Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kamar yang salah


__ADS_3

Setelah persiapan sudah tidak ada yang terlihat kurang, Neyla dan Seyn sudah berada di sebuah ruangan yang dihadiri para saksi dan juga keluarga.


Neyla semakin gugup dengan pernikahannya yang terbilang mendadak, bahkan seperti maling tertangkap basah. Lantas, mau bagaimana lagi? kenyataannya memang tidak bisa untuk ditunda. Dikarenakan, demi keselamatan diantara keduanya.


Seyn yang sudah dikelilingi banyak orang, sebisa mungkin ia tetap menunjukkan sikap tenangnya. Disaat itu juga, Seyn seperti bermimpi. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari keluarga Wilyam, ia sendiri sangat menyesalinya karena telah berbuat tidak adil terhadap Zayen, adik angkatnya yang pernah diculik oleh pamannya sendiri. Yang tidak lain adalah saudara ibu kandungnya, Seyn kembali teringat akan hal itu.


Malu, iya memang. Namun, semua telah usai dan telah mendapatkan hukumannya masing masing. Meski kenyataan pahitnya, Seyn harus kehilangan sosok ayahnya yang sangat menyayanginya.


Ketika sesuatunya tidak ada lagi yang tertinggal untuk menghadiri pernikahan Neyla dan Seyn, acaranya pun dimulai.


Sekata demi sekata telah terucap, kalimat sakral tengah diucapkannya oleh Seynan Arganta dengan lantang dan juga terdengar jelas didalam ruangan.


Semua bernafas dengan lega, termasuk kedua orang tua Neyla dan juga yang lainnya. Kemudian, janji janji seorang suami telah diucapkannya begitu sangat jelas.


Tersenyum mengembang terlihat jelas pads kedua sudut bibir milik Seyn dan juga Neyla.


Perasaan berkecamuk kembali menyeruak didalam hati Seyn dan Neyla, sebisa mungkin keduanya untuk terlihat tenang. Namun, tiba sesuatu hal yang tidak diinginkannya telah terjadi.


"Ney! bangun, sayang. Neyla, bangun." Seru Seyn memanggil nama istrinya dengan histeris, semua berubah menjadi panik. Tanpa berpikir panjang, Seyn segera menggendong istrinya masuk ke kamar tamu. Sang ibu dan juga istri tuan Alfan segera mengejar langkah kaki Seyn memasuki ruang kamar tamu.


"Neyla, Neyla, kamu kenapa sayang?" seru sang ibu dan tantenya tengah memanggil namanya disertai kepanikan dan menitikan air matanya.


Sedangkan tuan Ganan dan tuan Alfan ikut mengejarnya, Zakka yang ikut panik langsung menghubungi dokter. Begitu juga dengan Reynan yang juga ikut panik.


Acara pernikahan yang seharusnya bahagia, kini harus menjadi kesedihan. Seyn terus menepuk nepuk pipi milik Neyla dengan pelan, berharap akan mendapatkan respon darinya. Namun tetap saja, Neyla tidak merespon sedikitpun. Bahkan, wajah Neyla sama sekali tidak terlihat pucat. Wajahnya tetap terlihat seperti biasa, hanya tiba tiba saja pingsan setelah dirinya sudah sah menjadi suami istri.


Perasaan Seyn berkecamuk tidak karuan, dirinya pun sempat menitikan air matanya. Ia merasa bahwa dirinyalah penyebabnya hingga membuat orang orang yang ada didekatnya harus menerima akibatnya.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku. Semua ini pasti karena aku yang begitu banyak orang membenciku. Sayang, bangunlah. Jangan membuat kita semua panik seperti ini, semua mengkhawatirkan kamu. Percayalah denganku, bahwa kita semua akan baik baik saja. Lihatlah, kita sudah menikah, kita tidak akan lagi berjauhan. Aku akan terus bersamamu dan akan terus berada didekatmu." Ucap Seyn sambil memeluk tubuh istrinya dibarengi isak tangisnya.


Bukan karena lemah, Seyn cukup terpukul. Dirinya pun trauma, ia tidak sanggup melihat seseorang terkulai lemah tidak berdaya. Ia sendiri telah mengalaminya sendiri, bagaimana rasanya menjadi orang jahat yang akan buta mata hatinya dan akan melakukan apapun yang dikehendakinya. Seyn sendiri ketakutan, jika tiba tiba istrinya telah dijadikan sasaran empuk. Seperti Adelyn yang mudah untuk dijadikan sasaran dari orang yang tidak bertanggung jawab.


Sang ibu terus menangis tatkala mendapati putrinya yang tengah mendadak pingsan dan membuat suasana seketika menjadi histeris.


Tidak memakan waktu yang lama, seorang Dokter pribadi keluarga Ganan telah datang. Kemudian, setelah itu segera memeriksa kondisi Neyla yang tengah pisan beberapa menit yang lalu.


Semua cemas dan prihatin atas kejadian yang tengah menimpanya, kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan dihari pernikahannya. Kini, barubah menjadi kesedihan.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Seyn yang sangat mencemaskan kondisi istrinya itu.


"Keadaan istri Tuan, baik. Tidak ada sesuatu yang serius. Hanya saja, jangan dibiarkan untuk terlalu banyak pikiran." Jawab sang Dokter.


"Tapi benar kan, Dok? jika putri kami baik baik saja. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi." Tanya sang ayah ikut menimpali, karena begitu cemas melihat kondisi putri kesayangannya tergeletak lemas ditempat tidur.


Setelah cukup panjang lebar berdialog dengan sang Dokter, Tuan Ganan dan yang lainnya keluar dari kamar tersebut untuk memberi waktu pada Seyn menemani sang istri.


Kini, didalam kamar tamu hanya ada Seyn dan Neyla. Bukan kamar milik pengantin, justru kamar tamu yang pertama kali ia masuki bersama.


Seketika Seyn menitikan air matanya sambil menatap lekat wajah istrinya yang juga belum sadarkan diri. Seyn akhirnya menunduk menahan rasa yang begitu berkecamuk dalam hatinya.


Dengan pelan, Neyla membukakan kelopak matanya. Pandangannya kini tertuju pada sang suami yang tengah duduk disebelahnya sambil memegangi tangan kanannya dan menunduk.


"Seyn ... Seyn ..."


"Sayang!" seru Seyn dengan reflek dan berdiri.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, sayang ... aku sangat mencemaskan kamu." Ucap Seyn, kemudian memnungkukkan posisi badannya dan mengecup kening milik istrinya dengan lembut.


Seketika, Neyla tercengang saat mendapati perhatian dari suaminya.


"Kamu sudah menjadi istriku yang sah, kamu milikku dan aku pun milikmu. Tidak ada yang


bisa menolaknya, aku mencintaimu." Ucap Seyn kembali dan tersenyum pada istri yang dicintainya.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang, sayang?" tanyanya lagi.


"Aku baik baik saja, dimana kita sekarang? kita tidak lagi di rumah sakit, 'kan?" tanya Neyla sambil celingukan dan didapatinya salah satu tangannya yang sudah terpasang infus.


"Kita tidak lagi di rumah sakit, maupun di hotel. Tetapi, kita sedang berada di kamar halusinasi kita yang salah." Jawab Seyn sambil mengusap pucuk kepala milik istrinya.


"Maksud kamu? aku tidak mengerti." Tanya Neyla yang masih belum paham dengan apa yang diucapkan suaminya itu.


"Setelah kita sudah sah menjadi suami istri, tiba tiba kamu pingsan tanpa sebab yang jelas. Semua orang panik dan histeris melihat kondisi kamu. Lalu, aku membawa kamu ke kamar tamu. Setelah itu, tidak lama kemudian sang Dokter telah datang dan memeriksamu." Jawab Seyn menjelaskan, sedangkan Neyla hanya mengangguk. Meski sebenarnya dirinya masih sulit untuk mencernanya, ia hanya mengangguk mengerti.


Ceklek.


Suara pintu yang terbuka, seketika mengagetkan Neyla dan sang suami. Keduanya sama sama menoleh kearah pintu. Dan dilihatnya seseorang yang begitu akrab dengan Neyla, siapa lagi kalau bukan sang ibu.


"Neyla, sayang ... kamu sudah sadar, Nak?" sapa sang ibu mendekati.


"Iya, Ma. Neyla sudah lumayan mendingan, tidak seperti waktu tadi yang tiba tiba pusing berat." Jawab Neyla dengan sedikit lesu.


"Syukurlah, semoga segera sehat kembali. Oh iya, kebetulan sekali mama sudah membuatkan kamu bubur. Nih, buat kamu. Jangan lupa, nanti dihabiskan. Dan jangan lupa juga, diminum obatnya. Kalau begitu, Mama pamit keluar. Jika kalian ingin beristirahat, istirahatlah. Ingat, dikunci pintunya." Ucap sang ibu dan tersenyum, kemudian segera keluar dari kamar tamu.

__ADS_1


__ADS_2