Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Memberi ucapan selamat


__ADS_3

Neyla masih terus memperhatikan Seyn, tanpa ia sadari lupa akan rasa sakit pada kakinya yang terkilir.


"Hei, ngelamun saja dari tadi."


"Aw! sakit, pelan dong ..."


Seketika Seyn menatap Neyla dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Hem ... perasaan dari tadi kamu tidak merasa kesakitan. Jangan jangan kamu cuma bersandiwara, ya? ngaku saja bila ingin dipijat sama laki laki tampan sepertiku."


"Enak saja, kakiku benar benar sakit. Ini semua itu gara gara kamu, jalan saja main slonong begitu saja." Jawab Neyla sambil menunjukkan muka masamnya, lagi lagi Seyn kembali keheranan mendengarnya.


"Kamu kan bukan istriku, untuk apa aku menunggumu? bukankan kamu sendiri yang tidak mau orang lain menyangka kita yang bukan bukan? hem." Ucap Seyn sambil mengurut. Neyla sendiri tidak dapat berucap sepatah katapun, ia memilih untuk diam.


"Sudah, coba gerakkan dengan pelan. Jika masih terasa sakit yang berlebihan, katakan saja. Nanti aku akan panggilkan tukang urut yang handal, aku tukang urut amatiran." Ucapnya lagi, sedangkan Neyla mencoba menggerakkan kakinya yang terkilir.


Dengan pelan, Neyla mencobanya. Senyum mengembang terlihat pada kedua sudut bibirnya. Seyn yang mengerti jika Neyla akan berdiri, segera ia membantunya. Neyla sendiri tidak melakukan penolakan.


"Aw!!" Neyla menjerit kaget, Seyn segera menahan Neyla yang hampir terjatuh.


Keduanya saling beradu pandang satu sama lain cukup lama, tanpa ia sadari ada pelayan yang memperhatikannya. Keduanya hampir saja terhanyut dalam lamunannya, Seyn pun segera menepis pikiran kotornya.


"Hati hati, bukan aku loh yang mencari kesempatan." Ucap Seyn sambil menatap Neyla, dengan cepat Neyla langsung membenarkan posisinya. Namun, masih saja keduanya berhadapan dengan dekat dan hanya berjarak satu jengkal.


"Siapa yang mencari kesempatan, kamu sendiri tadi yang menangkapku. Kenapa tidak biarkan saja aku jatuh, biar aku tidak menyangkamu mencari kesempatan." Jawabnya yang terus membela diri.


"Sudah gi*la kamu, kamu kira aku ini laki laki tidak berperasaan? hem." Ucap Seyn yang juga membela diri.


"Ah sudahlah, ayo kita temui Viko dan istrinya." Ajak Seyn tanpa sadar menggandeng tangan Neyla, seketika Neyla mematung sambil melihat tangannya yang sudah dipegang oleh Seyn.


"Maaf, aku salah orang." Ucap Seyn, kemudian melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Serius, salah orang?" tanya Neyla memastikan.


"Kurang tahu akunya, buruan ayo kita temui Viko dan istrinya." Jawab Seyn mengelak dan segera keluar dari ruangan tersebut, d


sedangkan Neyla sendiri hanya berdecak kesal sambil mengikuti Seyn dari belakang.


Dan sampailah Seyn dan Neyla diatas pelaminan Viko dan Adelyn. Senyum mengembang terlihat dari kedua sudut bibir Seyn dan Neyla saat hampir berhadapan dengan kedua pengantin.


"Selamat menempuh hidup yang baru ya Vik, Adelyn. Semoga kalian berdua bahagia selalu dalam rumah tangga kalian dan segera diberi Viko junior." Ucap Seyn memberi ucapan selamat serta doa yang baik untuk kedua pengantin.


"Terima kak Seyn, semoga segera menyusul dan cepat disegerakan." Jawab Viko, kemudian memeluk Seyn dan keduanya saling menepuk punggung.


Sedangkan Neyla segera berhadapan dengan saudaranya, yaitu Adelyn. Keduanya saling tersenyum bahagia.


"Selamat ya, Del. Semoga rumah tangga kamu selalu diberi kebahagiaan, dan segera mendapatkan kabar baik yaitu hadirnya sang buah hati. Aku turut bahagia atas kebahagiaan kamu yang sudah kamu dapatkan." Ucap Neyla memberi ucapan selamat serta doa yang baik untuk saudara perempuannya itu.


"Terima kasih ya, Ney. Semoga kamu segera menyusul, dan secepatnya dipertemukan dengan seseorang yang tidak lain calon suami." Jawab Adelyn yang ikut mendoakan saudara perempuannya.


"Eh, tunggu. Jangan jangan kalian berdua ini memang sudah ada hubungan yang spesial, ya? ngaku saja." Tanya Adelyn sambil menebak.


"Benar apa yang kamu katakan, kita berdua sudah ada hubungan yang sangat spesial." Jawab Seyn, kemudian segera menarik tangan Neyla dan mengajaknya pergi dari tempat pelaminan.


Viko dan Adelyn hanya tersenyum saat melihat kedua insan yang terlihat sedang kasmaran.


Neyla berusaha melepaskan tangan miliknya, namun tenaga Seyn jauh lebih kuat darinya. Mau tidak mau, Neyla mengikuti langkah Seyn.


"Lepaskan, apa kata orang nanti?" tanyanya yang merasa tidak ingin menjadi pusat perhatian oleh para tamu undangan lainnya.


Setelah serasa ditempat yang lumayan sepi, Seyn melepaskan tangannya.


"Kalau kamu mau mencari orang yang kamu kenal, pergilah. Aku tidak akan mencegahmu, bukannya kamu berangkat dari rumah sendirian. Jadi, pergilah dan temui keluarga kamu." Ucap Seyn, kemudian ia segera mencari tempat duduk yang kiranya dapat membuang rasa lelahnya selama perjalanan yang penuh hambatan.

__ADS_1


Sedangkan Neyla sendiri berdecak kesal dan menghentakkan kakinya saat Seyn meninggalkannya.


Karena malas untuk mencari keberadaan keluarganya, Neyla segera mengambil ponsel dalam tas kecilnya untuk menghubungi keluarganya.


Lagi lagi, panggilan dari Neyla tidak ada jawaban dari keluarga yang ia hubungi.


"Kenapa mama dan papa tidak terlihat, kak Zakka dan kak Rey pun juga tidak terlihat. Zakka juga terlihat, ah! benar benar sial. Kenapa aku tidak mengikuti Seyn saja, setidaknya aku tidak sendirian begini." Gerutunya penuh kesal saat dirinya merasa tidak ada yang dijadikan teman.


"Aaaah! itu Afna, aku bergabung dengannya saja. Untung saja, aku melihatnya. Jadi, aku tidak merasa sendirian. Soal suaminya, pasti pada mau mengalah." Gerutunya dan tersenyum mengembang, kemudian segera menghampirinya.


"Afna!" teriak Neyla dengan kencang sambil berjalan untuk mendekatinya.


Zayen maupun Afna segera menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seorang perempuan yang tidak asing oleh keduanya.


"Neyla, kenapa kamu sendirian?" tanya Afna yang sudah berhadapan dengan saudara perempuannya.


"Iya, aku sendirian. Oh iya, kamu bisa tidak menemaniku. Mau, ya?" jawab Neyla dan merayu Afna untuk menurutinya.


"Maaf Ney, aku dan suami mau pulang. Perutku terasa mual mencium banyak aroma parfum yang menyengat dan berbeda beda aromanya. Tidak hanya itu saja, kepalaku terasa pusing. Jadi, aku memilih untuk pulang dan beristirahat. Oh iya, bukannya tadi kamu bareng dengan Seyn? dimana dia sekarang?" ucap Afna.


"Dia sudah pergi, hanya kebetulan saja tadi aku bertemu dengannya." Jawab Neyla beralasan.


"Oooh, aku kira." Ucapnya dan tersenyum, Neyla hanya menelan salivanya saat mendengar ucapan dari Afna.


"Tadi aku melihat kak Seyn sedang duduk di sudut ruangan sebelah sana, kamu tinggal lurus dan belok kanan dan masuk. Disana ada kak Seyn sedang duduk sendirian." Ucap Zayen sambil menunjukkan arah dimana Seyn sedang duduk.


"Hem ... iya deh, terima kasih." Jawab Neyla, kemudian segera pergi meninggalkan Afna dan Zayen.


Sedangkan Zayen dan Afna hanya tersenyum melihat ekspresi Neyla.


"Aku rasa mereka berdua berjodoh, keduanya nampak sama sama membutuhkan." Ucap Afna sambil melihat Nayla semakin menjauh bayangannya.

__ADS_1


"Kita doakan saja, semoga mereka berdua berjodoh." Jawab Zayen, kemudian menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya pulang.


__ADS_2