Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Di Kantor


__ADS_3

Viko yang mendapati tatapan dari calon istrinya pun hanya tertawa kecil, Adelyn semakin kesal dibuatnya.


"Kamu lucu, tapi menggemaskan." Ucap Viko sambil menatap Adelyn yang terlihat begitu menggemaskan.


"Hem, aku lucu? berarti kamu menyebalkan." Jawabnya dengan jutek, Viko hanya tersenyum.


Sedangkan keadaan Kantor sedang mengalami kehebohan yang benar benar membuat seisi Kantor heboh yang berlebihan.


"Sasa, tunggu!" seru temannya memanggil.


"Iya, ada apa?" tanya Sasa.


"Ini, kamu mendapat undangan dari Adelyn. Satu minggu lagi Adelyn akan menikah sama sekretaris Viko, benar tidak sih? aku tidak rela jika Adelyn yang menikah dengan sekretaris Viko." Jawabnya penuh kekecewaan.


"Aku sudah tahu itu, yang lainnya juga ada yang sudah mengetahuinya jika Adelyn akan menikah dengan sekretaris Viko. Tapi, soal undangan aku benar benar tidak tahu.


"Jadi, kamu sudah tahu? kenapa kamu tidak cerita denganku, Sasa? padahal Adelyn itu cuma OB. Tapi, beruntung banget sih dia, bisa dapetin sekretaris Viko yang tampan begitu." Tanyanya serasa tidak percaya, jika Sasa sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Hanya saja, Sasa tidak mengetahui status Adelyn itu siapa dan dari keluarga yang bagaimananya.


"Eh, tidak hanya itu saja. Hari ini istri pemilik perusahaan ini, alias Bos kita akan datang bersama istrinya. Dan, kita baru mengetahuinya sekarang, tidak Bos Zayen, sekretaris Viko, dan juga Adelyn. Sungguh, aku benar benar tidak menyangkanya. Mana pernikahan Adelyn di gedung milik keluarga Wilyam, benar benar beruntung banget ya, Adelyn." Ujar seorang karyawan yang tiba tiba ikut menimpali.


"Benarkah?" tanya Sasa yang juga menjadi penasaran.


"Coba, dibaca lagi. Aku jadi penasaran keluarga Adelyn, siapa tahu saja tercantum di kertas undangan." Ujar temannya Sasa yang tiba tiba penasaran dengan keluarga Adelyn.


Ketiganya pun akhirnya segera membuka kembali kertas undangannya, lalu menelitinya disetiap kata dengan sangat teliti. Berkali kali di bolak balik tetap saja hasilnya nihil, bahkan tidak disebutkan kedua orang tua Adelyn maupun kedua orang tua Viko.

__ADS_1


Ketiganya saling menatap satu sama lain saling bergantian. Ketiganya menatapnya dengan tatapan penuh keheranan.


"Kenapa kertas undangannya hanya nama sekretaris Viko dan Adelyn? aneh, tidak sih? jadi penasaran aku dengannya." Ujar seorang wanita di dekat Sasa.


"Mungkin ini undangan biasa, jadi hanya nama calon pengantin. Mungkin saja berbeda dengan kertas undangan orang orang terpandang, aku rasa begitu." Jawab Sasa yang mencoba untuk berpikir positif.


"Aku tahu, kenapa Adelyn tidak mencantumkan nama kedua orang tuanya. Karena Adelyn malu untuk mengakui kedua orang tuanya, secara Adelyn OB. Sedangkan sekretaris Viko, ya memang sekretaris. Ditambah lagi di gedung milik perusahaan Mandiri Jaya, keluarga Wilyam. Tentu saja, keluarga sekretaris Viko melarangnya untuk mencantumkan nama kedua orang tua Adelyn." Sahut seorang karyawan wanita yang juga mengagumi sekretaris Viko, hingga ia pun tidak segan segan untuk beranggapan.


"Ren, kalau ngomong itu dijaga. Aku rasa tidak begitu, hati hati dengan ucapan kamu itu. Bisa jadi, ucapanmu adalah harimaumu." Ucap Sasa yang tidak terima jika sahabatnya di buat prasangka buruk.


"Kenyataannya memang begitu, Sa. Buktinya saja tidak mau mencantumkan nama kedua orang tua masing masing." Ujarnya yang terus percaya diri dengan anggapannya itu.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ayo, kita siap siap untuk menyambut kedatangan Bos kita bersama istrinya. Aku penasaran loh, seperti apa istri Bos Zayen." Ajak yang satunya yang tidak ingin terjadi perdebatan, dan dapat mengakibatkan pemecatan sekaligus bertiga.


Setelah merasa sudah cukup membicarakan Bosnya dan juga sekretaris Viko dan Adelyn, ketiganya segera kembali ke tempat kerja masing masing.


Sedangkan diperjalanan, Afna dan Zayen menikmati pemandangan luar lewat jendela kaca mobil. Tiba tiba terlintas ingatannya dengan masa masa yang sudah dilewatinya bersama.


"Sayang, aku merindukan masa masa itu. Aku merindukan motor yang kamu kendarai, makan berdua di rumah yang sangat sederhana itu. Aku rindu berbelanja di pasar tradisional, aku pun rindu dengan masakan kamu." Ucap Afna sambil mengingat ingat masa lalu yang berawal mengenal suaminya.


Dengan lembut, Zayen pun mengusap lengan istrinya.


"Sama, sayang. Aku pun merindukan masa masa itu bersamamu, aku merindukan yang pernah kita lewati bersama dan rindu diwaktu awal aku mengenalmu." Ucap Zayen yang juga teringat akan masa masa bersama istrinya sebelum dirinya masuk kedalam sel tahanan.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, Zayen dan Afna maupun Viko dan Adelyn kini telah sampai di Kantor.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita turun." Ajak Zayen pada istrinya.


"Apakah kita sudah sampai, sayang?" tanya Afna yang belum menyadarinha, jika dirinya sudah berada didepan Kantor milik suaminya yang terlihat jelas gedung yang menjulang tinggi.


"Hem, yang benar itu kita belum sampai dikediaman keluarga Danuarta, sayang ..." ledek Zayen sambil menatap lekat wajah istrinya. Afna pun tersenyum lebar menatap suaminya, kemudian segera ia melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian, Zayen dan Afna turu dari mobil.


Setelah keluar dari mobil, kedua mata Afna celingukan seperti mencari seseorng.


"Sayang, kamu mencari siapa?" tanya Zayen yang juga ikut celingukan.


"Adelyn dan Viko, kenapa mereka berdua tidak terlihat. Apakah mereka berdua mengalami kemacetan dijalanan? aku kan jadi sendirian." Jawab Afna dengan lesu.


"Hem ... nyari Adelyn? aku kira nyari siapa. Adelyn dan Viko sudah berada didalam kantor, mereka berdua lewat jalan pintas. Sedangkan kita lewat depan, agar kamu tidak bingung jika mendatangiku di Kantor ini. Siapa tahu saja, kamu bosan lewat jalan pintas." Ucap Zayen menjelaskan.


"Iya, benar. Lewat jalan pintas memang membosankan, baru tekan tombol sudah sampai." Jawab Afna.


"Kalau begitu, ayo kita masuk kedalam." Ajak suaminya, kemudian segera menggandeng tangan milik istri tercintanya.


Saat memasuki Kantor, semua karyawan menyambut kedatangan Zayen dan Afna dengan menunduk hormat. Dan semua karyawan pun tercengang saat melihat pasangan suami istri yang begitu serasi. Ditambah lagi Afna yang sedang hamil, terlihat jelas dengan sempurna akan kebahagiaan pada Bosnya itu.


Semua tidak ada yang menyangkanya, jika istri Bosnya sangat cantik dan Anggun. Semua pun merasa minder setelah melihatnya, semua karyawan berbisik mengenai penampilan Afna. Tidak ada satupun yang tidak memujinya, semua memujinya.


Setelah melewati beberapa karyawan, Afna dan suami tengah masuk kedalam ruang kerja milik suaminya.


Sesampainya didalam ruangan kerja, Afna duduk disofa. Ia mulai merasa mudah lelah ketika berjalan kaki. Bukan karena manja, karena kondisi fisiknya yang sering berubah ubah.

__ADS_1


Zayen yang melihat istrinya kelelahan, segera ia mengambilkan air minum dan memberikannya pada istrinya.


"Sayang, minumlah. Jangan sampai kamu dehidrasi, tidak baik untuk kesehatan." Ujar Zayen sambil memberikan air minum pada istrinya.


__ADS_2