
Afna masih dalam posisi pelukan suaminya, kini dirinya merasa lega. Apa yang membuatnya kesal karena di perlakuan berbeda, Afna sudah dapat dipahaminya.
"Kita keluar, yuk ... dibelakang rumah kakek sangat luas. Banyak pohon buah yang ditanam di pekarangan belakang." Ajak Afna sambil menatap wajah suaminya.
"Benarkah? wah ... pasti sangat sejuk duduk santai dibawah pohon."
"Makanya, ayo kita kebelakang. Ada banyak tanaman sayuran dan buah buahan, kakek tidak pernah membelinya. Apa yang kakek olah benar benar hasil tanamnya, apapun itu hasilnya."
"Sangat baik untuk kesehatan, tidak hanya yang masuk kedalam perut, tetapi juga fisiknya ikut olahraga. Aku jadi tergiur menikmati kehidupan seperti kakek, sepertinya memang benar benar nyaman."
"Aku tidak mau!" jawabnya singkat dan ketus. Bahkan bibir manis milik Afna pun seketika itu juga mengerucut.
"Kenapa? bukankah sangat asri di Desa, dan sangat berbeda jauh dari kota."
"Kalau kamu tinggal di Desa, kamu akan menjadi artis dadakan. Aku tidak mau, pokoknya kalau kamu ingin tinggal di tempat yang nyaman. Pergi sana, ke kutub utara atau ke kutub selatan. Aku yakin, aku tidak akan marah."
"Sini, aku peluk kamu. Aku tidak akan menghianatimu, aku tidak akan berpaling darimu. Aku harus mengatakan berapa kali, agar kamu dapat percaya denganku."
"Setiap hari bahkan setiap detik, titik."
"Setiap detik? terus, kapan aku mandinya? makannya? tidurnya?"
"Terserah kamu,"
"Jangan begitu dong, sayang ... kenapa kamu begitu takut untuk kehilangan aku. Kalau ternyata aku ini bukan orang baik baik, bagaimana?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Aaah! tidak. Aku hanya terbawa suasana saja, katanya mau kebelakang. Ayo, tunjukkan padaku, dimana pohon buahnya."
"Baiklah, aku ganti baju dulu. Ini tidak nyaman untuk aku kenakan, aku lebih suka dengan penampilan biasa."
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Afna dan Zayen segera pergi ke belakang.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya sang Ibu penasaran.
"Mau kebelakang, Ma ..."
"Mau ngapain?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Mau lihat pohon buah, Ma. Siapa tahu saja ada yang berbuah, Afna ingin buah mangga."
"Oooh, kirain Mama mau ngapain. Jangan lama lama, bentar lagi makan siang." Ucapnya mengingatkan.
"Iya, Ma ..." jawab Afna sambil mengayunkan tangannya yang menggandeng tangan milik suaminya.
Keduanya sudah berada di belakang rumah, kedua mata Afna berbinar saat melihat pohon mangga yang berbuah sangat lebat. Tidak hanya itu, ada pohon jeruk dan juga pohon jambu madu dan buah lainnya. Kedua sudut bibir Afna tersenyum mengembang.
"Sayang, kamu bisa manjat, 'kan?"
"Hem! tidak bisa."
"Kok tidak bisa sih? kamu ini bukannya prem..." tiba tiba mulutnya kelu, niat ingin bercanda tetapi salah berucap. Afna langsung membekap mulutnya sendiri, wajahnya pun terlihat ketakutan jika sang suami akan emosi.
"Preman, maksud kamu? hem!!"
"Bukan begitu maksud aku, bukan hal buruk yang aku maksud. Serius, aku tidak bermaksud bicara seperti itu, sayang ..." ucapnya dengan suara gemetar.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Aku tidak suka dengan hal yang tidak penting, membuang buang waktu saja. Sekarang kamu ambil pisau di dapur beserta mangkok berisi air untuk mencuci mangga."
"Jadi, kamu tidak marah denganku?"
"Iya, tunggu sebentar." Afna pun segera pergi kedapur untuk mengambil pisau dan mangkok berisi air.
"Afna, untuk apa kamu mengambil pisau?" tanya Nenek penasaran.
"Afna pingin buah mangga, Nek ... sepertinya sangat manis. Apalagi baru metik, rasanya lebih sempurna."
"Dari dulu kamu suka buah Mangga, pantas saja kakek kamu menjadikan pekarangannya jadi kebon buah."
"Nenek bisa saja, Afna kebelakang lagi ya, Nek ..."
"Iya, hati hati pisaunya tajam."
"Iya, Nek ..." jawab Afna, kemudian segera kembali kebelakang untuk menikmati buah mangga.
Sedangkan sang Nenek tersenyum bahagia, melihat cucu putrinya yang terlihat bahagia dengan pernikahannya.
"Mama ..." panggil ibunya Afna mengagetkan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Nessa, ada apa?"
"Mama sedang apa? ayo kita kembali ke ruang tengah."
"Mama sedang bahagia melihat cucu Mama yang terlihat sangat bahagia, sepertinya Zayen sangat mencintai Afna. Mama dapat melihat dari cara Zayen memperlakukan Afna, Zayen begitu sempurna untuk Afna." Jawabnya memuji cucu menantunya.
"Tapi Kazza masih curiga, Nek."
"Curiga yang bagaimana? lihatlah dengan benar. Sikap Zayen terlihat sangat tulus, bahkan adik kamu sangat nyaman dengan suaminya. Apa yang membuatmu curiga, Kazza?"
"Kazza masih belum percaya sepenuhnya, bisa saja itu topeng Zayen untuk melabuhi keluarga kita."
"Kazza! jangan bicara sembarangan kamu. Tidak baik berprasangka buruk yang jelas jelas kamu belum mengetahuinya, bisa saja pikiran kamu sedang dikuasi emosi kamu." Ucap sang Ayah yang tiba tiba mengagetkan Kazza maupun sang Nenek dan ibunya Kazza sendiri.
"Apa Papa tidak curiga dengan pekerjaan Zayen, menantu Papa? tidak tahu 'kan? sama."
"Itu tidak penting, palingan juga hanya sebagai ojek pengantar barang dagangan orang orang belanja. Kalaupun Zayen seorang yang melakukan perdagangan ilegal, tidak mungkin memiliki fasilitas yang sangat sederhana. Bahkan rumah yang ditempatinya seharusnya ada kata mewah, tetapi kenyataannya tidak." Jawab sang ayah yang tetap pada pendiriannya membela menantunya.
"Sudahlah, Kazza capek menyampaikan pendapat yang tidak pernah di responnya."
"Bukan begitu, Kazza. Kalau menurutmu Zayen itu sangat misterius, kenapa tidak kamu selidiki saja."
"Kenapa tidak meminta bantuan Alfan saja, bukankan Alfan dulunya adalah anak buah Ganan yang sangat handal."
"Paman Alfan saja tidak dapat menemukan keberadaan anaknya sampai sekarang, yang handak apanya?"
"Kenapa tidak kamu coba saja, tapi sepertinya sangat sibuk dengan pekerjaannya."
"Kalian ini, sedang berdiskusi apa? jangan berprasangka buruk terhadap orang lain." Ucap kakek Ferdi menimpali.
"Iya, Kazza. Mungkin karena penampilan Zayen yang terlihat seperti preman, membuatmu menjadi benci dengannya. Percayalah dengan Mama, Zayen tidak seperti yang kamu kira. Jangan sampai pikiran burukmu itu, membuat Afna banyak pikiran. Kasihan adik kamu yang sedang bahagia. Apa kamu lupa, saat Seyn mencampakkan Afna begitu saja. Apa kamu tidak kasihan dengan Afna, jika mereka berpisah." Ucap ibunya Kazza ikut menimpalinya.
"Kazza tetap mencurigai Zayen, titik."
"Sudah, sudah ... nanti yang sedang dibicarakan tiba tiba mendengarnya, tidak baik jika itu terjadi. Sekarang, kita kembali ke ruang tengah. Sebentar lagi kita akan makan siang, jangan buat suasana jadi runyam. Nanti kita tidak bisa menikmati makan siang dengan nikmat." Ucap sang Nenek mencoba menengahi.
"Tunggu! Papa sudah bisa jalan?" tanya Tuan Tirta kepada ayahnya.
"Iya, Papa sudah bisa jalan, ini semua berkat Zayen. Dengan telaten, Zayen mengurut kaki ini yang terkilir. Papa sangat bangga dengan Zayen, pekerjaan apapun bisa dilakukan." Jawab kakek Ferdi, sedangkan Kazza langsung pergi begitu saja.
__ADS_1