Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tidak ingin jauh


__ADS_3

Setelah menikmati makanannya, Zayen menatap istrinya terlihat ada sisa makanan yang menempel pada sudut kanan bibir milik Afna. Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menciumnya dengan lembut. Afna merasa malu dibuatnya, kedua pipinya pun berubah merah merona. Zayen hanya tersenyum melihat sang istri yang begitu menggemaskan.


"Maafkan aku, yang belum bisa berada disampingmu untuk saat ini. Percayalah denganku, aku akan segera kembali untukmu dan untuk calon buah hati kita." Ucapnya sambil meletakkan telapak tangan milik istrinya di bagian dada bidangnya, Zayen pun mengusap pelan bagian perut milik istrinya. Serasa menunjuk calon buah hatinya, kemudian segera ia memeluk istrinya dengan mesra. Afna pun menyandarkan tubuhnya pada dada bidang milik suami tercintanya.


"Aku akan sabar menunggumu sampai kamu kembali. Aku tahu, itu tidak mudah. Sebisa mungkin aku akan bersabar dan mendoakanmu selalu, semoga kita dapat berkumpul lagi seperti yang kita harapkan. Kita akan melanjutkan mimpi mimpi kita bersama buah hati kita nantinya, aku tidak ingin jauh darimu." Jawab Afna sambil memegangi kedua tangan milik suaminya, seakan tidak ingin melepaskannya.


Begitu juga dengan Zayen yang tidak ingin melepaskan pelukannya, ia pun ingin selalu berada disamping sang istri tercintanya. Namun, mau tidak mau Zayen harus bertahan di balik jeruji besi selama belum ada penyelesaian. Kedua keluarga besar dari keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta sama sama untuk mencari solusi dan juga bukti yang akurat untuk dijadikan laporan.


Dengan pelan dan sangat hati hati, Zayen mencoba melepaskan pelukannya. Ia menyadari, bahwa waktunya sudah hampir habis.


"Sayang, lihat lah aku sebentar saja." Pinta Afna sambil melepaskan pelukannya, Afna pun berbalik arah menatap suaminya dengan lekat.


"Ada apa?" tanya Afna penasaran. Zayen segera memegangi kedua pundak milik istrinya dan menatapnya dengan serius.


"Waktu kita sudah habis, maafkan aku yang harus kembali masuk ke sel tahanan bersama yang lainnya. Percayalah denganku, disini ada kamu dan calon buah hati kita. Aku akan menjaganya sampai aku kembali, bersabarlah. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu, tunggu aku sampai kembali." Jawab Zayen kembali meletakkan telapak tangan milik istrinya pada dada bidangnya.


Tidak terasa, air mata Afna pun kembali mengalir. Begitu berat untuknya meninggalkan sang suami didalam tahanan, sungguh sangat menyedihkan. Afna kembali memeluk erat suaminya, seakan tidak ingin melepaskannya dan ingin selalu berada didekat suaminya. Zayen sendiri tidak kuasa melihat wanita yang dicintainya kembali bersedih dan menangis dihadapannya, sungguh benar benar tidak kuasa untuk menahannya. Terasa sesak didalam dada, seakan sangat sulit untuk bernafas dalam keadaan memikirkan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.


Dengan terpaksa, Zayen melepaskan pelukannya. Dan dilihatnya wajah istrinya yang terlihat sembab karena tangisnya, Zayen sendiri tidak tega untuk melihatnya.

__ADS_1


"Sayang, kita pasti bisa untuk melewatinya. Percayalah denganku, aku akan segera kembali untukmu." Ucap Zayen dengan tatapannya yang serius, Afna hanya menatapnya sedih. Hidupnya seakan kehilangan separuh nyawanya. Senyum yang baru ia ukir, kini harus harus hancur berkeping-keping.


"Maaf, waktunya sudah habis. Mari ikut saya untuk kembali kedalam ruangan kamu." Ucap dari salah satu petugas yang tengah mengagetkan Afna maupun Zayen, keduanya pun sedih mendengarnya. Mau tidak mau harus patuh dengan peraturan yang berlaku, Afna hanya diam membisu saat menatap suaminya.


Langkah demi langkah, dengan terpaksa dan berat hatinya Zayen melepaskan genggaman tangannya pada istrinya. Hingga bayangan suaminya tidak lagi terlihat, Zayen sendiri tidak berani untuk menoleh kearah istrinya. Ia takut jika istrinya akan semakin bersedih melihatnya, dan hatinya pun ikut terluka.


Afna hanya menitikan air matanya, seakan salam perpisahan yang begitu menyakitkan.


"Nona, bersabarlah. Aku yakin Nona pasti bisa melewatinya, dan suami Nona akan segera dibebaskan." Ucap Vella berusaha menenangkan istri dari temannya.


"Apa yang dikatakan Vella ada benarnya, kamu harus bersabar. Kamu harus yakin bahwa suami kamu akan segera dibebaskan dari sel tahanan ini, kamu harus optimis." Ucap saudara kembarnya ikut menimpali, sang kakak pun segera merangkulnya untuk memberi ketenangan pada adiknya.


"Kalau begitu kita langsung pulang saja, atau ... kamu ingin pergi kemana yang bisa membuatmu tenang? katakanlah." Ucap sang kakak dan bertanya.


"Aku tidak tahu kemana arah tujuanku, aku hanya ingin menyendiri." Jawabnya yang tidak lagi bersemangat, seakan dunianya telah berubah.


"Bagaimana kalau kita pergi ke Asrama anak anak yang pernah Nona datangi bersama suami Nona?" ajak Vella berusaha untuk mengalihkan kesedihannya.


"Baiklah, terserah kalian berdua saja. Bagiku sama saja arah tujuannya, perasaanku tetap pada suamiku." Jawab Afna dengan tatapan sedihnya.

__ADS_1


"Ayo berangkat, disana banyak anak anak yang jauh beruntung dari kita." Ajak Kazza sambil menggandeng saudara kembarnya, Vella pun terharu melihatnya. Afna sendiri hanya nurut dengan apa yang dilakukan saudara kembarannya.


Sesampainya didekat ruangan yang dimana suaminya ditahan, Afna membelalakan kedua bola matanya saat melihat sosok wanita yang tidak begitu asing baginya.


"Aku minta sekarang juga tandatangani surat perceraian kita, aku tidak sudi memiliki suami yang bo*doh sepertimu." Ucapnya didepan Seyn dengan sinis, Seyn berusaha untuk tenang menghadapinya.


"Apa kamu sedang gila, hah! bukankah kamu sedang mengandung anakku dan kini kamu memintaku untuk bercerai. Permintaan macam apa kamu ini, benar benar gila! kamu." Ucap Seyn dengan emosinya. Istrinya pun hanya tertawa lepas saat mendengarnya, Seyn semakin geram dibuatnya.


"Anak kamu? sejak kapan kita melakukannya, kepedean sekali kamu. Kamu pikir aku wanita bo*doh yang mau melakukannya dengan laki laki bo*doh sepertimu. Aku hanya menjebakmu, puas! kamu." Ucapnya dengan senyum sinisnya, disaat itu juga Seyn mengepalkan kedua tangannya seakan ingin melayangkan tinjuannya kearah istrinya yang lak*nat.


Rahangnya pun mengeras, sorot pada kedua matanya pun sangat tajam. Darahnya seketika terasa mendidih sampai diubun ubun, kesabarannya pun sedang diselimuti emosinya yang memuncak.


Semua yang mendengar penuturan dari istri Seyn pun tercengang, terasa tidak percaya dengan ucapannya yang begitu berani terhadap suaminya.


"Aku pastikan, pasti kamu dalangnya dari kecelakaan Afna. Kamu juga yang telah memberi obat pada minumanku dan juga minuman Afna, katakan! sekarang juga." Ucap Seyn menebaknya dengan sorot matanya penuh kebencian. Istrinya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Seyn, seketika itu juga Kazza ikut geram mendengarnya.


Dengan senang hati, Seyn segera meraih lembaran kertas diatas meja yang ada didepannya. Seyn langsung menandatangani surat perceraiannya dengan istrinya yang bernama Reina.


"Nah, begitu dong. Aku tidak capek capek merayumu, selamat menikmati hidupmu dibalik jeruji besi ini." Ucapnya lirih didepan Seyn dan tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2