TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PENASARAN


__ADS_3

Iring-iringan mobil datang dan satu persatu pengawal berjas rapi keluar dan mereka mengepung Ramon dan Frayza berdiri. Semuanya menodongkan senjata api.


“Kalian dikepung, angkat tangan dan berbaliklah!”


Tangan keduanya ditali, lalu kepalanya dibungkus dengan penutup kepala dari kain. Mulut mereka dilakban, dan dimasukkan kedalam mobil. Entah kemana mereka akan dibawa pergi. Saat ini baik Ramon dan Frayza berada di mobil yang terpisah.


“Kami sudah menangkapnya Ketua!”


Sepertinya Ramon dan Frayza sudah berada ditempat penculiknya. Dan saat penutup kepalanya dibuka, sosok yang sudah menculik mereka ketahuan.


“Ketua Matsumoto?” teriak Ramon yang kaget sosok yang berdiri di depannya.


Cetaaaarrrrr!!! Sebuah cambukkan diarahkan dipunggung Ramon dengan keras. Frayza tak mampu mengeluarkan suaranya melihat Ramon disiksa, dan sekali lagi Matsumoto akan mencambuk Ramon. Tubuh Frayza melindungi Ramon, dan lambaian tangan Matsumoto ditahan oleh Hikashi.


“Bukankah aku menyuruhmu mencari dan menangkap pencuri mobilku bukan?” Dia merebut cambuk dari tangan Matsumoto kemudian membuangnya.


“Tuan muda,” Matsumoto kemudian berlutut meminta ampun karena sudah membuat kesalahan.


“Berikan aku alasannya!” Hikashi meminta Ramon menjelaskan kenapa dia memakai mobil dan pergi.


“Maafkan sayang Tuan Muda, saya memakai mobil biasa yang agen lain pakai. Untuk ke Rumah sakit,” Frayza semakin menenggelamkan kepalanya lebih dalam mendekap Ramon. Gadis itu benar-benar ketakutan bila Hikashi melihat sosoknya sebagai perempuan Asia.


Pengalaman sebelumnya, Hikashi hobi menyiksa wanita berparas Asia. Itu karena kegemarannya ketika mendatangkan wanita panggilan.


Sambil menarik helainan rambut Frayza yang panjang dan lurus. Gadis yang kini dia amati sangat dekat meringkuk ketakutan, tubuhnya gemetaran tak karuan. Slappp... hikashi membuka lakban penutup bibir Frayza. Namun, matanya terpejam tak berani menatap Hikashi yang sangat dekat. Bahkan aroma wanginya sangat kental dan aura hangat tubuhnya bisa dia rasakan.


Sambil mengusap wajah Frayza dari pelipis, turun ke pipi. Pipi yang lembut dan kenyal itu dibelai dengan perlahan-lahan. Jempol jarinya mengusap bibir merah merekah yang selalu basah milik Frayza. Sambil mendekatkan wajahnya dia berkata “Rantai dan bawa gadis ini di kamarku!”. Tak ada seorang lelaki yang boleh membawa Frayza, hanya pelayan perempuan yang diijinkan saja.


“TIDAKKKKKK, HUKUM SAJA AKU TUAN HIKASHI. JANGAN SIKSA DIA, AKU MOHON!!!” Ramkn berlutut di kaki jenjang yang pria yang terkenal kejam dan tidak manusiawi terhadap perempuan.


“Bukankah akan menarik jika gadis itu ku berikan kenang-kenangan Indah sebelum bertemu denganmu lagi. Apa kau sudah lupa, biasanya inilah tugasmu biasanya. Mengantarkan gadis untuk Tuan Hikashi!” cecar Matsumoto menjelaskan sikap Hikashi baru saja.


“Tapi dia bukan wanita penghibur, gadis itu adalah kekasihku. Aku mohon kembalikan dia kepadaku.” Ramon terus mengiba kepada Hikashi yang tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


“Kau bisa mencari gadis lain yang jauh diatas gadis itu, untuk apa kau memohon jika tuan Hikashi sudah menghendakinya!”


Dan pengawal lainnya menghajar Ramon sebagai hukuman karena telah membawa mobil dan pergi saat bertugas. Lalu, protes dengan melarang keinginan Hikashi terhadap wanita.


Setelah Hikashi merasa Ramon mendapat imbalan yang setimpal karena membuatnya jengkel. Dia menyuruh pengawal membawanya ke kamar. Sedangkan Matsumoto mengikuti Hikashi yang menuju kamarnya, dimana Frayza disekap. Malam ini Hikashi akan memiliki pemain solo wanita, terlebih lagi Frayza adalah gadis Asia yang sangat dibenci Hikashi. Hikashi mengeluarkan pisau dari balik jubahnya. Pisau tajam yang sudah digadang-gadang akan digunakannya didalam kamar.


Setelah masuk di dalam kamar yang gelap, terdengar sengal nafas beradu dengan sedu sedih tangisan. Cahaya lampu yang temarang ini membuat seluet tubuh gadis yang elok ini membuat darah Hikashi mendidih. Matsumoto menunggu di luar kamar dan berjaga. Karena tuan besarnya akan melakukan hal yang sangat disukainya.


Sambil mengangkat leher Frayza yang mulus, dia mendongakkan wajah gadis cantik yang sudah tak berdaya itu. “Hukkksssss emmmmbbbb... Emmbbb, “ gadis itu berontak karena pisau tajam sudah diatas wajahnya, siap dihujamkan.


“Jangan menggelengkan kepalamu!” perintah Hikashi yang mengangkat tangannya keatas memegang pisau.


Setelah dia mendekatkan lagi wajahnya, tiba-tiba Hikashi membanting tubuh gadis yang sudah terikat tali dan mulutnya ditutup lakban.


“Matsumoto!!!” Hikashi naik pitam memanggil pengikut setianya. Dan kemudian penjaga yang berdiri masuk kedalam kamar semua.


“Kenapa gadisnya berubah?” Hikashi tidak terima dan marah melihat gadis yang sedianya untuk dirinya berganti.


“Tidak mungkin?” Matsumoto kecolongan lagi, baru kali ini dia kecolongan sandra yang kabur.


Pelayan wanita yang membawa Frayza tadi ternyata sudah berpindah posisi. Sekarang Frayza berada diatap rumah Hikashi kabur melalui jendela. Ketika pelayan wanita itu membawanya. Dia melemahkan pelayan wanita itu, kemudian melakukan hal serupa yang diinginkan Hikashi kepadanya. Seluruh penjaga berhamburan keluar mencari Frayza, gadis yang diinginkan Hikashi. Karena dirinya sudah hafal lokasi yang aman tanpa pantauan kamera pengintai. Akhirnya dia selamat dan masuk kamarnya lagi, dia mencopot semua atribut yang dipakainya. Lalu menyimpannya ditempat teraman. Setelah membersihkan dirinya, Frayza lalu meminum obat tidur agar dirinya biaa terlelap dan tak terusik dengan situasi yang riuh.


“Maafkan kami Tuan, seluruh lingkungan kediaman ini dan kamera pengintai tak dapat menemukan gadis itu berada.”


Hikashi mengepalkan tangannya geram,” Arrrgggghhhhh!”


“Lalu, bagaimana kalau Ramon menanyakan pacarnya sudah tiada?”


“Kau yang bertanggungjawab atas situasi ini, aku muak kepadamu!”


Tampaknya Matsumoto akan tertimpa kemalangan lagi perihal sudah menghilangkan kekasih Ramon. Dan gagal menemukan mainan Hikashi yang baru saja kebur.


*

__ADS_1


*


*


Sebuah koler berisi uang diberikan kepada Ramon sebagai kompensasi atas tindakan semalam.


“Cuih!” Meludahi koper berisi uang.


“Ketahuilah, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan uang ini sebagai kompensasi. Pacarmu tidak dapat kami temukan, dan gunakan ini sebagai kompensasinya.”


“Jika aa aa aa aaaaahhhh,” Ramon berteriak dalam keadaan tangan mengepal siap menghajar Matsumoto. Namun, ia urungkan karena ini kediaman Hikashi. Dia kan mati sia-sia jika gegabah.


Akhirnya Matsumoto pergi keluar dari kamar Ramon bersama pengawal lainnya. Mereka tampaknya masih akan memburu gadis yang tiba-tiba hilang tanpa meninggalkan jejak dan petunjuk. Bahkan anjing pelacak dikerahkan untuk mencium aromanya. Namun gagal semua, seolah gadis itu bisa menghapus aroma tubuhnya. Jejaknya menghilang bersama waktu yang terus berjalan.


Tidurnya benar-benar nyenyak berkat bantuan obat tidur yang dia minum sebelumnya. Kakinya yang masih terluka itu, tampaknya sudah berganti plester semalam.


“Sssssstttt!” Ramon mengisyaratkan agar Frayza tidak bersuara.


Gadis itu memeluk Ramon dengan erat, tapi sayangnya punggung Ramon sakit karena usai dihajar rekan kerjanya yang diperintahkan untuk menghukum kesalahannya.


“Syukurlah kalau kau berhasil kabur, aku tidak tahu kalau sampai kau terluka lagi.” Ramon terharu melihat Frayza yang sudah bangun dengan keadaan baik-baik saja.


“Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, terimakasih untuk ini.” Memamerkan kadua kakinya yang sudah membaik.


“Apa kau harus ini mau aktif bekerja lagi?” Frayza mengangguk penuh semangat.


“Lantas dimana kau membuang aksesorismu?” Frayza menatap atap kamar tidurnya.


“Owh,” pria itu mengacak-acak rambut Frayza karena gemas.


Mereka lalu berkumpul bersama pengawal yang bertugas dirumah Hikashi untuk sarapan dan apel pagi, yang masih memprioritaskan keselamatan Damora selama gadis itu tinggal disini. Setidaknya, keberadaan gadis misterius itu sudah tidak dianggap ada lagi oleh Hikashi. Namun, kekhawatiran akan tertangkapnya nanti juga bisa jadi masalah suatu saat nanti. Hanya saja, sekarang ini dia masih aman posisinya karena ada Damora.


Slang.... Claaaaarrrkkkk “Hussshhh... Hussshhh...hussshhh,” Hikashi membabat habis semangka menjadi potongan kecil-kecil dengan permainan pedanganya.

__ADS_1


Pagi ini, dia sudah tidak menanyakan lagi perkembangan informasi tentang kekasih yang datang bersama Ramon. Karena Matsumoto sudah menjamin kalau gadis itu sudah raib, dan uang kompensasinya sudah diterima oleh Ramon. Hikashi tersenyum dan menekuk kepalanya agar ototnya meregang usai latihan pedang.


__ADS_2