
Setelah keduanya sudah siap, Zayen segera menyalakan mesin motornya. Kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Afna masih memejamkan kedua matanya karena masih merasa takut.
Lagi lagi Zayen sengaja menambah kecepatannta, sedangkan Afna semakin mengeratkan pelukannya kepada Zayen.
Sambil fokus pandangannya kedepan, Zayen tersenyum lebar tanpa Afna mengetahuinya. Zayen menurunkan kecepatannya, dan kini motor melaju dengan santai. Zayen melepaskan tangan kirinya, dan mencoba mengagetkan Afna yang masih memeluk sang suami sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zayen.
Meski Zayen sedikit ragu untuk menyentuh tangan istrinya, Zayen tetap memberanikan diri. Mau bagaimana lagi, memang kenyataannya tidak ada cara lain selain menyentuh tangan istrinya.
"Afna, bukalah kedua mata kamu. Jangan takut, aku sudah menurunkan kecepatannya."
Afna yang merasa tangannya disentuh oleh Zayen, dirinya segera membuka kedua matanya dengan pelan.
Meski masih ada rasa takut, Afna mencobanya untuk memberanikan diri.
"Wah.. indah sekali, lampu yang begitu terang dan warna warni. Aku merasa seperti anak remaja saja, memalukan." Ucapnya dengan reflek.
"Bagaimana? naik motor sangat menyenangkan, 'kan?" tanya Zayen sambil mengendarai motornya. Tanpa menyadari, tangan sebelah kiri milik Zayen masih menggengam tangan istrinya.
Sedangkan Afna sendiri pun tidak menyadarinya, jika tangannya digenggam oleh sang suami.
"Iya, ternyata naik motor sangat menyenangkan. Kita dapat menghirup udara malam hari, dan tidak gerah pastinya."
Tidak lama kemudian, Zayen dan Afna telah sampai didepan rumah. Zayen yang baru menyadari bahwa tangan kirinya tengah menggengam tangan milik istrinya pun segera melepaskannya. Afna sendiri baru tersadar, jika dirinya begitu nyaman saat Zayen tengah menggenggamnya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
__ADS_1
"Tidak apa apa, bukankah aku ini adalah istrimu. Dan sepenuhnya aku milikmu, bukankah begitu." Jawab Afna menunduk dan sedikit malu.
Zayen tidak meresponnya, dirinya segera menggendonf Afna dari atas motor. Afna kembali melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya.
Untuk kali ini, Zayen tidak menatap sang istri. Tetap fokus pada langkah kakinya menuju depan pintu.
"Ini kuncinya, segera buka pintunya." Perintahnya sedikit membungkuk, agar Afna dengan mudah untuk membuka kunci pintunya.
Setelah berhasil membuka kunci pintu, Afna membukanya sedikit mendorong. Kemudian Afna kembali menguncinya.
Detak jantung Afna kembali tidak normal, jantungnya pun berdegup sangat kencang. Seakan dunianya akan runtuh, dan tidak memiliki pertahanan.
Didalam rumah yang hanya dihuni dua insan sepasang suami istri, rasanya sangat berbeda dengan diluar rumah. Zayen sendiri berusaha untuk tenang, agar dirinya tidak mudah tergoda dengan sang istri. Meski sebenarnya juga menginginkannya, namun Zayen ingin memaksanya. Biarkan waktu yang akan menyatukannya, jika memang berjodoh tidak akan pernah terpisahkan.
Langkah semakin dekat didepan pintu kamar, Afna membuka pintunya pelan. Sedangkan Zayen melangkahkan kakinya mendekati tempat tidurnya. Kemudian menurunkan sang istri ketempat tidur.
Dengan pelan, Afna menuju kamar mandi. Dan dilihatnya sang suami seperti sedang bersiap siap.
"Kamu mau kemana? kenapa kamu mengganti pakaianmu." Tanya Afna yang penasaran dengan penampilan sang suami yang terlihat menyeramkan, ditambah lagi serba itam. Sedangkan kaca matanya pun ikut hitam, hanya saja masih tergantung pada baju di bagian lingkar lehernya.
"Aku hanya ada perlu dengan Viko. Kamu jangan khawatir, aku baik baik saja. Setelah urusanku selesai, aku akan segera pulang. Istirahatlah, dan jangan berpikiran yang macam macam."
"Bagaimana aku tidak berpikiran macam macam, sedangkan kamu tidak memberitahuku atas apa yang akan kamu lakukan malam ini. Siapa tahu saja kamu mau pergi ke bar, atau... ke tempat yang lainnya.
"Untuk apa aku ke bar, aku sudah punya kamu. Jangan memancing suasana, jika kamu tidak ingin sesuatunya terjadi. Aku berangkat, aku hanya mengantar barang pesanan." Jawabnya, kemudian segera pergi meninggalkan Afna yang mukanya berubah teelihat masam. Zayen tidak memperdulikannya, karena urusannya jauh lebih penting dari pada melayani rengekan sang istri.
__ADS_1
Zayen segera keluar dan mengunci pintunya lewat luar. Setelah itu, Viko sudah berada di depan dengan mengendarai mobil. Kini Zayen yang menyetirnya dengan kecepatan yang tinggi, membuat Viko sendiri terasa jantungnya mau copot.
"Bos, pelan dong. Aku belum menikah, bos Zayen mah enak sudah menikah. Lah aku, belum merasakan enaknya. Pelan, Bos." Ucap Viko yang gelagapan karena ulah Zayen meninggikan kecepatan dalam menyetir mobilnya.
"Kamu pikir aku sudah merasakan enaknya, belum! tapi urusan kita jauh lebih penting. Kamu tahu, malam ini adalah kesempatan emas kita, jika kita berhasil maka satu perusahaan bisa kita beli." Ucap Zayen sambil melirik kearah Viko dan menyunggingkan senyumannya.
"Terserah Bos saja, aku hanya nurut." Ujarnya. Zayen menghentikan mobilnya mendadak begitu saja, kening Viko sendiri pun terbentur. Alhasil, Viko meringis kesakitan.
"Apa kamu sudah mengemasinya dengan benar, dan apakah pengirimannya aman."
"Tentu saja, tapi baru sebagian. Dan sekarang bos Zayen tinggal cek sendiri ditempat persembunyian kita. Barang sudah datang, dan tinggal pengiriman pada waktu sudah ditentukan oleh pemesan."
"Bagus, kamu cukup pintar sekarang."
"Tapi Bos, bukankah Bos Zayen sudah menikah dengan orang kaya di negeri ini. Kenapa Bos Zayen masih melakukan pekerjaan ini, jika istrinya Bos mengetahuinya bagaimana, Bos."
"Aku tidak mau terjun di perusahaan mertua, karena Seyn akan menjebakku."
"Semoga saja, kita tidak lagi dalam naungan seorang Seyn." Sudahlah, ayo kita berangkat. Kita kemasi barang barangnya terlebih dahulu, soal pemgiriman itu urusan kamu. Biar aku yang bermain dibelakangmu."
"Baik, Bos." Jawab Viko sambil mengusap keningnya yang masih terasa sakit akibat benturan yang dilakukan Zayen.
Sedangkan Afna didalam sedang gelisah, tatkala sang suami yang sudah lewat tengah malam belum juga pulang. Afna hanya celingukan didalam kamar, rasanya sangat sepi. Ditambah lagi dengan perasaannya yang semakin campuraduk tidak karuan. Hingga membuatnya susah untuk memejamkan kedua matanya.
Afna sudah berkali kali menghubungi suaminya, namun tetap saja tidak ada jawaban. Afna semakin prustasi, dirinya kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya. Kedua bola matanya tertuju pada laptop yang tergeletak diatas meja.
__ADS_1
Karena merasa jenuh dan tidak bisa tidur, Afna segera mengambil laptop dan membawanya ke tempat tidur. Dengan serius, Afna menyalakan laptop sambil bersandar.
Afna mencoba membuka video belajar memasak, agar dirinya tidak terus terusan merepotkan suaminya. Afna menonton video tersebut lumayan cukup lama durasi waktunya, hingga dirinya lupa sudah hampir jam tiga pagi tidak tidur. Kedua mata Afna menatap kearah jam dinding, Afna gelisah tatkala Zayen belum terlihat batang hidungnya. Perasaannya terasa sakit, meski tidak ada rasa cinta. Namun, entah kenapa Afna merasa ada yang kurang jika tidak ada sang suami. Bukannya senang karena bebas, justru Afna merasa kesepian.