Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pertemuan


__ADS_3

Masih di rumah sakit, keadaan Zayen sedikit ada perubahan. Tidak hanya itu, penjagaan ketat pun tengah dilakukan oleh keluarga Wilyam. Tepatnya oleh anak buah ayah kandung Zayen sendiri.


"Anakku ... apakah tubuh kamu masih terasa lemas?" tanya sang ibu sambil menyuapi putranya.


"Sudah mendingan, Ma. Hanya saja, masih terasa sakit pada bagian kedua kaki Zayen." Jawab Zayen penuh dengan perasaan bahagia, kini mimpinya benar benar kenyataan. Mendapat perhatian penuh dari seorang ibu yang sangat ia rindukan, dari sentuhan lembutnya dan juga perhatiannya. Zayen benar benar mendapatkannya, keluarga yang masih utuh dan juga keluarga yang baik pula.


Namun, tiba tiba wajahnya terlihat murung, seakan senyum mengembangnya kini menjadi layu.


"Kamu kenapa terlihat lesu, Nak ... apakah kamu merindukan Afna?" tanya sang ibu mencoba menebaknya.


"Iya, Ma. Zayen sangat merindukannya, meski baru kemarin. Tapi, waktu yang Zayen lewati begitu terasa lama. Zayen menyesali, telah membohongi Afna selama ini. Mungkin saat ini, Afna sangat membenci Zayen." Jawab Zayen dengan lambat mengunyah suapan dari ibunya.


"Mama yakin, Afna wanita yang kuat dan sabar. Pasti, istri kamu tidak akan membencimu. Percayalah dengan Mama, terlihat begitu jelas dimata Afna akan perasaannya kepadamu. Bahwa Afna sangat mencintaimu, bahkan rasa bencinya terhadapmu pun tidak ada sedikitpun." Ucapnya berusaha untuk meyakinkan putranya, berharap tidak lagi banyak pikiran.


"Iya, kak. Percaya deh sama Adelyn, istri kakak tetap menjaga hatinya untuk kakak." Ucap Adelyn menimpali, sedangkan Zayen hanya tersenyum melihat orang orang yang dirindukannya begitu menyayanginya. Lagi lagi, Zayen tidak henti henti untuk bersyukur atas dipertemukannya dengan keluarganya.


"Kenapa kakak hanya tersenyum, pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan permaisurinya, ya? hayo ... ngaku. Iya, 'kan? jujur saja deh, kakak." Ledek Adelyn yang sudah tidak lagi canggung dengan saudara kembarnya sendiri. Justru Adelyn sedikitpun tidak ada rasa malu, meski belum lama mengenalnya. Begitu juga dengan sang ibu, perasaan bahagianya kini benar benar telah sempurna. Harapan yang pernah pupus, kini telah terjawab sudah doa doanya.


"Sudah sudah, jangan meledek kakak kamu. Kasihan, kakak kamu sedang sakit loh."


"Iya, Ma. Kalau begitu, Adelyn mau keluar sebentar. Adelyn mau mencari udara segar, disini sungguh sangat membosankan." Ujar Adelyn.


"Jam berapa ini? udara segar sudah lewat, Del. Yang ada jualan bubur ayam, dan soto ayam." Jawab Zayen ikut menimpali.


"Ah! iya, bubur ayam. Pas banget dengan perut Adelyn yang sedang lapar, kakakku yang satu ini tau saja kesukaan Adelyn." Ucap Adelyn yang langsung pergi keluar untuk mencari bubur ayam disekitaran rumah sakit. Sedangkan sang ibu dan Zayen hanya saling melempar senyum, keduanya sama sama terlihat bahagia.

__ADS_1


Sedangkan didalam perjalanan, Afna masih mengumpulkan kemampuannya untuk bertemu suaminya. Perasaannya yang bercampur aduk, membuat Afna semakin gelisah.


"Sayang, apakah kamu sudah siap untuk menemui suami kamu?" tanya sang ibu sedikit ragu.


Tanpa membalas pertanyaan ibunya, Afna hanya mengangguk. Afna masih saja dengan diamnya, perasaan yang begitu sakit harus menerima kenyataan yang sangat pahit. Bahkan, rasa pahitnya sulit untuk dirasakan.


Tidak hanya karena kesalahan dari saudara kembarnya, namun juga kebohongan dari suaminya sendiri yang tidak pernah berkata jujur terhadapnya. Zayen yang selalu mengelak, jika mendapatkan pertanyaan dari istrinya. Afna benar benar tidak sanggup menerimanya, mungkin hanya penjelasan dari suaminya yang bisa meluluhkan hati Afna.


Disaat itu juga, Afna teringat akan janji yang akan ditepati suaminya itu. Yang tidak lain adalah, akan berhenti melakukan pekerjaannya jika sang istri tengah hamil. Namun, kenyataan tidak sesuai harapan. Suaminya harus mendekam di balik jeruji besi, seakan perpisahan waktu yang akan menguji kesabarannya.


Kedua orang tua Afna masih dengan ekspresinya, menatap sedih dengan nasib putri kesayangannya. Yang seharusnya bahagia, kini harus bersabar dengan ujiannya.


Setelah menempuh waktu yang cukup lama, tidak terasa kini sudah berada didepan rumah sakit. Afna pun heran dibuatnya, pikirnya.


'Kenapa berada di rumah sakit? bukankah di tahanan?' batin Afna dengan kesadarannya.


Afna masih diam, dirinya hanya mengangguk. Mengisyaratkan bahwa dirinya mengerti dengan apa yang diucapkannya.


Afna teringat, saat dirinya mendapat kabar bahagia. Namun, kabar bahagia itu bukan sang suami yang mendampinginya. Tetapi, yang tidak lain adalah orang tua kandung suaminya.


Afna mengusap bagian perutnya dengan lembut, seakan sedang berbicara dengan calon anaknya yang ada didalam kandungannya.


Sang ibu, kini tengah menggandeng putrinya. Berharap akan baik baik saja saat menemui suaminya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan kedua kaki suaminya yang tertembak.


Pelan, dengan pelan Afna melangkahkan kakinya. Pikirannya mulai dikuasai akan bayangan bayangan suaminya sendiri, dari mulai sikap perhatiannya, cara mengajari tentang kebaikan, dan masih banyak lagi perlakuan baik dari suaminya kini tengah bersemayam dalam ingatannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Afna telah sampai didepan ruang rawat suaminya ditemani kedua orang tuanya sendiri. Sebisa mungkin, Afna berusaha untuk tenang.


Tok tok tok, suara ketukan pintu tengah mengagetkan yang berada didalam.


Ceklek, pintu pun terbuka. senyum mengembang terlihat jelas dikedua sudut bibir ibu mertua.


Sedangkan ibunya Afna segera memberikan kode untuk besannya, agar diberi waktu luang untuk anak dan menantu dapat mengobrol empat mata.


"Afna, apa kabar kamu, sayang ..." sapa ibu mertua dengan ramah.


"Baik, tante."


"Loh, kok tante. Sekarang tante sudah menjadi mama mertua kamu, panggil saja mama."


"Iya, Ma ..." jawabnya sedikit kaku.


'Sungguh, hatimu pasti sangat terluka. Saat bahagiamu, kamu harus menerima kenyataan pahit ini. Maafkan putra mama yang sudah membuatmu sakit hati dan kecewa.' Batinnya dengan sedih.


"Masuklah, temui suami kamu, sayang ... Zayen sangat merindukanmu, dan juga sangat mengkhawatirkan kamu." Pinta ibu mertuanya, Afna hanya mengangguk. Kemudian segera masuk dan menemui suaminya. Pintu pun segera ditutup oleh ibunya Zayen, agar lebih leluasa untuk mengeluarkan beban yang terpendam selama tidak bertemu.


Kedua orang tua Afna dan juga ibu mertuanya kini memilih untuk menunggunya diluar. Berharap, putra dan putrinya tetap hangat dengan hubungannya.


Afna masih berdiri mematung didekat pintu, tatapannya tertuju kepada suaminya. Begitu juga dengan Zayen, dirinya menatap wajah istrinya yang terlihat penuh kesedihan.


"Sayang, kenapa kamu berdiam disitu? apa kamu tidak merindukanku?" Sapa Zayen dengan senyumnya. Afna sendiri masih tidak berubah, hanya diam dan diam tanpa menjawab sapaan dari suaminya.

__ADS_1


Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya untuk mendekati suaminya yang sedang bersandar sambil menatap lekat wajah istrinya.


Kemudian, Zayen segera merentangkan kedua tangannya, berharap sang istri mau dipeluknya.


__ADS_2