
Mau tidak mau, Adelyn segera masuk kedalam mobil. Dengan muka masamnya, Adelyn fokus pandangannya lurus kedepan. Viko yang memperhatikan sekilas pun hanya tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Adelyn.
Disaat Viko sedang fokus dengan setirnya, Adelyn menoleh kearah Viko dengan pandangannya lurus kedepan.
"Vik, kamu diberi gaji berapa sih sama papaku. Sampai sampai kamu patuh banget, apa lagi dengan kak Seyn. Seperti jiwa dan raga saja kalian berdua itu, sama sekali sulit untuk berpisah." Tanya Adelyn membuka suara, Viko pun menoleh kesamping. Tepatnya Adelyn yang kemudian menatapnya, Viko sendiri tetap bersikap tenang dan santai.
"Tanya saja pada papa kamu, Nona. Atau tidak, tanya saja pada saudara kembar Nona itu. Kenapa Nona bertanya padaku? bahkan aku bisa saja menjawab dengan kebohongan." Jawabnya dengan santai sambil menyetir, Adelyn yang mendengar jawaban dari Viko pun terasa geregetan. Bahkan rasanya ingin menc*abik ca*biknya, tatapan Adelyn pun seketika itu juga terlihat jutek dan masam.
"Kamu ini, ya. Pria batu, tetap pria batu. Dinginnya melebihi salju, entahlah ini orang terbuat dari apa." Gerutu Adelyn berdecak kesal, namun pendengaran Viko dapat menangkap ucapan dari Adelyn.
Sssssstttttt.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Adelyn karena kaget. Viko hanya melirik kearah Adelyn setelah menghentikan mobilnya secara mendadak. Seketika itu juga, jantung Adelyn terasa mau copot.
Viko pun tidak tinggal diam, segera ia mendekatkan wajahnya tepat didepan Adelyn. Detak jantung Adelyn serasa mau copot, bahkan dirinya bercampur aduk rasanya. Perasaan Adelyn seketika berubah nano nano rasanya.
"Coba ulangi lagi, Nona Adelyn ... aku ingin mendengarnya sekali lagi yang lebih jelas." Ucap Viko dengan tatapan serius, Adelyn yang ditatap nya pun hanya bisa berdiam membisu. Dirinya bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan dari Viko, tubuhnya pun berubah gemetaran. Ditambah lagi dijalanan yang cukup sepi, Adelyn semakin takut dibuatnya.
"Kenapa diam? takutkah denganku?" tanya Viko masih dengan tatapan seriusnya. Adelyn hanya menggelengkan kepalanya, ia sendiri masih bingung untuk berucap.
"Aku tegaskan lagi denganmu, Nona. Kalaupun bukan saudara kembarmu yang tengah menyelamatkan nyawaku, aku tidak akan melakukan tugas untuk menjagamu." Ucap Viko menjelaskan, Adelyn pun merasa sangat bersalah atas pertanyaannya untuk Viko.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Aku hanya penasaran saja denganmu, kenapa kamu begitu setianya terhadap saudara kembarku. Apakah aku yang berlebihan menilaimu, atau memang ada sesuatu diantara kalian berdua. Itu saja yang membuatku penasaran denganmu, tidak lebih." Jawab Adelyn dengan tubuhnya yang masih terasa gemetaran, Viko pun kembali pada posisinya. Ia kembali fokus pada pandangannya lurus kedepan, Viko tidak berani untuk menatap wajah Adelyn. Dirinya terasa terhipnotis bila harus bertatap muka lebih lama dengannya, Viko pun memilih untuk mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Karena kamu saudara kembar Zayen, aku akan menjelaskannya pada kamu. Itupun tidak akan detail, hanya sebagian." Ucap Viko memulai melajukan mobilnya.
"Iya, tidak apa apa. Sedikit pun tidak masalah, setidaknya rasa penasaran ku terhadap kamu akan berkurang." Jawab Adelyn meyakinkan.
"Baiklah, akan aku ceritakan. Aku seorang perantau dari kampung Xxx, aku mendapat pesan dari kedua orang tuaku. Aku harus mendatangi keluarga Wilyam, namun aku terjebak dengan orang yang tidak baik. Hingga aku harus berkejaran dengan polisi, dan Zayen lah yang tengah menyelamatkanku. Hingga semua kebutuhanku terpenuhi olehnya, jika tanpa pertolongan Zayen mungkin saja nyawaku sudah melayang." Ucap Viko mencoba menjelaskan, seketika itu juga Adelyn kaget dibuatnya.
Adelyn masih penasaran dengan yang dikatakan Viko mengenai tuan Wilyam, yang tidak lain keluarganya sendiri.
"Apakah aku boleh bertanya satu pertanyaan lagi?" tanya Adelyn penuh harap.
"Maaf, aku tidak bisa. Sekarang kita sudah hampir sampai di Kantor, aku tidak ingin terlambat." Jawab Viko, kemudian menambahkan kecepatannya.
Tidak lama kemudian, Viko dan Adelyn telah sampai di depan Kantor. Dengan hati hati Adelyn turun dari mobil, sedangkan Viko melajukannya kembali menuju parkiran.
Sesampai diambang pintu masuk, semua menatap heran dengan penampilannya. Semua tidak percaya jika Adelyn berubah dengan penampilannya.
"Iya, ini aku. Kenapa, Sa?" jawab Adelyn dan balik bertanya.
"Tidak, sekarang kamu terlihat sangat cantik." Jawab Sasa yang kagum dengan kecantikan Adelyn.
"Oooh, aku tahu. Kamu pasti mau mengambil hati pak Bos, 'kan?" ucap Merry yang tiba tiba sudah berada dihadapannya.
"Ya iya lah, kenapa tidak! memangnya cuman kamu saja yang bisa mengambil hati pak Bos?" jawab Adelyn yang tidak kalah sinisnya dengan Merry.
__ADS_1
"Aku yakin, pak Bos tidak akan bisa tertarik denganmu. Penampilan kamu masih kuno, jauh dariku yang lebih menarik perhatian para laki laki tampan." Ucap Merry yang masih percaya diri akan keberhasilannya untuk memikat hati Bosnya.
"Terserah, aku tidak perduli. Aku datang ke Kantor ini untuk bekerja, bukan mencari mangsa sepertimu. Siap siap saja waktu terakhir kamu di Kantor ini, awas saja nanti kamu menyesal." Jawab Adelyn yang tidak kalah menantangnya.
"Kamu, jangan kotori mulutmu itu pada sesama wanita. Kamu akan menyesal nantinya, diingat baik baik pesanku ini." Ucap Viko yang tiba tiba sudah berada di dekat Adelyn, disaat itu juga Adelyn maupun Merry dibuatnya kaget seketika.
Viko tidak ambil diam, segera ia menarik paksa tangan milik Adelyn. Sasa yang yang memperhatikannya pun tumbuh rasa penasaran yang begitu kuat antara sekretaris Bosnya dan juga Adelyn yang sebagai OB.
"Sebenarnya mereka itu mempunyai hubungan apaan sih, sepertinya sudah saling mengenal lebih dekat. Ditambah lagi ekspresi mereka tidak menunjukkan antara atasan dan bawahan, justru terlihat sepasang kekasih." Gerutu Sasa yang tanpa ia sadari ada seseorang laki laki yang sudah berdiri didekatnya.
"Apakah kamu mengenal wanita yang bersama sekretaris baru itu?" tanya sosok laki laki yang asing bagi Sasa.
"Ooooh, Adelyn? wanita yang bersama sekretaris tadi namanya Adelyn. Kamu siapa, ya?" tanya Sasa yang juga penasaran.
"Aku bukan siapa siapa, aku hanya ada pertemuan penting dengan pemilik perusahaan ini."
DEG!!!
Seketika itu juga, Sasa tercengang mendengarkannya. Sasa mengira hanya karyawan seperti yang lainnya, Sasa sendiri tidak menyangka dengan sosok laki laki yang ada di dekatnya adalah orang penting.
"Maaf, Pak. Maafkan saya yang sudah lancang, saya kira bapak adalah karyawan disini." Ucapnya merasa malu dan membuat Sasa salah tingkah.
"Antarkan aku ke ruangan pemilik perusahaan ini."
__ADS_1
"Baik, Pak. Mari, saya antar ke ruangan pak Bos." Jawab Sasa sedikit gemetaran.
Dengan pelan, Sasa mengantar seseorang yang tidak ia kenal ke ruangan Bosnya. Namun, sebelumnya diantarkannya ke ruangan sekretarisnya. Dikarenakan Sasa tidak ingin bermasalah dan akan mendapat hukuman jika tidak melapor ke sekretaris terlebih dahulu.