Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Sebuah permintaan


__ADS_3

Takut menunggu lama, Adelyn segera menuju ruang tamu.


'Viko ... yang benar saja, apakah kak Zayen benar benar menelfonnya? serasa tidak percaya aku.' Batin Adelyn yang masih belum percaya akan kedatangan seorang Viko di rumahnya.


Disaat itu juga dengan reflek, Viko menoleh kearah Adelyn yang tengah berdiri tidak jauh dari pandangannya. Dengan sigap, Viko bangkit dari posisi duduknya dan mendekati Adelyn.


"Dimana kakak kamu?" tanya Viko tanpa bawa basi.


"Kak Zayen sedang di ruang kerja Papa, apa perlu aku antar?" jawab Adelyn sedikit gugup.


"Tidak perlu, aku akan menunggunya."


"Nanti kelamaan, biar aku panggilkan kak Zayen. Tunggu sebentar, ya. Oh iya, aku sampai lupa. Terima kasih ya, kamu sudah menolongku dan menyelamatkan nyawaku. Tanpa pertolongan kamu, mungkin aku sudah tidak bernafas." Ucap Adelyn merasa canggung dan malu.


"Oooh, itu sudah menjadi tugasku untuk menolongmu." Jawab Viko datar.


"Viko." Seru Zayen memanggil sambil melangkahkan kakinya.


"Maaf, aku sedikit telat. Dijalanan banyak kemacetan, hingga membuatmu menunggu lama." Jawab Viko, sedangkan Adelyn masih berdiri didekat sang kakak sambil memperhatikan sosok laki laki yang ada didepannya.


"Tidak apa apa, karena akhirnya kamu datang juga. Aku kira kamu tidak mau datang, hampir saja aku mau menjemputmu dan memaksamu." Ucap Zayen sambil menepuk pundak milik Viko dan tersenyum.


"Kenapa kamu masih disini? cepat buatkan kopi pahit, dan kueh yang kamu buat tadi jangan sampai ketinggalan. Antarkan ke ruang kerja Papa, mengerti? jika tidak mengerti tanya lagi dengan Viko." Ucap Zayen, kemudian segera pergi menuju ruang kerja ayahnya. Sedangkan Viko sendiri hanya menelan salivanya, setelah itu mengikuti Zayen dari belakang.


Adelyn hanya berdecak kesal mendengarnya, dan sesuatu pada Viko benar benar diluar dugaannya. Viko yang disangkanya sangat ramah, rupanya lebih dingin dari kakaknya sendiri.


Dengan malas, Adelyn menuju ke dapur. Mau tidak mau, Adelyn harus menghidangkan kopi dan kueh sesuai permintaan saudara kembarnya.

__ADS_1


"Cie ... cemberut, ada yang lagi mendung nih." Ledek Afna sambil membantu Adelyn memotong kueh.


"Apa apaan sih, tidak ada hubungannya cemberut sama mendung." Jawabnya sambil menunjukkan muka masamnya, Afna sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi adik iparnya.


"Pastinya ada hubungannya, dong ... aku tinggal masuk ke kamar dulu, ya. Awas, detak jantungmu berdisko." Ledek Afna sambil menyambar satu potong kueh dan pergi menuju kamarnya.


"Ih, males banget mau mengantarkan minuman sama kuehnya. Aku minta tolong sama pelayan saja, apa ya ... males banget lihat cowok dinginnya seperti es balok." Gerutu Adelyn, tanpa ia sadari ada sang ibu dibelakangnya.


"Hem ... siapa yang seperti es balok, Adelyn?" tanya sang ibu mengagetkan.


"Mama ... kenapa Mama ada di dapur? bukankah Mama sedang sibuk dengan pekerjaan Mama? hem." Jawab Adelyn sedikit cemberut.


"Kamu kenapa, sayang? kok kamu terlihat kesal begitu." Tanya sang ibu sambil mempeehatikan putrinya.


"Tidak apa apa kok, Ma. Adelyn sedang banyak tugas dari Papa, besok Adelyn di suruh masuk ke Kantor bareng kak Zayen." Jawabnya mencari alasan.


Sedangkan Viko kini sedang duduk bersama tuan Alfan dan juga Zayen.


"Viko, apakah kamu sudah siap untuk diberikan pertanyaan?" tanya tuan Alfan sambil menatap Viko dengan serius.


"Iya, Tuan. Saya sudah siap menerima pertanyaan dari tuan, sebisa mungkin akan saya jawab dengan baik." Jawab Viko sedikit canggung.


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Paman Alfan. Itu jauh lebih baik dan jauh lebih dekat. Aku memintamu untuk datang kesini ada sesuatu, yaitu sebuah permintaan dariku. Aku berharap kamu tidak akan menolaknya, dan akan mengabulkan permintaanku." Ucap tuan Alfan dengan tatapan seriusnya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu dari luar tengah mengagetkan yang berada di dalam ruangan, Zayen bergegas bangkit dari posisi duduknya. Kemudian segera ia membukakan pintun, karena Zayen sendiri mengetahui siapa yang mengetuk pintu.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu pun terbuka, Adelyn segera masuk dan menyuguhkan minuman kopi pahit beserta kueh buatannya sendiri.


"Adelyn duduklah." Perintah sang ayah, Adelyn pun hanya bisa nurut tanpa menjawab sepatah kata pun. Adelyn duduk bersebelahan dengan Viko, sedangkan Viko sendiri tetap tenang. Zayen hanya berdiri di dekat sang adik, berharap tidak akan penolakan dengan keduanya.


"Viko, mulai besok kamu akan masuk ke kantor. Kamu akan menjadi sekretaris Zayen, dan juga akan menjadi pengawas putriku. Aku kurang yakin untuk mencari pengawas selain kamu, karena peengawas sebelumnya waktu masih di Amerika selalu di sogoknya untuk menuruti kemauan Adelyn. Aku yakin, Adelyn tidak akan pernah berani melakukannya denganmu." Ucap tuan Alfan, kemudian pada kalimat terkahir melirik kearah putrinya.


"Tapi, Pa ... Adelyn sudah berubah. Adelyn tidak lagi seperti dulu, percayalah dengan Adelyn." Ucap Adelyn memohon dan penuh berbagai alasan.


'Yang benar saja, aku akan mendapat pengawasan dari laki laki batu ini. Ah, mana bisa aku merayu dia untuk menuruti kemanapun yang aku mau.' Batin Adelyn berdecak kesal.


Sedangkan Viko sendiri tidak bisa menolaknya, mau tidak mau akan tetap menerima permintaan tuan Alfan.


"Baik, Paman. Saya akan menerima permintaan dari Paman, semoga saya tidak mengecewakan amanat dari Paman."


"Terima kasih Nak Viko, karena dalam waktu dekat ini Paman akan kembali ke Amerika. Dan satu hal lagi, aku titipkan Adelyn kepada kamu. Ajarin dia segala kebaikan apapun, agar Adelyn semakin dewasa. Jika dia membantah, kamu berhak menghukumnya dengan hal yang baik. Oh iya, hampir saja aku lupa. Nanti sore kamu jemput Seyn, dan ini kunci rumah dan kunci mobil untuknya. Nanti Zayen pun ikut menjemput Seyn, mau bagaimanapun Zayen adalah adiknya." Ucap tuan Alfan menjelaskan, sedang Adelyn hanya menarik nafas panjangnya. Berharap, semua yang ia dengar hanyalah mimpi buruk.


Berkali kali Adelyn menepuk nepuk kedua pipinya, agar ia tersadar dari mimpinya.


Pluk!! Zayen sengaja menepuk pipi kanan milik saudara kembarnya agar tersadar dari lamunannya.


"Ini nyata, Delyn. Nyata, tidak ada rekayasa sedikitpun. Mulai besok kamu akan ikut masuk kerja, terserah kamu ingin duduk diposisi mana. Bisa jadi OB, bisa jadi satpamku, dan pastinya bisa jadi teman untuk sekretaris Viko." Ucap Zayen meledek, sedangkan Viko hanya menelan salivanya. Tuan Alfan sendiri tersenyum melihat ekspresi putrinya dengan menunjukkan muka masamnya.


"Tidak lucu, aku mau mandi. Hari ini mau istirahat total, agar besok tidak jantungan." Jawab Adelyn jutek, kemudian segera keluar dari ruangan kerja ayahnya.


Zayen maupun sang ayah hanya tertawa kecil melihat ekspresi Adelyn yang benar benar menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2