
Belum genap sehari berpisah dengan raga suaminya, Frayza merasa suntuk di rumah besar milik Hikashi. Bahkan pelayan yang melayani tidak diijinkan bicara.
“Aku benar-benar sudah bosannnnn,” tubuhnya tengkurap dan menghentakkan kakinya berulang kali.
Frayza merasa kesepian disini, walaupun sebenarnya ada banyak pekerjaan sudah menantinya. Kejenuhan dan kebosanan mulai menyergapi dirinya. Alhasil ia masuk ke garasi kendaraan. Dia menemukan harta karun milik suaminya yang berjajar rapi. Takjub dan tertegun dengan koleksi kendaraan milik suaminya ini. Mulai mobil klasik hingga super semuanya ia koleksi. Menurut Frayza mobil ini sangat mahal bila tergores. Jadi dia masih berkeliling mencari kendaraan yang pas untuk dibuat berkeliling. Akhirnya dia melihat sepeda motor besar, tunggangan yang maskulin dijalan Raya. Frayza tentu menguntungkannya, karena tidak sesuai dengan gestur tubuhnya. Dari sekian banyak kendaraan yang ada, semuanya untuk lelaki.
“Hufttt, bosan sendirian tidak ada mainan.” Menggerutu keluar dari garasi.
“Nona, ada tamu yang ingin bertemu.”
“Siapa? “
“Dokter Kelvin, beliau kemari atas perintah Tuan Hikashi.”
“Suruh dia kemari,” Frayza malah untuk menemui Dokter Kelvin yang datang.
Pelayan bersama Dokter Kelvin menyusul Frayza berada sekarang. Sebuah garasi luas dan besar, serta memiliki 2 lantai untuk menaruh koleksi kendaraan Hikashi.
“Untunglah kau kemari, bisa bosan aku jika kau tidak datang.”
“Memang kau tidak ada kegiatan gitu, misalnya tidur.”
“Kau ini, aku sudah biasa beraktivitas. Jadi rasanya tubuhku ini aneh kalau hanya tiduran dan duduk-duduk saja. Semuanya terasa pegal-pegal.” Memutar lehernya yang kram.
“Mungkin itu efek, oiya bagaimana keadaanmu? Ku dengar kau mengalami pendarahan ya, apa selama ini kau tidak rutin datang bulan?”
“He’em, aku bisa dihitung beberapa kali datang tamu dalam setahun. Memang aku ada masalah apa?”
“Oh itu, Tuan Hikashi bercerita kepadaku jika aku harus melakukan observasi kepadamu. Siapa tahu ada masalah dalam rahimmu.”
“Apakah aku mengidap penyakit yang cukup berbahaya?”
“Jangan bicara buruk dulu ah, kebiasaan!”
“Soalnya aneh saja,” menggaruk kepalanya.
“Makanya aku datang kemari untuk menjemputmu. Cepat bersiap-siap, kita akan menemuo Dokter kandungan.”
“Hai, aku tidak sedang program hamil. Jadi untuk apa aku kesana, buang-buang uang.”
“Jangan berlagak orang miskin ya, suamimu itu Bos-ku dia tidak mungkin membiarkanmu kekurangan sepeser uang.”
“Ehhheee, kau kan tahu sendiri kan Dokter. Kalau aku baru menyusun rencana untuk membeli perlengkapan pribadiku. Lihatlah, baju yang aku pakai ini. Hikashi memujiku cantik, aku ingin ketika ia kembali aku sudah membuatnya senang.”
“Alokasi kesehatan ada posnya sendiri, Fray. Kamu ini ada-ada saja.”
“Hehehe,” cengar-cengir.
__ADS_1
“Fray, ayo kita cepat bersiap pergi. Aku tidak ingin terlambat konsultasi dengan dengan Dokter kamdungan. Tuan Hikashi tidak suka kalau kau tidak menurut dan lelet. “
“Aku ambil tas dan ponsel dulu ya,”
Dokter Kelvin menelisik tempat-tempat yang sekiranya terpasang kamera pemantau. Dia mengamati dinding dan langit-langit yang masih polos.
“Kau melihat apa?”
“Tidak, ku lihat rumah ini belum sepenuhnya selesai ya. Dan ini, barang-barang masih terbungkus kardus. Kau belum sempat membukanya ya?”
“Belum,”
“Baiklah nanti aku bantu, selesai mengantarmu dari Rumah Sakit.”
“Tidak usah, aku ingin membongkarnya bersama pelayan dirumah ini.”
“Kalau kau ingin membongkarnya dengan pelayanmu, kau tinggal suruh mereka saja. Tidak usah ambil andil!”
“Aku ingin mengakrabkan diri saja, soalnya mereka kan bekerja dirumah ini. Masak aku tidak mengenali pelayanku, kan aneh.”
“Kau yang aneh, dalam aturan keluarga. Seorang majikan tidak disarankan dekat dengan pelayan mereka. Untuk meminimalisir kecurangan, ah sudahlah kau tidak akan paham ucapanku. Sekarang ini otakmu lagi tumpul. Lekas masuk ke mobilku, buru-buru.”
Saat keduanya pergi, para pelayan yang bekerja seperti hantu itu mengirim pesan. Melaporkan hal yang baru saja mereka rekam.
*
*
*
Di dalam sel penjara ini, Franda benar-benar tersiksa baik jiwa maupun raganya. Dia awalnya melawan dengan rekan satu selnya. Namun, akhirnya dia harus bertekuk lutut dan menjadi pelayan suruhan. Tubuhnya yang dulu gempal dan berisi, sekarang menyusut dan kumal. Rambutnya kusut, wajahnya mulai muncul keriput dan kulitnya kusam lebam. Hari yang ia lalui ini teramat berat, rasa sesak didalam dadanya terasa pilu. Sedikit harapan kala Julian membesuknya saat senggang.
“Kak, aku bawakan keperluan wanita dan makanan. Kau tampak kumuh dan memprihatinkan.”
“Dipenjara memang ada apa tahanan yang makin cantik?”
“Setidaknya makan dan tidur yang teratur, jangan lupa olah raga.”.
“Julian, apa kau pikir Penjara ini asrama yang hidupnya damai?”
“Maaf kan, jika kau tidak berkenan dengan masukanku. Aku hanya ingin menunjukkan perhatianku sebagai adik.”
“Camkan baik-baik ucapanku ini ya, tidak ada kebaikan yang bisa diambil dari jeruji penjara. Cari cara agar William mau membebaskanku. Setidaknya aku sudah berjasa melahirkan anaknya!”
“Kemana aku harus mencarinya, dia orang yang sibuk. Pertahanan keamanannya sangat sulit ditembus oleh diriku ini.”
“Hih, entah kenapa terkadang aku berpikir kalau kau tidak berguna sebagai pria. Bodoh!”
__ADS_1
“Kak, jangan mengataiku seperti itu kau sangat menyinggungmu tahu!”
“Kau memang bodoh dan tidak berguna, apa ada kalimat yang cocok heh?”
“Baik, terimakasih atas ocehannya. Aku akan buktikan jika ucapanmu salah, aku bisa menjadi pria terhormat dan bisa diandalkan. Permisi Kak, aku harus pergi banyak urusan.”
“Urusan apa? Keluarga kita sudah bangkrut Julian, baik Ayah dan Frank. Semuanya sudah mendekam di penjara semua. Hanya tersisa kau, lebih baik kau menyusul di Penjara saja. Hidupmu terjamin dan tidak perlu susah mencari uang.”
“Kak, otakmu sepertinya sudah tidak bisa untuk berpikir jernih. Aku tahu kau mengalami kemunduran mental yang berat. Semoga kau bisa bertahan disini samping masa tahananmu selesai.!
“Julian, keluarkan aku dari sini. Cari William sampai dapat, karena hanya dia harapanku satu-satunya!”
“Baiklah Kak, aku akan mencari kelemahan William untuk menekannya.”
“Bagus, terimakasih hiks hiks hiks.”
Sikap keluarga Xi Huan ini sudah labil, nama baik dan ekonomi mereka sudah hancur. Satu-satunya tempat tinggal yang tersisa ialah rumah lama mereka. Dengan sisa hasil lelang penjualan, Julian mulai bangkit membuat butik kecil dan menjual kain. Sangat sulit menarik pelanggan untuk datang di butik yang ia kelola, selain tidak bakat mendesain baju. Julian juga mempekerjakan pegawai lama di Butik Barbara. Walaupun tidak bisa menggaji setinggi ibunya, setidaknya Julian berusaha agar pegawai mendiang ibunya masih memiliki pekerjaan. Ia juga bingung bagaimana strategi pemasaran dan menggaet pelanggannya. Tak jarang Julian memakai tubuhnya untuk memperkenalkan koleksi dari Butiknya.
“Julian, kau dari mana saja?”
“Aku dari Penjara membesuk Kak Franda, ada apa?”
“Ini tagihan bulanan yang harus kau bayar,”
“Oh terimakasih Bibi, aku akan urus ini.”
Julian menerima surat teguran karena terlambat membayar hutangnya. Sedangkan bahan di Butik menumpuk banyak, karena sepi pesanan. Dia masuk ke dalam kamar milik Frayza, dia membaringkan tubuhnya sambil menerawang suasana kamar. Tangannya menggelatak meraba isi nakas, tanpa sengaja ia merasakan benda padat dan bergerigi.
“Apa ini?” dibukanya perlahan henda yang ia rasakan tadi.
Sebuah buku lawas milik Frayza, ia tiup bagian permukaannya yang berdebu. Pada bagian awal halaman, coretan tangan Frayza mengenai metode dasar pembuatan baju. Semakin ia baca dan kebelakang. Ada sketsa gambar rancangan baju yang masih hitam putih, dalam catatannya Frayza juga menambahkan keterangan bahan material yang diperlukan. Manik mata Julian terenyuh mendapati harta karung berhaga ini. Segera ia keluar dari kamar, untuk diberikan kepada Bibi Fang tentang penemuannya ini.
“Wah, ternyata bakat Ibumu menurun kepada saudara sulungmu ya. Dan sketsanya lebih rinci pada detailnya. Frayza sekalinya sudah tiada, tapi prestasinya masih bisa diwariskan.”
“Bibi Fang, kenapa kita tidak buat saja pakaian ini?”
“Apa kau yakin?”
“iya aku yakin, kau pasti bisakan membuatnya.”
“Emmmbb bisa sih, disini sudah ada rinciannya jadi sangat mudah. Tapi koleksinya masih sedikit, apa kau bisa membuat rancangan lagi?”
“Aku akan belajar lewat internet, kau buat saja yang sudah ada. Sisanya serahkan padaku hehehe.”
“Baiklah anak nakal, kali ini Bibi setuju dengan gagasanmu.” Mencubit pipi Julian.
Pertama-tama mereka memilih bahan, kemudian membuat pola ukurannya. Julian ikut terlibat dalam proses ini, setelah masuk tahap penjahitan barulah Julian belajar dltentang merangcang busana. Geliat butik kecil ini mulai ada gairah berkobar. Walaupun pendapatan masih kecil dan pengeluarannya besar, Julian tak patah arang. Walaupun terkadang ia menjajalannya lewat brosur-brosur yang ia bagikan.
__ADS_1