
Dengan terpaksa, Afna meninggalkan suaminya yang berada dibalik jeruji besi. Meski langkahnya begitu berat, Afna berusaha untuk kuat dan tegar. Afna tidak lagi berani menoleh kebelakang, ia takut jika harus kecewa karena perpisahan yang benar benar menyakitkan.
Zayen pun merasa tidak tega melihat kepergian istrinya yang semakin jauh, Seyn pun ikut bersedih tatkala melihat Zayen yang harus berpisah dengan sang istri karena waktu yang tidak dapat diputar kembali.
"Bersabarlah, itu kuncinya. Aku yakin kamu pasti bisa untuk melewatinya, dan pastinya kalian berdua akan segera bersatu kembali." Ucap Seyn menguatkan adiknya agar tidak larut dalam kesedihannya terus menerus.
"Terimakasih, semoga kita segera ke luar dari tempat ini." Jawab Zayen sambil memegangi jeruji besi.
"Ayo kita istirahat, biar waktu yang kita lewati tidak terasa begitu cepat untuk kita lalui." Ajak Seyn untuk mengalihkan pikiran sangat aduk yang dilema, Zayen pun mengangguk dan nurut dengan apa yang dikatakan sang kakak.
Sedangkan di luaran sana, ada Viko yang sedang sibuk dengan pekerjaan yang tengah Kazza perintahkan. Sedangkan Kazza sendiri sedang menemani saudara kembarnya untuk menghilangkan kepenatan yang ada dalam pikirannya.
"Kita mau kemana ini?" tanya Kazza sambil fokus dengan setirnya.
"Aku ingin pulang ke rumah saja, aku sedang malas untuk kemana mana." Jawab Afna dengan lesu.
"Baiklah kalau itu maunya kamu, kakak tidak bisa menolaknya. Benar juga apa yang kamu bilang, lebih baik kamu istirahat dengan cukup. Agar kesehatan kamu tidak terganggu, biar Vella yang akan menemani kakak." Ucap sang kakak.
"Memangnya kakak mau mengajak Vella kemana?" tanya Afna penasaran.
"Ada perlu dengan Viko, kamu tidak perlu khawatir. Semua akan baik baik saja, kamu cukup doakan saja." Jawab Kazza dengan serius pandangannya lurus kedepan.
"Vella, kamu yakin? jika kamu benar benar mau menemani kak Kazza? resikonya besar." Ucap Afna pada Vella yang berada disampingnya.
__ADS_1
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir. Benar yang dikatakan tuan Kazza, Nona cukup doakan saja." Jawab Vella mencoba meyakinkan.
"Semoga, terimakasih atas kebaikan kamu yang masih bersedia untuk bekerja dengan kak Kazza." Ucap Afna dan tersenyum.
"Karena aku benar benar sangat membutuhkan pekerjaan, apapun akan aku lakukan asal pekerjaan tersebut bukan pekerjaan yang berat." Jawab Vella sebaik mungkin, ia tidak ingin menyindir akan pekerjaan suami Afna yang bisa dikatakan pekerjaan yang sangat salah.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai didepan rumah. Afna segera melepas sabuk pengamannya, kemudian ia langsung keluar dan masuk kedalam rumah.
Kini, tinggal lah Kazza dan Vella yang berada didalam mobil.
"Sebenarnya kita mau kemana sih, Bos?" tanyanya yang tidak lagi memanggil sebutan tuan.
"Menemui Viko, aku ada urusan penting dengannya. Kemanapun aku pergi, kamu akan harus mengikutiku." Jawabnya yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cukup tinggi, Vella pun hanya menghela nafasnya.
Tidak lama kemudian, Kazza dan Vella telah sampai di tempat yang sudah dijadikan untuk pertemuan bersama Viko. Dimana lagi kalau bukan di Restoran Kazza sendiri, selain aman dan juga lebih nyaman untuk dijadikan tempat pertemuan.
"Kenapa di Restorannya Bos sendiri, tidak salah nih Bos?" tanya Vella merasa bingung.
"Kenapa mesti salah, tidak ada yang salah dan semuanya benar. Kamu cukup pakai pakaian kerjamu di Restoran ini, kemudian kamu berjaga jaga. Apakah kamu mengerti? jika tidak mengerti pulang saja." Jawab Kazza, kemudian segera melepas sabuk pengamannya dan masuk kedalam Restoran. Dengan gesit, Vella mengikuti langkah Kazza yang begitu cepat dengan langkah kakinya.
'Hem! namanya juga Bos, pastinya tidak menyukai bawahannya nganggur. Ada saja tugas yang harus aku kerjakan, mau bagaimana lagi. Semua ini sudah menjadi resikoku untuk menjalaninya, aku harus optimis untuk hasil kedepannya.' Batinnya yang sudah sangat merindukan keluarganya.
"Kamu pergi sesuai pekerjaan yang sudah aku perintahkan ke kamu, aku mau masuk kedalam ruangan pribadiku. Kamu cukup mengawasinya." Perintah Kazza, kemudian segara masuk kedalam ruangan yang sudah dijanjikan dengan Viko anak buah Zayen.
__ADS_1
"Viko, sudah lama kah kamu menungguku?" tanya Kazza, kemudian segera ia duduk dihadapan Viko.
"Baru saja, tadi saya mendapati kemacetan di jalanan. Hari ini aku tidak begitu banyak mengorek tentang Reina, dikarenakan Reina pun dalam genggaman dalang penculikan adik ipar tuan sendiri." Jawab Viko dengan tatapan seriusnya.
"Apa?" ucap Kazza serasa tidak percaya.
"Benar Tuan, Reina adalah anak dari istri dalang penculikan adik ipar tuan Kazza. Keberadaannya pun sangat tersembunyi, saya sudah menyelidikinya sejauh hari. Hanya saja, keberadaannya susah untuk dilacak. Bahkan kemanapun Reina pergi sudah ada yang mengintainya dari belakang, Reina pun termasuk bagian remot kontrol.
"Brengs*ek! aku benar benar sudah tidak sabar untuk memenjarakan Reina, aku yakin dengan rencana selanjutnya. Pasti calon anak yang berada didalam kandungan Afna yang akan menjadi sasaran empuknya, aku harus mencegahnya." Ucap Kazza yang mencoba menebak dengan apa yang akan dilakukan oleh si dalang penculikan adik iparnya.
"Saya rasa pun seperti itu, sepertinya akan ada yang menjadi sasaran berikutnya. Saya hanya bisa mengingatkan untuk selalu waspada menjaga istri Bos Zayen, yang tidak lain saudara kembar tuan Kazza." Jawab Viko yang juga sependapat dengan Kazza.
"Lalu, bagaimana rencana kita selanjutnya. Apakah kamu sudah memberitahu paman Alfan? ayah dari Zayen." Tanya Kazza yang semakin gelisah dengan keselamatan.
"Justru tuan Alfan lah yang menyelidiki tentang siapa Reina yang sebenarnya, dan Bos Zayen sendiri yang tengah menceritakan semua berawal mengenal Afna hingga menjadi suaminya. Tuan Alfan pun sangat detail dalam menyelidiki sebuah kasus, dan benar benar sangat hati hati." Jawab Viko mencoba menjelaskannya dengan baik.
"Aku sangat kagum dengan paman Alfan yang begitu jeli dalam menyikapi sebuah masalah, meski sangat kesulitan untuk mencari siapa dalangnya. Aku rasa, dalangnya sangat mengenal kepribadian paman Alfan. Makanya sangat susah untuk melacaknya, sepertinya harus ada umpan untuk menemukan siapa dalangnya." Ucap Kazza yang berusaha mencari cara untuk menangkap dalang dari semua masalah yang tengah mencoba mencelakai bagian keluarga Danuarta dan keluarga Wilyam.
"Saya rasa juga seperti tuan Kazza, untuk menangkapnya harus menggunakan umpan. Namun, siapa yang harus dijadikan umpan." Jawab Viko yang juga ikut berpikir mencari solusi.
"Seyn, menurutku Seyn lah yang bisa dijadikan Umpan." Jawab Kazza meminta pendapat.
"Ada benarnya yang tuan Kazza katakan." Ucap Viko, kemudian menarik nafasnya pelan.
__ADS_1