TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BERANGKAT KE SANA


__ADS_3

Jukian memutuskan untuk meninggal rumah lama mereka yang telah selesai renovasinya. Dia mulai memasang foto anggota keluarga lengkap.


“Kenapa kau menyisakan bingkai kosong tanpa gambar disini?” tegur Franda.


“Itu untuk Paman Adamson, bagaimanapun juga dia adalah bagian tersembunyi dari Kak Frayza.”


“Ngomong-ngomong tentang Frayza temanmu itu yang namanya mirip Kakak sulung kita. Aku pernah melihatnya berada satu mobil dengan Paman Adamson dan bersama William. Malam dimana Ibu menculiknya dan dibawa kemari.”


“Benarkah? Frayza bersama William?”


“Iya, ternyata wanita lain dari hidup William dia orangnya. Dan aku sangat membencinya!” mengepal tangannya.


“Dimana dia sekarang?”


“Aku tidak tahu, bayi yang aku lahirkan saja tidak tahu dimana rimbanya hahahaha.”


“Kau mulai gila Kak, harusnya kau terus berusaha memperoleh William. Karena anak itulah senjatamu menjadi Nyonya besar.”


“William, lelaki kejam itu sudah membeli rahimku. Dia hanya menganggapku sebagai selirnya. Bukan kandidat istrinya, paham kau Adik kecilku!” menampar-nampar pipi Julian.


Julian mengusap pipinya yang dimainkan Franda, dia berpikir apakah mungkin Frayza itu idaman William. Gadis tomboi yang selalu mengenakan celana dan jaket. Dinding tangga ini sudah penuh dengan foto yang dipajang Julian. Timbul keinginannya untuk kembali bermain basket. Tapi dirinya sudah menjadi seorang model yang namanya mulai diperhitungkan.


“Julian, aku menemukan surat ini di rumah. Sepertinya undangan peragaan busana di Paris.”


Surat beramplop tebal ini berisi undangan para model papan atas. Mereka akan di audisi untuk peragaan busana tahunan di Paris. Melihat proporsi tubuhnya yang menarik untuk mengenakan koleksi merk ternama. Julian mengurus dokumen guna menghadiri perhelatan besar ini.


“Kak, bisakah kau menemaniku?”


“Aku?”


“Iya, aku butuh dirimu untuk menjadi manajer pribadiku. Kau sudah berpengalaman dalam bidang ini bukan?”


“Hemmmmbb krezzz krezzzz krezzz.” Makan kripik kentang sambil berpikir tentang tawaran Julian.


“Kak, Ayah dan Ibu sedang ada masalah. Jika kita hanya berdiam diri tidak dapat membantu. Lebih baik kita pergi saja dan sekalian berlibur, bagaimana?”


“Hahahah aku setuju!”


*


*


*


Franda kembali ke rumah orang tuanya, dia berniat berpamitan kepada Barbara. Namun Ibunya lebih memilih diam dan menyerahkan semuanya kepada Franda saja jika berniat pergi. Sedangkan Simon hanya mengangguk tak banyak berkomentar. Franda pergi membawa kopernya, sebenarnya dia sedih kenapa sikap orang tuanya menjadi dingin seperti inu. Seolah kehangatan dan kasih sayang orang tuanya sudah hilang.


“Barbara, aku mau bicara padamu tentang Frank.”


“Aku hanya bercanda saja dengannya tidak serius. Aku hanya ingin Franda tidak mendekati Frank.”


“Apa jaminannya jika kau tidak terlibat Asmara hitam dengan Frank.”


“Simon, apakah kau sedang mencurigaiku bermain api dengan Frank?”


“Barbara, aku sudah cukup lama mencintaimu. Apakah ini balasanmu kepadaku?”

__ADS_1


“Simon, aku membuat rekayasa berpacaran dengan Frank karena aku muak setiap hari melihat Franda seperti panda. Yang terus-terusan makan tanpa henti. Jadi q berinisiatif untuk memakai Frank sebagaimana umpan emosinya saja. Tidak lebih,” memalingkan wajahnya dari Simon.


“Seharusnya kau bisa memberikan dia obat-obatan saja. Tidak perlu menyerang kejiwaannya.”


“Simon, aku tahu yang terbaik untuk anak-anakku!”


“Tapi mereka darah dagingku, berbeda dengan Frayza yang hasil dari hubungan terlarangmu dengan Adamson bukan!”


“DIAMMMMMMMMMMM!!!” lengkingan suara Barbara memecah keheningan rumah.


“Kenapa kau marah! Apa kau tersinggung!” mencengkeram kedua lengan bahu Barbara.


Suami-istri ini bertengkar hebat karena pertikaian yang selama inu mereka abaikan. Dan Pelayan mereka datang memberitahukan kalau ada Polisi datang untuk menemui Simon.


“Apa Polisi datang kemari?”


“Kau, kau terlibat kasus apa Simon!”


“Aku tidak tahu Barbara, aku akan temui Polisi itu terlebih dahulu.”


Sekarang Barbara ketakutan karena Polisi datang kerumahnya mencari Simon. Dia menguping pembicaraan Simon dengan Polisi yang melampirkan surat penangkapan.


“Jangan bawa suamiku, dia adalah pejabat!” menarik tangan Polisi yang sudah memakaikan borgol ditangan Simon.


“Nyonya kami sedang melakukan penyelidikan, beberapa pertanyaan akan kami ajukan untuk mendapatkan keterangan dari Tuan Simon.”


“Simon, katakan padaku apa yang telah kau sembunyikan dibelakangku.”


“Istirku, aku akan kembali secepatnya. Kau jangan panik, aku akan menghubungimu.”


*


*


*


--- INGGRIS ---


Sebuah bangsawan kini menjadi tempat tinggal Frayza dan Jade. Mereka memiliki pelayan khusu untuk mengurus keperluan mereka. Dan anehnya, semua pelayan perempuan disini didatangkan langsung dari beberapa negara di Asia. Sedangkan pelayan pria didominasi pria berkebangsaan Eropa.


“Nona, apakah anda masih sanggup belajar bahasanya?”


“Hheeeehhh, masiiih sanggup.” Meletakkan kepalanya diatas buku.


Tak... Takk... Penggaris diketukkan Patrick dimeja belajar. Agar Frayza terbangun dari malasnya. “ Eherrmmb, Tuan Hikashi William ingin anda belajar beberapa bahasa agar ikut mendampinginya menjamu para tamu.”


“Kenapa suamiku tidak memakai Penerjemah saja. Uangnya kan banyak, dia bisa membayar orang melakukan itu huhhhh.”


“Nona, dalam keluarga Alexander kecakapan dalam berbagai bahasa asing adalah syarat mutlak untuk masuk dilingkungan Bangsawan dan kerajaan.”


“Patrick, aku mau melihat keadaan Jade sekarang. Mungkin dia merindukanku hehehe.”


“No-no-no kembali duduk, kita harus belajar lagi Nona.”


“Patrickkk... Otakku lelah, tidakkah kau melihat asap diatas kepalaku ini? Otakku sudah mendidih untuk berpikir hihihi.”

__ADS_1


“Nona, anda harus kuat-kuat dalam mengingat kosakata dan pelafalannya. Mari kita lanjutkan halaman 404,” Patrick tidak menggubris ocehan Frayza yang sudah kelelahan belajar setiap harinya.


Hari-hari menjadi nyonya muda bagi Frayza adalah sekolah. Dia mempelajari berbagai bahasa asing, tata cara dalam pergaulan dan bisnis. Walaupun Frayza sudah menjadi nyonya kegiatannya sangatlah sibuk setiap harinya. Bahkan untuk menyapa bayinya dia hanya diberikan waktu beberapa jam saja. Ini semua atas perintah Hikashi agar istrinya menjadi lebih berkembang lagi bakatnya. Untuk buah hati mereka, Hikashi sudah mendaftarkan sekolah khusus untuk putranya ini. Sejak bayi Jade sudah mendapatkan fasilitas terbaik sebagai bayi yang terlahir dikelurga terpandang.


Sore hari adalah waktu yang biasanya digunakan Frayza menikmati teh ditaman bersama Jade. Dia menggendong putranya yang tumbuh menggemaskan. Sebenarnya Frayza tidak diijinkan menggendong Jade, karena berat badan Jade sudah berat.


“Nona, anda tidak boleh menggendong Jade terlalu lama. Nanti Tuan muda bisa marah kalau pinggang anda sakit.”


“Patrick, Jade mau tidur lihat matanya sudah sayup.”


“Tuan muda sedang menunggu anda, beliau menelepon anda Nona.”


“Oh begitu ya rupanya, tolong gantikan aku.”


Sekian lama akhirnya Hikashi bisa mendengar suara istrinya.


Hikashi: kau sedang sibuk apa? Kenapa begitu lama menjawab teleponku Sayang (mengeluh menunggu lama).


Frayza: maaf Sayang, aku tadi berada di taman sedang bersantai bersama Jade hehehe.


Hikashi: Jangan menggendongnya lebih lama, kau tidak boleh pegal. Jika pinggangmu sakit nanti bisa bahaya.”


Frayza: Sayang, aku kan tidak hamil jadi kau jangan khawatir. Sekarang Jade aku serahkan pada Patrick.


Hikashi: kenapa kau tidak bertanya kapan aku pulang? Apa kau marah padaku ku suruh belajar terus?


Frayza: aku pikir menjadi istrimu bisa berlibur dan berbelanja, aku merasa seperti mahasiswi. Setiap hari belajar terus, sampai bosan.


Hikashi: hahahahahah (menertawakan istrinya yang menggemaskan karena sebal belajar).


Frayza: kenapa kau tertawakan aku, kau pasti mengejekku bukan.


Hikashi: aku rindu aroma tubuhmu, Paris begitu pengap tanpa wangi tubuhmu. Sayang, apakah kau mau ke Paris untuk menyusulku?


Frayza: Hhhhaaa Paris, kau bercanda ya Sayang?


Hikashi: aku serius, beberapa malam ini aku tidak bisa tidur. Kau memberikan aku baju tidurmu untuk aku ciumi setiap malam. Itu tidak adil bagiku, ayolah kemari dan pakai baju ini. Aku sudah tidak tahan mau mencumbumu.


Frayza: Sayanggg, pelankan suaramu ada Pelayan yang mendengarnya aku jadi malu.


Hikashi: jika kau tidak mau datang ke Paris, maka kau harus bersiap belajar lebih tekun lagi. Akhir pekan ini jika kau mau ke Paris ku bebaskan 3 hari kau libur belajar.


Frayza: wuhuuuu benarkah?


Hikashi: iya, aku beri waktu kau di akhir pekan ini untuk datang ke Paris. Katakan kepada Patrick untuk menyiapkannya.


Frayza: lalu bagaimana dengan Jade?


Hikashi: Jade adalah putra kita, apa masalahnya?


Frayza: Jade tidak diajak?


Hikashi: jangan konyol, Jade sudah sibuk dengan kegiatannya. Kita harus memiliki kegiatan lain yang bermanfaat. Kau terlalu asik belajar sehingga otakmu bekerja lambat. Tidakkah kau tahu aku punya pekerjaan pribadi untuk dirimu, puaskan aku!


Frayza: semakin tidak malu, hemmb (menggigit bibirnya yang mulai terpancing omongan Hikashi).

__ADS_1


Hikashi: jangan bawa baju apapun, aku sudah menyiapkan bajumu selama di Paris. Kau pakai setelan tertutup ketika diperjalanan. Dan pakailah topi besar untuk menutupi bagian kepalamu. Minta syal yang besar pada Patrick untuk menutup lehermu ya. Aku menunggu tubuhmu sayang, muaachhh.


__ADS_2