Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Takut dikerjain


__ADS_3

Setelah menikmati ayam geprek yang rasanya nano nano, Zayen maupun yang lainnya segera pergi meninggalkan Danau kecil. Sebelumnya, Zayen meminta Viko untuk membayar tagihannya. Sedangkan Zayen, Afna, dan Seyn kini telah menunggunya di mobil.


Viko pun telah keluar dari warung milik ibu Ning, kemudian segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Karena suasana terasa hening, rasa kantuk pun tengah membuat Afna tidak dapat menahannya. Afna sendiri langsung menyandarkan kepalanya dipundak sang suami, Zayen pun merangkulnya. Takut, jika sang istri terjatuh tanpa disadarinya.


Seyn hanya menatap kemesraan Afna dengan Zayen lewat kaca depan. Sakit memang sakit, namun kenyataannya yang harus ia terima. Penyesalan tinggal lah penyesalan, semua tidak dapat dikembalikan seperti harapannya yang pernah pupus.


Seyn segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela, berharap dirinya bisa menepis kesedihannya.


Zayen yang mengerti dengan apa yang dirasakan sang kakak, dirinya pun hanya bisa diam.


'Percayalah, kak. Di luaran sana masih ada seorang wanita yang baik untukmu. Bukan maksudku untuk memberi api cemburu kepada kakak, namun istriku sendiri lah yang memintanya untuk ikut. Aku tahu, bahwa kak Seyn menyimpan rasa cemburu padaku. Aku sendiri sudah gila karena Afna, jiwa ragaku terasa sudah dicuri oleh Afna sepenuhnya.' Batin Zayen sambil memperhatikan sikap sang kakak yang terlihat menyimpan kesedihan dan cemburu.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di depan pintu gerbang. Seyn pun baru tersadar dari lamunannya, bahwa dirinya kini sudah berada di depan pintu gerbang rumahnya.


Viko segera membuka pintu gerbangnya, kemudian kembali masuk kedalam mobil dan melakukannya untuk masuk ke halaman rumah milik orang tua asuh Zayen dulunya.


"Kenapa kita mendatangi rumah ini? bukankah rumah ini sudah di sita, katakan." Tanya Seyn yang masih belum percaya, Seyn masih terasa seperti mimpi jika dirinya kini sudah berada dihalaman rumahnya.


"Lebih jelasnya, kita turun terlebih dahulu. Kemudian setelah itu akan aku ceritakan semuanya, akan kita bicarakan didalam rumah. Agar semuanya lebih enak untuk didengar dan juga lebih mudah untuk dipahami dengan kepala dingin." Jawab Zayen, sedangkan Seyn mengangguk, lalu segera ia melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


Setelah Seyn dan yang lainnya melepaskan sabuk pengamannya, keempatnya segera masuk kedalam rumah. Viko yang memang mendapat pesan dari tuan Alfan, segera ia membukakan pintunya. Kini, telah berada di ruang tamu. Seyn berkali kali memeriksa disetiap sudut ruangan yang terlihat berbeda, kini didalam rumahnya terlihat hidup kembali. Bahkan warna gelap yang selalu mendominasinya, kini telah menjadi warna yang lumayan cukup terang namun tetap terlihat elegan.


"Kak Seyn, duduklah. Ada yang ingin kita bicarakan, ini mengenai kak Seyn." Pinta Zayen pada sang kakak, sedangkan Viko dan Afna sudah duduk terlebih dahulu.


Viko mulai membuka tas bawaannya, Seyn yang memperhatikan Viko sibuk dengan tasnya membuat Seyn bingung dibuatnya. Kemudian, segera Viko merogoh dalam tasnya. Diambilnya dia buah kunci dan diletakkannya didepannya, lalu Zayen meraihnya dan meletakkan dua kunci tersebut didepan sang kakak.


"Ambillah, ini dari Papaku untuk kak Seyn. Itu kunci rumah ini dan satunya lagi kunci mobil. Untuk hari besok, kak Seyn dimintai untuk datang ke Perusahaan SeyGanta yang tidak lain adalah Perusahaan yang pernah kak Seyn kelola. Papa sudah mengganti nama perusahaan itu dengan nama kak Seyn dan juga Papa." Ucap Zayen menjelaskan sedetail mungkin.


"Tapi, Zayen. Kak Seyn tidak berhak memilikinya, ini milikmu. Bahkan orang tua kamu sendiri yang mengambil alih, aku tidak memiliki hak. Maaf Zayen, aku tidak bisa menerimanya. Biarkan aku seperti kamu dulu. Hidup sederhana dan jauh dari kemewahan." Jawab Seyn yang merasa tidak enak hati.


"Kak Seyn, aku mohon jangan menolaknya. Ini hak kakak sepenuhnya, aku serius. Dan satu hal lagi, jika bukan papa yang merawatku, belum tentu saat ini aku bisa bertemu dengan keluargaku. Aku mohon, terimalah apa yang sudah diberikan kepada kakak. Jangan kecewakan kedua orang tuaku dan juga keluarga besarku, aku tidak memiliki kakak selain kak Seyn." Ucapnya, kemudian segera bangkit dan mendekati sang kakak.


Seyn pun ikut bangkit dari posisi duduknya, kemudian Seyn langsung memeluk sang adik begitu erat.


"Jangan kita ulangi lagi pertikaian yang sudah pernah kita lewati, aku sangat membencinya. Aku hanya punya kak Seyn sebagai kakakku, bukankah kita pernah satu atap didalam rumah ini? aku tidak ingin ada kebencian diantara kita." Ucap Zayen penuh harap kepada sang kakak.


"Aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan terus mencoba memjadi lebih baik lagi." Jawab sang kakak, kemudian tersenyum. Zayen pun ikut tersenyum dan diikuti oleh Viko dan juga Afna.


"Bos, sudah hampir sore nih. Kita mau pulang atau menginap di sini?" sindir Viko.


"Sudah hampir sore, ya. Ya sudah kalau begitu, ayo kita pamitan pulang." Jawab Zayen, Viko pun mengangguk dan berpamitan.

__ADS_1


"Kak Seyn, aku pulang. Oh iya, cepetan menikah. Biar ada temannya, agar tidak serba solo dimanapun. Tidur sendiri, makan sendiri, mandi sendiri. Serba solo, 'kan? makanya buruan menikah." Ledek Viko sambil mengedipkan matanya, Seyn sendiri bergidik ngeri melihatnya.


"Sialan, awas kamu Vik. Kamu sendiri masih solo, buruan menikah." Balas Seyn yang tidak mau kalah.


"Sudah sudah, kak Seyn maupun Viko sama dengannya solo. Cepatan menikah, siapa lebih dulu akan aku beri hadiah." Ucap Zayen ikut memberi tantangan.


"Hem ..." serempak pada keduanya, Seyn maupun Viko.


"Kalau begitu, aku pamit untuk pulang. Jaga diri baik baik untuk kakak, jangan lupa untuk besok. Kedatangan kak Seyn sangat ditunggu papa di kantor perusahaan SeyGanta." Ucap Zayen berpamitan.


"Jangan khawatir, aku pasti akan datang. Hati hati diperjalanan, ada calon buah hati kamu pada Afna." Jawab Seyn, sedangkan Zayen mengangguk dan tersenyum.


Setelah berpamitan, Zayen dan Afna maupun Viko segera pulang. Didalam perjalanan, Afna kembali bermanja pada suaminya. Afna menyandarkan badannya pada dada bidang sang suami, dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang milik Zayen.


"Sayang, aku menginginkan buah mangga yang sangat muda. Sepertinya sangat enak, dan kres dimakan." Pinta Afna yang teringat dengan buah mangga yang sangat muda, sedangkan Zayen sendiri terasa ngilu mendengarkannya.


Viko yang mendengarkan permintaan Afna pun ikut terasa ngilu pada bagian semua giginya, lalu segera ia menelan salivanya yang hampir menetes.


"Vik, apakah kamu tahu penjual mangga muda?" tanya Zayen.


"Aku tidak tahu, mungkin saja di toko buah segar." Jawab Viko sambil fokus dengan setirnya.

__ADS_1


"Aku maunya yang masih ada di pohon, titik." Pinta Afna sambil melirik kearah sang suami, Zayen hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


'Jangan bilang, jika kamu memintaku untuk memanjat pohon sekaligus memakannya diatas. Dan kamu hanya menatap muka masamku ini yang benar benar masam seperti buahnya.' Batin Zayen yang tidak tidak.


__ADS_2