Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Terkejut


__ADS_3

Lagi dan lagi, Zayen sangat geram saat dirinya bertemu dengan Dodi. Siapa lagi kalau bukan teman dekatnya kakaknya, yaitu Seynan.


Zayen mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, seakan ingin melayangkan tinjuannya kearah Dodi. Namun, tinjuannya terhenti begitu saja. Zayen tidak ingin istrinya akan salah paham terhadapnya. Sedangkan Afna sendiri menaruh rasa penasaran akan sosok yang tidak dikenalnya terlihat bertegur sapa dengan suaminya.


'Siapa laki laki tadi, sepertinya terlihat akrab dan penampilan yang sama. Keduanya sama sama terlihat seperti preman, dari segi pakaian dan juga potongan rambut. Tetapi kenapa suamiku terlihat kesal dengannya, apa aku salah mengartikannya. Aku rasa aku tidak salah mengartikannya, sepertinya ada masalah diantara keduanya.' Gumamnya yang terus mencoba menerka nerka.


"Kamu kenapa melamun, ada masalah?" tanyanya penasaran.


"Tidak, aku tidak ada masalah. Aku hanya penasaran dengan laki laki yang sempat bertemu denganmu, siapa laki laki tadi. Sepertinya kamu tidak suka dengannya, apakah dia musuh kamu? maaf, bukan maksudku untuk lancang. Aku hanya takut saja, jika kamu mempunyai musuh." Jawab Afna sedikit bertanya karena menaruh rasa curiga.


"Oooh tadi, Dodi. Teman bergadang saja, tidak ada masalah apa apa antara aku dengannya. Mungkin itu perasaan kamu saja karena penampilannya yang juga sepertiku, orang menganggap kita berdua adalah preman pasar." Jawab Zayen beralasan dan tidak mungkin untuk mengatakan yang sejujurnya.


"Maaf, aku sudah berprasangka buruk terhadapmu dan teman kamu. Aku hanya merasa takut, itu saja." Ucap Afna merasa tidak enak hati.


"Tidak apa apa, kamu kan belum tahu. Tidak ada salahnya kamu untuk bertanya, dan terimakasih juga atas perhatian kamu yang takut akan diriku memiliki musuh. Tapi percayalah, aku tidak memiliki musuh." Jawab Zayen berusaha untuk meyakinkan istrinya.


"Karena aku takut jika bagian dari hidupku memiliki musuh, itu saja." Jawabnya tanpa menyadari dengan ucapannya, entah itu benar dari perasaannya atau di luar kesadarannya.


'Benarkah aku ini bagian dari hidupmu, kenapa aku jadi kepedean begini. Sadar Zayen, kamu tidak lain adalah seorang pecundang. Kamu masih menyembunyikan siapa dirimu, bersiap siaplah jika kamu akan terluka. Bahkan peluru tembakan tidak ada apa apanya dengan amarah sang istri jika mengetahui siapa itu Zayen.' Gumam Zayen sambil menatap lekat wajah istrinya.


"Hello ... kenapa kamu yang melamun." Ucap Afna sambil melambaikan tangannya didepan wajah suaminya.


"Ini ayam bakarnya, nak Zayen. Ooh ini istri kamu, sangat cantik. Kamu pintar mencari seorang istri rupanya, ibu ancungkan jempol untuk kamu." Ucapnya meledek sambil meletakkan dia porsi ayam bakar.


"Ibu Minem bisa saja." Jawab Zayen sambil menggeser ayam bakarnya di depan istrinya.


"Selamat menikmati ayam bakarnya, neng. Jangan pernah sungkan di rumah ibu, suami kamu sudah seperti keluarga ibu sendiri."


"Terimakasih, Bu."


"Oh iya, kalau boleh tahu nama neng siapa?" tanya ibu Minem penasaran.

__ADS_1


"Nama saya Afna, Bu."


"Nama yang sangat cantik, seperti orangnya. Kalau begitu ibu pamit kebelakang ya, neng Afna. Oh iya, Teh hangatnya nanti nyusul. Dan nak Zayen, ibu kebelakang dulu mau melayani yang lainnya."


"Silahkan, Bu." Jawab Zayen, sedangkan Afna hanya tersenyum.


Setelah ibu Minem kembali kebelakang, Zayen dan Afna kini menikmati makan siangnya dengan ayam bakar. Keduanya tanpa bersuara, hanya terdengar suara orang orang yang berbisik untuk membicarakan sosok Afna dan Zayen.


Namun, tidak bagi keduanya. Dengan santainya menikmati ayam bakar milik ibu Minem.


"Eh! kok mau ya, si Zayen menikah dengan perempuan cacat." Bisik seseorang yang tidak jauh dari tempat duduk Zayen.


"Iya, padahal seorang preman. Aku tahu, pasti mencari istri penurut. Biar tidak bisa kabur dan nurut apapun yang dikatakan suaminya." Jawab wanita disebelahnya.


"Bener juga apa kata kamu, kalau istrinya seperti kita kita pasti bisa kabur dan memberontak." Ucap yang satunya lagi ikut menimpali.


Zayen maupun Afna yang mendengarnya pun teramat sangat geram, ucapannya yang sudah kelewatan hingga membuat Zayen tidak sabar untuk menghampiri ketiga wanita tersebut dan menghajarnya.


Afna yang mengerti akan maksud dari sikap suaminya, Afna berusaha untuk menahan emosi yang sudah menguasai pikiran suaminya. Afna tidak ingin, suaminya akan lebih terlihat buruk jika dirinya sampai meluapkan emosinya ketiga wanita yang sudah membicarakannya.


"Mau kemana?" tanyanya sambil menarik tangan suaminya dan menahan langkah kakinya untuk kembali duduk. Zayen pun hanya bisa nurut kemauan istrinya yang memintanya untuk kembali ke posisi semula.


"Aku mau memberi pelajaran kepada wanita yang mulutnya seperti mesin penebang kayu. Lihatlah, ucapannya benar benar sangat tidak pantas membicarakan sesama wanita." Jawabnya sambil duduk dan menatap istrinya dengan serius.


"Aku tidak marah, bahkan aku tidak perduli dengan omongan mereka. Justru jika kamu marah, semua orang akan lebih mudah untuk membicarakan kita. Biarkan saja mereka membicarakan kita, suatu saat mereka akan merasa malu sendiri." Ucap Afna berusaha menenangkan emosi sang suami.


"Terimakasih, kamu sudah mengingatkanku. Aku janji, aku tidak akan lagi menanggapi omongan omongan yang kiranya tidak penting. Terkecuali, ada orang yang benar benar akan mencelakai kamu. Aku akan melakukannya demi keselamatan kamu, aku janji." Jawab Zayen yang kemudian tersenyum tipis.


"Sekarang, kita habiskan ayam bakarnya. Setelah itu, aku akan ajak pergi ke rumah orang tuamu. ke suatu tempat yang akan membuatmu tidak sendirian." Ucap Zayen kembali.


"Baiklah, aku akan menghabiskan makanan ini." Jawab Afna disertai senyum yang mengembang.

__ADS_1


Setelah keduanya menikmati makanannya, Zayen segera membayar makanan yang sudah dipesannya. Sedangkan Afna masih pada posisi duduknya, kemudian Zayen menghampiri istrinya dan langsung menggendong sampai diparkiran.


"Tunggu disini, aku akan mengambil motornya."


"Baiklah, aku akan menunggumu." Jawabnya sambil memegangi tongkat penyangganya.


Tidak lama kemudian, Zayen sudah berada di depan istrinya. Masih seperti biasa, Zayen yang selalu menggendong istrinya saat akan menaiki motornya.


Entah kenapa, Afna semakin nyaman saat dirinya memeluk suaminya. Afna semakin mengeratkan pelukannya saat Zayen melajukan motornya. Begitu juga dengan Zayen, tidak pernah menyangka jika dirinya mendapat perlakuan hangat dari istrinya. Walaupun itu hanya dalam perjalanan dengan mengendarai motor, setidaknya Zayen dapat merasakannya. Hanya saja, keduanya tidak ada yang berani berterus terang. Zayen maupun Afna hanya bisa mengungkapkannya lewat perbuatan, bukan lewat ucapan mesra pada umumnya.


"Kita mau kemana?" tanya Afna semakin penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu sendiri, yang pasti kamu tidak lagi kesepian." Jawab Zayen yang masih fokus dengan mengendarai motornya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, Zayen menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang yang sudah banyak perubahan.


"Tempat apa ini, seperti asrama."


"Selamat siang, nak Zayen .." sapa pak Satpam sambil membuka pintu gerbangnya.


"Siang juga, Pak Soni." Jawab Zayen, kemudian kembali melajukan motornya masuk kedalam.


Afna masih berusaha mencari tahu tempat yang didatanginya.


"Zayen!!" Seru seorang wanita yang memanggil Zayen. Afna pun kaget dibuatnya, tiba tiba terdengar suara wanita yang tengah memanggil suaminya.


Zayen yang merasa dipanggil namanya pun segera turun dari motornya dan membantu sang istri untuk berdiri dengan tongkat penyangganya.


"Nona Afna."


"Vella"

__ADS_1


Keduanya sama sama tidak percaya saat bertemu dengan cara tiba tiba.


__ADS_2