Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Ingin menebus kesalahan yang sudah dilewati


__ADS_3

Waktu yang sudah dilewati Adelyn cukup menguras pikiran. Sebisa mungkin, Adelyn berusaha untuk tenang.


"Sayang, satu hari lagi adalah hari pernikahan kita. Jangan buat pikiran kamu semakin runyam, percayalah denganku. Hanya kamu yang aku cintai, bukan perempuan lain. Jangankan untuk mencintai perempuan lain, mencintaimu saja aku merasa masih kurang. Kamu percaya denganku, 'kan?" ucap Viko berusaha untuk meyakinkan calon istrinya.


"Janji, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku? aku tidak suka dibohongi." Jawab Adelyn yang masih cemberut.


"Janji, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Kamu lah yang pertama membuatku jatuh cinta, dan kamu lah untukku selamanya." Ucapnya sambil memegangi pundak milik Adelyn untuk meyakinkannya.


"Aku percaya denganmu sepenuhnya, aku percaya bahwa kamu tidak akan pernah untuk menyakiti aku." Jawabnya dan tersenyum.


"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kamu harus banyak istirahat, besok kamu sudah tidak diizinkan untuk keluar rumah." Ajaknya untuk pulang.


"Baik lah, aku nurut saja denganmu." Jawabnya, kemudian Viko langsung menggandeng Adelyn sampai di parkiran.


Didalam perjalanan, suasana kini mulai tidak lagi sepi, Adelyn mulai menunjukkan keceriaannya. Begitu juga dengan Viko yang meski sedikit kaku, namun tetap berusaha untuk membuat Adelyn merasa nyaman.


"Sayang, kenapa kamu masih terlihat dingin? padahal aku ingin melihatmu yang berbeda lagi." Tanya Adelyn berterus terang, Viko yang mendapati pertanyaan dari Adelyn hanya menautkan kedua alisnya.


"Tuh, kan ... hanya begitu ekspresi kamu." Ucap Adelyn sambil memasang muka masamnya.


"Kamu belum jadi milikku sepenuhnya, aku takut adanya sesuatu yang tidak baik pada diri kita, itu saja." Jawabnya, dan tersenyum tipis dihadapan Adelyn.


'Apakah calon suamiku ini tipe yang sangat dingin? bahkan, aku tidak pernah diperlakukan yang romantis seperti yang lainnya. Tapi, benar juga yang dikatakannya. Mungkin saja setelah menikah berubah drastis, dan benar benar sangat romantis.' Batin Adelyn penuh percaya diri akan sosok calon suaminya itu.


"Hei, melamun saja. Kita sudah sampai di depan rumah kamu, ayo turun." Ucap Viko sambil melambaikan tangannya didepan Adelyn, seketika dirinya kaget dibuatnya.


"Ah iya, kita sudah sampai. Masuk dulu ke rumah, yuk ..." Jawabnya dan mengajaknya untuk ikut masuk ke rumah.


"Tidak perlu, nanti kita akan masuk ke rumah kita yang baru bersama sama setelah kita sudah menjadi suami istri." Ucapnya, dan dilihatnya Adelyn yang tengah kesulitan melepaskan sabuk pengamannya.

__ADS_1


Dengan sigap, Viko segera membantu Adelyn untuk melepas sabuk pengamannya. Keduanya saling bertatap muka begitu dekat.


"Jangan serius menatapku, calon suami kamu ini sudah tampan. Jadi, tidak perlu kamu tercengang melihatku begitu seriusnya." Ucap Viko sambil meninggikan satu alisnya.


"Hem, iya ya. Aku percaya, yang paling tampan dan juga ..."


"Dingin, maksud kamu?" ucap Viko yang langsung menyambar dan memotong kalimat dari Adelyn.


"Iya, kamu dingin banget denganku. Padahal kita akan segera menikah, tapi kamu masih saja bersikap dingin. Sepertinya aku tidak perlu menggunakan AC didalam kamar, karena suami nya saja sudah dingin." Jawab Adelyn sedikit menyindir, Viko hanya menatap Adelyn dengan lekat. Meski sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin menyentuh calon istrinya dengan bebas, namun ia mencoba untuk menahannya sebelum benar benar menjadi miliknya seutuhnya.


Sebisa mungkin, Viko untuk bisa menahannya. Ia tidak ingin sesuatu yang akan menjadi miliknya ia kotori dengan tangannya sendiri, pikir Viko.


"Sudahlah, ayo turun. Tidak baik, lama lama didalam mobil. Bersabarlah, kita akan bertemu kembali dipernikahan kita. Ingat pesanku, jangan keluar rumah kalau bukan dihari pernikahan." Ucap Viko mengingatkan, Adelyn mengangguk dan segera turun dari mobil.


Setelah mengantarkan Adelyn, Viko sendiri segera pulang. Ia juga ingin banyak beristirahat, agar tubuhnya tetap fit dan tidak tetap bugar dan sehat.


Sedangkan Adelyn kini masuk ke dalam rumah, dilihatnya setiap sudut ruangan terasa berbeda.


"Belum, Nona. Sepertinya sebentar lagi, sedangkan tuan Besar dan juga Nyonya Zeil sedang keluar." Jawab pelayan rumah.


"Kemana semuanya mbak? kok tiba tiba tidak ada yang di rumah." Ucap Adelyn dengan lesu, kemudian ia duduk dan menuangkan air putih didalam gelas. Kemudian segera ia menghabiskannya, setelah itu Adelyn masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


"Adelyn, tunggu." Seru seseorang yang tengah menghentikan langkah Adelyn yang hampir saja mau menapaki anak tangga, seketika Adelyn menoleh kebelakang.


"Afna, kak Zayen." Panggil Adelyn sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati saudara kembarnya dan juga kakak iparnya.


"Aku mau istirahat, mengobrol lah dengan kakak ipar kamu. Badanku terasa lelah, dan terasa 0egsl pegal." Ucap Zayen beralasan, kemudian segera ia masuk kedalam kamarnya. Ia tidak ingin mengganggu saudara kembarnya yang harus banyak istirahat, supaya di hari pernikahannya terlihat segar dan fit.


"Kenapa kamu pulangnya terlambat, Afna? padahal aku ingin sekali mengajakmu banyak bercerita. Tapi ya sudah lah, jika kamu mau istirahat. Jugaan tidak baik untuk calon ibu banyak beraktivitas, aku bisa memakluminya." Ucap Adelyn sambil menatap saudara iparnya, yaitu Afna.

__ADS_1


"Maaf ya, Del. Tadi dijalanan macet total, mau tidak mau kita harus mematuhi peraturan. Besok aku temani kamu saat perawatan, tapi hanya sebentar." Jawab Afna menjelaskan.


"Tidak apa apa, kesehatan kamu juga jauh lebih penting. Ah iya, tadi aku juga mengalami kemacetan. Tapi tidak lama, jadi tidak membuatku merasa menunggu lama." Ucap Adelyn.


"Kalau begitu aku mau masuk kedalam kamar dulu ya, Del ... tidak apa apa 'kan? aku ingin beristirahat. Dan, kamu juga harus banyak istirahat. Waktu kamu tinggal sehari, persiapkan diri kamu sebaik mungkin." Ucap Afna mengingatkan.


"Hem ... semuanya menyuruhku untuk beristirahat." Jawab Adelyn, Afna hanya tersenyum dan segera masuk kedalam kamarnya.


Adelyn hanya menggelengkan kepalanya, ia benar benar seperti mendapatkan hukuman yang harus mengurung diri didalam kamar.


Mau tidak mau, Adelyn harus masuk kedalam kamar. Dengan berat hati, Adelyn menapaki anak tangga.


"Nona, tunggu." Seru seorang pelayan tengah menghentikan langkah kaki Adelyn, seketika Adelyn menoleh kebelakang.


"Ada apa, mbak?" tanya Adelyn.


"Malam ini Nona akan melakukan pemijatan, sedangkan hari esok untuk perawatan." Jawabnya menjelaskan, Adelyn pun tercengang kaget dibuatnya.


"Pemijatan? yang benar saja, mbak. Jadi ini, kenapa semua memintaku untuk istirahat? hem." Ujar Adelyn menebaknya.


"Benar, Nona." Jawabnya dengan jujur.


"Terserah mbaknya saja, lagian juga percuma jika menolaknya. Apalagi ada kak Zayen di rumah, semua dibawah kendalinya." Ucap Adelyn dengan pasrah, kemudian masuk kedalam kamarnya untuk dilakukannya pemijatan.


Sedangkan Afna dan Zayen sedang beristirahat didalam kamarnya, keduanya kini tidak lagi merasa ada beban sedikitpun. Afna dan Zayen benar benar menikmati momen bahagianya, ditambah lagi perutnya yang semakin membesar. Membuat keduanya yang sudah tidak lagi sabar untuk menyambut kelahiran buah hatinya yang sangat diidam idamkannya.


"Sayang, kamu ingin anak laki laki atau perempuan?" tanya Zayen sambil mengusap usap perut besar milik istrinya, kemudian menciumnya.


"Laki laki maupun perempuan sama saja, kalau boleh minta sih anak kembar seperti kedua orang tuanya. Kalau kamu sendiri, bagaimana? perempuan apa laki laki, atau ... kembar seperti kedua orang tuanya." Jawab Afna, kemudian balik melempar pertanyaan kepada suaminya.

__ADS_1


"Aku ingin anak pertama kita bayi laki laki, aku tidak ingin melihatmu kesakitan saat melahirkan buah hati kita jika lahir dengan anak kembar. Cukup satu, dan kamu bisa hamil lagi nanti. Tidak perlu khawatir, aku akan selalu berada disamping kamu. Aku ingin menebus kesalahanku yang sudah meninggalkan kamu saat kabar bahagia itu datang untuk kita." Ucap Zayen sambil menatap istrinya, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.


__ADS_2