Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kesialan


__ADS_3

Kazza sendiri tidak mempedulikannya, justru ia tetap pada pendiriannya yang belum siap untuk menikah. Meski ia menolak perintah dari ibunya, mau tidak mau Kazza tetap menjemput Vella dirumahnya.


Sekarang tepatnya di Gedung yang begitu besar dan juga megah, siapa lagi pemiliknya kalau bukan keluarga Wilyam. Yang tidak lain milik kluarga Adelyn sendiri, yang kini identitasnya belum terkuak oleh orang lain. Meski berawal dari anak asuh, kakek Zio beserta istri dan anak cucunya tetap mendapatkan perlakukan yang adil dan juga kasih sayang yang sama dari sosok seorang Wilyam.


Suasana yang tadinya sepi, kini satu persatu telah berdatangan untuk memasuki gedung yang dijadikan acara pernikahan Adelyn putri dari tuan Alfan dan nyonya Zeil. Adelyn ada cucu dari kakek Zio, yang dulunya pernah di Asuh oleh keluarga Wilyam.


Kini, Adelyn akan segera menikah dengan sosok laki laki yang tampan. Yang tidak lain putra dari bapak Bondan, teman sekaligus pekerja di keluarga mertua tuan Ganan. Tepatnya di desa yang dimana tuan Ganan terdampar akibat sunami di selat Sunda.


Viko sendiri tidak pernah menyangka jika akhir dari kisah susah payahnya telah ia lewati dengan penuh kerja keras dan usaha yang tidak sia sia. Meski sebenarnya akan didekatkan dengan putri tuan Ganan dengan cara untuk dijadikan pengawal putrinya yang bernama Neyla, namun takdir berkata lain. Kenyataannya Adelyn lah yang memenangkan perasaan Viko, dan cinta diantara keduanya tidak mungkin untuk berpaling.


Di kediaman keluarga Wilyam, tepatnya di rumah keluarga kakek Angga kini tengah sibuk untuk bersiap siap akan menghadiri acara pernikahan Adelyn yang tidak lain bagian dari keluarga Wilyam.


"Ma, Ney berangkat dengan siapa?" tanya Neyla.


"Kamu berangkatnya bersama kedua kakak kamu, sedangkan Mama dan Papa satu mobil dengan kakek dan Omma." Jawab ibunya sambil bersiap siap di ruang keluarga.


"Yaaah ... lagi lagi sama kak Rey dan kak Zakka, Net yakin jika mereka berdua pasti akan reseh. Ney tidak mau ah, Ney berangkatnya sendirian saja." Ucap Ney dengan lesu.


"Kenapa tidak sama Seyn saja, duda perjaka lagi." Ledek sang kakak yang tiba tiba mengagetkan.


"Apa apaan kak Zakka, ih. Dari dulu suka banget bikin kesal, pantas saja kak Rey selalu geram dengan kakak." Jawab Neyla, kemudian ia menunjukan muka masamnya didepan saudara kembarnya itu.


"Memang benar, kalian berdua itu sangat cocok dan juga serasi." Ledeknya sambil menautkan kedua alisnya.


"Tuh, kan ... belum satu mobil saja sudah bikin kesal. Neyla naik mobil sendiri saja ya, Ma ..." rengek Neyla sambil memohon.


"Terserah kamu saja, tetap ada supir yang akan mengantarkan kamu." Jawab ibunya, sedangkan Zakka tertawa puas mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak apa apa, yang terpenting tidak berisik." Sindirnya sambil melirik ke arah saudara kembarnya, dan menjulurkan lidahnya yang masih terlihat seperti anak kecil yang saling berebut mainan. Zakka pun tidak mau kalah, ia juga ikut menjulurkan lidahnya.


Renyan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah kedua adiknya yang seperti Tommy and Jerry.


"Kalau begitu aku berangkat duluan ya, kak Zakka yang paling reseh. Makanya, cepetan nyari calon istri. Keburu Adelyn dan Zayen yang memenangkan memiliki buah hati nantinya loh." Ledek Neyla yang tidak mau kalah.


Disaat itu juga, Zakka menoleh kearah saudara kembar laki lakinya yang sudah duduk disebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Reynan, yang kini tengah menyukai wanita yang sama. Namun, keduanya tidak berani untuk mengakuinya.


Sedangkan Neyla yang sudah rapi, segera ia berangkat ke acara pernikahan Adelyn dan Viko. Neyla memilih untuk berangkat lebih dulu, berharap bisa menemani Adelyn sampai acaranya selesai, pikirnya.


Didalam perjalanan, Neyla disibukkan dengan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan. Tiba tiba mobilnya pun lama mengantri, jalanan tiba tiba macet total. Membuat Neyla semakin resah dan tidak nyaman menunggu antrian yang begitu lamanya.


"Pak, bagaimana ini? kenapa jalannya macet total begini sih? ah! bisa telat kita, Pak." Ucapnya menggerutu cukup keras.


"Maafkan saya, Non. Tadi saya lupa, jika jalur xxx sedang dalam perbaikan. Jadi, kita harus bersabar untuk menunggu antrian." Jawab pak supir yang merasa bersalah.


"Pak, Ney turun saja disini. Ney mau nyari ojek saja, biar lebih cepat sampai." Ujar Neyla yang sudah tidak sabar.


"Tapi, Non. Sangat berbahaya, nanti saya bisa dipecat jika sampai terjadi apa apa dengan Nona." Jawab pak supir merasa takut dan juga cemas jika Nona mudanya nekad dan tetap berangkat naik motor.


"Bapak tenang saja, semua akan baik baik saja." Ucapnya, tanpa pikir panjang segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya.


Pak supir pun tidak berani mencegahnya, hanya saja segera menghubungi tuan Ganan untuk menyampaikan pesan tentang putrinya.


Neyla sendiri sudah keluar dari mobilnya, ia celingukan mencari tukang ojek yang dapat mengantarnya. Tanpa lelah dan malu, Neyla terus melangkahkan kakinya.


"Neyla, tunggu." Seru seorang laki laki memanggil Neyla, seketika Neyla menghentikan langkahnya. Kemudian, segera ia menolah kebelakang.

__ADS_1


Seketika, ia terbelalak melihatnya. Disaat itu juga, ia menghentakkan kakinya dengan kuat.


"Kenapa sih ... orang itu lagi, demen banget deh bertemu terus. Seperti pepatah saja, kemanapun akan terus bertemu karena bumi ini luasnya seperti daun kelor." Gerutu Neyla berdecak kesal.


Seyn segera menepikan motornya, dan mendekati Neyla yang masih berdiri sambil menunjukkan muka masamnya.


"Hei, kamu kenapa ada disini? mobil kamu bocor lagi?" tanya Seyn.


"Tidak ada dalam pertanyaan kamu, mobilku baik baik saja." Jawabnya datar, Seyn hanya menautkan kedua alisnya.


"Tidak segitunya juga, kali. Sudahlah, aku mau mencari tukang ojek. Jangan mengikutiku, dan jangan menggangguku. Lebih baik kamu pergi saja, sana." Ucap Neyla yang merasa risih berada didekat Seyn.


"Kamu mau kemana? mau menghadiri acara pernikahan Adelyn? aku bisa bonceng kamu, aku juga mau mendatangi tempat yang sama sepertimu." Jawab Seyn menawarkan diri.


"Aku tidak mau, aku bisa berangkat sendiri. Sudahlah, cepetan kamu pergi." Tolak Neyla yang menjaga gengsinya.


"Serius nih? sampai kapan kamu akan mengantri jalanan? baik lah, jika memang kamu tidak mau berangkat denganku. Jangan salahkan aku jika kamu akan terlambat." Ujar Seyn menakuti dan tersenyum tipis.


"Tenang saja, aku tidak akan menyesalinya." Jawabnya dengan enteng, meski sebenarnya ia merasa takut jika akan datang terlambat.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat duluan. Hati hati, disini banyak jambret. Sedangkan orang orang yang ada didekatmu belum tentu akan menolongmu." Ucap Seynan yang masih terus menakuti Neyla, sedangkan Neyla tidak mempedulikannya. Dengan rasa percaya dirinya ia kembali celingukan untuk menangkap sosok tukang ojek.


Namun, sedari tadi hasilnya masih saja nihil. Satupun ojek tidak ada yang terlihat sama sekali, Neyla sendiri semakin frustasi. Seyn sendiri masih setia untuk memperhatikan Neyla yang sedang sibuk mencari tukang ojek.


Neyla serasa ingin menyerah, ia sendiri tidak sanggup untuk mencari ojek.


"Sudahlah, ayo ikut aku. Percuma, tukang ojek online pun tidak akan mau datang kemari. Jalanan saja sudah macet total, lebih baik ikutlah denganku. Selagi aku masih ada sikap baik, untuk besoknya belum tentu." Ucap Seyn memberi tawaran, Neyla sendiri kembali berpikir. Hingga pada akhirnya harus menyerah begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2