Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Takut berpisah


__ADS_3

Kazza yang melihat adik iparnya tersenyum pun merasa bingung dengan sikapnya.


"Kenapa kamu tersenyum? katakan, syarat apa yang kamu mau?" tanyanya penasaran.


"Tidak apa apa, aku hanya ingin tersenyum saja. Syaratnya yaitu, jawab pertanyaan pertanyaan dariku dengan jujur." Jawabnya masih dengan tenang.


"Aku akan menjawabnya dengan jujur, percayalah denganku."


"Baik, aku akan pegang omongan dari kakak. Katakan, siapa yang selama ini membuat kakak melakukan aksi penggerebekan di markas? jawab dengan jujur."


"Seseorang yang mengaku salah satu anak buah paman Alfan, itu saja." Jawabnya.


"Hanya mengaku sebagai anak buah? yakin?" tanyanya yang terus mendesak.


"Yakin, aku tidak bohong. Karena dari awal aku tidak menyukaimu, karena penampilanmu yang aku anggap laki laki yang tidak baik. Maka, dengan mudahnya aku menerima hasutan dari seseorang yang tidak aku kenal." Jawabnya berusaha untuk jujur.


Zayen yang mendengar penjelasan dari kakak iparnya pun hanya tersenyum tipis, dan tidak menunjukkan kekesalannya saat saudara kembar istrinya mengatakan dengan teranh terangan bahwa kakak ipar tidak menyukainya.


Zayen sendiri memakluminya, Zayen menyadarinya. Tidak hanya kakak iparnya saja yang tidak menyukainya, diluaran sana pun tidak menyukai penampilan Zayen dan sikap dinginnya terhadap orang lain yang menurutnya tidak panting.


"Apakah masih ada pertanyaan lagi? tanyakanlah, aku akan menjawabnya dengan jujur." tanya Kazza kembali, dirinya belum merasa puas mendapat kata maaf dari adik iparnya.


"Tidak ada pertanyaan, hanya saja permintaan." Jawab Zayen dengan tatapannya yang serius.

__ADS_1


"Katakan saja, apa permintaan kamu. Sebisa mungkin aku akan menuruti permintaan kamu." Ucapnya.


"Aku memiliki pesan untuk kak Kazza, berikan nomor kak Kazza kepadaku. Kemudian, temuilah Viko di taman xxx sesuai pesan yang akan masuk di ponsel kakak." Jawab Zayen dengan tatapan serius, sedangkan Afna maupun Kazza merasa bingung dengan pernyataan yang di ucapkan dari seorang Zayen. Mau tidak mau, Kazza menuruti permintaan dari adik iparnya. Meski permintaannya susah untuk dipahami.


"Sayang, kamu yakin? jika kak Kazza benar benar meminta maaf. Aku takut, jika kak Kazza masih ada dipihak orang yang tengah menghasutnya." Ucap Afna yang masih ada rasa curiga terhadap saudara kembarnya sendiri.


"Hem! kenapa kamu masih mencurigai saudara kembar kamu sendiri, aku saja tidak mencurigainya. Sini, aku jelasin dengan sangat jelas." Ucap Zayen sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat serius, Afna merasa gugup dengan suaminya sendiri.


"Apa yang mau kamu jelasin kepadaku?" tanya Afna yang masih belum juga mengerti akan maksud dari penjelasan suaminya. Sedangkan Kazza sendiri benar benar memasang telinganya untuk mendengarkan penjelasan dari adik iparnya itu.


"Kamu tahu? semua tidak akan terjadi jika tidak dilalui, benar?" tanya Zayen yang masih menatap istrinya. Afna pun mengangguk mengerti, meski masih bingung dengan maksudnya.


"Coba kamu pikirkan dengan kepala dingin, buang pikiran burukmu itu. Jika, kakak kamu tidak melakukan penggrebekan di markas. Mungkin saja, aku masih dihantui dengan bayangan kejaran polisi. Bahkan bisa jadi tiidurku tidak senyenyak sekarang, dan mungkin juga suami kamu ini belum mendapatkan perhatian begitu tulus dari seorang ibu, dan ayah. Lantas, kenapa kamu tidak mengambil kebaikan yang memang bisa didapatkan. Kenapa kamu harus memandang buruk dari setiap perbuatan, kenapa kamu tidak menilai dari hasilnya. Semua melakukan perbutannya pasti ada alasannya, meski alasannya sangat salah sekalipun. Bukan berarti kebencian yang harus kamu tunjukkan. Kamu mengerti apa yang aku maksud, 'kan? bukalah hatimu untuk siapapun yang telah melukaimu. Maka, hidupnya akan jauh lebih tenang tanpa emosi yang kamu pertahankan." Ucapnya mengingatkan.


Kedua mata Afna pun menganak sungai saat mendengar penjelasan dari suaminya, Afna benar benar malu mendengar suaminya memberi nasehat yang begitu mendalam.


"Sini, aku peluk. Sudah ... jangan menangis, semua masih bisa untuk diperbaiki bersama sama. Aku pun sama, terkadang aku sendiri sangat sulit untuk mengontrol emosiku. Namun, sebisa mungkin aku berusaha untuk bersikap tenang." Ucapnya lagi sambil mengusap punggung istrinya pelan, kemudian melepaskan pelukannya karena mereka sedikit susah dengan kondisi kedua kakinya yang sedang terluka.


"Sudah, jangan menangis. Ada kak Kazza, malu dilihatnya." Ucapnya kembali dan menghapus air mata sang istri dengan ibu jari dan jari lainnya ikut mengusapnya dengan pelan.


"Afna, kamu sangat beruntung memiliki suami seperti Zayen. Seribu satu laki laki seperti Zayen, kesabarannya dan nasehatnya begitu sempurna. Tidak hanya itu, suami kamu adalah laki laki yang bertanggung jawab dari segi manapun. Kakak bangga memiliki adik ipar yang begitu bijak dalam menanggapi berbagai masalah. Semoga kalian berdua selalu diselimuti kebahagiaan, dan dijauhkan dari marah bahaya apapun." Ucap Kazza penuh harus atas sikap dari adik iparnya.


"Jangan berlebihan, tidak baik. Sekarang sudah waktunya untuk istirahat, kita sudahi dulu obrolan kota. Besok, masih ada waktu lagi untuk mengobrol." Ucap Zayen mengingatkan, di tambah lagi istrinya yang sedang hamil muda. Dirinya tidak ingin kesehatannya terganggu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kakak izin pulang. Baik baik kalian berdua di sini, dijaga kesehatannya. Sebelumnya aku sangat berterimakasih atas permintaan maafku telah kamu terima, aku janji tidak akan melakukan kebodohanku ini." Jawab Kazza dan pamit untuk pulang.


"Sama sama, jaga diri baik baik untuk kak Kazza." Ucap Zayen, kemudian dibalas dengan anggukan dan tersenyum oleh Kazza.


"Maafkan Afna ya, Kak. Yang sudah menyudutkan kakak, Afna menyesalinya." Ucap Afna yang tiba tiba mengagetkan Kazza yang hampir sampai di dekat pintu. Kazza pun membalikkan badannya.


Kazza maupun Afna sama sama melangkahkan kakinya untuk mendekat.


"Kakak juga minta maaf, sudah membuatmu kecewa. Kakak janji, kakak tidak akan lagi melakukan hal yang bodoh untuk menyakiti hatimu dan suami kamu. Maafkan kakak kamu ini, ya." Ucap Kazza, kemudian keduanya sama sama tersenyum mengembang.


"Kakak pulang, jaga kesehatan kamu. Baik baik dirumah sakit, jangan bergadang. Jangan kebablasan melepas rindunya, kasihan dengan janin yang ada didalam kandungan kamu." Ucapnya lagi, Afna pun mengangguk dan tersenyum.


Setelah itu, Kazza membuka pintunya dan menutupnya kembali. Kemudian segera pergi dan meninggalkan rumah sakit.


Kini tinggal lah Afna dan Zayen di dalam ruangan tersebut, keduanya tidak lagi melanjutkan obrolannya melainkan untuk segera istirahat.


"Sayang, aku takut jika harus berpisah denganmu." Ucapnya dengan memasang muka lesunya.


"Hem! tenang saja, jangan takut. Bukannya sudah berkali kali aku mengingatkan kamu, kenapa kamu pura pura lupa." Jawabnya mengingatkan.


"Satu hari saja aku hampa, apalagi sampai berbulan bulan. Aku benar benar tidak bisa membayangkannya." Ucapnya yang masih terlihat sedih.


"Sudahlah, ayo kita tidur. Kasihan calon buah hati kita, butuh istirahat yang cukup. Jangan banyak fikiran, semua akan baik baik saja." Jawabnya mencoba meyakinkan, kemudian menci*um lembut kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2