Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 10


__ADS_3

Kazza masih dengan lamunannya, ia terus memperhatikan Vella yang terlihat dekat dengan teman sekolahnya itu. Kedua matanya pun terlihat sangat tajam seperti mata elang yang seperti ingin memangsa musuhnya.


Karena tenggorokan terasa kering, Vella menghabiskan minumannya. Saat tinggal setengah gelas, Zacky langsung menyambar gelas yang berada ditangan milik Vella. Lalu, ia langsung menghabiskannya.


"Zacky, kenapa kamu merebut minumanku." Ucapnya sambil dibuat cemberut.


"Aku takut ada racunnya." Jawab Zacky, kemudian tersenyum.


"Hem, tidak mungkin ada racunnya. Ada ada saja, kamu. Bilang saja kalau kamu menyukai minumanku, hayo ngaku." Ucap Vella.


"Sok tahu, kamu." Jawab Zacky dan tertawa kecil.


'Aku tidak hanya menyukai minumanmu, justru aku lebih menyukaimu, Vella.' Batin Zacky dan tersenyum mengembang.


Sedangkan Kazza masih fokus dengan pandangannya pada Vella. Disaat itu juga, Sera menaruh curiga pada Kazza yang selalu memperhatikan Vella begitu lekat.


"Za," panggil Sera membuyarkan lamunannya.


"Apaan?" tanya Kazza dengan malas.


"Kita ikut gabung bersama teman teman kita yang lainnya." Ajak Sera mencoba merayu.


'Kalaupun aku pergi, bagaimana dengan Vella? ah iya, aku lupa. Bukankah aku sudah menyuruh beberapa orang suruhan untuk mengawasinya.' Batin Kazza sedikit lega, meski dalam benak pikirannya ada rasa khawatir yang tengah menghantuinya.


"Ingat, jangan menggandeng tanganku." Ancam Kazza pada Sera.


"Iya, tenang saja. Aku tidak akan menggandeng tanganmu, serius." Jawab Sera sambil menahan rasa kekesalannya.


'Lihat saja, setelah perempuan sok kaya tadi masa depannya hancur. Maka, aku pastikan bahwa Kazza akan menjadi milikku sepenuhnya. Jika pun tidak bisa aku dapatkan, maka yang akan menjadi sasaranku berikutnya adalah Gio.' Batinnya dengan penuh rasa percaya dirinya.


Disaat Kazza pergi meninggalkan tampat duduknya, tiba tiba Vella dan Zacky bagian kepalanya merasa pusing dan terasa sempoyongan pada bagian tubuhnya.


"Zack, kenapa tiba tiba kepalaku terasa pusing? aw! lihat lah, banyak kunang kunang bertebaran." Tanya Vella sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing tidak karuan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zacky, ia pun merasakan hal yang sama. Zacky sendiri sulit untuk mengimbangi tubuhnya yang tiba tiba terasa lemas.


"Vell, kepalaku ikutan pusing. Jangan jangan ... minuman tadi? aw! sialan." Ucap Zacky sambil menahan rasa sakit dikepalanya.


Berkali kali, Zacky maupun Vella sama sama meringis menahan rasa sakit dan pusing pada bagian kepalanya. Namun, tetap saja tidak ada respon dari siapapu. Hingga keduanya langsung jatuh pingsan ditempat begitu saja, lalu ada beberapa orang tengah mengangkat tubuh Vella dan Zacky ke suatu tempat yang berbeda.


Kini, keduanya tengah berada dalam ruangan yang berbeda. Sedangkan Zacky sendiri tubuhnya terikat, kedua tangannya maupun kedua kakinya.


Begitu juga dengan Vella, kondisinya pun hampir sama terikat. Hanya saja, hanya tangannya yang tengah terikat didalam sebuah ruangan yang sudah di pesannya.


"Lepaskan! tolong! lepaskan! aku!" teriak Vella sekencang mungkin dan bercampur dengan rasa takut yang tengah mengaduk pikiran buruknya. Seketika, kebringasan seorang Vella tengah ditunjukkannya pada seorang laki laki hidung belang yang ada didepannya itu. Sedangkan laki laki yang ada dihadapannya itu, tertawa puas ketika mendapati Vella yang berteriak meminta tolong.


"Berteriaklah sekencangnya, gadis cantik ..." ucapnya sambil mengusap pipi mulus milik Vella dengan satu jarinya dan tersenyum menggoda namun menggelikan.


"Lepaskan tangan kotormu itu, aku tidak sudi melayanimu." Ucap Vella dengan sorot matanya yang tajam.


"Bringas juga rupanya kamu, semakin penasaran aku denganmu. Sepertinya sangat memu*askan untukku." Jawabnya yang terus mendekati Vella yang terikat diatas tempat tidur.


"Pergi! aku bilang pergi!" teriak Vella sambil menitikan air matanya dan menangis. Seorang Vella yang sulit untuk bersedih dan menangis, kini dirinya harus mendapati kesulitan untuk menghadapi masalahnya.


Vella terus menangis, ia sulit untuk menghadapi seorang laki laki hidung belang. Sedangkan kondisinya sendiri dalam keadaan terikat. Vella memang kuat dan jagonya bela diri, namun dalam kondisinya yang terikat tangannya membuat dirinya sulit untuk menghajar seorang laki laki yang ada didalamnya.


"Gadis cantik ... ayolah, satu jam saja kita nikmatinya. Kamu tidak perlu munafik, pasti kamu akan ketagihan." Ucapnya, kemudian melepas celana jeans nya. Kini tinggal celana kolornya yang masih menempel pada dirinya.


Seketika, detak jantung Vella semakin tidak karuan. Ia takut, jika dirinya akan kehilangan kehormatannya dalam waktu sekejap dengan laki laki hidung belang.


Air matanya terus mengalir bercampur dengan rasa takut, dadanya terasa sesak. Nafasnya pun terasa sulit untuk bernafas. Seketika, sekujur tubuhnya tidak berdaya. Hanya pasrah dan berdoa yang bisa ia lakukan, Vella terus menangis sesenggukan.


Lelaki yang berada di depannya, kini mulai mendekatinya semakin dekat. Ujung kakinya tengah disentuhnya, Vella sendiri terus berusaha untuk menghindarinya. Dengan tenaganya yang cukup kuat, Vella menendang laki laki yang ada dihadapannya.


"Berani sekali kamu menendangku, lihat saja setelah ini. Aku akan menguasaimu, akan aku nikmati setiap perlakuanmu padaku." Ucap laki laki itu dengan tatapannya yang tajam.


"Tolong!!!!!!" teriak Vella sangat kencang.

__ADS_1


BRAKKKK!!!!


Seseorang dari luar tengah menendang pintu kamar hotel begitu sangat kuat.


BUG! BUG! BUG! BUG!


Berkali kali laki laki yang tengah berada didalam kamar hotel bersama Vella langsung mendapat serangan yang begitu kuat.


Polisi yang sudah datang ditempat kejadian tersebut langsung menangkapnya.


"Vella, kamu tidak apa apa, 'kan?" tanyanya sambil melepaskan tangan Vella yang terikat.


Disaat itu juga, Vella langsung memeluknya begitu erat. Rasa takut masih menghantui pikirannya, Vella masih terus menangis tersedu sedu dipelukan seorang laki laki yang menolongnya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu sudah aman, tidak ada lagi yang mengganggumu. Dimana pacar baru kamu itu, kenapa begitu ceroboh dengan pacarnya sendiri." Ucapnya sedikit kesal dan sambil mengusap punggung milik Vella dengan pelan berulang ulang.


Vella sendiri masih belum mampu untuk menjawab pertanyaan, ia masih ketakutan. Secepat mungkin, Vella langsung dibawanya ke rumah sakit. Takut, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.


Tanpa pikir panjang, Vella langsung digendong sampai masuk kedalam mobil. Takut, hal buruk akan menimpa Vella.


Semua yang berada diacara tersebut berdecak heran dan penasaran.


"Lepaskan! lepaskan aku." Ucap Vella berulang ulang dan terlihat ketakutan.


"Tenangkan pikiran kamu, Vell. Ini aku, Kazza. Kamu aman bersamaku." Jawab Kazza sambil memeluk Vella yang masih ketakutan.


"Kazza, benarkah?" ucap Vella, kemudian mendongakkan pandangannya pada Kazza.


Kedua mata Vella maupun Kazza saling beradu pandang, Vella masih menatap lekat wajah Kazza yang terasa mimpi dan tidak percaya.


Vella mencoba menepuk nepuk pipi milik Kazza, ia berusaha meyakinkannya. Kazza pun tersenyum mengembang, tatkala menatap Vella.


"Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" tanya Vella yang masih terasa bermimpi.

__ADS_1


__ADS_2