
Setelah meninggalkan tempat tahanan, Kini keempatnya sedang dalam perjalanan. Seyn duduk didepan bersama Viko, sedangkan Afna dan suami duduk dibelakangnya.
Seyn hanya menatap luar tanpa bersuara, begitu juga dengan Zayen maupun Afna yang juga sama sama diamnya. Viko yang merasa sepi seperti kuburan, segera ia mencari ide untuk membuyarkan lamunan masing masing.
'Begini nih, kalau menikah dengan mantan orang yang dekat. Pasti ada saja yang membuat mereka bertiga kikuk. Eh, ngomong ngomong ini salahku juga. Kenapa juga tadi aku menyuruh Nona Afna untuk ikut, wah! bisa kena amuk aku sama Bos. Mampus gue, siap siap gue di telan sama si Bos.' Batin Viko sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal, Zayen yang memperhatikannya pun berusaha menebaknya.
"Kamu kenapa, Vik?" tanya Zayen yang masih pada posisinya, yaitu menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
"Tidak kenapa kenapa, ngomong ngomong tujuan kita mau kemana?" jawabnya dan bertanya.
"Hem ... apa kamu sudah lupa? ke warung makan yang biasa aku datangi." Jawab Zayen.
"Oooh, ayam geprek." Ucap Viko sambil fokus dengan setirnya, sedangkan Seyn masih diam tanpa bersuara. Kini pandangannya lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun.
Afna sendiri bingung harus berbuat apa, ia serba salah saat ingin bermanja dengan suaminya. Disaat menoleh kesamping, tanpa disengaja Zayen pun menoleh kearahnya. Keduanya saling menatap satu sama lain, sedangkan Seyn hanya melihatnya lewat kaca depan.
"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan segera sampai." Ucap Zayen asal menebak apa yang ada dalam pikiran istrinya, Afna sendiri hanya mengangguk dan pura pura apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang ditebak oleh suaminya.
'Kenapa mereka berdua terlihat canggung, mungkinkah karena keberadaanku ini. Perasaan apa lagi ini, kenapa aku terasa cemburu melihat mereka berdua. Tidak, aku tidak boleh menyukai Afna. Aku sudah mengatakannya, bahwa aku tidak mencintainya dan aku sendiri yang membatalkan pernikahan itu. Ingat Seyn, kamu sudah melukai hati Afna. Lupakan, lupakan Afna.' Batin Seyn yang berusaha menepis perasaannya.
"Stop!!"
Ssssttttttt.
Viko langsung menghentikan mobilnya dengan cara mendadak, Zayen maupun Afna kaget dibuatnya.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah mengagetkan kalian bertiga. Turunkan aku disini, biar aku mencari kontrakan saja. Kalian bertiga lanjutkan perjalanan kalian ke warung makan, jangan khawatirkan aku. Percayalah, aku baik baik saja." Ucap Seyn dengan nafas beratnya.
"Kita makan siang terlebih dahulu kak, bagaimana? setelah itu kita akan mengantarkan kakak." Jawab Zayen penuh harap.
"Benar itu kak Seyn, kita makan siang terlebih dahulu. Kasihan Nona Afna yang sangat menginginkan makan ayam geprek." Jawab Viko yang teringat akan pesan dari tuan Alfan untuk menyerahkan kunci mobil dan kunci rumah, beserta aset perusahaan.
"Baiklah, terserah kalian berdua. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian berdua, aku sudah bebas dari tahanan saja sudah sangat bersyukur." Ucap Seyn yang merasa tidak enak hati.
"Kak Seyn tidak perlu khawatir, karena setelah makan siang ini aku akan memberi kejutan untuk kakak." Jawab Zayen yang merasa lega, dikarenakan sang kakak tetap menuruti kemauannya. Sedangkan Seyn hanya mengangguk, dan pandangannya kembali fokus kedepan.
"Jalankan mobilnya, Vik. Kita lanjutkan perjalanan kita, aku sudah lapar." Perintah Zayen beralasan, meski sebenarnya tidaklah lapar.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di parkiran. Tepatnya di warung dekat Danau kecil, tepat yang dimana Zayen singgah untuk sekedar makan dan duduk santai.
Viko maupun yang lainnya kini tengah melepaskan sabuk pengamannya, kemudian segera turun dari mobil.
'Padahal dulu aku sudah merancangnya untuk mengajaknya ketempat ini. Aku sudah memesan kepada pemilik warung ini untuk membuat suasana semakin indah, namun disaat itu juga Afna telah mengalami kecelakaan, dan membuat hatiku berbelok ke wanita itu. Dan kini, Danau kecil ini telah menjadi tempat yang disukai Afna bersama suaminya. Ternyata itu hanya sebuah mimpiku, yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.' Batin Seyn sambil menatap Danau kecil yang pernah akan dijadikan tempat bersama sang pujaan hatinya.
"Kak Seyn, kenapa melamun? apakah ada masalah? katakan saja." Tanya Zayen sambil menepuk punggung milik sang kakak, Seyn pun kaget dibuatnya. Lebih kaget lagi ada sosok wanita yang pernah ia cintai dibelakangnya berdiri sambil bergandeng tangan dengan sang adik, siapa lagi kalau bukan Afna. Yang sekarang ini telah menjadi adik iparnya.
"Tidak ada apa apa, aku hanya merindukan Papa." Jawab Seyn beralasan.
"Papa sudah tenang di Alam sana, kita hanya bisa mendoakannya." Ucap Zayen mengingatkan, dirinya tidak ingin melihat sang kakak akan larut dalam kesedihannya.
"Iya, apa yang kamu katakan memang benar. Kita hanya bisa mendoakannya." Jawab Seyn berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Sudah siang, dan sudah waktunya untuk makan siang. Ayo kak, kita masuk ke dalam." Ajaknya, Seyn pun mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Sesampainya didalam, Zayen segera memesan pesanannya.
"Nak Seyn, ya?" tanya pemilik warung makan.
Zayen maupun Afna dan juga Viko pun kaget mendengar pemilik warung telah mengenal sosok Seyn.
"Ibu Ning, apa kabarnya? iya ini aku, Seyn." Jawab Seyn menyapa.
"Kabar ibu baik baik saja, Nak Seyn. Kamu kemana saja, kenapa kamu tidak jadi datang kesini. Bukankah dulu kamu memesan tempat ini untuk di rancang seindah mungkin, dan kamu ingin memberi kejutan kepada calon istri kamu, dimana istri kamu sekarang? Ibu yakin, kamu pasti sudah menikah." Ucap ibu Ning menceritakan masa lalu. Disaat itu juga, Zayen maupun Afna pun kaget mendengarkan penjelasan dari ibu pemilik warung.
"Stop! Bu, jangan dilanjutkan. Aku sudah menikah, dan juga sudah bercerai." Jawab Seyn beralasan, berharap Zayen maupun Afna percaya dengan ucapannya.
"Oooh, ibu ikut prihatin ya, Nak. Semoga kamu segera mendapat penggantinya yang lebih baik lagi. Oh iya, kamu tahu? Nak Zayen yang telah melunasi semuanya." Ucap ibu Ning sambil menunjuk ke arah Zayen.
"Zayen ini adalah adikku." Jawab Seyn sambil memegangi pundak milik adiknya yang sedang berdiri di dekatnya.
"Terima kasih, Zayen. Kamu sudah melunasinya, jika aku sudah bekerja akan aku ganti semuanya." Ucap Seyn yang merasa sudah merepotkan adiknya.
"Kakak tidak perlu melunasinya, kita ini kakak beradik. Susah senang sama sama dipikul bersama, aku tidak menyukai sesuatu yang ada timbal balik. Aku sangat membencinya, seakan semua tidak ada yang gratis dan tidak ada kejutan." Jawab Zayen meyakinkan kakaknya.
"Kamu benar benar adikku yang patut aku banggakan, kamu benar benar berhati mulia. Kalian berdua memang pasangan yang sangat cocok, sama sama berhati baik dan juga tidak memiliki dendam sedikitpun." Ucap Seyn merasa kagum dengan sosok adiknya yang pernah ia benci.
Sedangkan Afna maupun Viko sudah duduk di dekat Danau, keduanya sengaja menyingkir. Berharap agar leluasa untuk berdialog.
__ADS_1
"Oh iya, Bu. Pesanannya seperti biasa aku pesan, aku tunggu di tempat seperti biasanya ya, Bu." Ucap Zayen memesan sesuai biasanya ia pesan.
"Iya, Nak Zayen." Jawab ibu Ning, Zayen maupun Seyn segera menuju tempat yang dimana Viko dan Afna sudah menikmati pemandangan di tepi Danau kecil.