Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Makan siang


__ADS_3

Sesampainya didalam Restoran, Rifki memilih satu meja bersama pak Roni. Sedangkan Seyn satu meja dengan Neyla, keduanya pun duduk saling berhadapan hingga membuat Neyla salah tingkah.


Dengan sedikit malu, Neyla menikmati makan siangnya. Seyn sendiri pun juga menikmati makan siangnya sambil alih alih memperhatikan Neyla, meski Neyla tanpa menyadarinya jika dirinya sendiri tengah diperhatikan oleh Seyn.


Disaat itu juga, Seyn tersenyum sambil mengunyah makanannya tanpa sepengetahuan dari Neyla yang sedang fokus dengan porsi makannya.


Setelah menikmati makan siangnya, kedua mata Seyn tertuju pada sesuatu yang tengah ia perhatikan. Dengan reflek, Seyn mengusap sudut bibir sebelah kiri milik Neyla yang terdapat sisa makanan yang tengah menempelnya.


Seketika itu, Neyla tercengang mendapati tangan Seyn tengah mengusap lembut disudut bibirnya sebelah kiri.


"Lain kali, sediakan tissu di sebelah piring kamu. Jadi, kamu tidak terlalu buru buru untuk meraih tissunya." Ucap Seyn sambil mengusapnya sudut bibir milik Neyla. Dengan sigap, Neyla mencoba melepaskanmya. Namun justru tangan Seyn lebih dulu memerangi tangan milik Neyla.


"Eh, maaf. Aku terbawa suasana, lupakan saja." Ucap Seyn dengan reflek, Neyla pun sedikit gugup dan detak jantungnya saja merasa tidak karuan. Secepat mungkin, keduanya segera menepis pikiran kotornya.


Setelah cukup lama menikmati makan siangnya, kini keduanya memutuskan untuk kembali ke Kantor masing masing.


"Terima kasih atas makan siangnya, sampai bertemu dilain waktu." Ucap Seyn sebelum berpisah jalan.


"Sama sama, kalau begitu aku permisi untuk kembali ke Kantor. Jawab Neyla, kemudian segera ia masuk kedalam mobilnya yang baru saja sampai di depan Restoran.


Seyn menatapnya hingga bayangan mobil yang dinaiki Neyla tidak lagi terlihat, lalu ia segera masuk kedalam mobilnya dan segera kembali ke Kantor.


"Bos, apakah tadi pemilik Perusahaan REKANEY?" tanya Rifki yang penasaran. Seyn sendiri langsung menoleh ke arah Rifki dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Iya, kenapa? apakah kamu menyukai perempuan tadi?" tanya Seyn dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak, Bos. Perempuan tadi sangat cantik, dan juga sangat cocok dengan Bos Seyn. Kenapa tidak didekati saja, Bos? nanti keburu diincar laki laki lain." Jawab Rifki memancing perasaan Seyn.


"Hem, begitu maksud kamu? tidak usah kemana mana pikiran kamu. Siapa tahu saja dia sudah memiliki seorang calon suami, hem. Kamu jangan ngelantur yang aneh aneh, mending kita fokus kerja." Ucap Seyn, kemudian ia menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Berharap, Rifki tidak memberi berbagai pertanyaan.


Sedangkan di lain tempat dan didalam Kantor, Viko dan Zayen tengah menikmati makan siangnya yang terlambat dikarenakan pekerjaannya yang padat. Semua yang berada di dalam Kantin kembali heboh, semua mata tertuju pada dua sosok laki laki yang sama tampannya.


Tanpa disadari oleh karyawan lainnya, bahwa ada sosok wanita yang tengah memperhatikan para karyawan yang sedang sibuk berbisik bisik membicarakan Zayen dan Viko.


"Adelyn, kenapa muka kamu terlihat lesu begitu? kamu sakit? coba sini aku cek." Tanya Sasa sambil memeriksa keningnya, tetap saja tidak ada tanda tanda suhu tubuhnya Adelyn panas.


"Sudah deh, Sasa. Aku tidak sakit ... ada ada saja kamu ini." Jawab Adelyn sambil menyingkirkan tangan milik Sasa dari kening milik Adelyn.


"Ih, kamu ini. Sok tahu banget sih, hem ..." jawab Adelyn sambil dibuat cemberut.


"Ih, iya juga tidak apa apa loh. Keduanya sama sama gantengnya, eh! ngomong ngomong Merry hari ini tidak terlihat. Tumben sekali dia, biasanya langsung mendekati dua laki laki tampan itu."


Adelyn yang mendapati pertanyaan soal Merry hanya tersenyum tipis, Adelyn sendiri tidak berani untuk membeberkan sikapnya yang sudah mengganggunya dan juga tanda tanda akan hubungan saudara kembarnya itu. Sebisa mungkin, Adelyn untuk tidak menceritakannya.


"Aku tidak tahu, Sa. Mungkin si Merry sedang izin untuk tidak berangkat, bisa jadi ada kesibukan yang sangat penting. Setelah cukup lama menikmati makan siangnya, Adelyn dan Sasa kembali ke pekerjaannya.


Sedangkan Viko dan Zayen memilih untuk berkeliling keliling Kantor sambil mengobrol disetiap langkahnya, keduanya nampak bahagia. Bahkan, kini tidak lagi ada beban yang begitu berat dipundaknya, dan tidak ada lagi merasa ketakutan dari kejaran polisi.

__ADS_1


"Bos, ternyata perjalanan hidup kita bertemu dititik yang sama lagi. Aku tidak pernah menyangkanya, sungguh masa lalu penuh perjuangan. Bahkan, kita rela melakukan apa saja demi keberhasilan." Ucap Viko mengingat masa lalu bersama Zayen yang selalu keluar malam dengan resiko yang sangat mencemaskan.


"Iya, kita bertemu lagi dititik yang sama. Kita jadikan masa lalu kelan kita menjadi sebuah pelajaran yang tidak akan pernah terulang kembali pada diri kita, maupun pada generasi kita nantinya." Jawab Zayen dengan langkah kakinya yang santai.


"Benar, Bos. Masa lalu kita memanglah kelam, namun ada saatnya sekarang ini kita menjadi lebih baik lagi." Ucap Viko sambil fokus pandangannya lurus kedepan.


"Ngomong ngomong, hari pernikahan kamu berapa hari lagi? jangan lama lama. Bila perlu secepatnya itu lebih baik." Tanya Zayen, kemudian menoleh ke Viko.


"Aku belum mengetahuinya, aku pasrahkan kepada keluarga kamu, Bos. Aku siap kapanpun waktunya, bila lebih cepat lebih baik pun aku tidak mempermasalahkannya." Jawab Viko.


"Ehem ehem ... serius banget ngobrolnya." Ucap Adelyn yang tiba tiba sudah berdiri dibelakang kedua laki laki tampan, siapalagi kalau bukan Zayen dan Viko.


Disaat itu juga, Adelyn pura pura memasang muka masamnya. Zayen maupun Viko segera menoleh ke sumber suara, tepatnya Adelyn yang sudah dibelakangnya.


"Hem ... lucu sekali muka kamu ini, Adelyn ..." ucap Zayen sambil mencubit kedua pipi saudara kembarnya itu dengan gemas. Kemudian, segera ia meninggalkan Viko dan Adelyn.


Viko yang hendak nengejar Zayen pun terasa tidak dapat digerakkan anggota tubuhnya, Viko pun tersenyum lebar menatap sosok wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.


"Kamu kenapa? cemberut begitu, jelek tahu." Tanya Viko sambil meledek.


"Biarin, habisnya selama di kantin kamu cuek bebek begitu. Justru, kamu dan kak Zayen seperti tebar pesona gitu. Hem ... menyebalkan, semua laki laki itu sama. Sukanya bikin jantungan dan naik darah, lupa kalau sudah mengobro." Jawab Adelyn sambil memasang muka masammya, Viko tersenyum mendengarkannya.


"Apa kamu lupa? di Kantor ini tidak ada yang mengetahui siapa kamu dan juga aku, apa kata pekerja di Kantor ini, sayang? jika semuanya mendadak jantungan." Ucap Viko mengingatkan, Adelyn pun akhir tersenyum lebar. Ia baru menyadari akan penyamarannya di Kantor keluarganya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2