
Zayen masih dengan rasa penasarannya akan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Namun, sebisa mungkin untuk berprasangka baik kepada iatrinya.
Setelah menikmati ayam gepreknya, Zayen dan istrinya serta kedua orang tua Zayen dan juga Adelyn kini bersenda gurau bersama di dalam ruangan pasien. Sampai sampai tidak menyadari sudah memakan waktu yang cukup lama, dan tidak terasa juga sudah hampir petang.
"Sayang, sudah hampir gelap. Kamu yakin, kalau kamu mau menginap di rumah sakit?" tanya suami sambil memeluk istrinya dan mengusap usap punggungnya.
Afna sendiri masih dengan diamnya, seakan dirinya tidak ingin berpisah. Afna pun sudah menjadikan suaminya adalah candunya, terasa hampa tanpa ada suami yang berada di sampingnya.
Kedua orangtua Zayen sendiri ikut bersedih melihatnya, tidak seharusnya kenyataan pahit ini terjadi. Namun, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi, dan tidak mungkin untuk diputar kembali.
"Baiklah, aku akan mengizinkan kamu untuk menginap di rumah sakit ini. Tapi ingat, jangan bergadang. Istirahatlah dengan tepat, kasihan yang ada didalam rahim kamu. Pasti sangat membutuhkan istirahat yang cukup, dan perhatian penuh." Ucapnya lagi, kemudian menunduk sedih.
Afna pun segera melepas pelukannya dan ditatapnya wajah sang suami dengan lekat.
"Kenapa kamu terlihat lesu begitu, sayang. Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanyanya penasaran.
"Aku hanya bersedih, disaat kamu dan calon anak kita membutuhkan perhatianku. Namun, aku tidak dapat memberi perhatian penuh untuk kamu dan juga calon anak kita. Maafkan aku, sayang ... aku harus bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Setelah aku bebas dari hukumanku, aku akan memberi perhatian penuh untuk kalian berdua. Aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya, aku kembali kehidupan yang normal. Percayalah, aku sangat mencintaimu dan juga yang ada didalam kandungan kamu." Jawab Zayen, kemudian mengecup kening milik istrinya dengan lembut.
Kedua orang tua Zayen dan Adelyn tersenyum bahagia saat melihat anak dan menantu saling mencintai dan menyayangi. Bahkan, begitu terlihat jelas akan ketulusannya.
Tidak hanya itu, Ayah Zayen pun ikutan memeluk istrinya. Seperti halnya yang dilakukan putranya terhadap istrinya. Adelyn yang melihatnya hanya menggigit jarinya, kedua matanya pun harus melihat kedua sepasang suami istri yang begitu mesra.
__ADS_1
"Aku harus meluk siapa?" gerutu Adelyn, kemudian memasang muka masamnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Makanya, buruan menikah. Agar kamu tidak harus gigit jari terus menerus, kan sayang itu jari jarimu." Ledek Zayen sambil tertawa kecil, Afna hanya tersenyum mendengarnya.
"Pacar saja tidak punya, disuruh menikah. Hemm ... ledek terus ..." jawab Adelyn, kemudian menggembungkan kedua pipinya terlihat gemas.
"Cari lah, atau ... minta dijodohin." Ucap sang kakak sambil meninggikan satu alisnya. Adelyn tidak meresponnya, hanya menjulurkan lidahnya. Kedua orang tuanya pun hanya tersenyum bahagia saat melihat tingkah kedua anak kembarnya yang mudah akrab, meski baru beberapa hari mengenalnya. Namun, keakrabannya mudah untuk saling mengenal. Bahkan, kini keduanya sudah berani untuk bersenda gurau saling meledek dan tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
"Afna, Zayen. Mama dan Papa mau istirahat diruangan sebelah, kalian berdua beristirahatlah. Ingat, jangan bergadang sampai tengah malam. Dijaga baik baik kesehatan kalian berdua, jangan membantah." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Adelyn pamit juga ya, kak ... Adelyn tidak mau menjadi obat nyamuk, hambar." Ucap Adelyn berpamitan.
"Iya ya, sana cepetan pulang. Nanti kelamaan disini aku suruh menjadi obat nyamuk, dan pelayan setia kakak." Jawab Zayen sambil meledek.
Kini, tinggal lah berdua didalam ruangan. Zayen menatap kembali wajah istrinya yang terlihat menyimpan banyak kegundahan dalam pikirannya.
"Sayang, sebenarnya ada masalah apa denganmu? aku lihat dari lamunanmu, bahwa kamu menyimpan masalah yang sedang kamu sembunyikan kepadaku. Ceritakanlah, jika kamu memendam sesuatu yang sulit kamu pecahkan. Ada aku, suami kamu yang siap menerima keluh kesah yang sedang kamu simpan di hatimu." Tanya Zayen yang masih penasaran dengan perubahan pada istrinya.
"Aku hanya bersedih saja, bagaimana dengan kondisi kamu nantinya jika berada di tahanan. Sedangkan kedua kaki kamu luka, dan pastinya kamu kesulitan untuk berjalan. Tidak mungkin juga ada pelayanan khusus untuk tahanan, pastinya akan diperlakukan sama dengan yang lainnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga kamu cepat mengakhiri masa tahanan kamu dan segera bebas dari masa hukuman." Jawab sang istri menatapnya dengan sedih.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, sayang ... percayalah denganku. Yang pastinya, aku akan baik baik saja. Kamu cukup jaga kesehatan kamu demi buah hati kita, dan nantikan aku yang akan segera kembali untukmu dan sang buah hati." Ucapnya mencoba meyakinkan istri tercintanya.
__ADS_1
Afna memegangi kedua pipi milik suaminya seraya berkata, "Aku akan setia menunggumu, sayang." Zayen segera mencium lembut kening istrinya, kemudian keduanya kembali tersenyum.
"Kalau boleh diizinkan, aku akan meminta papa untuk menebus masa tahanan kamu. Agar, kamu tidak lama lama menjalani hukumannya. Bagaimana jika sampai berpuluhan tahun, aku tidak sanggup membayangkannya. Apakah kamu akan setega itu, kepadaku? katakan." Ucap istrinya sedikit ragu.
"Tidak, aku tidak akan menerimanya. Itu tindakan yang tidak bertanggung jawab, tidak baik." Jawab Zayen sambil meletakkan kedua tangannya di atas pundak milik istrinya.
"Tapi ... kalau sampai lama, bagaimana?" tanya Afna yang masih terlihat bersedih.
"Berdoa saja, semoga tidak sampai puluhan tahun. Percayalah, semua akan baik baik saja." Jawab Zayen yang masih berusaha untuk meyakinkan istrinya yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.
Tok tok tok tok, suara ketukan pintu tengah membuyarkan obrolan Afna bersama suaminya. Keduanya pun saling pandang satu sama lain, merasa heran dengan ketukan pintu.
"Buka pintunya, tidak apa apa. Mungkin anggota keluarga kita, buka saja pintunya." Ucap Zayen, kemudian menganggukkan kepalanya.
Afna sendiri sedikit ragu, dirinya merasa takut jika yang datang bukan orang baik baik.
"Kamu yakin? aku takut." Jawab Afna sedikit takut akan ada yang mencelakai suaminya maupun dirinya.
"Aku yakin, buka saja pintunya. Kamu jangan khawatir, sudah ada penjagaan ketat ruangan ini. Yang pasti, siapa yang masuk sudah diseleksi oleh pihak penjaga." Ucap Zayen yang sebenarnya juga penasaran siapa gerangan yang datang pada malam hari.
Tok tok tok tok tok, suara ketukan pintu pun terdengar kembali dengan sangat jelas. Membuat detak jantung milik Afna berdetak sangat kencang, bahkan pikirannya pun ikut dihantui oleh bayangan bayangan yang menakutkan.
__ADS_1
Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya menuju pintu. Meski ada rasa takut, Afna segera menepis pikiran buruknya.