
Pagi yang sangat menegangkan, waktu yang tidak pernah diinginkan oleh semuanya. Namun, mau tidak mau harus menerima kenyataan dengan lapang dada.
Zayen mencoba untuk berdiri meski masih menahan rasa sakit pada kedua kakinya, sebisa mungkin Zayen berusaha untuk menahannya. Afna yang berada didepan suaminya hanya menunduk dan berdiam diri didepan suaminya, seakan tidak ingin berpisah. Air matanya pun masih terus mengalir dan menangis sesenggukan.
Zayenmeletakkan kedua tangannya diatas pundak istrinya, Afna masi dengan posisinya menundukan pandangannya.
"Sayang lihatlah aku, tatap kedua mataku." Pinta Zayen memohon. Afna pun hanya bisa nurut dengan apa yang tengah suaminya ucapkan.
Kini, keduanya tengah saling menatap satu sama lain. Kedua matanya masih terlihat basah karena air matanya yang terus mengalir. Zayen menghampus air matanya, kemudian memeluk istrinya dan mengusap punggung istrinya berkali kali.
"Sampai kapan kamu akan menangisiku? apa kamu tidak kasihan dengan janin yang ada di rahimmu. Harus berapa kali aku mengingatkan kamu, bersabarlah. Tidak perlu kamu mengkhawatirkan aku, kamu masih bisa untuk menemuiku. Kita masih bisa untuk bertemu, kita berpisah hanya sementara. Anggaplah, aku sedang mengejar cita citaku untuk masa depan kita. Aku pasti kembali untuk kamu dan juga calon buah hati kita, kamu harus bersabar untuk melewatinya." Ucapnya didekat telinga istrinya, Afna masih diam tidak berucap.
Terasa berat Afna mengucapkan sepatah kata untuk suaminya, bibirnya pun terasa kelu dan juga kaku. Afna benar benar dalam dilemanya, seakan dunianya menjadi gelap. Mimpi yang sebentar lagi akan tergapai, kini sang suami harus mendekam di balik jeruji besi.
Zayen melepaskan pelukannya, kemudian menatapnya dengan lekat.
"Tersenyumlah untukku, setelah ini aku harus pergi untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatanku. Doakan aku, semoga aku dapat melewatinya dengan mudah." Ucap Zayen sambil menatap lekat muka sedihnya sang istri.
"Bagaimana aku bisa tersenyum, membayangkannya saja aku tidak sanggup. Aku tidak tahu, entah bagaimana nasibmu disana nantinya. Sungguh, aku tidak bisa membayangkannya. Aku sangat takut, jika terjadi sesuatu padamu disana." Jawab Afna yang masih menangis, Zayen berkali kali mengusap air matanya dan mencium kening milik istrinya.
Kedua orang tua masing masing pun ikut mematikan air matanya terharu melihatnya anak dan menantu yang begitu saling mencintai dengan tulus. Tidak hanya itu, anggota kepolisian juga terharu melihatnya. Namun, mau bagaimana lagi. Hukum tetaplah hukum yang harus dipatuhi peraturannya.
__ADS_1
Semua menarik nafasnya pelan dan mengeluarkannya dengan kasar, saat melihat perpisahan suami istri yang begitu mengharukan.
"Maaf, waktunya sudah habis. Sekarang sudah waktunya untuk berangkat, mari iku saya." Ucapnya dari pihak kepolisian.
Afna semakin erat memegangi kedua tangan milik suaminya, serasa berat untuk melepaskannya. Air matanya mengalir semakin deras dan membanjiri kedua pipinya, Afna masih belum bisa untuk merelakannya. Zayen semakin tidak tega melihat istrinya, meski sebenarnya ia juga menitikan air matanya. Sebisa mungkin Zayen tidak menunjukkannya didepan istrinya.
Afna terus meronta memanggil suaminya dengan histeris, kedua orang tuanya pun berusaha untuk menahannya.
"Sayang ... aku mohon ... jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku mohon ... sayang ..." seru Afna memanggil suaminya yang semakin jauh langkahnya bersama kedua orang tua suaminya. Dan disaat itu juga, Afna jatuh pingsan tidak kuasa menahan kesedihannya.
"Afna, bangun sayang. Afna, bangun ..." seru ibunya panik sambil menepuk nepuk pelan kedua pipi milik putrinya. Sedangkan sang ayah segera menekan tombol untuk memanggil Dokter, kemudian langsung mengangkat putrinya dan dibaringkan diatas ranjang pasien.
"Dok, bagaimana dengan kondisi putri saya?" tanyanya semakin gelisah dan khawatir dengan putrinya dan juga janin yang ada didalam kandungannya. Ibunya pun begitu cemas memikirkan putrinya yang benar benar shok untuk menerima kenyataan yang begitu pahit.
"Tidak apa apa, kondisi janin yang ada didalam kandungannya pun tidak bermasalah. Putri tuan baik baik saja, hanya butuh istirahat yang cukup dan hindari dari banyaknya pikiran. Dikarenakan usia janin yang masih terbilang sangatlah muda. Dijaga juga kesehatannya, jangan dibiarkan untuk bergadang." Jawab sang Dokter mengingatkan.
"Terimakasih Dok." Ucap ayah Afna merasa lega, apa yang tengah ditakutkan dapat teratasi.
"Sayang, bagaimana ini. Jika Afna terus terusan bersedih, aku tidak sanggup melihatnya. Ditambah lagi dengan kondisi keadaannya yang sedang hamil muda, pasti butuh sosok suami untuk mendampinginya. Afna pasti akan semakin tertekan, jika Zayen akan lama di tahanan." Ucapnya bersedih dan sangat mengkhawatirkan akan kondisi putrinya.
"Kamu jangan khawatir, Zayen akan segera bebas dan akan kembali. Anak buah Zayen sudah memiliki bukti, rekaman ancaman dari ayah asuhnya dan juga ancaman dari Seyn yang telah terekam dengan sangat jelas. Kazza pun ada pertemuan dengan Vikko, untuk melakukan penyelidikan atas kasus telfon yang tengah masuk di nomornya. Semoga saja, usaha Viko tidak sia sia. Namun, sepertinya sangat sulit untuk menemukan dalang dari penculikan Zayen. Setidaknya, Zayen dapat dibebaskan itu harapan kita untuk putri kita. Setelah itu, baru penyelidikan siapa dalangnya dibalik semua ini." Jawabnya menjelaskan panjang lebar, berharap sang istri begitu mencemaskan.
__ADS_1
"Kamu yakin? jika Zayen dapat dibebaskan? aku takut tidak sesuai harapan." Ucapnya yang masih belum percaya, takut semua usahanya akan gagal dan sia sia.
"Aku hanya bisa berharap, semoga bukti yang akan terkumpul bisa membebaskan menantu kita. Aku yakin itu, bahwa Zayen tidak bodoh. Dia memiliki segudang cara untuk membela dirinya, hanya saja bukan dirinya sendiri yang mengungkapkannya." Jawabnya sambil menerka sosok menantunya.
"Semoga saja, apa yang kamu katakan ada benarnya. Dan tidak bertahan lama dibalik jeruji besi, aku tidak tega melihat putri kita terus terusan bersedih. Seharusnya Afna dan Zayen bahagia mendapatkan kabar kehamilannya, namun kabar bahagianya diganti kabar buruk dari suaminya." Ucapnya bersedih.
"Sudahlah, kamu tidak perlu cemas seperti itu. Percayalah dengan menantu kita, Zayen pasti dapat melewatinya dengan mudah. Yang terpenting, hibur terus Afna. Jangan buat Afna terlalu banyak pikiran, alihkan pikirannya ke yang lain. Agar calon buah hatinya dan Afna sehat sehat selalu, dan janinnya dapat tumbuh dengan baik." Jawabnya dan mengingatkan.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Semoga semua dapat teratasi dengan baik, dan tidak lagi ada ancaman yang menegangkan." Ucapnya.
Tidak lama kemudian, Afna membuka kedua matanya dengan pelan. Jari jemarinya pun tengah digerakkan, kedua orang tua Afna tersenyum melihat putrinya yang tengah sadarkan diri dari pingsannya.
"Afna, sudah sadar kamu Nak?" tanya ibunya sambil mengusap pucuk kepala putrinya.
"Suami Afna ada dimana, Ma? suami Afna baik baik saja, 'kan?" tanya Afna dengan lesu.
"Suami Afna baik baik saja, percayalah sama Mama." Jawabnya berusaha meyakinkan putrinya.
"Apakah Afna sanggup melewati hari hari Afna tanpa suami?" tanyanya dengan tatapan sedihnya.
"Kenapa tidak sanggup, kamu bisa menemui suami kamu kapanpun. Percayalah sama Papa, suami kamu akan segera dibebaskan. Yang terpenting, banyak banyaklah berdoa. Semoga suami kamu tidak tahan lama berada di tahanan, dan segera kembali dan tinggal bersamamu lagi." Ucap sang Ayah ikut menimpali.
__ADS_1