Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mini market


__ADS_3

Wanita itu tidak merasa takut dengan Zayen yang tengah menatapnya sangat tajam, ia tetap pada dengan pendiriannya.


"Kenapa kamu sampai lupa sih, Ayen. Kamu ingat lagi deh, aku yang juga satu kelas denganmu bersama Merry dan juga Neyney." Ucapnya terus mencoba mengingatkan Zayen.


"Aku tidak ada waktu untuk mengingatnya," jawab Zayen dengan datar.


DEG!! seketika itu juga, Zayen teringat saat masa masa sekolahnya.


"Serius? kamu tidak mengingatku lagi? teman macam apa kamu, apa karena sudah semakin tajir dan sering muncul diberita? hingga kamu lupa dengan temanmu sendiri." Ucapnya lagi menyindir.


"Oooh, kamu. Welly, yang salah sasaran saat memberi surat cinta itu." Jawab Zayen terkekeh geli.


Welly yang mendengarnya pun, ia mendadak tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Zayen.


"Maksud kamu?" tanyanya menyelidik.


"Surat cinta yang sudah dirubah oleh temanmu, dan diberikannya sama anak yang berkacamata." Jawabnya dengan santai, tanpa Zayen sadari dengan keberadaan istrinya yang berada tidak jauh dari Zayen. Tentunya, Afna dapat mendengarnya dengan jelas.


Afna masih terus memantau suaminya yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan yang tidak dikenalinya.


"Teman? siapa yang merubahnya? cepat! katakan." Tanya Welly dengan suara yang keras.


"Merry, ya! Merry. Mantan karyawanku yang belum lama ini aku memecatnya." Jawab Zayen dengan puas, dan hanya sekali dayung untuk membuat kedua perempuan yang tidak mempunyai rasa malu akan merasakan malu yang berlipat lipat.


Seketika wajah Welly langsung terlihat pucat saat mendengar jawaban dari Zayen, dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


'Sialan, rupanya Merry yang selama ini sudah mengacaukan rencanaku. Jadi, Merry juga ada niat terselubung menyukai Ayen. Pantas saja, tiba tiba memintaku untuk mendekati Ayen. Rupanya ini cara dia untuk mendapat Ayen lewat aku. Sialan, kamu Merry.' Batin Welly, lalu kedua tangannya mengepal kuat dan nafasnya terasa panas.


Sedangkan Afna masih terus mengawasi suaminya yang terlihat tidak mencurigakan. Hanya saja, Afna merasa cemburu saat melihat suaminya mengobrol dengan seorang perempuan yang tidak memiliki status kekeluargaan, pikir Afna.


"Sekarang, kalau kamu mau marah jangan didepanku. Temui saja teman akrab kamu itu, Merry." Ucap Zayen, kemudian segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan mencari keberadaan istrinya.


Welly masih berdiam mematung, ia benar benar tidak dapat menahan rasa malunya didepan seorang laki laki yang disukainya sejak duduk dinangku sekolah abu abu.


Sedangkan Zayen masih celingukan kesana kemari untuk mencari keberadaan istrinya yang sedari tadi ia tidak melihatnya.


"Ehem ehem." Suara deheman tengah mengagetkan Zayen yang sedang berdiri sambil celingukan. Kemudian, Zayen menoleh kebelakang. Tepatnya suara yang dapat ditangkap oleh indera pendengarannya.


"Sayang, kemana saja kamu? aku mencarimu, tapi tidak juga aku temukan." Tanya Zayen sambil mendekati Istrinya.


"Iya deh, aku jujur. Aku baru mencarimu, mungkin baru bebarapa menit. Oh iya, tadi itu Welly teman sekolahku. Aku tidak ada hubungannya dengan perempuan tadi, serius." Ucap Zayen mencoba meyakinkan istrinya.


"Yakin? nanti setelah aku melahirkan, kamu berpaling dariku. Kamu tidak lagi menyukaiku karena perubahanku setelah melahirkan yang tidak lagi terlihat muda." Jawab Afna sambil menunjukkan muka masamnya.


Karena tidak ingin membuat istrinya semakin cemas, Zayen langsung memeluk istrinya dari depan. Meski sedikit susah saat memeluk istrinya karena semakin membesar perutnya, Zayen tetap berhati-hati untuk memeluk istrinya.


"Untuk apa aku harus tergoda dengan perempuan lain, jika aku sudah memilikimu. Bahkan, sebentar lagi kamu akan memberiku buah hati yang sangat aku nanti nantikan. Percayalah denganku, hanya kamu satunya istriku untuk selamanya." Ucapnya didekat telinga istrinya, Afna pun tersenyum tan Zayen mengetahuinya. Kemudian, Afna melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada suaminya.


"Aku percaya denganmu, akupun sudah mendengarnya saat kamu sedang berbicara dengan perempuan tadi. Aku hanya ingin merasakan sendiri kejujuran kamu padaku, dan benar saja aku percaya denganmu." Jawab Afna dan tersenyum mengembang sambil menatap lekat wajah suaminya yang semakin terlihat tampan dan menggoda.


Afna sendiri tidak dapat memungkirinya, jika suaminya benar benar tampan dan membuat semua perempuan tergoda dengannya. Sampai sampai banyak teman sekolahnya yang masih mengincarnya.

__ADS_1


"Dengan pelan, Zayen maupun Afna menarik nafasnya. Berharap, tidak ada lagi masalah yang mengganggu keharmonisan rumah tangganya.


"Bagaimana kalau sekarang aku ajak kamu untuk ke mini market? aku akan membelikan kamu ice cream. Kemudian, kita lanjutkan lagi perjalanan kita ke rumah kita yang dulu. Kita akan berbagi kepada tetangga tetangga kita dulu, yang pernah datang tengah malam gara gara kamu berteriak maling." Ajak Zayen mengingatkan pada suatu kejadian yang sudah dilewatinya bersama sangat istri tercintanya.


"Iya sayang, itu kan gara gara kamu memberiku kejutan yang membuatku terkejut." Jawab Afna yang juga teringat masa masa yang sudah dilewatinya bersama seorang suami yang penuh perhatian padanya.


"Ah, sudahlah. Kita tidak akan pernah selesai untuk membahas masa lalu kita, intinya adalah sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan. Selamanya, dan selamanya akan terus berada diingatan." Ucap Zayen, kemudian menggandeng istrinya sampai didalam mobil.


Selama perjalanan, keduanya nampak bahagia. Tidak lama kemudian, telah sampai di sebuah tempat mini market yang tidak jauh dari rumah kecil yang pernah dijadikan tempat tinggal oleh Zayen bersama istrinya.


"Sayang, tunggu sebentar, ya. Aku tidak akan lama, aku hanya mau membeli ice cream." Ucap Zayen, Afna sendiri hanya mengangguk pasrah.


"Pak, tolong jangan keluar dan tetap berada didalam mobil. Saya mau membeli ice cream sebentar, setelah itu saya segera kembali. Tolong, jagain istri saya. Jangan biarkan untuk keluar, apapun alasannya." Perintah Zayen memberi pesan pada supirnya.


"Baik Tuan, saya akan tetap berada didalam mobil ini." Jawab pak supir, kemudian Zayen segera melepaskan sabuk pengamannya dan keluar untuk membeli ice cream.


Dengan gesit, Zayen mengambil beberapa ice cream untuk istrinya, dirinya sendiri dan supirnya. Kemudian, ia langsung ke kasir dan membayarnya. Lalu, ia segera kembali masuk kedalam mobil.


Senyum mengembang terlihat begitu jelas pada kedua sudut milik istrinya. Entah ada angin apa, tiba tiba Afna langsung menyambar ice cream yang berada di tangan istrinya. Afna memilih rasa yang menurutnya menggoda lidahnya. Setelah itu, Afna memberikan salah satu ice creamnya pada supir pribadi suaminya itu. Lalu memberikannya pada Zayen, suaminya.


"Sini, aku bantu membukakannya." Ucap Zayen sambil meraih ice cream yang berada ditangan milik istrinya, Afna tersenyum bahagia yang selalu mendapatkan perhatian penuh dari suaminya itu.


Begitu juga dengan Zayen, dirinya pun sangat bahagia. Zayen selalu memperlakukan istrinya begitu sangat spesial, bahkan ia tidak mempermasalahkan dengan sosok istrinya yang terbilang tidak pernah menyibukkan dalam hal kerjaan.


'Aku tidak akan pernah meminta istriku untuk bekerja, meski kondisi ekonomiku terpuruk sekalipun.' Batin Zayen sambil menatap lekat wajah istrinya, lalu memberikan ice creamnya pada Afna.

__ADS_1


__ADS_2