
“Silahkan masuk Nyonya,”
“....” Frayza memalingkan wajahnya.
“Sayang, kau kenapa tidak masuk?” tegur Hikashi dari dalam mobil.
“Hih!” membual.
“Apa aku ada salah?”
“Pikir saja sendiri, aku tidak mau masuk mobil ini lagi!” memilih berjalan kaki.
“Tuan, bagaimana ini?” tanya Sopir.
“Haih... Kenapa lagi ini wanita ini, hah!” turun dari mobil mengejar Frayza.
Usilnya, Hikashi tidak menarik tangan. Namun, kerah kemeja Frayza agar berhenti berjalan.
“Aaaa... Sakittt Hikashi!”
“Hemmmb, ini akibat membantah suami!”
“Suami yang serong tidak patut untuk ditaati!”
“Serong? Siapa yang serong?”
“Kau, dan kau, dan kau dan Kau!” mencerocos tak berhenti.
“Kau ini ya, aku sejak tadi didalam mobil. Tidak melakukan apapun, kecuali mengecek laporan kerja. Jangan mulai mencari masalah ah!”
“Aku cari masalah? Kau yang memivu masalah bersama Yuki!”
“Suki?”
“Yukiiiii!”
“Rukii?” salah dengar lagi.
“Yuki!!! Yuki, Hikashii!!!” geram.
“Yoki?” mulai budeg.
“Hah muak ah, sudah dibilang Yuki jadi nama yang tidak-tidak disebut!” cemberut.
“Hai, siapa yang dimaksut Istriku ini?” Bertanya pada Sopir.
“Gadis yang berlutut diaspal tadi Tuan.”
“Oh...” membulatkan bibirnya.
“Oh apa, kau suka ya hah!” teriak Frayza.
__ADS_1
“Sayang, alasanmu cemburu apa jangan lucu ah hahaha.”
“Hikashi!”
“Ups oke baiklah, bicaralah dengan tenang. Aku janji akan berkata sejujur-jujurnya.”
“Nyonya sebenarnya itu...”
“Biarkan Istriku bicara dahulu, kau belum diijinkan bicara.” Sopir diam.
“Aku lihat kau turun dari mobil dan menyentuh pundaknya.”
“Dia berlutut di aspal Sayang, nanti kotor bajunya.”
“Apa urusannya kalau bajunya kotor! Toh kau bukan orang yang membayar binatunya. Apa jangan-jangan mulai naksir gadis muda?”
“Istriku, dia berlutut memohon agar aku tidak membawamu kembali ke Inggris. Dia bilang disini sedang mengalami masa sulitnya. Dia hanya butuh dirimu sebagai sumber penyemangatnya.”
“Cih, omong kosong apa yang hendak dibicarakan si Yuki kepadamu. Tapi aku tidak suka, tidak terima!”
“Frayza, apa kau takut kepadanya?”
“Apa?”
“Pandangi mataku, hanya kau seorang yang aku lihat.”
“Bohong!” memalingkan wajahnya.
“Yuki memohon dan berlutut membujukku agar kau tetap tinggal di Jepang. Gadis itu lucu sekali hehehe.”
Plak... Plak... Plak... Tangan Frayza melayang ke tubuh Hikashi.
“Au... Au... Sakit Sayang.”
“Itulah sebabnya aku benci wanita penggoda. Sudah beraninya dia menarik perhatianmu. Apa dia mau menikungku secara terang-terangan?”
“Jangan bicara begitu Sayang, percayalah. Tak ada sepatah kata pun kuberikan padanya.”
“Bohong,” cemberut.
“Kau harua percaya padaku ya, sekarang kita masuk mobil. Dan segera kembali pulang.” Membujuk.
“Tidak mau, sebel!”
“Jangan memberontak begitu Sayang.”
Hikashi sebetulnya tidak bersalah, hanya saja Yuki yang mengetuk jendela mobil. Awalnya Hikashi tidak peduli, dipikirnya orang mengemia minta makan. Tapi, Yuki memaksa sehingga Hikashi geram. Lantas keluar, turun menemui Yuki.
“Aku mohon Tuan Hikashi, jangan membawa pergi Nona Frayza. Tinggalah di Jepang, apa jadinya Butik ini tanpa dia?”
“Maksutmu apa?”
__ADS_1
“Baru saja, saya menerima surat pemecatan secara sepihak. Ini pasti hasutan dari Helena.” Menfitnah.
“Helena memecatmu karena alasan apa?”
“Aku tidak tahu apa yang direncanakan wanita tua itu. Yang jelas Nona Frayza memberikan surat ini. Dan ku lihat tadi ia masuk kedalam ruangan kerja Helena.”
“Maksutmu istrinya di doktrin sebagai alibi pemecatan dirimu begitu?”
“Sudah pasti Tuan Hikashi,” Yuki bersandiwara.
“Ah itu ya masalahnya, mengenai urusan Butik. Aku tidak mau ikut campur, karena sebenarnya pemilii saham tersebar Butik adalah istriku sedangkan Helena hanya pengelola. Istriky berada di Butik supaya tidak bosan menunggu Seven pulang sekolah. Dia tidak bekerja di Butik, melainkan ialah Bos dari Butik itu sendiri.”
“A-apa?”
“Berdirilah,” Nah moment inilah yang membuat Frayza salah paham.
Yuki yang menggeliatkan kepala dan lehernya langsung bereaksi seperti wanita ******. Walaupun pundaknta yang disentuh oleh Hikashi. Ia seperti terbakar birahi nafsu.
Frayza yang cemburu melihat ekspresi Yuki inilah yang menyalakan api amarahnya.
“Aku mencintaimu, mau secanti bidadari sekali pun wanita yang membuka pahanya untukku. Aku tidak akan menghianati ibu dari darah dagingku.”
“Jangan merayu, hiks hiks.” Aslinya dia bahagia dirayu Hikashi.
“Aku tidak menggombal Sayang, apa pernah aku tidak menurutmu. Segalanya, bahkan apapun sebelum kau minta. Sudah pasti aku iyakan, ah iya tidak hanya itu. Sekali pun kau berbuat kesalahan, sudah ku berikan maaf selapang-lapangnya. Tidakkah kau paham, betapa dalamnya perasaan yang tumbuh dalam sukma ku ini?”
“Hentikan puisi mu Hikashi, kau bukan sastrawan!”
“Apa yanh aku bicarakan ini spontas Sayang. Jika kau tidak percaya, ayo kita bercinta disini saat ini juga!”
“Heh heh heh kau ini, kenapa melepas jas dan mengendorkan dasi! Cepat pakai.”
“Tidak, kau mau bukti kan. Ayo kita bercinta ditempat umum. Aku tidak malu, “ membuka gesper ikat pinggang.
“Cukup Hikashi, kau ini keterlaluan. Tidak bisakah kau bersikap dewasa, caramu ini konyol. Seperti maniak!”
“Iya, memang aku maniak. Memang konyol, jika kau masih cemburu.”
Kenapa yanh jadi marah Hikashi, kan yang ngambek Frayza karena cemburu.
“Aku tidak suka tanganmu menyentuh pundak wanita lain. Telingamu mendengarkan ucapan wanita lain. Matamu melihat wanita lain, serta aku tidak mau dirimu peduli kepada wanita lain.”
“Aku milikmu, jika itu mau mu katakan apapun yang membuatmu puas. Rantai saja aku diranjang bila kau haus kasih sayangku.”
“A- apa katamu?”
“Bercintalah denganku, lakukan semua kemauanmu sampai kau puas memiliki ku. Aku rela jadi tawanan cintamu, Frayza.”
Emang rada ada konslet-konsletnya ini isi kepalanya Hikashi. Umumnya pria akan memotong masalah supaya tidak panjang. Ini malah menawarkan tubuhnya sebagai alat penukar kekesalan istrinya. Ya sudahlah, akhirnya Frayza mengatakan siapa Yuki sebenarnya. Dia menceritakan panjang lebar sepak terjang Yuki. Sampai akhirnya Hikashi mengantuk mendengarkan cerita hidup Yuki.
“Zzzzzz... Zzzz... Zzzz...” mendengkur.
__ADS_1
“Yah dia tidur, aku seolah menjadi tukang dongen anak TK.”
Mereka duduk di ayunan taman, tak lama kemudian mobil yang menjemput Seven datang. Hikashi terbangun dan wajah istrinya sudah tenang. Ia menggendong Seven dan merangkul istrinya. Membawa pulang keluarga kecilnya ke rumah. Persiapan pindahan ke Inggris di percepat, Hikashi tak mau istrinya menjadi cerewet dan berpikiran buruk terus soalnya. Dengan membawanya ikut ke Inggris, berarti Frayza bisa memantaunya sepanjang waktu.