Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kesialan


__ADS_3

Setelah acara kumpul bersama di kediaman keluarga Wilyam selesai, kini kembali sepi di rumah keluarga Wilyam.


Tuan Alfan merasa sepi, dirinya kembali duduk termenung. Pikirannya masih terngiang ngiang dengan pesan yang diterimanya.


"Sayang, kamu kenapa? ada masalah?" tanya sang istri penasaran.


"Putra kita, sedang dalam bahaya." Jawabnya dengan nafasnya yang berat, mau tidak mau tetap menceritakan kepada sang istri.


"Apa!! kamu tahu dari mana? kamu tidak lagi mengada ngada, 'kan?"


"Aku serius, aku tidak pernah bohong kepadamu. Saat aku ikut mengobrol bersama paman dan papa dan juga Zayen, aku mendapati pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Pesannya mengatakan, bahwa Adevin masih hidup. Bahkan sudah memiliki seorang istri, dan dia juga tidak lupa untuk menghina istri Adevin."


"Apa!! terus, apa kamu sudah menghubungi nomer tersebut. Katakan padaku, dimana Adevin berada."


"Tenangkan dulu pikiranmu, seorang penjahat juga tidak bod*oh. Bahkan, pesannya pun langsung hilang seketika. Bagaimana aku akan melacaknya, bahkan pikiranku saja buntu." Ucap sang suami sambil menatap istrinya serius.


"Jadi ... kamu belum mengetahui titik terang putra kita. Aku sudah sangat merindukannya, bahkan aku bisa gila. Jika aku tidak dapat menemukan putraku, bertahun tahun aku berharap. Namun, harapanku sirna. Semua anganku hilang bak ditelan bumi, aku sangat merindukan Adevin." Ucapnya penuh kesedihan.


Tuan Alfan pun segera memeluk istrinya, mencoba memberi ketenangan padanya. Berharap, sang istri akan terus bersabar dan akan tetap bersabar menunggu sang buah hati hadir kembali.


"Percayalah padaku, putra kita akan segera kita temukan. Putra kita akan baik baik saja, percayalah padaku. Aku yakin, putraku lebih pintar dariku. Adevin pasti akan kita temukan, bahkan putra kita sendiri yang akan menemukan kita." Ucapnya untuk menguatkan istrinya, meski sebenarnya sangat rapuh. Bahkan, rasa bahagiapun tidak didapatkan oleh sang istri. Walaupun masih ada seorang anak perempuan yang dimiliki, rasa sakit tetap masih melekat sebelum yang diharapkan datang kembali.


"Mama ... ada apa dengan mama, Pa?" tanya Adelyn mendekati kedua orang tuanya yang terlihat sangat sedih.


"Mama sedang merindukan kakak kamu." Jawab sang ayah masih dengan posisinya yang memeluk sang istri.


"Pa, memang tidak ada tanda kelahiran dari kak Adevin?" tanya Adelyn yang juga penasaran.


"Ada, tanda lahirnya sama dengan punya kamu. Hanya saja, milik kakak kamu ada pada bagian lengan kiri bagian atas. Jika tanda lahir milik kamu ada dibagian lengan kanan bagian atas." Jawab ibunya menimpali.

__ADS_1


"Baik Ma, Adelyn mau ikut mencarinya. Pastinya tanda lahir milik Adelyn tidak akan beri tahu kesiapapun. Hanya Adelyn dan mama papa yang tahu." Ucap Adelyn penuh semangat.


"Memang kamu mau cari dengan cara bagaimana?" tanya sang ayah yang juga penasaran dengan penuturan dari putrinya. Adelyn juga tidak kalah pintarnya dari sang ayah, hanya saja sedikit pemalas. Namun, sekali ingin mempelajarinya tidak pandang waktu.


"Adelyn akan melakukannya dengan cara Adelyn sendiri, dukung Adelyn ya, Ma ... Pa."


"Tentu saja, Adelyn. Papa akan mendukungmu untuk menemukan kakak kamu, yang tidak lain adalah saudara kembar kamu."


"Mama jadi keingat Zayen, wajahnya mirip kamu. Tapi sayangnya, bukan Zayen saudara kembar kamu."


"Iya, papa rasa juga begitu. Mirip dengan kamu, tapi kenyataannya bukan."


"Mungkin, suami Afna dijadikan untuk obat rindu kita bertiga. Kita jadi teringat dengan kak Adevin, dan semoga ini ada titik terang. Bukankah suami Afna akan membantu papa untuk melakukan pencarian kak Adevin?"


"Iya, papa rasa Zayen menyimpan berjuta kepintaran. Bahkan papa lihat dari penampilannya, sebenarnya dia jauh lebih pintar dari Kazza dan juga Rey maupun Zakka. Zayen hanya menutupi kepintarannya dengan penampilannya. Terlihat dari sorot matanya, bahkan aku kalah pintarnya."


"Hus! jangan bicara seperti itu, Zayen sudah menjadi suami Afna. Jodohnya Afna benar benar sangat luar biasa, Afna benar benar beruntung mendapatkannya." Jawab sang ibu mengingatkan.


"Iya, Ma. Adelyn mengerti, dan juga tidak mungkin Adelyn jatuh cinta dengan suami saudara sendiri. Sangat menggelikan, bahkan sangat mengerikan." Ucap Adelyn bergidik ngeri.


Sedangkan yang jauh disana, yang sedang dibicarakan tiba tiba tersedak saat meminum jus jeruk.


"Jangan terburu buru minumnya, sayang." Ucap Zayen sambil mengusap punggung istrinya pelan.


"Seperti ada yang membicarakan aku."


"Hem .. tidak ada, palingan kamu sendiri yang terburu buru meminumnya."


"Oh iya, malam ini kita mau makan di luar atau ...."

__ADS_1


"Ayam geprek level super pedas, minumnya teh hangat." Jawab Afna yang memotong ucapan dari suaminya.


"Yakin? tidak ingin yang lainnya, sate atau ayam bakar."


"Aku maunya ayam geprek, sepertinya sangat cocok makan dipinggir Danau. Aku sangat merindukan tempat itu, aku merasa sangat nyaman tempatnya." Jawab Afna yang tiba tiba menginginkan ayan geprek.


"Baiklah, aku akan menemani kamu malam ini. Kita akan menikmati makan malam bersama, tapi sebelumnya ....." ucapnya yang sulit untuk diartikan. Afna yang mengerti maksud dari suaminya pun segera mendekat, dengan lembut Afna mencium pipi milik suaminya.


Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menggendong istrinya sampai kedalam kamar. Zayen maupun Afna sangat merindukan masa masa saat Afna tidak bisa berjalan, sang suami yang selalu menggendongnya.


Kini, keduanya sama sama merindukan kemesraan yang tercipta dari kaki yang tidak bisa untuk menyangga tubuhnya ketika berjalan.


Zayen pun menurunkan istrinya dengan pelan ke tempat tidur. Kemudian, Zayen memulai aksinya, kini keduanya sudah tidak lagi ada rasa canggung sedikitpun. Bahkan Keduanya sama sama menikmatinya tanpa ada rasa malu, tentunya.


Tok tok tok, "Bos! buka pintunya." Serunya didepan rumah sambil ketuk ketuk pintu.


"Sial!! sial! siapa lagi yang berani beraninya ketok ketok pintu." Ucapnya menggerutu.


"Kenapa, sayang."


"Tidak tahu, kenakan pakain kamu. Aku mau buka pintunya." Jawabnya sambil mengenakan kaos oblongnya tanpa merapihkan rambutnya yang terlihat acak acakan.


Dengan kesal, Zayen menghentak hentakan kakinya dilantai sampai di ruang tamu. Zayen segera membuka pintu.


Ceklek, "sial!! rupanya kamu, aku kira bapak kumis. Cepetan masuk, apa kamu mau jadi satpamku." Ucapnya sedikit jengkel, sedangkan Viko hanya senyum melebar dan sedikit menahan tawa saat melihat Zayen dengan gaya rambutnya yang seperti susuh baj*ing.


"Rambutnya keren amat, Bos. Habis kena angin topan yang disertai gempa bumi ya, Bos. Ledek Viko sambil meninggikan satu alisnya.


"Nyindir ... bilang saja, kamu pun sudah menanti nantikannya, iya 'kan?" Jawab Zayen sambil meninggikan satu alisnya juga. Sedangkan Viko hanya tersenyum sinis dan dibuat cemberut. Sedangkan Zayen yang melihat ekspresi Viko hanya tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2