
Zayen masih duduk dengan santai, sedangkan Afna membuang muka ke arah luar. Afna masih sedikit jengkel atas sikap Zayen yang tiba tiba cuek dan biasa biasa saja.
"Maaf Tuan, dan Nona ... ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai tersebut.
"Aku minta, lakukan perawatan untuknya yang sempurna baiknya. Jangan sampai ada yang tergores sedikitpun. Jika kamu dan pelayan lainnya melakukan kesalahan, maka siap siap akan saya laporkan untuk memecat semua pegawai disini." Jawab Zayen sedikit melotot, dirinya seakan memberi isyarat untuk pegawai tersebut.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan dengan kualitas yang terbaik, kami tidak akan mengecewakannya."
"Bagus, pilihkan pakaian yang cukup sederhana. Setidaknya tetap terlihat cantik meski pakaiannya yang sederhana." Pinta Zayen menekan.
"Akan kami pilihkan sesuai permintaan Tuan."
Afna yang mendengarkannya pun tiba tiba memasang muka masamnya, entah karena masalah apa hingga membuat Afna masih terasa kesal terhadap suaminya.
"Sekarang kamu ikuti pelayan ini ke ruangan perawatan, aku akan kembali setelah pelayan tadi menelfonku. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan kabur."
"Aku tidak mau, kamu pasti akan bertemu dengan wanita lain. Pasti pemilik Butik ini, aku tidak percaya."
'Tuh, kan .... aku yakin dengannya. Pasti dia mau ada pertemuan dengan wanita lain, buktinya dia ingin pergi dari tempat ini. Aku yakin, pasti pemilik perawatan ini sekaligus butik ini adalah milik kekasihnya. Buktinya saja, semua tertunduk hormat. Bahkan tidak mengakui aku sebagai istrinya, dia saja tidak menyebutkan bahwa aku ini istrinya.' Gumamnya berdecak kesal sambil merasakan pijatan.
Zayen tiba tiba membelalakan kedua bola matanya saat istrinya menuduh akan janjian dengan wanita lain.
"Siapa yang akan melakukan pertemuan bersama wanita lain, apa kamu sudah gil*a. Aku sudah memiliki seorang istri, ngapain ngajak pertemuan dengan wanita lain. Kurang kerjaan, tidak penting."
"Pokoknya aku maunya kamu menungguku disini, titik."
Zayen ikutan kesal, akhirnya dirinya pun harus mengikuti kemauan istrinya. Meski pada akhirnya akan keluar dari tempat tersebut.
"Baiklah, agar kamu percaya aku akan menunggumu disini."
"Terimakasih, aku percaya sama kamu." Seketika itu juga, wajah Afna kembali semula. Afna tidak lagi memasang muka masamnya, bahkan sentuhan bi*bir dengan Zayen yang sudah lewat pun Afna tidak lagi menyadarinya.
"Mari, Nona .." salah satu pelayan tersebut membantu Afna untuk masuk ke ruangan perawatan. Sedangkan Zayen masih duduk di tempat semula dengan santai, dirinya sambil memainkan ponsel sembari menunggu sang istri terasa cukup lama di ruang perawatan.
__ADS_1
Setelah merasa sudah cukup lama, Zayen segera pergi ke salon laki laki. Dirinya ingin merapihkan penampilannya. Meski rambutnya masih gondrong, setidaknya tidak terlihat berantakan. Zayen sengaja belum memotong rambutnya karena sesuatu hal yang sedang dirahasiakannya.
Sedangkan Afna masih menikmati pijatan pijatan yang membuatnya rileks.
"Mbak, boleh tanya tidak."
"Silahkan, Nona ..."
"Sebenarnya siapa pemilik tempat perawatan dan butik ini, Mbak?" tanya Afna penasaran.
"Tempat ini pemiliknya sangat dirahasiakan, Nona. Bahkan, saya sendiri tidak mengetahui siapa pemiliknya." Jawabnya sesantai mungkin, agar tidak diketahui kebenarannya. Jika sampai terbongkar, maka seluruh karyawan lainnya akan dipecat. Bahkan tidak akan bisa mendaftar kerja ke tempat lainnya.
"Oooh, aku kira wanita yang duduk manis di bagian Butik."
"Oooh, dia juga sama seperti saya. Hanya saja, dia bekerja dibagian butik. Jika kami banyak pelanggan, dia juga ikut membantu kami di sini."
"Aku kira dia pemiliknya, soalnya terlihat cantik."
"Begitu ya, mbak. Sangat tersembunyi berseri pemiliknya, jadi penasaran untuk mengetahui siapa pemiliknya. Seandainya saja, aku mengenalnya. Aku akan bekerja disini, aku ingin menambah penghasilan." Ujarnya sambil menikmati pijatannya.
'Untuk apa Nona mencari pekerjaan, bahkan sambil tiduran saja uangnya akan terkumpul. Sayangnya, Nona harus merasakan rasanya bersuami orang biasa.' Gumamnya tersenyum tanpa sepengetahuan yang lain.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini Afna telah selesai melakukan perawatannya. Afna mulai dirias wajahnya agar tidak terlihat pucat, sedangkan Afna hanya nurut saja tanpa ada komentar.
Tanpa disadari oleh Afna, kini Zayen sudah berdiri sambil menyadarkan tubuhnya di dekat pintu. Zayen memperhatikan penampilan istrinya yang ternyata terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan pakaian yang sederhana. Zayen benar benar puas akan hasilnya, dan kualitasnya tidak diragukan lagi.
Dengan pelan, Zayen melangkahkan kakinya untuk mendekati Afna yang masih fokus didepan cermin.
"Sempurna." Ucap Zayen dibelakang Afna sambil membungkukkan badannya dan berucap di dekat telinga Afna.
Afna pun kaget dibuatnya, dirinya benar benar tidak menyangka jika sang suami sudah berada dibelakangnya.
Afna masih fokus didepan cermin, dilihatnya penampilan suaminya yang terlihat berbeda dengan sebelumnya.
__ADS_1
Meski masih terlihat gondrong, tetapi tidak membuatnya terlihat seram. Justru, Zayen masih terlihat tampan. Dengan brewok tipis milik suaminya, Afna hanya tersenyum tanpa ada yang mengetahuinya.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Zayen yang masih membungkukan badannya.
"Tentu saja, aku sudah siap untuk berangkat."
"Baiklah. Ayo, aku gendong." Ajaknya yang kini sudah berada disamping istrinya.
Afna hanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa dirinya setuju untuk digendong suaminya.
Semua pelayan kembali membungkukkan badannya memberi hormat kepada Zayen dan juga Afna saat meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan salah satu pegawai tengah membawakan alat bantu berupa tongkat penyangga milik Afna sampai didepan mobil.
"Buka pintu mobilnya," perintah Zayen kepada salah seorang tukang parkir yang sudah mendapatkan perintah dari Zayen sebelumnya.
Afna merasa heran, saat melihat suaminya dengan mudah menyuruh orang.
'Sebenarnya ada apa dengan laki laki ini, dari tadi selalu banyak orang yang tunduk dengannya.' Gumamnya yang masih tidak percaya.
Setelah berada didalam mobil, keduanya masing masing memasang sabuk pengaman.
Zayen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Afna masih bingung dengan kejadian kejadian aneh yang sudah dilewatinya.
"Kenapa tidak naik motor saja, aku tidak suka kamu bergengsi. Padahal aku lebih nyaman naik motor bersamamu, dari pada naik mobil milik teman kamu."
"Kamu tenang saja, hanya untuk hari ini aku meminjam mobil. Karena aku tidak ingin kamu kualahan untuk menunggangi motor, itu saja."
"Janji, besok besok kamu tidak perlu meminjam mobil teman kamu. Aku tidak menyukainya, aku lebih suka apa adanya. Meski motor buntut sekalipun."
"Iya, iya ... besok lagi tidak akan aku mengulanginya. Ini yang terakhir kalinya aku meminjam mobil Viko."
"Jangan cuman janji, tapi harus kamu ingat."
"Baiklah," Jawab Zayen sambil menoleh kearah Afna. Keduanya kini beradu pandang, dan entah apa yang diingat oleh keduanya saat saling beradu pandang. Hanya Afna dan Zayen lah yang membayangkannya.
__ADS_1