Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Berdua denganmu


__ADS_3

Ketika selesai mengenakan pakaiannya, Afna tertuju pada suatu pandangan yang sedang memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan suami tercintanya, yaitu Zayen.


"Tatapan kamu mengerikan, sayang." Ucap Afna sambil mendekati suaminya yang sedang bersantai di tepi ranjang.


"Kemarilah, dan luruskan kedua kakimu. Aku ingin bermanja denganmu, sayang." Pinta Zayen pada istrinya sambil menepuk nepuk tempat kosong didepannya.


"Awas ya, kalau nakalnya kebangetan." Jawab Afna dan nurut dengan apa yang diminta oleh suaminya.


Dengan pelan dan hati hati, Afna menyandarkan tubuhnya dan meluruskan kedua kakinya. Sedangkan Zayen tiba tiba tidur dipangkuan istrinya, kemudian menghadap perut milik istrinya yang semakin terlihat membesar.


Dengan lembut, Zayen mengusap usap perut istrinya. Zayen pun terus melakukannya berulang ulang hingga Afna merasa kegelian karena ulah suaminya.


"Sayang, sudah dong ... perutku geli, tau." Ucap Afna sambil menyingkirkan tangan milik suaminya. Zayen pun segera bangun dari posisinya yang tidur dipangkuan istrinya. l


"Aku sudah tidak sabar untuk menyambut kehadiran buah hati kita, dan aku ingin menggendongnya. Tidak hanya itu saja, aku ingin mengajaknya bermain dan jalan jalan. Tidak hanya itu, masih banyak lagi sesuatu yang aku inginkan." Jawab Zayen sambil menatap lekat pada istrinya, kemudian menc*ium kening istrinya dengan lembut dan mesra.


"Bersabarlah, tidak lama lagi penantian akan terwujud. Kita cukup berdoa dan berusaha untuk menjaga calon buah hati kita, dan tentunya dari segi kesehatan dan beban pikiran." Ucap Afna yang juga menatap lekat pada suaminya.


Zayen pun mencari posisi yang nyaman untuk berduaan bersama istrinya, meski berada diatas tempat tidur. Zayen pun duduk di sisi sebelah kanan istrinya, dan juga separuh badannya memeluk istrinya. Zayen meletakkan dagunya diatas pundak milik istrinya, seraya ingin membisikkan sesuatu padanya.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan denganmu." Ucapnya yang pada posisinya.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang ingin kamu sampaikan." Jawabnya, kemudian menarik tangan milik Seyn dan menggemnya.


"Setelah pesta pernikahan Adelyn dan Viko usai, dua hari kedepan papa memintaku untuk berangkat ke Amerika bersama Viko. Tapi ... aku terus kepikiran denganmu, jika kamu ikut pun itu tidak memungkinkan dengan kondisi kamu yang sekarang ini. Jika kamu tidak menyetujui, aku bisa meminta Viko untuk berangkat bersama Adelyn." Ucap Zayen sedikit berat untuk mengatakannya. Namun, mau tidak mau Zayen harus mengatakannya.


Mau bagaimanapun, Zayen adalah putra dari keluarga Alfan. Zayen lah penerus utama keluarga Alfan, sedangkan Adelyn sudah ada ketentuannya sendiri. Apapun keputusan dari orang tua, tuan Alfan tetap bersikap adil.


Sedangkan Afna sendiri masih dilema dengan ucapan dari suaminya itu, ia merasa berat untuk menjawabnya.


"Sudah aku bilang, kamu tidak perlu khawatir. Semua pasti ada jalan keluarnya, lagian jika berangkat hanya sebentar. Karena nanti akan ada pertimbangan, antara aku dan Viko yang akan tinggal di tanah Air ini. Setidaknya, aku menghargai keinginan papa untuk ikut ke Amerika. Soal keputusan, aku mempertimbangkannya. Lagian juga aku ada kamu dan calon buah hati kita, aku pasti akan memikirkannya dengan matang." Ucap Zayen berusaha untuk meyakinkan istrinya, berharap akan mengerti maksud dari suaminya.


Afna pun akhirnya tersenyum saat mendengar penjelasan dari suaminya, lalu menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya dengan pelan.


"Syarat? katakan, apa syaratnya." Tanya Zayen, kemudian menautkan kedua alisnya.


"Tidak melupakanku dan juga calon buah hati kita, sering seringlah menghubungiku. Dan, jangan ganjen." Jawab Afna menunjukkan rasa cemburuannya. Zayen yang mendengarnya pun tersenyum, kemudian menc*ium pipi kanan milik istrinya.


"Sudah aku sering aku katakan denganmu, aku sangat mencintaimu. Bahkan aku bisa gila jika harus kehilangan kamu, dan kamu lah canduku sampai kapanpun. Aku tidak membutuhkan kepintaran dan kepandaianmu dalam bidang pekerjaan yang menghasilkan uang. Aku hanya membutuhkanmu untuk menjadi guru anak anak kita nanti, itu sudah membuatku bahagia. Materi, aku bisa mencarinya. Tetapi ilmu, bagiku sangat berharga sampai kapanpun." Ucap Zayen panjang lebar, seketika Afna terharu mendengarnya. Kini, keduanya mengganti posisinya masing masing dan saling menatap lekat satu sama lain.


Afna benar benar tidak dapat menyangkanya, jika suaminya sangat mencintainya. Bahkan, ia sendiri tidak dapat menghitung seberapa banyak rasa cinta dan kesabaran dalam berumah tangga.


"Aku akan terus berusaha untuk menjadi seorang istri sekaligus guru untuk anak anak kita nantinya. Ingatkan aku, jika aku memiliki cara yang salah. Jangan pernah enggan untuk menasehatiku, karena bisa jadi aku luput dalam tugasku." Jawab Afna dengan serius dihadapan suaminya.

__ADS_1


"Sekarang, ayo kita istirahat. Nanti sore, aku akan mengajakmu jalan jalan tidak jauh dari rumah." Ajak Zayen, sedangkan Afna mengangguk dan tanpa terasa keduanya terlelap dari tidurnya masing masing.


Sedangkan diluaran sana, Seyn dan Neyla masih dalam perjalanan pulang. Tiba tiba Neyla merasakan sesuatu pada perutnya, ia pun merasa nyeri dan menahannya.


Seyn yang sekilas memperhatikan Neyla pun seketika dirinya teringat saat sampai di pesta pernikahan Viko dan Adelyn, jika Seyn sama sekali tidak melihat Neyla mengambil makanan di acara pesta tersebut.


"Kamu lapar? sebentar lagi kita akan sampai di Restoran." Ucap Seyn, kemudian menoleh kearah Neyla. Begitu juga dengan Neyla yang langsung menoleh kearah sampingnya yang sedang menyetir mobilnya.


"Iya, aku sangat lapar. Pagi tadi aku hanya minum susu saja, soalnya terburu buru ingin menghadiri acara pernikahannya Adelyn. Tidak tahunya harus bermain drama dulu denganmu, hingga tidak terasa memakan waktu yang cukup lama. Sampai sampai aku lupa tidak mengambil makanan untuk mengganjal perutku." Jawab Neyla panjang lebar dengan nada suaranya yang terdengar lesu.


"Maafkan aku, ya. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal, aku hanya heran saja selalu bertemu denganmu. Rupanya akan ada kejutan yang tidak pernah aku menduganya, kejutannya itu kamu." Ucap Seyn dan tersenyum saat menatap Neyla, begitu juga dengan Neyla yang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya tersenyum bahagia.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku sendiri tadi merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Ingin mengakui, aku takut salah. Tidak mengakui, aku akan menyesal." Jawab Neyla sedikit canggung, namun segera ia membuang rasa canggungnya.


Lama mengobrol, keduanya telah sampai di sebuah tempat Restoran yang terlihat kecil namun ramai pengunjung.


"Jangan dilihat ukuran tempatnya, tapi lihatlah pengunjung didalamnya." Ucap Seyn sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Tidak, aku hanya menebak saja dalam batinku. Pasti kualitasnya tidak jauh beda dengan Restoran yang besar dan ternama." Jawab Neyla menebaknya.


"Tidak juga, sudah lah ayo kita masuk. Nanti kamu akan mengetahuinya didalam." Ucap Seyn, kemudian keduanya segera turun dari mobil dan masuk kedalam Restoran yang berukuran kecil.

__ADS_1


__ADS_2