Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 27


__ADS_3

Masih di dalam kelas, Zicko merasa tidak nyaman berada diantara teman-teman sekolahnya. Lebih lagi soal perempuan yang selalu mencari perhatian darinya, membuat Zicko bergidik ngeri.


Zicko membuang napasnya dengan kasar saat selesai menyalin tulisan di papan tulis. Namun, entah spontan dari mana, Zicko menoleh ke arah Jenny.


"Mam_pus, gue." Gumamnya saat merasa risih ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata Jenny.


"Kenapa sih, Lu. Ngomong gak jelas gitu."


"Itu sebelah Lu, cewe gilak keknya." Kata Zicko dan kembali menghadap lurus ke depan, yakni berusaha menghindarinya.


Joni maupun Rudi, pun tertawa kecil saat temannya tengah dijadikan pusat perhatian di dalam kelasnya. Belum lagi di lingkungan sekolah, Zicko benar-benar tidak bisa membayangkannya.


Tidak terasa juga, akhirnya sudah waktunya jam istirahat. Semua murid merasa plong dan tidak seperti menahan beban, pikir mereka semua. Sedangkan Zicko yang perutnya terasa keroncongan, ingin cepat-cepat pergi ke kantin.


"Laper nih, Bro. Pergi ke kantin, yuk." Ajak Zicko sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.


Joni maupun Rudi, pun mengiyakan dan ketiganya pergi ke kantin.


"Tunggu." Seru Jenny mengejar Zicko yang hendak keluar dari ruang kelas.


"Ada apa?" tanya Zicko.


"Aku belum mengenal kamu. Perkenalkan, aku Jenny. Salam kenal untuk kalian bertiga." Jawab Jenny yang tengah memperkenalkan diri dengan rasa tanpa malu.


Zicko tidak menanggapinya sama sekali tidak mengulurkan tangannya, dan memilih untuk mengabaikannya.


"Ayo, Bro, kita ke kantin." Ajak Zicko kepada kedua temannya.


Sedangkan Jenny sendiri berdecak kesal saat mendapati sikap Zicko yang tidak berubah juga.


"Awas saja kamu, aku bakalan dapetin kamu. Lihat aja. Sekarang gue boleh kalah, tapi tidak untuk setelah ini. Siapa sih Elu, bakal aku cari tahu siapa kamu." Ucapnya dibarengi sambil berdecak kesal.


"Keknya emang butuh kesabaran deh, buat dapetin itu cowok. Ayolah Jen, deketin terus. Memangnya kamu mau, itu cowok ada yang melirik? duh, sayang banget kalau sampai jatuh kepelukan cewe lain." Sahutnya saat tengah melihat Jenny masih emosi.


"Aku harus gimana lagi buat dapatin itu cowok, Mey. Diajak kenalan aja gak mau, gimana ceritanya mau kenal." Ucapnya dengan muka cemberut.


"Dah lah, ayo kita ke kantin. Siapa tahu aja, di kantin kamu bisa deketin itu cowok." Kata Meyunda membujuk Jenny.


"Iya ih, kenapa gak kamu coba aja, Jen." Sambung teman yang satunya.


"Iya deh, kita ke kantin berarti ya. Aku mau terus mendekati itu cowok, sampai aku dapatin. Pokoknya gak bakal lepaskan, apalagi jatuh ke cewe lain, gak akan." Ucap Jenny dengan percaya dirinya.


"Ya udah, ayo kita ke kantin." Ajak Meyunda.


Karena tidak mau kalah dari cewe-cewe lain yang berusaha mendekati Zicko, Jenny begitu bersemangat untuk mengambil perhatian darinya.


Di kantin sekolah, Zicko tengah menikmati jajanan anak sekolah bersama kedua temannya, dan juga masih merasa risih saat dirinya masih saja menjadi pusat perhatian oleh siswi-siswi di sekolahan.


Entah mempunyai saya tarik seperti apa, banyak sekali cewe-cewe di sekolahan banyak yang memperhatikan Zicko. Namun, bukannya senang, justru Zicko merasa risih dibuatnya.

__ADS_1


Mau tidak mau, Zicko harus bisa tetap tenang. Cepat-cepat buat pergi dari kantin itu sudah pasti. Apalagi saat mendongak dan melihat sosok Jenny, pastinya bergidik ngeri ketika teringat pertama kalinya bertemu.


Cantik sih, tapi tidak masuk dalam kriteria dari seorang Zicko.


"Bro, ini uangnya, kalian bayarin semuanya, aku mau langsung nyari tempat yang paling aman, nih buruan dibayar, terus temui aku di parkiran." Ucap Zicko setengah berbisik, kemudian ia segera pergi untuk menghindari Jenny.


'Mam_pus, gue.' Batin Zicko yang justru berpapasan dengan dengan Jenny.


"Kamu mau kemana?" tanya Jenny sambil memperhatikan Zicko.


"Mau ke- ke toilet, kebelet, kekenyangan, kesemutan, dah." Jawab Zicko dan bergegas pergi begitu, tentu saja untuk menghindari Jenny.


Jenny yang merasa kesal karena terus-terusan diabaikan oleh Zicko, pun berkacak pinggang dan sambil cemberut saat melihat Zicko pergi.


"Dicuekin lagi, Lu? keknya kamu seperti tengah ditantang deh sama itu cowok." Ucap Meyunda.


Jenny langsung menoleh, dan segera mencari tempat duduk untuk membeli makanan. Namun, arah pandangannya tertuju pada kedua teman dekatnya Zicko. Tidak pakai lama, Jenny langsung mendekati kedua temannya itu, Rudi dan Joni.


"Kalian temannya cowok belagu tadi, 'kan?" tanya Jenny yang langsung pada pokok intinya.


"Iya, kenapa emangnya? apakah temanku itu membuat kesalahan?"


"Ya, kesalahan besar. Siapa namanya? aku ingin mencari alamat rumahnya, mau aku temui itu anak."


Karena sudah mendapatkan pesan untuk tidak memberitahukan soal identitasnya, Rudi dan Joni saling menoleh.


"Kamu kan, bisa kenalan, kenapa gak tanya aja langsung sama orangnya. Maaf, kita berdua buru-buru." Jawab Joni dan langsung menarik ujung bawah bajunya Rudi untuk menghindari pertanyaan pertanyaan dari Jenny.


Namun, Jenny bisa apa? Dirinya sama sekali tidak bisa berkutik.


Sedangkan Joni bersama Rudi tengah mencari keberadaan Zicko yang katanya ada di parkiran.


"Weh, Bro. Gimana lah itu cewek, kenapa kamu cuekin gitu. Lumayan loh punya cewek cantik, ya rada ngeri gitu sih, over soalnya." Ucap Rudi ikutan duduk di jok motor.


"Buat Lu aja juga boleh, aku mah ogah. Dia sendiri gak malu deketin cowok, buat apa dideketin. Justru itu, aku terkesan sama cewek yang cuek, dan mempunyai segi positifnya."


"Ah Elu, pelajaran sekolah aja belum di mulai, udah mikirin cewek. Kita tuh masih bau kencur, mending fokus dengan sekolah dulu. Emang Lu Lu pada gak lanjutin kuliah nantinya? fokus aja sekolahnya." Kata Joni yang tengah memberi nasehat kepada kedua temannya.


"Ya udah yuk, belnya udah bunyi tuh, kita masuk ke kelas." Ajak Zicko.


Kedua temanya, pun mengiyakan. Kemudian, mereka berdua segera kembali ke kelas.


Saat sudah berada di dalam kelas, suasana kembali tenang. Kini, satu persatu setiap muridnya tengah di absen.


Dengan bersemangat, Jenny mendengarnya sangat fokus, takutnya nama yang disebutkan terabaikan.


"Kita dengerin yang fokus ya, awas aja kalau sampai gak fokus. Aku tuh penasaran dengan nama itu cowok." Ucap Jenny berbisik didekat Meyunda.


"Tenang saja, nanti juga bakal kita dengerin. Mending kita diam, soalnya sebentar lagi mau di absen."

__ADS_1


"Alian Fernando."


"Ada, Bu.


"Andina Sevia."


"Ada, Bu."


"Bela Vea."


"Ada, Bu."


Sekian banyak murid yang di absen, dan dilanjutkan lagi sesuai urutan abjad.


"Joni."


"Ada, Bu." Sahut Joni yang tengah fokus mendengarnya.


"Jenny Guntara."


"Ada, Bu." Jawab Jenny dengan percaya dirinya karena dirinya merasa bangga karena namanya ada nama bagian keluarganya.


Sedangkan Zicko malah sibuk dengan memainkan penanya.


"Meyunda."


"Ada, Bu."


"Luna."


"Ada, Bu."


"Rudi Erlan."


"Ada, Bu." Sahut Rudi yang juga tengah fokus.


Bahkan, Zicko tidak begitu fokus mendengarnya saat ibu guru tengah memamggil nama murid dalam satu kelas.


"Ravian Jaya."


"Ada, Bu." Jawabnya yang tengah duduk di depan guru.


"Zicko."


"Hadir." Jawab Zicko lain dari yang lain.


Tentu saja, semua menoleh ke arah dirinya. Lagi-lagi Zicko merasa risih dibuatnya. Suara sudah lantang, ditambah lagi memang lagi menjadi pusat perhatian, tentu saja bertambah menjadi murid-murid khususnya untuk para cewek-cewek.


Jenny yang sudah mengetahui namanya Zicko, pun tersenyum penuh kemenangan, termasuk yang lainnya.

__ADS_1


"Namanya Zicko, keren juga." Ucap Jenny dengan senyum yang lebar.


Kedua temannya cuma menggelengkan kepala, karena merasa aneh dengan Jenny yang begitu over ketika ingin mendekati cowok, pikir mereka berdua.


__ADS_2