Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Cemberut


__ADS_3

Langkah kaki Viko pun kini sudah tepat dihadapan lelaki paruh baya. Tanpa berucap sepatah katapun, Viko langsung memeluknya.


"Papa ... maafkan Viko, Pa. Maafkan Viko yang sudah mengecewakan Papa, dan sudah membuat Papa khawatir." Ucap Viko yang langsung memeluk ayahnya, lalu sang ayah pun segera melepasnya.


"Anak bandel, pergi kemana saja kamu. Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Papa, hah?apakah kamu sudah sukses dan sampai sampai kamu lupa dengan asal usul kamu. Bukankah Papa pernah memintamu untuk pergi ke kota menemui Bos Ganan? jelaskan." Jawab sang ayah dengan tatapan yang sedikit menakuti putranya.


"Maafkan Viko, Pa. Karena disaat sampai di kota, Viko mendapat berbagai macam masalah. Mau tidak mau, Viko harus ikut dalam kelompok. Disaat dalam pengejaran polisi, Viko diselamatkan oleh putra dari tuan Alfan. Dan ternyata orang yang menyelamatkan adalah orang yang pastinya memiliki masalah besar. Akhirnya Viko terjebak di dunia hitam, dan Viko tidak bisa meninggalkannya karena putra tuan Alfan sudah menyelamatkan nyawa Viko. Meski Viko sendiri ingat pesan dari Papa, namun Viko tidak bisa untuk mengabulkan permintaan Papa." Ujar Viko menjelaskan.


"Papa sudah tahu cerita kamu tentang semuanya, sedikitpun Papa tidak marah denganmu. Papa tahu posisi kamu disaat itu, yang terpenting keadaan kamu baik baik saja sudah membuat Papa merasa tenang." Ucap sang ayah meyakinkan.


"Sebenarnya maksud pesan dari Papa untuk menemui tuan Ganan itu apa sih, Pa?" tanya Viko dengan antusias. Adelyn yang sedari duduk pun masih memperhatikan Viko dan ayahnya saling bicara. Tidak hanya itu saja, Adelyn pun sangat penasaran dengan pesan yang meminta putranya untuk menemui pamannya. Dengan sangat jeli, Adelyn mendengarkan pembicaraan antara Viko dan ayahnya. Bahkan, tidak ada yang terlewatkan.


"Aku memintamu untuk menjaga putriku kemanapun pergi, namanya Neyla. Namun kenyataannya, kamu menjaga keponakanku, Adelyn. Sekarang juga aku tidak akan memaksamu untuk mememuhi pesan dari Papa kamu, karena itu pesan lama." Ucap tuan Ganan menimpali.


Sedangkan Adelyn hanya tercengang saat mendengar pamannya berucap, bahwa Viko sebenarnya dimintai untuk menjaga Neyla. Disaat itu juga, Adelyn berubah menjadi lesu dan tidak bersemangat. Adelyn segera kembali ke posisi duduknya seperti semula tanpa menoleh ke belakang.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa memenuhi pesan dari Papa. Karena saya sudah berpesan dengan diri saya sendiri untuk menjaga Nona Adelyn, saya ingin membalas jasa putra tuan Alfan yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Dan, saya akan berhenti menjaga Nona Adelyn jika saya sudah menikah. Tentunya, saya akan mencari pekerjaan lain diluaran sana." Jawab Viko menjelaskan.


Entah ada angin apa, tiba tiba Adelyn menjadi gondok mendengar penuturan dari Viko. Bahkan dirinya sanggup berdiri tanpa adanya yang membantu Adelyn untuk berdiri.

__ADS_1


"Tidak usah basa basi kamu Vik, terima saja permintaan paman Ganan yang sempat tertunda. Dan, kamu tidak capek capek mendengar omelan dariku setiap harinya, dan kita juga tidak perlu saling berdebat. Sudahlah bilang saja jika kamu sudah tidak mau menjagaku, nanti kamu menyesal terus bekerja dengan Papaku." Ucap Adelyn tanpa ia sadari tengah berucap akan kekesalannya.


Semua yang mendengarkan ucapan dari Adelyn pun seperti tidak percaya, bahwa Adelyn tanpa sadar tengah menunjukkan perasaannya.


Dengan cepat, Adelyn segera masuk ke kamarnya sambil menahan rasa sakit pada kakinya.


Viko yang mengerti akan kondisi Adelyn, segera ia mengejar langkah Adelyn.


Saat akan menapaki anak tangga, Adelyn mulai merasakan rasa sakit yang begitu hebat pada kaki kirinya.


"Aaawww!!!" teriak Adelyn sekencang mungkin, dengan sigap Viko langsung menangkap tubuh Adelyn yang hampir terjatuh.


"Apa kamu sudah gila, Nona? maksud kamu berbicara seperti tadi itu, kenapa? cepat katakan. Apa perlu aku membawamu kabur dari rumah ini, dan aku akan menyiksamu sampai aku benar benar puas." Tanya Viko sambil mengancam, sedangkan Adelyn sendiri terus terbayang bayang dengan kalimat terakhir dari Viko yang akan menyiksanya.


Semua yang melihat Adelyn dan Viko hanya menahan tawa, pasalnya keduanya sangat unik. Bahkan sikap dari Adelyn maupun Viko sangatlah mudah untuk di tebak.


Adelyn masih terus berpikir, ia sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan dari Viko.


"Aku mohon, jangan siksa aku. Tadi aku itu cuman refleks saja, serius. Habisnya kamu suka bikin hatiku kesal." Jawab Adelyn beralasan, ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri didepan keluarganya.

__ADS_1


"Serius kamu tidak marah? jika aku pindah kerja dengan tuan Ganan. Selagi orangnya masih disini, aku akan mengatakannya bahwa aku akan bekerja dengannya. Aku rasa saran kamu itu ada benarnya, jika aku bekerja dengan tuan Ganan, maka aku akan bebas. Dan, aku tidak akan lagi mendengar ocehan dari kamu. Baiklah, aku akan berbicara dengan tuan Ganan sekarang juga." Ucap Viko dengan tatapan serius, Adelyn sendiri terasa dilema mendengarkannya.


"Iya, aku serius. Sudah sana temui paman Ganan, jangan perdulikan aku." Jawabnya dengan menunjukkan muka masamnya, Viko sendiri hanya tersenyum tipis mendengarnya.


'Bodoh sekali sih, aku ini. Kenapa aku menyuruhnya untuk bekerja dengan paman Ganan, Neyla pasti sangat senang.' Batinnya sedikit dongkol dan menyesali dengan ucapannya yang mudah lepas begitu saja.


"Kalau begitu, Nona segera masuk lah ke kamar. Bukankah Nona sendiri sudah bilang, bahwa Nona bisa berjalan sendiri dan tidak membutuhkan bantuanku. Jadi, aku tidak repot repot untuk menggendong Nona sampai ke kamar." Ucap Viko sengaja memancing emosi pada Adelyn, Viko sendiri masih penasaran dengan sikap dan ucapan dari Adelyn.


"Iya ya, sudah sana pergi." Jawab Adelyn sambil menunjukkan muka cemberutnya dan juga sambil menahan rasa sakit pada kakinya. Adelyn terus berusaha untuk menahannya, entah perasaan apa yang tengah Adelyn rasakan. Kesal, benci, bahkan mungkin saja cemburu yang sulit untuk dijelaskan.


Viko sendiri segera menghampiri ayahnya dan yang lainnya, sedangkan Adelyn bingung harus berbuat apa. Dirinya benar benar terjebak akan perasaannya sendiri, ingin menapaki anak saja ia tidak mampu. Hanya bermodal pasrah memilih untuk duduk dibawah anak tangga, malu tidak malu, pikir Adelyn.


"Jadi, apa keputusan kamu saat ini? apakah masih tetap bertahan menjaga Adelyn, atau ... menjaga Neyla." Tanya tuan Alfan sambil menoleh kearah putrinya sebentar, kemudian kembali menatap Viko.


"Seperti yang diminta Nona Adelyn, saya diminta untuk menjaga Nona Neyla. Tapi ..." ucapnya sedikit lambat. Adelyn pun terus memantaunya dari bawah anak tangga.


"Tinggal bilang saja, tidak usah pakai Tapi tapian. Tenang saja, aku akan baik baik saja tanpa ada yang menjagaku." Ucap Adelyn langsung memotong ucapan dari Viko.


Lagi lagi semuanya hanya menahan tawa dengan sikap Adelyn yang benar benar terlihat jelas, bahwa Adelyn tidak merelakan Viko untuk jauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2