Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mengakui kejujuran


__ADS_3

Wanita itu masih menggenggamnya, ia terus berharap untuk mendapatkan jawaban dari Seyn.


"Itu gelang bukan milik pacarku ataupun istriku, aku mendapati gelang itu saat mengantarkan seorang gadis cantik ke klinik yang jatuh dari motor. Tepatnya diseketiran taman ini, sayangnya aku ada urusan penting dan pergi begitu saja sambil membawa gelang itu." Ucapnya menjelaskan, seketika itu juga ia tercengang mendengar penjelasan dari Seyn.


"Hei! tidak segitunya juga, kali ... cepat berikan gelang itu padaku. Aku akan mengembalikannya pada yang punya, aku tidak ingin menyimpan barang yang bukan milikku." Ucap Seyn yang sudah tidak sabar ingin meraih gelangnya.


Tanpa Seyn sadari, wanita itu tengah memakai gelang yang sama persis dengan yang ditemukan Seyn.


"Nih, aku kembalikan. Aku tidak butuh gelang ini, kamu simpan saja gelangnya." Jawabnya sambil membuka telapak tangannya sambil menunjukkan gelang yang tengah ia ambil dari berkas milik Seyn.


Seyn pun meraihnya, kedua bola matanya terbelalak melihat pergelangan tangan milik wanita itu. Dengan cepat, wanita itu menarik tangannya kebelakang.


Seketika itu juga, Seyn pun tercengang saat melihat pergelangan tangan milik wanita yang ada dihadapannya benar benar sama dan tidak ada perbedaan sedikitpun.


"Gelang yang kamu pakai itu ..." ucapnya terhenti.


"Iya, ini gelangku. Dan, yang kamu temukan itu adalah ..." jawabnya ikut terhenti.


"Apakah ini gelang kamu?" tanya Seyn dengan penuh rasa penasaran. Sedangkan wanita yang ada dihadapannya masih terdiam, antara berbohong dan berkata jujur.


"I--iya, itu gelangku yang pernah hilang. Lihat saja, itu ada huru N. Yang berarti Neyla, itu namaku." Jawabnya sedikit gugup dan berusaha jujur.


Setelah Neyla menjawabnya, Seyn maupun Neyla sama sama terdiamnya. Wanita yang selama ini tengah membuat Seyn penasaran, kini sudah ada dihadapannya. Dan, perempuan itu yang tidak lain saudara adiknya sendiri, yaitu Zayen.

__ADS_1


Dengan perlahan, Seyn mengatur pernafasan. Ia mencoba untuk bersikap tenang, meski pada akhirnya sedikit ada rasa canggung dan malu tentunya. Bagaimana tidak malu? gelang yang selama ini ia jaga dan disimpan, berharap kemudian hari dapat bertemu dengan baik. Namun kenyatannya lain dari harapannya, yang ada sudah mengenalnya.


Dengan tekad yang bulat, Seyn memilih untuk mengembalikan gelang tersebut pada pemiliknya.


"Ini, aku kembalikan milik kamu. Maaf, dulu aku terlambat kembali ke klinik. Disaat itu, jalanan sangat macet. Sesampai di klinik, kamu sudah tidak ada lagi di klinik. Dokter bilang, bahwa kamu sudah dijemput oleh keluarga kamu. Disaat itu juga, aku kembali pulang dengan membawa gelangmu ini. Sesampainya di rumah, aku menyimpannya kembali. Disaat itu juga, aku mengenal Afna. Aku pikir, Afna lah pemiliknya. Karena gelang itu sama persis denganmu, disitulah aku mengejar Afna. Namun kenyataannya, aku harus melukai Afna karena permintaan dari mendiang papaku. Ah, kenapa aku menjadi curhat denganmu. Bodoh sekali aku ini, ambil lah gelangnya ini. Sekarang aku sudah lega, pemilik gelang ini sudah kembali pada yang punya." Ucap Seyn panjang lebar, tanpa ia sadari tengah bercerita tentang mantan kekasihnya.


Neyla pun meraih gelang yang ada pada tangan Seyn. Dan kini, perasaan Seyn sudah jauh lebih lega dari sebelumnya. Dirinya pun tidak lagi cemas memikirkan pemilik gelang tersebut.


"Benar sekali, gelang ini memang sama persis milik Afna. Karena kami adalah satu keluarga dari kakek Ferdi, ini gelang dari keluarga Danuarta. Jadi, kami berdua memiliki dua gelang. Satu untukku dan satu untuk anakku kelak, itupun jika perempuan. Tapi, karena aku takut dengan kedua orang tuaku, maka aku harus berbohong padanya." Jawabnya ikut menjelaskan.


"Oh iya, sebelumnya aku ucapkan banyak terima kasih kepadamu. Karena kamu sudah menyimpan gelangku ini dengan baik. Sebagai gantinya, bagaimana kalau aku ajak kamu makan siang setelah kita berunding kerja sama kita yang tertunda karena sebuah gelang?" ucapnya lagi yang lupa dengan berterima kasih dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Baiklah, aku terima tawaran dari kamu." Jawab Seyn berusaha untuk tidak membuat Neyla kesal.


"Seyn ... hei, kamu kenapa? kamu melamun?" tanya Neyla sambil melambaikan tangannya.


"Tidak, aku tidak melamun. Kamu cantik, itu saja." Jawabnya tanpa ia sadari dan terus memperhatikan Neyla dengan jarak yang dekat, Neyla pun hanya menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap Seyn.


"Seyn!!!" kini Neyla memanggilnya sedikit meninggikan nada bicaranya.


Seketika itu juga, Seyn pun mendadak kaget mendengarnya.


"Maaf, aku tadi melamun." Jawabnya, kemudian tersenyum.

__ADS_1


'Memang tadi aku salah bertanya, ya? bukankah aku tadi menanyakan apakah kamu melamun? nah, kenapa baru sekarang ia mengakuinya. Sungguh, sifat menyebalkannya mulai nampak sedikit sedikit.' Batin Neyla sedikit geram dengan Seyn.


"Jadi mentraktirku tidak, nih? aku sudah lapar." Tanya Seyn sambil menautkan kedua alisnya.


"Iya dong, tapi aku ikut satu mobil denganmu, ya?" jawab Neyla penuh harap.


"Hem, baiklah. Setidaknya aku ikut memberi tumpungan padamu." Ucap Seyn, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya. Neyla pun mengikutinya hingga sampai didalam mobil.


Sedangkan Rifki duduk disebalah pak supir, Neyla dan Seyn duduk bersebelahan. Keduanya sama sama kikuk dibuatnya, akhirnya Seyn maupun Neyla sama sama manatap luar lewat jendela kaca mobil.


Selama perjalanan sama heningnya, tidak ada satupun yang membuka suara. Rifki sendiri merasa bosan yang sedari tadi merapatkan kedua bibirnya. Rifki pun serasa makan tanpa garam, dan tentunya seperti dibungkam begitu saja mulutnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di sebuah Restoran mewah. Restoran mana lagi kalau bukan milik keluarganya sendiri, yaitu Restoran Merpati Jaya. Sebuah Restoran yang sangat terkenal akan pelayanannya dan juga kebijakannya.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Neyla membuka suara, Seyn pun baru menyadarinya jika dirinya telah sampai di sebuah Restoran yang pernah ia datangi bersama mantan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Afna, pemilik Restoran tersebut. Setelah itu, Seyn maupun Neyla dan juga Rifki segera melepas sabuk pengamannya.


"Pak, bapak ikut juga kedalam. Kita akan makan siang bersama, jangan sungkan." Ucap Neyla mengajak pak supir untuk ikut makan siang.


"Tidak usah, Nona. Biar saya menunggunya di luar bersama teman yang lainnya." Jawab pak supir merasa tidak enak hati.


"Tidak apa apa, Pak Roni. Kita makan siang bersama, Rifki juga ikut makan siang bersama." Ucap Seyn mencoba membujuk dan juga meyakinkan supirnya.


Meski sering diajak makan bersama oleh Bosnya yaitu Seyn, namun pak Roni merasa canggung dan tidak enak hati untuk ikut makan siang bersama dengan rekan kerja dari Bosnya seorang wanita, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2