Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Zayen yang kehabisan ide


__ADS_3

Kazza yang mendapati lirikan dari sang ibu hanya diam dan pura pura tidak tahu.


"Iya tuh, kenapa Kak Kazza tidak menerima perjodohan dari Papa?" Ucap Afna menimpali.


"Kakak pingin yang berbeda saja, kamu tuh cepetan berbulan madu. Kasih Kakak keponakan bila perlu jagoan ada 4 biar dapat mengalahkan paman Ganan." Jawabnya meledek.


"Terlalu kebanyakan itu, Kak ..." jawabnya dibuat cemberut.


"Ngomong soal paman Ganan, Papa sampai lupa. Bahwa tiga hari lagi ada acara keluarga di rumah kakek Angga. Keluarga besar akan berkumpul di sana, termasuk paman Alfan dan tante Zeil."


"Wah ... pasti ada Adelyn ya, Pa? kenapa Kakak tidak di jodohkan saja dengan Adelyn, bukankah Adelyn juga cantik dan kak Kazza juga sudah mengenalnya." Ledek Afna kepada sang kakak. Sedangkan Kazza hanya melirik tajam pada sang adik, Afna yang merasa sedikit mendapat ancaman hanya bisa terdiam dan tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Sudah, sudah ... hari ini kita akan liburan ke desa. Tepatnya dimana kakek Ferdi dan Omma Tiara tinggal, sekarang kita sarapan pagi terlebih dahulu."


"Yang benar, Ma? kita mau ke tempat kakek? Afna benar benar sudah tidak sabar."


"Benar, Afna ... makanya, ayo kita sarapan. Agar kita tidak terlambat, soal baju ganti sudah disiapkan." Jawab sang Ibu


'Ke Desa? yang benar saj. Bagaimana dengan pengiriman barangnya, menolaknya tidak mungkin.' Batin Zayen sedikit cemas.


"Nak Zayen, kamu juga ikut. Disana kita akan liburan hanya dua hari saja."


"Iya, Pa .. tidak masalah." Jawabnya dengan tenang.


'Untung saja cuman dua hari, aku kira satu minggu." Batin Zayen merasa lega.


Kini Tuan Tirta dan yang lainnya sudah berada di ruang makan, semua menikmati sarapan pagi dengan suasana hening. Hanya terdengar suara sendok yang saling beradu dan menyapu piring hingga bersih tidak tersisa.


Setelah selesai sarapan pagi, semua kembali ke kamarnya masing masing.

__ADS_1


Dengan langkahnya yang pelan, Afna dan Zayen menapaki anak tangga menuju kamar milik Afna.


'Entah kenapa aku merasa malas menginjakkan kakiku di rumah sebesar ini. Aku tetap lebih nyaman di rumah sendiri.' Batin Zayen sambil menapaki anak tangga.


Ceklek, Afna membuka pintunya. Keduanya langsung masuk kedalam, kemudian Afna segera mengunci pintu kamarnya. Takut, sewaktu waktu dirinya sedang mendapat godaan sang suami tidak lagi ketahuan.


Sedangkan Zayen menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dirinya senyum senyum tidak jelas. Entah apa yang sedang bersemayam didalam pikirannya, mungkin saja sedang mengingat saat mendapatkan mahkota istrinya.


Afna pun ikut menjatuhkan tubuhnya disamping suaminya, kini keduanya saling berhadapan. Afna dan Zayen kembali saling beradu pandangan, keduanya terhipnotis satu sama lain. Dengan cepat, Zayen mengganti posisinya berada di atas Istrinya. Dengan rakus, Zayen melakukan aksinya. Namun, tiba tiba dirinya teringat akan pergi bersama keluarga istrinya. Dengan terpaksa, Zayen menghentikan aksinya dan segera bangkit dari posisinya.


"Cepat ganti pakaian kamu, sepertinya papa dan mama sudah menunggu kita. Jangan memancingku, nanti aku bisa membatalkan liburannya." Ucap Zayen sambil merapihkan penampilannya sendiri yang sudah kacau karena ulahnya sendiri.


Afna sendiri segera bangkit dari posisinya, dan kini Afna sudah berada di hadapan suaminya.


"Kenapa bisa membatalkan, ada apa?"


"Masih tanya lagi, kamu tahu? kamu sudah menjadi canduku. Berdua saja denganmu, aku sudah tidak bisa mengontrolnya. Masih belum mengerti?" Jawab Zayen yang langsung menahan tengkuk leher istrinya dan menci*um bi*bir istrinya dengan rakus, Afna sendiri kualahan mengimbangi suaminya.


Setelah selesai bersiap siap, Afna dan Zayen segera keluar dari kamar. Dengan pelan, keduanya menuruni anak tangga. Afna yang sedari tadi melingkarkan tangannya pada lengan suaminya, keduanya terlihat nampak serasi.


Kedua orang tua Afna maupun Kazza, sangat senang melihat putri kecil yang kini tumbuh dewasa bersuamikan dengan sosok Zayen yang sangat bertanggung jawab dan terlihat sangat mencintai Afna.


'Aku berharap, semoga kamu mencintai Afna benar benar tulus dan tidak mempermainkan adik kesayanganku. Meski aku sudah percaya dengan kamu, tetapi hatiku belum sepenuhnya yakin terhadapmu. Semoga saja, kamu tidak sedang bermain dalang dibelakangku. Aku yakin, ada batu besar yang sedang kamu genggam. Namun, aku tidak bisa memastikannya. Batu apa yang sedang kamu sembunyikan, semoga saja bukan keluarga Danuarta yang sedang kamu incar.' Batin Kazza dengan serius melihat sosok Zayen yang sedang digandeng sang adik kesayangannya.


Sedangkan Kedua orang tua Afna senyum bahagia melihat putrinya yang terlihat sangat bahagia memiliki suami seperti Zayen. Berbeda dengan Zayen yang kini merasa bahwa dirinya tidak enak hati saat dirinya terlambat keluar dari kamar. Apalagi ada sosok kakak ipar yang juga ikut menunggunya.


"Maaf, Ma. Kita berdua sudah membuat Mama dan Papa dan juga kak Kazza menunggu lama." Ucap Afna sedikit malu.


"Tidak apa apa, kita dapat memakluminya." Jawabnya dan tersenyum, sedangkan Afna hanya tersipu malu.

__ADS_1


"Sudah siap? diingat kembali, siapa tahu saja ada yang tertinggal." Tanya sang Ibu kepada yang lainnya.


"Sudah, Ma ...." jawab Afna dan Kazza serempak.


"Kalian berdua kalau sudah deketan saja, kompak bener."


"Tapi satu yang tidak mau kompak, Ma ..."


"Apa?" tanya Kazza menimpali.


"Pernikahan, kenapa waktu Afna menikah, kak Kazza tidak sekalian di nikahkan dengan anaknya teman Papa, atau .... dengan Adelyn, anaknya tante Zeil." Jawab Afna sambil melirik sang kakak.


"Kakak tidak mau dua duanya, titik."


"Berarti, kalau tidak mau dua duanya? satu saja dong."


"Hem! sekolahnya kamu dimana? ah! sudahlah, ayo kita berangkat." Ucap Kazza yang langsung pergi keluar dengan langkah kakinya yang begitu cepat.


Sedangkan Zayen hanya diam. Selain tidak menyukai senda gurau, Zayen tidak bisa untuk melakukannya.


Kedua orang tua Afna satu mobil dengan Kazza, sedangkan Zayen dan Afna dengan mobil yang berbeda.


Didalam perjalanan, Zayen hanya diam. Dirinya menatap luar dengan posisi menyilangkan kedua tangannya pada dada bidangnya. Afna yang merasa dicuekin pun ikut menatap luar dengan posisi yang sama seperti suaminya.


Zayen pun segera menoleh kearah istrinya yang terlihat memasang muka masamnya sambil tersenyum.


"Marah nih sepertinya." Ucap Zayen membuka suara sambil menyiku istrinya. Afna masih berusaha diam dan tidak merespon suaminya.


"Sayangnya, ponselku mati. Coba kalau hidup, sudah aku abadikan itu muka masamnya yang gemesin." Ucapnya lagi, lagi lagi Afna tidak meresponnya. Afna masih berusaha untuk bertahan pada posisinya.

__ADS_1


Zayen mulai kehabisan ide, akhirnya Zayen kembali pada posisinya yang semula. Menatap luar sambil mencari ide untuk menggoda istrinya.


__ADS_2