
Pak Ardi yang mendapati jawaban dari Bosnya pun merasa girang dan sangat senang, karena usahanya tidak sia sia untuk menyingkirkan Adelyn. Dengan senyum mengembang, Pak Ardi menunjukkan rasa percaya dirinya.
Sedangkan Adelyn segera memutar otaknya untuk mencari ide, berharap idenya akan seindah bayangan Pak Ardi.
"Bos, jangan pecat saya. Kasihanilah saya, Bos. Saya harus mencari pekerjaan dimana? jika saya dipecat dari pekerjaan ini. Tidak mungkin, jika saya harus kembali jadi pengemis." Ucap Adelyn memohon sambil menunjukkan ekspresi penuh kasihan.
Zayen yang melihat ekspresi saudara kembarnya itu hanya menahan tawa, namun sebisa mungkin agar tidak ketahuan.
"Tapi, Pak Ardi bilang bahwa kerja kamu itu sangat buruk. Lantas, apa yang mau dipertahankan? aku rasa ucapan Pak Ardi itu ada benarnya." Jawab Zayen dengan tatapan serius.
Adelyn yang hanya sebagai pekerja OB hanya bisa pasrah untuk tidak membantahnya di depan Pak Ardi, sebisa mungkin ia untuk mengikuti kemana alur rencana Pak Ardi.
"Jadi, Pak Bostetap memecat saya? kalau begitu saya permisi, Bos." Ucap Adelyn dan langsung keluar dari ruangan Zayen begitu saja, tanpa ia mohonnya kembali.
Pak Ardi pun tersenyum penuh kemenangan, apa yang ia rencanakan telah berhasil. Bahkan ia tidak memiliki rasa malu sedikitpun dihadapan pemilik Perusahaan yang ia jadikan mengais kesuksesan.
"Kalau begitu saya juga ikut permisi, Bos." Ucap Pak Ardi berpamitan.
"Ingat, pak Ardi harus segera mencari penggantinya. Saya tidak mau pakai lama, besok harus ada." Jawab Zayen dengan tatapan serius, Pak Ardi pun mengangguk menyetujuinya.
Setelan dirasa sudah cukup, Pak Ardi segera kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Zayen langsung melepas tawa kecilnya, Afna pun ikut tertawa mengingat ekspresi Adelyn yang terlihat sangat menjiwai aktingnya.
"Sayang, sepertinya pak Ardi ada sesuatu yang sudah direncanakan. Tapi, kira kira masalah apa? hingga Pak Ardi berani melaporkan Adelyn." Tanya Afna yang tiba tiba merasa janggal akan gerak gerik Pak Ardi yang terlihat jelas ada sesuatu yang menganggal.
__ADS_1
"Iya, aku pun begitu. Sepertinya ada yang menyuruh pak Ardi untuk menyingkirkan Adelyn, itu saja sih yang sedang aku pikirkan." Jawab Zayen mencoba mencerna dengan semua yang telah Pak Ardi katakan.
"Oh iya, lalu Adelyn pulangnya bagaimana? dia kan sudah dipecat sama kamu, sayang." Tanyanya lagi.
"Hem, Adelyn sudah besar. Adelyn bisa pulang sendiri, pastinya juga sudah menghubungi orang dirumah untuk menjemputnya. Kamu tidak perlu khawatir, ada Viko jugaan." Jawab Zayen mengingatkannya.
"Ah, iya juga ya." Ucap Afna yang baru ingat.
"Oh iya, jika kamu mau istirahat, istirahat saja." Perintah suaminya yang tidak tega melihat istrinya kurang istirahat.
"Aku ingin berkeliling di sekitaran kantor ini, apakah kamu memberiku izin?"
"Kamu yakin? aku takut kamu akan kelelahan, bagaimana?"
"Baiklah, tapi jangan jauh jauh. Aku takut kamu akan kelelahan, kasihan calon buah hati kita dan juga kamunya. Ingat, kamu diawasi oleh layar yang terpampang jelas didepanku."
"Hem ... iya, ya." Jawabnya, kemudian menelan salivanya.
Setelah mendapat izin dari suaminya, Afna segera keluar dari ruangan kerja suaminya. Sedangkan Zayen kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara gara kedatangan pak Ardi yang meminta untuk memecat karyawan OB.
Sedangkan di tempat ruangan khusus untuk karyawan OB, Adelyn sedang membereskan tempat yang dijadikan untuk istirahat bersama teman teman OB yang lainnya.
"Adelyn, kamu sedang apa?" tanya Sasa yang tiba tiba perasaran melihat Adelyn yang tengah membereskan mejanya yang terdapat beberapa buku untuk menghilangkan kejenuhan saat diwaktu luang.
__ADS_1
"Aku di pecat, Sa." Jawab Adelyn sambil memasukkan buku bukunya kedalam tasnya.
"Kamu dipecat? yang benar saja, Adelyn. Memang kamu melakukan kesalahan apa? sampai sampai kamu dipecat begitu saja. Bukankah kerja kamu itu sangat bagus, kenapa mesti dipecat? pasti ada yang berbuat semena mena denganmu." Ucap Sasa yang tidak percaya jika Adelyn tiba tiba dipecat begitu saja.
"Tidak apa apa kok, Sa. Mungkin bukan ditempat ini aku harus bekerja, jadi aku harus semangat untuk kedepannya. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak, kamu yang selalu ada membantuku disetiap masalah yang aku dapati di Kantor ini. Buat kamu, yang semangat kerjanya. Bukankah kamu menginginkan bisa bekerja seperti yang lainnya, berpenampilan bersih dan wangi. Aku doakan, agar kamu bisa menggapai impian kamu itu." Jawab Adelyn dan tersenyum.
Disaat itu juga, Sasa tetunduk sedih. Seakan harapannya sulit untuk diraih, dan juga merasa prustasi.
"Kamu kenapa menjadi bersedih begitu, Sa? kamu sedang ada masalah? ayo, ceritakan saja padaku. Bukankah kita ini sekarang sahabat, kita harus saling bercerita." Tanya Adelyn yang penuh penasaran dengan sosok Sasa.
"Aku merasa tidak yakin saja, Del. Aku hanya seorang OB, bagiku sulit untuk mendaftar sebagai karyawan yang lainnya. Yang berpenampilan rapi dan wangi, dan juga tidak selalu dipandang buruk dan rendah." Jawab Zaza dengan lesu dan tidak bersemangat.
"Hem ... begitu, ya. Semua itu butuh proses, Sa. Aku yakin deh, bahwa kamu pasti bisa menggapai impian kamu itu. Percaya deh sama aku, dan kamu tidak perlu khawatir tentang nasib baik itu kapan akan menghampiri kita. Yang terpenting, kita siapkan bekal untuk menerima nasib baik itu." Ucap Adelyn memberi semangat dan motivasi untuk sahabatnya itu.
"Iya benar, apa yang kamu katakan tidak ada yang salah. Mungkin aku yang tidak memiliki kesabaran untuk menunggu giliranku untuk sukses." Jawab Sasa.
"Apa kamu tidak melihat aku yang kehilangan pekerjaan? seharusnya kamu masih bersyukur, karena kamu tidak bernasib sepertiku ini." Ucap Adelyn mengingatkan sahabatnya itu akan tentang nasibnya yang telah dipecat dari pekerjaannya.
"Iya, Del. Terima kasih, kamu sudah mengingatkan aku. Aku doakan, semoga setelah keluar dari tempat ini kamu mendapatkan pekerjaan lagi. Tapi ... bukankah kamu akan segera menikah dengan sekretaris Viko? sepertinya kamu akan dilarang untuk bekerja.' Jawab Sasa yang teringat jika Sahabatnya itu sudah bernasib baik yang akan segera menikah dengan orang yang berada dan memiliki pekerjaan yang tidak cuma cuma.
"Meski suami seorang sekretaris, aku pun harus membantunya bekerja. Karena untuk apa? yang jelas untuk masa depan anak anakku kelak dikemudian hari." Ucap Adelyn.
"Kamu ini, ya. Padahal calon suami kamu itu sekretaris, tetapi kamu masih saja mau mencari pekerjaan. Kalau wanita yang pemalas mungkin lebih suka berada di rumah dan shopping. Tapi kamu beda, justru aku melihat kamu seorang pekerja keras." Ujar Sasa yang akhirnya menjadi inspirasi untuknya dijadikan semangat untuk terus bekerja keras.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau berlama lama di Kantor ini, aku ingin secepatnya pulang dan beristirahat." Ucap Adelyn yang tidak ingin semakin panjang obrolannya.