, kemudian mencium kening milik istrinya dengan lembut.
Disaat itu juga, Afna mendongakkan kepalanya dan mencium pipi milik suaminya. Afna kembali menunduk sambil melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya.
"Justru aku yang sangat beruntung dan juga bersyukur, aku telah mendapatkan suami sebaik kamu. Suami yang mampu bersabar menghadapi seorang istri sepertiku, istri yang tidak dapat berjalan dengan sempurna. Bahkan, aku sering merepotkan kamu. Aku selalu membutuhkan bantuan darimu, agar aku dapat berjalan dengan normal kembali. Kamu yang selalu menyemangati ku, dan kamu juga yang memberi perhatian penuh terhadapku. Bahkan, ketulusanmu tidak dapat aku tukar dengan apapun." Ucap Afna iba tiba terhenti karena sang suami tengah menahannya dengan telunjuk jarinya dibibir sang istri.
"Jangan kamu lanjutkan, itu sangat berlebihan. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku hingga ke lubuk hatiku yang paling dalam, kamu istriku dan berhak mendapatkan perlakuan yang sempurna dariku. Meski perlakuanku ini tidak sempurna, namun aku akan terus berusaha untuk menyempurnakannya." Jawab Zayen dan semakin mengeratkan pelukannya tanpa ia sadari ada calon sang buah hati pada istrinya.
"Sayang, jangan kuat kuat. Ada calon buah hati kita, nanti tidak bisa bernafas." Ucap Afna sambil merenggangkan pelukannya, Zayen pun tersadar dari ucapan sang istri.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang. Aku sampai lupa, karena kelewat bahagia. Serasa ingin memeluk kamu dan calon buah hati kita, aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya dan menemaninya tidur." Jawab Zayen sambil mengusap perut sang istri, kemudian menciumnya. Afna tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu.
"Sayang, sudah dong. Malu sama pak sopir, nanti dikira kita tidak mempunyai rasa malu." Ucap Afna berbisik didekat telinga suaminya, Zayen pun tersenyum dan membenarkan posisi duduknya sambil memeluk tubuh istrinya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Zayen dan Afna telah sampai di depan rumah orang tuanya.
Kedua orang tua Zayen dan juga saudara kembarnya pun ikut menyambut kepulangan Afna dari rumah sakit.
Afna dibantu sang suami melepaskan sabuk pengamannya, kemudian keduanya segera turun.
Senyum mengembang terlihat pada tuan Alfan beserta anak dan istrinya. Zayen pun tidak lepas untuk menggandeng tangan istri tercintanya.
"Selamat datang kembali, sayang ..." sapa ibu mertua pada Afna dan memeluk menantu kesayangannya.
Afna pun segera mencium punggung tangan milik ibu mertua dan ayah mertuanya, setelah itu Adelyn ikut memeluk kakak iparnya.
Begitu juga dengan Zayen yang ikut mencium punggung tangan milik kedua orang tuanya, setelah itu Afna dan ibu mertuanya maupun Adelyn segera masuk ke rumah. Sedangkan Zayen dan sang ayah sedang berbincang di bagian teras rumah.
"Kamu sudah menghubungi Viko?" tanya sang ayah.
"Belum, Pa. Mungkin setelah ini, Zayen akan menghubungi Viko untuk segera datang ke rumah. Tapi, ngomong ngomong Papa ada perlu apa dengan Viko?" Jawab Zayen dan bertanya balik karena penasaran.
"Tidak baik berbicara di depan rumah, kita masuk saja dulu. Nanti temui Papa ke ruang kerja Papa, nanti kita akan bahas bersama." Jawab sang ayah.
__ADS_1
"Baik, Pa. Kalau begitu Zayen mau masuk ke kamar terlebih dahulu." Ucap Zayen, sang ayah pun mengangguk.