TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AGENDA TAMBAH ANAK


__ADS_3

Hari senin, adalah awal pekan yang menyibukkan bagi setiap orang. Terutama keluarga Alexander, nyonya rumah itu masih terbaring diatas kasur empuk. Sedangkan tuan besar yang tidak lepas pandangannya ke situ, mengaitkan dasinya. Ia mengawasi istrinya kalau-kalau meloncat untuk kabur ke kamar mandi. Karena tali ditangannya sudah dilepas, mereka bercinta sepanjang malam. Kasihan penjaga diluar harus mendengar yang sepantasnya tak didengar.


“Sayang, mau aku bawakan sarapan kemari.”


“Tidak, aku mau tidur sebentar lagi.” Tampak kulit mulus mengintip dari balik selimut warna maroon.


“Muach,” mencium pipi dan kening.


“Sudah jam berapa ini?”


“Baru jam 7 pagi,” ia senang istrinya tidak agresif lagi.


“Papa... Apakah Mama sudah bersiap berangkat ke Sekolah bersamaku?” Jade nyelonong masuk kamar tanpa mengetuk pintu. Sudah jadi kebiasaan baru bagi si sulung.


“Kenapa kau bisa masuk? Kemana penjaga diluar?” terperanjat kaget.


“Aku menyuruh mereka sarapan dan tidur, ini awal pekan Papa. Semuanya akan sibuk.”


“Benar-benar ya kau ini, tidak bisakah kau masuk kamar orang dewasa tanpa menerobos?”


“Tidak bisa Papa, aku harus bertemu Mama secepatnya, karena jam 9 nanti rapat wali murid akan dilaksanakan. Dan Mama berjanji akan datang ke Sekolah bersamaku.”


“Jadi kau kemari hanya untuk keperluanmu pribadi? Kau berani membawa istriku tanpa ijin dariku terlebih dahulu?”


“Tapi dia kan Mama ku, memang ada masalah ya Pa?”


“Jelas ini masalah besar Jade.”


“Ayolah Papa, aku tidak bisa menunggu Mama berdandan. Pagi ini teman-temanku akan mengejekku lagi sebaga anak pungut. Jika sekertaris Papa yang datang, aku mau Mama yang datang.”


“Baiklah Jade, Mama akan mandi kalau begitu. Kau bawakan Mama sarapak kr kamar, oke.”


“Tapi Sayang, jam makan siang aku akan pulang. Bagaimana program adik untuk Seven?”


“Hari ini aku sudah berniat puasa Suamiku, kita tidak boleh mengerjakan proyek bayi.”


“AKU TIDAK MAU SEVEN PUNYA ADIK !”


“Hai anak muda, aku tidak minta uang darimu untuk memiliki anak lagi. Jadi kami akan melanjutkan program anak ke 3 hahaha.”


“Papa... Kau tega, aku tidak mau punya adik huaaa.”


“Jade kau harus lapang dada ya hahaha.”


“Tambah apa pun asal jangan tambah anak Papa. Aku tidak mau punya adik lagi.”


“Hai kenapa begitu, Papa masih bisa membiayai kehidupan kalian. Apa kau pikir Papa akan mengurangi jatahmu?”


“Aku tidak suka kasih sayang dan perhatian Mama terbagi lagi oleh kehadiran adik baru.”


Frayza keluar dan mendengar celoteh anak sulungnya. Menolak anak ketiga yang digaungkan Hikashi. Ia tersenyum simpul geli dengan protea Jade yang terus terang.

__ADS_1


“Kau dengar sendiri kan, sudah 2 orang menolak aku hamil.”


“Aku akan bujuk Seven untuk setuju punya adik. Dia adalah penentu terkahir.”


“Ku harap kau tidak kecewa, karena Jade sudah mendukungku. Aku yakin sekarang ia pergi ke kamar Seven memprovokasi.”


“Sayangggg...” rengek Hikashi manja.


“Keringkan rambut, tolong Suamiku.” Hikashi menurut dan mengambil helai rambut yang basah.


Didepan cermin Frayza merias wajahnya dengan sapuan bedan dan gincu. Kali ini ia menyanggul rambutnya agar terlihat lebih berwibawa. Kemudian ia mengambil gaun rok warna gading. Dan diberi atasan blazer warna navy. Ia memilih perhiasan mutiara untuk mempertegas status sosialnya.


“Jadi selama ini kau tidak pernah memakai cincin pernikahan kita.” Agak jengkel.


“Cincin ini terlalu berharga Suamiku, aku memakai yang duplikatnya.”


“Padahal itu cincin yang aku pesan secara khusus agar kau pakai setiap hari.”


“Cincin ini terlalu istimewa untukku Suamiku. Makanya aku pakai saat terpenting saja.”


“Bohong! Bilang saja biar dinilai masih lajang.”


“Tidaklah, bagaimana bisa kau berpikir aku diluar menggoda pria lain?”


Hikashi merajuk duduk di sofa, ia menyilangkan kakinya. Dan menggigiti kuku jemarinya. Frayza sudah berdandan cantik dengan riasannya. Ia memberanikan diri duduk dipangkuan suaminya. Lalu merangkul leher jenjang pria tampan yang cemburuan.


“Sayang, asalkan hari ini berjalan lancar. Aku tidak keberatan setiap malam melembur buat anak hehehe.”


“Setiap malam sepulang kerja, aku akan memijit bagian sini, ini dan ini. Kau akan suka kan?” suaranya mendesah ditelinganya Hikashi seorang membangunkan gairah.


“Jangan pegang-pegang itu, ini masih pagi.” Tersipu malu keenakan dipegang.


“Aku suka hehehe.” Goda Frayza.


“Aku harus bekerja ada rapat, kau boleh datang ke Sekolah Jade nanti. Aku bisa makan siang dirumah bersama Seven. Tapi jangan ganjeng ya!”


“Hihihi.” Berhasil membujuk suaminya yang sudah luluh oleh belaian lembut dari tangannya.


“Soal punya anak lagi, kau jangan besar kepala dulu. Karena aku akan membujuk Seven untuk membelaku.”


“Ah curang-curang!”


“Hehehe kau juga sudah main curang Frayza, lihat kau duduk dipangkuanku sekarang.”


“Baiklah, aku akan turun kalau begitu.%


“Eitss jangan begitu, biarkan begini dulu. Berikan aku ciuman pagi, lipstikmu terlalu pekat warnanya. Biar aku hapus sedikit agar lebih alami.”


Mereka duduk dan berciuman bibir dengan penuh gairah. Hikashi sangat menikmati ketrampilan Frayza yang mengimbanginya. Hasratnya kembali memuncah ingin melakukan hal lebih.


“Mama ini sarapanmu!” teriak Jade masuk kamar tanpa ketuk pintu terlabih dahulu.

__ADS_1


Sontak adegan panas itu harus segera diakhiri, Hikashi pura-pura membenarkan dasinya. Dan Frayza seolah merapikan lipstiknya yang belepotan. Padahal bekas warna merahnya sudah menempel di bibi Hikashi.


“Aku sarapan dibawah.”


“Aku sarapan dikamar.”


“Aku langsung berangkat kerja.”


“Iya, hati-hati dijalan.”


“Jangan lupa hubungi aku jika ada sesuatu.”


“Nanti aku kabari terus dirimu.”


Jade melihat sikap aneh kedua orang tuanya yang kasak-kusuk usai ia datang kembali.


Seven yang sudah dibujuk mati-matian dan ditakut-takuti Jade. Akhirnya memberikan suaranya, ia menolak memiliki adik. Masalahnya Seven tidak mau mendengar suara tangisan bayi. Dia bisa merawat Xirion dengan baik, tapi ia tidak bisa menjamin bisa sayang kepada calon adiknya kelak. Sambil mendengarkan penuturan putra bungsunya. Hikashi menelan salivanya dengan berat. Kedua anaknya tidak mau kasih sayang ibunya terbagi-bagi. Selama ini Hikashi kekurangan waktu berduaan dengan istrinya. Belum lagi kalau dua kecebongnya rewel. Sudah pasti akan menyita jatah waktunya sebagai bayi tua. Disini Hikashi mengalah dan setuju jika tidak akan ada bayi lagi yang lahir.


Ketika tiba di sekolah Jade, Frayza yang baru muncul mencuri perhatian para orang tua murid. Mereka melihat ibu Jade yang mereka pikir orang biasa. Ternyata sangat cantik seperti gadis usia dua puluhan tahun. Kulitnya kenyal dan kencang, bahkan para orang tua pria sesekali melirik istri Hikashi. Ada yang mencoba duduk disamping Frayza. Tapi, ada kaki yang menendang kursi duduk tersebut hingga terpental.


“Papa?”


“Hmmmb.” Mengencangkan dasinya.


“Papa kenapa kemari?”


“Aku masih tercatat sebagai orang tuamu kan di rapot?”


“Iya sih, tapi kan sudah ada Mama disini. Salah satunya saja yang datang tidak apa-apa.”


“Jelas ini ada apa-apa lah, karena ini momen spesial perdana orang tuamu lengkap datang. Papa mengundurkan jam rapat untuk datang kemari. Seharusnya kau terharu Jade, bukannya curiga.”


“Soalnya Papa kan suka mengekor Mama kemana pun.”


“Eh kok begitu. Mana ada Papa mengekor Mama mu, sudah sepantasnya undangan orang tua dihadiri ayah-ibunya.”


“Lalu kenapa Papa menendang kursi milik ayah temanku, bukannya itu perilaku tidak baik.”


“Aku ingin duduk disebelah Mama mu. Mana mungkin Papa duduk berjauhan dari Mamah mu!”


“Sudah kuduga, Pasti Papa akan mengacau acara ini.”


“Papa janji selama acara akan duduk diam.”


“Baiklah, jangan buat keributan.”


“Siap, Bos.”


“Sudah, jangan ngobrol terus. Wali kelas Jade sudah masuk.” Pinta Frayza agar ayah dan anak itu tenang.


Jadinya, kabar Jade sebagai anak pungut yang selaku melekat pada dirinya. Sudah hilang, sekarang Jade adalah anak emas orang tuanya. Memiliki ayah naik kendaraan Bagus. Ibu yang cantik selalu awet muda, suatu kebanggaan selama masa disekolah Jade.

__ADS_1


__ADS_2