
Dengan pelan, Neyla mendongakkan pandangannya dan menatap lekat wajah Seyn. Kemudian, Neyla menarik nafasnya dan mengeluarkannya dengan pelan. Sebisa mungkin untuk tidak terlihat gugup dan tetap menunjukkan sikapnya dengan tenang. Meski perasaannya sendiri sangat sulit untuk dijabarkan, maupun untuk ditunjukkannya pada Seyn.
Seyn masih menatap Neyla dengan lekat, ia benar benar menyesalinya atas kejujurannya tentang perasaannya.
'Jika pengakuan tadi hanya akan melukai perasaannya, aku memilih untuk memendam perasaanku ini. Maafkan aku, Ney. Aku benar benar ceroboh, tapi aku sendiri tidak dapat memungkiri akan perasaanku ini. Berkali kali aku menepis ingatanku tentangmu, namun bayanganmu semakin menghantuiku.' Batin Seyn yang masih penuh sesal atas kejujurannya tentang perasaannya.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa menjawabnya. Aku yang akan pulang lebih dahulu, kamu tidak perlu takut untuk pulang. Karena tadi aku melihat kedua orang tuamu masih berada didalam. Tanyakan saja pada Viko, atau pada istrinya. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku pulang." Ucap Seyn dengan tenang, meski dirinya sangat membutuhkan jawaban langsung dari Neyla.
Namun, mau bagaimana lagi. Seyn tidak bisa memaksanya, dan ia sadar diri akan statusnya yang duda dan juga meiliki perjalanan hidup yang buruk. Bahkan, Seyn sendiri sangat menyesal atas perasaannya yang begitu gampangnya untuk berterus terang pada Neyla.
"Tunggu, Seyn!!" terdengar suara yang tengah memanggilnya, kemudian Seyn segera menoleh ke sumber suara dan memutar balik badannya.
Dilihatnya kedua paruh baya yang tidak asing di penglihatan Seyn. Mau tidak mau Seyn memghampirinya dan berdiri tidak jauh dari Neyla.
"Kenapa kamu pergi sendirian? dan kamu Neyla, kenapa kamu biarkan Seyn pergi. Apa kamu rela, membohongi perasaan kamu hanya karena takut tidak akan mendapat restu dari Papa dan Mama? jujurlah akan perasaan kamu. Papa dan Mama merestui hubungan kalian berdua, dan sudah saatnya kalian berdua menjemput kebahagiaan." Ucap tuan Ganan pada putri kesayangannya yang terlihat ragu akan perasaannya, sang ibu pun mengangguk dan tersenyum.
"Tapi, Pa ... Ma." Jawab Neyla yang masih ragu.
"Masa lalu Seyn? Papa sudah mengetahuinya, bahwa Seyn anak yang baik. Masa lalu tidak perlu diungkit kembali, sama saja ingin menambah masalah. Sekarang tinggal keputusan kamu, yang pasti Papa tidak memandang Seyn dengan buruk. Seyn sama yang lainnya, sama baiknya. Tidak hanya Seyn saja yang pernah memiliki kesalahan, namun seseorang berhak untuk berubah dan memperbaiki diri sendiri." Ucap sang ayah mencoba meyakinkan putrinya agar tidak goyah akan perasaannya.
Terlihat jelas pada kedua sudut bibir Neyla saat mendengar penuturan dari sang ayah, Neyla sendiri merasa lega. Apa yang dikhawatirkan nya kini sudah diucapkannya oleh sang ayah.
__ADS_1
Disaat itu juga, Neyla menoleh ke arah Seyn. Tanpa disengaja, keduanya saling memandang satu sama lain. Senyum mengembang saling dilemparkan, Seyn mengangguk dan Neyla tersenyum bahagia.
Neyla kembali menatap kedua orang tuanya dengan lekat dan memeluknya secara bergantian. Saat memeluk sang ibu, Neyla melepaskan pelukannya. Kemudian, keduanya saling menatap penuh bahagia.
"Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan seperti yang lainnya, semoga setelah ini kebahagiaan akan segera menjemputmu." Ucap sang ibu dan terseyum bahagia melihat putrinya telah menemukan dambatan hatinya.
Meski Seyn memiliki pengalaman yang buruk, bahkan sangat kelam dalam perjalanan hidupnya yang dijadikan remot kontrol yang tidak bertanggung jawab. Namun, tuan Ganan beserta kedua orang tuanya tidak lah memandang masa lalu seseorang. Semua masa lalu pasti ada alasan tersendiri, dan tentunya bisa dirubahnya dengan lebih baik. lagi.
Seyn menatap tuan Ganan dengan tatapan yang terlihat serius, sedangkan tuan Ganan tetap nampak santai.
"Terima kasih atas restunya, Paman. Saya tidak bisa berkata apa apa selain mengucapkan terima kasih kepada paman, dan saya berjanji untuk memperbaiki diri saya ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Secepat mungkin, saya akan segera menikahi Neyla dan berusaha untuk membuat Neyla bahagia untuk seterusnya." Ucap Seyn dengan yakin dan percaya diri.
"Semoga niat kamu pada putriku benar benar tulus dan tidak akan mengecewakan kami. Aku percayakan sepenuhnya pada kamu, dan aku percaya denganmu bahwa kamu mampu. Bukan soal materi yang tinggi yang kami cari, tapi tanggung jawab dan bisa menjadi penasehat baik untuk putriku ketika putriku melakukan kesalahan." Jawab tuan Ganan dengan serius dihadapan Seyn.
"Ya sudah kalau begitu, jika kalian berdua ingin pulang, pulanglah." Ucap tuan Ganan, Seyn dan Neyla menjawabnya serempak dan pergi meninggalkan gedung yang sedang berlangsung acara pernikahan Adelyn dan Viko.
Saat sampai di pintu gerbang yang tinggi, keduanya kembali teringat saat berangkat hanya menaiki motor buntut. Disaat itu juga, keduanya saling menoleh satu sama lain.
"Tenang, aku sudah meminta supirku untuk menjemput. Sebentar lagi juga datang, jangan khawatir. Aku tidak akan membuatmu sial seperti waktu kita berangkat." Ucap Zayen dan tersenyum.
Tidak menunggu waktu yang lama, mobil milik Seyn sudah datang dengan tepat waktu.
__ADS_1
"Oh iya Pak, motornya ada didalam. Nanti bapak nuker motornya di bengkel yang sudah aku sebutkan tadi di telfon, dan jangan lupa dibayar ongkosnya. Oh iya, ini kuncinya." Perintah Seyn, pak supir pun mengangguk dan menerima kunci motor dari Seyn.
Setelah dirasa tidak ada beban lagi, Seyn membukakan pintu mobilnya. Neyla pun tersenyum dan segera masuk, lalu disusul oleh Seyn. Dengan kecepatan sedang, Seyn melajukan mobilnya.
Didalam perjalanan, keduanya saling berbagi cerita di masa lalu saat Seyn menemukan gelang milik Neyla. Keduanya sama sama menikmati cerita satu sama lainnya.
Sedangkan di kediaman rumah tuan Alfan, ada Zayen dan Afna yang baru saja sampai dirumah. Keduanya sama sama merasa lelah dan juga lesu tentunya.
Dengan hati hati, Afna melangkahkan kakinya. Baru saja mau menapaki anak tangga, Zayen mencegah langkah kaki istrinya itu.
"Sayang, aku mau ke kamar. Jangan halangin aku, aku sudah sangat capek. Aku ingin segera istirahat, sayang." Ucap Afna sedikit mengeluh, tidak dapat dipungkiri dengan kondisi Afna yang sedang hamil dan perutnya yang sudah semakin membesar membuatnya selalu serba salah untuk aktivitas.
"Aku melarangmu untuk melewati tangga ini, kalau ada yang mudah kenapa harus lewat tangga ini. Aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu dan calon buah hati kita. Kamu tidak marah 'kan? jika aku melarangmu menapaki anak tangga ini." Jawab Zayen yang sangat khawatir terhadap istri dan calon buah hatinya.
"Terima kasih ya, sayang. Perhatian kamu semakin besar terhadapku, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu." Ucap Afna dan tersenyum bahagia.
Setelah itu, keduanya menggunakan jalan alternatif lain untuk sampai di kamarnya. Hanya memakan waktu yang singkat, keduanya sudah berada di dalam kamarnya.
"Sayang, kamu duluan saja yang mandi. Aku ingin merebahkan tubuhku akar tidak terasa kaku." Ucap Afna, kemudian ia duduk ditepi ranjang.
Sedangkan Zayen yang merasa sudah terasa gerah, segera ia masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri. Tidak lama kemudian, Zayen telah selesai membersihkan diri dan segera mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
Kemudian, giliran Afna yang masuk kedalam kamar mandi untuk menbersihkan diri. Zayen sendiri memilih duduk santai di atas tempat tidur setelah mandi.
Setelah dirasa sudah selesai membersihkan diri didalam kamar mandi, Afna segera keluar dan mengenakan pakaiannya. Tanpa Afna sadari, Zayen tengah memperhatikan istrinya.