Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mengejutkan


__ADS_3

Setelah semua dirasa sudah siap, dan tidak lagi ada yang tertinggal. Zayen mengajak istrinya untuk segera pulang.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Zayen sambil meraih tongkat penyangga milik istrinya yang tidak jauh darinya.


"Aku sudah siap." Jawabnya singkat sambil merapihkan penampilannya.


"Kalau begitu, aku gendong kamu setelah itu peganglah tongkat ini." Perintahnya sambil membungkukan badannya untuk mengangkat tubuh istrinya. Kemudian, Afna meraih tongkat penyangga yang ada didekatnya.


"Kamu yakin, sudah tidak ada lagi barang kamu yang tertinggal?" tanyanya lagi untuk mengingatkan.


"Aku rasa sudah tidak ada yang tertinggal, waktu aku datang kesini aku tidak membawa apa apa." Jawabnya santai.


Zayen merasa tidak enak hati, dirinya menyadari yang kurang memperhatikan istrinya. Bahkan, ponselnya saja hanya ponsel jaman lampau. Yang hanya bisa mendengarkan radio dan layarnya pun hitam putih, tidak lebih. Zayen benar benar tidak memberi fasilitas yang modern, semuanya terbatas.


'Maafkan aku, istriku. Bukan aku tidak mampu memberimu fasilitas yang baik untuk kamu. Aku hanya ingin belajar denganmu untuk hidup sederhana, agar disaat kita terpuruk tidak lagi bersedih.' Batinnya sambil menuruni anak tangga.


Afna semakin nyaman berada di gendongan suaminya, bahkan kini tidak lagi merasa malu saat suaminya menggendongnya.


"Maaf Nona, Tuan ... biar saya yang membawakan tongkat penyangganya." Ucap salah satu pelayan.


"Terimakasih, mbak Yuni ... aku masih bisa melakukannya. Mending mbak Yuni bereskan kamarku ya, mbak ..." Jawab Afna yang masih berada pada gendongan suaminya.


"Baik, Nona ... hati hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan." Ucapnya lagi.


"Terimakasih ya, mbak ... aku pulang." Jawab Afna berpamitan.


Karena waktu yang sudah sangat mepet, Zayen langsung melangkahkan kakinya begitu saja. Yuni sendiri segera masuk ke kamar milik Afna.


Setelah berada didalam kamar Afna, Kedua bola matanya terbelalak saat melihat kondisi tempat tidur yang sudah tidak ada lagi seprei maupun selimut.


Batinnya pun penuh keheranan saat melihatnya. Mencoba menerka, namun tidak dapat menemukan jawabannya.


'Sebenarnya ada mesalah apa dengan Nona muda, kenapa tempat tidurnya berantakan seperti ini.' Batinnya dengan pikiran polosnya.

__ADS_1


Setelah mengganti sepreinya, Yuni segera masuk kedalam kamar mandi. Dan dilihatnya seprei dan selimut milik Afna berada didalam kamar mandi. Karena penasaran, sesekali mencoba mengeceknya.


Pelan pelan, Yuni mencoba membukanya.


"Apa!!! darah? yang benar saja ini. Nona terluka?" ucap Yuni dengan keras karena sholat dan kaget saat melihat darah yang berada pada selimut dan seprei milik Afna.


"Aku harus menghubungi Nyonya, aku tidak ingin Nona muda kenapa kenapa. Tuan Zayen kan terlihat menyeramkan, siapa tahu saja telah melukai Nona Muda." Gerutunya dengan perasaan cemas.


Karena pikirannya yang tidak tenang, Yuni langsung menelfon orang tua Afna untuk memberi kabar yang menurutnya kabar buruk.


Yuni langsung menekan tombol nomor ponsel milik ibunya Afna dan langsung menghubunginya.


"Hallo ...." suara diseberang telfon.


"Maaf nyonya, ada kabar bu ...." ucapannya pun terhenti, terasa berat untuk mengucapkannya.


"Kabar apa, Yun. Katakan, ada apa?" tanyanya semakin penasaran, karena suara Yuni terdengar seperti suara orang ketakutan.


"Kabar buruk? kabar apa sih, Yun. Cepat kamu katakan, kabar buruk apa maksud kamu. Jangan membuatku cemas, apa ada hubungannya dengan Afna dan Zayen? katakan, Yun!" tanya ibunya Afna yang juga ikut cemas. Ditambah lagi dengan kondisi putrinya yang sedang sakit pada bagian kakinya.


"Iya Nyonya, ini tentang Nona." Jawabnya dengan tubuh yang gemetaran.


"Baiklah, aku akan pulang." Ucapnya langsung mematikan sambungan telfonnya.


Tanpa pikir panjang, ibunya Afna langsung menyambar tasnya. Kemudian nyonya Nessa lari kecil untuk menemui suaminya.


"Sayang, ada kabar buruk dari rumah. Ayo kita segera pulang." Ajaknya dengan gelisah.


"Ada apa, sayang. Kenapa kamu terburu buru seperti itu, katakan. Ada apa denganmu? ada masalah? katakan, jangan membuatku ikut cemas."


"Ini masalah Afna dan Zayen, kita akan mengetahuinya setelah sampai di rumah. Jangan banyak bicara, sekarang ayo kita pulang." Ajaknya sambil menarik tangan suaminya yang posisi sedang duduk santai.


"Iya, iya. Jangan kuat kuat menarik tanganku, sakit."

__ADS_1


"Maaf, aku hanya tidak mempunyai banyak waktu. Aku sangat mengkhawatirkan Afna, aku takut terjadi apa apa dengan putriku." Ucapnya yang masih menggandeng tangan suaminya.


Didalam mobil, keduanya sama sama gelisah dan juga cemas tentunya. Ditambah lagi putri kesayangannya sedang cidera pada kakinya, pikiran kedua orang tua Afna pun tidak karuan. Keduanya takut jika putrinya mengalami kejadian buruk yang menimpanya.


Tidak berselang waktu lama, kedua orang tua Afna telah sampai di depan rumah. Dengan cepat, keduanya melepas sabuk pengamannya. Tanpa pikir panjang langsung berlarian, karena benar benar sangat mengkhawatirkan kondisi putri kesayangannya.


Dengan nafasnya yang ngos ngosan, dan detak jantungnya yang tidak beraturan membuat nafasnya terasa panas. Pikirannya pun ikut melancong kemana mana saat memikirkan keadaan putrinya.


"Yuni! dimana kamu. Teriak tuan Tirta yang sudah tidak sabar.


Yuni segera keluar dari kamar Afna, dan kini sudah berada di dekat tangga. Tuan Tirta maupun istrinya langsung menapaki anak tangga dengan cepat.


"Dimana Afna, katakan." Tanya tuan Tirta dengan pikirannya yang gelisah.


"Cepat katakan, Yun! dimana Afna dan Zayen sekarang." Tanya nyonya Nessa tanpa nada pelan.


"Mari ikut saya sebentar, Nyonya dan Tuan. Jawabannya ada didalam kamar mandi. Tapi biar saya ambilkan buktinya saja, Tuan dan Nyonya." Jawab Yuni yang juga gugup dan takut bahkan cemas.


Kedua orang tua Afna langsung mengikuti langkah kaki Yuni masuk ke kamar putrinya.


"Maaf, Nyonya dan Tuan lebih baik menunggunya disini. Akan saya ambilkan barang buktinya, disini akan lebih jelas untuk melihat buktinya. Karena tempat ini lebih terang dari kamar mandi." Ucapnya menghentikan langkah tuan Tirta dan istrinya.


"Cepat! tidak pakai lama." Jawab tuan Tirta yang tidak suka menunggu sesuatu yang begitu lama.


Ceklek, Yuni membuka pintu kamar mandi. Kemudian dirinya segera mengambil seprei yang terkena bercak dar*ah. Setelah itu, Yuni langsung keluar dengan membawa seprei yang akan dijadikan bukti didepan kedua majikannya.


Dengan antusias, tuan Tirta dan istrinya menatap sebuah seprei dengan lekat. Keduanya saling menoleh dan menatap satu sama lain. Karena heran, tuan Tirta dan istrinya menggelengkan kepalanya masing masing.


"Bukti apa yang kamu maksud, Yuni." Tanya nyonya Nessa penasaran.


"Ini buktinya, Nyonya dan Tuan ..." jawab Yuni sambil memperlihatkan seprei yang terlihat ada darah yang mengotori seprei milik Afna.


JEDDUAR!! kedua orang tua Afna membelalakan kedua bola matanya. Tuan Tirta dan Nyonya Nessa saling menoleh dan saling menatap satu sama lain. Keduanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak hanya itu saja, kedua orang tua Afna menepuk keningnya. Kemudian setelah itu kedua orang tua Afna menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2