TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU AKAN MELINDUNGIMU


__ADS_3

Rose merasa perlu memperjuangkan cintanya kembali kepada Julian. Dia bergegas menuju kantor Firma hukum rekananan keluarga mertuanya.


“Rose, kebetulan sekali kau datang kemari. Baru saja suamimu datang menemuiku, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu.” Sapa Andreas.


“Benarkah? Untuk apa Frank datang kemari, bukannya ia sangat sibuk sekali akhir-akhir ini?”


“Entahlah, kebetulan sekali kau kemari. Dia baru saja berkonsultasi tentang pernikahan kalian. Apa kau memiliki sejenis trauma atau program lain?”


“Maksutnya?”


“Emmb,” jarinya bernari didagunya seraya berpikir memilih kalimat yang tepat.”Ku harap kau tidak tersinggung sebelumnya, ini mengenai dirimu.”


“Apa itu, Andreas?” Rose penasaran.


“Frank mengeluh kepadaku, dia ingin menambah momongan lagi. Tapi kau beralasan sibuk dengan pekerjaanmu. Apa pekerjaanmu melarangmu hamil untuk waktu dekat ini?”


“Emb sepertinya tidak, memang kenapa?”


“Karena anak pertama kalian adalah perempuan, Frank merasa tertekan dengan desakan orang tuanya. Jadi begini Rose, karena aku dan Frank berteman baik ketika kami masih kuliah dulu. Dalam keluarga harus adanya anak lelaki sebagai penerus generasi mereka. Terutama keluarga Frank, mereka adalah orang terpandang di negeri ini. Jadi, Frank memintaku membujukmu untuk bersedia hamil lagi atau tidak.”


“Untuk apa dia memikirkan hal sekolot itu, sedangkan Cecilia Putri kami masih kecil. Setidaknya 5 tahun lagi, aku bisa memikirkannya.”


“Rose, ini bukan hal yang sepele yang kau ucapkan. Jika aku diposisi Frank saat ini tentu akan gamang jika kau tidak bisa berkompromi. Frank, lelaki normal Rose. Jika kau keberatan untuk hamil lagi, dia akan mengajukan pernikahan keduanya. Ini surat permohonannya tengah aku susun.”


Mata Rose sepertinya tersadarkan jika Frank tidak main-main dengan keinginannya memiliki anak lagi. “Kenapa dia tidak bersabar hingga Cecilia besar?”


“Frank orang yang sibuk, kesuburan pria jika sudah berumur sangat sulit membuahi wanita. Kau harus tahu itu Rose.”


“Lalu alasannya dengan menikah lagi harus aku benarkan begitu?”


“Tidak ada cara lain,” Andres duduk menyilangkan kakinya.


“Benar-benar kekanak-kanakan caranya, setidaknya dia harus meminta persetujuanku terlebih dahulu dalam mengambil keputusan tindakan.”


“Rose, kepala rumah tangga adalah Frank. Kau boleh menyetarakan diri, tapi kau harus ingat tugas kepala rumah tangga.” Andreas menekankan jika Rose terlalu besar kepala menjadi istri bisa semena-mena menolak kemuan Frank.


“Ini gila Andreas, cih.”


“Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan istri temanku. Itulah sebabnya aku malas menikah karena wanita susah diatur.” Mengangkat kedua tangannya sebahu.


“Andreas, jika aku bercerai dengan Frank berapa banyak harta yang bisa aku peroleh?”


“Hhheee, apa yang baru saja kau katakan?”


“Iya, jika aku berpisah dengan Frank apakah aku memperoleh separuh kekayaannya Frank?”


“Kau ini tidak waras ya, saat suamimu menginginkan anak laki-laki. Kau malah sibuk bahas perceraian. Kalian ini pasangan tidak normal, coba kalian pahami. Mana ada anak yang mau terlahir dari keluarga hasil perceraian?”


“Tidak ada,” jawab lesu Rose.


“Baguslah, aku jika menikah. Seburuk apapun keadaan bersama pasangan, ya sudah itu akan aku pertahankan sampai akhir. Kalian ini, hidup berkecukupan tapi tidak memiliki rasa bersyukur sama sekali.”


“Maaf, Andreas. Kalau begitu aku pulang dulu.” Rose mengcangklongkam tasnya dan pamit undur diri.


Dirumah dia sudah ditunggu Frank, pria itu melepaskan jasnya dan mengendorkan dasinya. Ia menunggu kepulangan istrinya yang belum pulang sampai lewat jam makan malam.


“Darimana saja kau?” tanya Frank yang berdiri didepan pintu.


“Aku dari kantor,” menutup pintu.


“Andreas barusaja cerita kau datang ke kantornya. Bicara apa saja kau kepadanya? Apa kau mencoba menghabiskan waktu di firma temanku?”


“Frank, kenapa kau berpikiran begitu. Aku ini istrimu, walaupun Andreas pria lajang. Dia pasti tidak akan tergoda olehku ini. Aku sudah memiliki suami dan anak, sedangkan Andreas pasti memilih gadis untuk dikencaninya.”


“Jadi kau membahas apa dikantornya?”


“Aku hanya mau mengatakan kepadamu untuk berikan waktu lagi. Aku belum siap mengandung lagi, setidaknya Cecilia tidak kehilangan kasih sayang dahulu.”


“Berapa tahun?”


“Kurang lebih 5 tahun lagi paling cepat.”


“Rose, apa kau bercanda denganku?”


“Suamiku Frank, 5 tahun adalah waktu yang cepat. Maka tidak akan terasa lama, sabar dulu ya sayang.”


“Sepertinya aku kecewa dengan jawabanmu Rose, sepertinya Andreas gagal menasehatimu.”


Frank masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya usai mandi. Dia mengambil kunci mobil, “Sayang, kau kendak kemana malam-malam begini?” tanya Rose yang memakai krim malam.


“Sudahlah, urus saja kepentinganmu.” Frank kecewa karena Rose tidak mau menuruti kemauannya membuat anak lagi.


“Himmm,” melipat bibirnya dan naik keranjang lalu tidur. Rose membiarkan suaminya pergi keluar, biasanya sih mereka pergi ke tempat hiburan malam untuk melepas penat.


*


*


*


Karena hari ini Frayza akan merayakan malam perpisahan dengan Helena. Ia mengenakan baju terbaik yang ia miliki. Seperti motif kesukaanya yaitu bunga-bunga. Ia memakai terusan selutut dan menonjolkan kakinya yang ramping. Mereka tiba disebuah klub hiburan malam.


“Helena, aku tidak bisa masuk ditempat seperti ini.”


“Kau jangan khawatir Frayza, disini kita bebas menjadi diri sendiri. Tidak ada yang peduli dirimu sebenarnya. Ayolah ini malam ini kita bersenang-senang.”


Helena menarik tangan Frayza seperti anak kecil diajak bermain. Didalam sudah ramai pengunjung yang berpesta pora.


“Nah itu meja kita, aku sudah memesannya.”


“Tapi aku tidak minum alkohol ya, karena menyusui Seven.”


“Ok,” mengedipkan mata.


Sebelum Helena kembali ke Amerika, dia berpesan kepada Frayza jika mengalami kesulitan. Ia jangan sungkan meminta bantuan kepada Helena. Dan menyerahkan uang pesangon untuk Frayza.

__ADS_1


“Sebenarnya aku berat melepaskan bakatmu, tapi apa boleh buat. Aku harus menerima keputusanmu, yang ingin berkarier disini sambil membesarkan anak.”


“Helena, kau adalah guru bagiku. Jangan bersedih jika sekarang berpisah, kelak aku pasti akan merepotkanmu.”


“Dengan senang hati aku membantumu hahahahaha.” Helena tertawa dan terus minum alkohol hingga dia mabuk berat.


Frayza sudah panik karena helena mulai diluar kendalinya. Ia mulai bernyanyi diatas meja dan menari nakal. Frayza malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang. Walaupun bukan ia yang melakukannya, tapi dari tatapan orang-orang yang menuju dirinya membuatnya risih.


“Ayo Helena, aku bantu kau mencari taksi untuk mengantarmu ke Hotel.” Frayza memapah Helena yang mabuk berat. Dirinya kepayahan dengan Helena yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Setelah beberapa kali tidak mendapatkan taksi, akhirnya ada taksi kosong yang berhenti. Dia memberitahu Hotel dan membayar ongkos taksinya. Uang yang sedianya untuk ongkos naik taksi, kini harus menjadi ongkos naik bis.


Frayza berjalan kaki ditrotoar, dengan mengenakan jaket jins warna putih. Ia berhenti dibawah lampu rambu lalu lintas.


“Gadis itu,” Frank menoleh ditempat dan kejadian yang sama. Kali ini ia benar-benar tidak salah lihat lagi.


“Siapa?” Andreas yang duduk disebelahnya.


“Gadus yang aku lihat beberapa hari lalu, itu dia.”


“Mana?”


“Ini yang lewat depan kita,” Frayza lewat didepan mobil Frank.


Bippp... Bipp... Bipp... Andreas membunyikan klakson bertubi-tubi sehingga membuat gugup para pejalan kaki yang menyabarang.


“Haisss, apa-apan kau ini memalukan sekali.”


“Hahaha biar menarik perhatian gadis itu, lihat dia sampai tertatih berjalannya karena gugul suara klakson.”


“Kau ini, membuatnya sengsara saja.”


“Jika kau menyukainya lebih baik kau putar balik dan kejar saja gadis itu.”


“Apa aku sedang diajari menjadi suami peserong?”


“Hohoho tadi siang siapa yang datang minta ide menikah untuk kedua kali?”


“Hemmbb,” Frank memutar arah balik dan mencari keberadaan Frayza.


Saat melihat halte bis, Frank telat untuk mengejarnya. Frayza sudah keburu naik kedalam bis. Bahkan sampai pemberhentian terakhir gadis tersebut tidak ia jumpai.


“Ternyata kau dihantui wanita, hahahaha.”


“Aku tidak bercanda ya, sudah 2 kali aku melihatnya. Aku yakin pasti dia turun di halte tapi kita meleng.”


“Hah kau yang tidak sadar diri bila melihat hantu. Tidak, tidak ada wanita yang kau kejar tadi turun di halte. Aku ingat!”


“Terserahlah, semoga saja dia manusia bukan hantu.” Frank berharap agar dapat bertemu wanita tadi.


Didalam bis ini, Frayza tidak bisa turun karena kakinya terkilir. “Pak Sopir, maaf ya merepotkanmu.”


“Tidak apa-apa Nona, terkadang pengguna jalan memang mendapatkan perlakuan buruk dari pengguna mobil.”


Frayza berjalan terpincang-pincang masuk kerumah. Bibi Fang membantunya untuk duduk dan mengompresnya.


“Beruntunglah Julian berkata jika aku harus disini menemanimu. Jika aku tidak ada, bagaimana kau mengurus dirimu dan Seven. Besok jangan ke Butik dulu, kakimu bengkak begini besar.”


“Bibi fang, apa kau lupa kalau besok Julian pesawatnya akan mendarat dari India.”


“Bocah tengik itu sudah selesai menjalankan misinya?”


“Hu’um,” mengangguk.


“Dia pasti menemui banyak kendala.”


Hari dimana Julian tiba dirumah, Bibi Fan dan Frayza kaget. Adiknya tidak membawa barang yang dicari. Ia membawa ransel dan koper saja. “Kau ke India pindah makan dan tidur?” tanya Frayza kesal.


“Di India aku belanja banyak kok Kak, suer.”


“Hey, mana belanjaannya?” tanya Bibi Fang.


“Ada Bi, adaaaa. Sudah aku kirim lewat paket ya, ini resinya.”


“Iya juga ya, seharusnya kan ada keterangan kapan tibanya ya.” Frayza takut kalau adiknya ditipu agen kargo.


Ting tong ting tong, suara bel berbunyi. Seorang kurir datang di apartemen mereka. “Maaf tuan, karena barang kargo anda banyak. Jadi ditaruh mana ya?” menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Hah, kau beli bahan berapa banyak?”


“Julian, apa kau membeli unta dan gajah?” tambah bibi Fang.


“Ti-tidaaakkkk, aku membeli bahas sesuai catatanmu ya kak.”


“Maaf, barangnya ada 3 truk totalnya. Mau ditaruh dimana ya?”


“APAAAAA 3 TRUK!!!” teriak Frayza kaget belanja Julian kebanyakan.


“Hehehe itu Kak, anu lagi diskon dan tokonya lagi promo.” Julian menyeret kurir itu agar segera menyingkir dari hadapan kakaknya yang mulai murka.


Frayza dan Bibi Fang takut, kalau-kalau Julian menjual ginjalnya untuk membeli bahan begitu banyak. Sedangak cicilan apartemen dan kebutuhan sehari-hari mereka bergotong-royong mencukupinya.


“Nah, pak sopir turunkan disini semua ya barangnya.” Julian membuka pintu Butiknya.


Satu persatu kargo barang ini dimasukkan kedalam gudang Butik. Walaupun sudah dijejal, akhirnya paket yang ukurannya kecil ditaruh di sembarang tempat dulu. Biar lain waktu dibereskan lagi.


Pagi hari ketika Frayza hendak beranjak bangun tidur kakinya bengkak dan memar. Ia tak sanggup berjalan dengan tegap.


“Julian, hari ini kakak tidak berangkat ke Butik ya. Kaki kakak sepertinya sakit dibuat berjalan, berdiri saja susah.”


“Kak, kenapa kakimu terluka?”


“Aku gugup saat menyabrang jalan, ada mobil menyalak klakson berkali-kali.”


“Kenapaa kakak tidak memakai mobilku saja,” Julian merasa bersalah.

__ADS_1


“Adikku, aku tidak tahu bisa mengendari mobilmu atau tidak. Jadi aku pergi keluar memakai taksi. Lagipula aku keluar bersama Helena sebentar saja hehehehe.”


“Kak, kita berobat saja ya ke Dokter tulang. Aku takut kakimu patah atau sarafnya terjepit.”


“Tapi Bibi Fang belum datang, bagaimana dengan Seven?”


“Aku segera menghubungi Bibi Fang saja kalau begitu.” Tanpa sadar Julian menekan tombol nomor telepon Matsumoto. “Bibi Fang, kakakku mengalami kecelakaan parah. Apakah kau bisa datang lebih awal untuk menjaga Seven? Aku khawatir jika kaki kakakku patah, tolong ya Bibi Fang!” Julian terus meracau dalam sambungan teleponnya.


“Tuan Julian, apakah kau tidak bercanda?” Matsumoto ikut panik mendengar berita tersebut.


“Hah, Bibi Fang kenapa suaramu tiba-tiba menjadi laki-laki?”


“Tuan Julia, jawab aku sekarang dengan jujur. Apa benar yang kau katakan kalau kaki Nona Frayza patah!” Matsumoto mengeraskan suaranya sampai terdengan Hikashi.


Julian memeriksa lagi nomor yang dihubunginya,”Jiaaaaaaaaaaaaa, salah sambung!!!” ternyata dia tidak gugup sampai salah menekan bar kontak telepon. Ia lalu buru-buru mematikannya.” Kak, kau tunggu saja sampai Bibi Fang datang kemari. Aku harus segera ke Butik membongkar paketanku. Daaahhhhh...” Julian memilih kabur dari meninggalkan apartemen. Kenapa ia begitu ceroboh bicara tanpa menyaringnya terlebih dahulu.


“Ajukan semua jadwal rapatnya, aku ingin menyelsaikan kunjungan kerjaku! “ Hikashi ikut panik mendengar pembicaraan Matsumoto baru saja.


“Baik Tuan Hikashi,” Matsumoto juga takut jika hal buruk terjadi pada Frayza disana.


“Kenzo masih di Singapura?”


“Masih Tuan,”


“Katakan padanya untuk menyiapkan keperluanku selama disana. Aku akan menetap agak lama di Singapura!”


“Ba-baik,” Matsumoto akhirnya mendengar Hikashi bicara atas kemauannya sendiri untuk pergi ke Singapura. Selama ini ia tahu, Hikashi membangun Benteng yang tinggi dan kokoh. Untuk menutupi rasa peduli dan sayangnya. Mungkin ia merasa dikhianati oleh keadaan. Dimana berawal dari kaburnya Frayza, kematian palsu bayinya dan koma Frayza yang direkayasa.


“Aku kesana karena urusan bisnis, bukan urusan pribadi. Jadi kau jangan salah paham!” masih gengsi mengakui kalau dirinya khawatir dengan mantan istrinya.


*


*


*


Gudang penyimpanan di Butik sudah dibongkar paketnya, semuanya berisi kain dam perintilan aksesori. Sedangkan Julian merasa tidak memesan barang yang dikemas peti kayu. Satu per satu peti kayi itu dicongkel. Ternyata isinya adalah bermacam-macam set kebutuhan balita.”Hiaaaaaaaaa apaaa-apaaann ini, kenapa bisa ikut terbawa kemari. Aku tidak mencurinya bukan?” menoleh apabila ada yang melihatnya. Julian lalu menyingkirkan barang yang ditujukan khusus untuk Seven di bekas kamarnya dulu yang masih kosong. “Cahh disini saja aman, sampai aku terima konfirmasi dari agen kargo tentang kepemilikan barang ini.” Julian kemudian menutup rapat pintu kamar tersebut.


Karena Bibi Fang sudah datang ke apartemen seperti jam rutinnya, Frayza jadi bingung tadi Julian bicara dengan siapa kalau begitu. Akhirnya Frayza meminta Julian mengantar dirinya pergi ke Dokter. Dan mampir ke Butik sebentar karena Julian ada tamu yang sudah menunggu.


“Pelan-pelan jalannya ya Kak,” Julian menuntun kakaknya yang pincang.


Dari dalam butik ada dua orang lelaki yang sedang memperhatikan kedatangan Julian dengan wanita cantik.


“Nah itu dia,” Frank memperkenalkan Julian kepada Andreas yang diajak mampir ke Butiknya.


“Cantik sekali perancangnya, aku mau dibuatkan pakaian tidur yang minim.”


“Hilangkan otak mesummu wahai pria lajang!” tegur Frank.


“Hehehe, aku hanya tidak bercanda.” Celoteh Andreas.


“Kak Frank, sudah lama ya menungguku?” Julian melihat Frank yang sudah menunggunya sedari tadi.


“Tidak apa-apa, aku sambil melihat-lihat koleksimu.”


“Kalau begitu, aku urusa wanita tua ini ya.” Maksutnya Frayza.


“Yah silahkan,” Frank menatap mata Frayza yang membuat jantungnya berdegub kencang. Ia memperhatikan wanita yang digandeng Julian ini. Seketika ia ingat jika ia adalah gadis yang tempo lalu kejar.


“Aku akan kejar wanita itu sampai dapat.” Ucap Andreas jelas.


“Apa katamu baru saja?” semoga Andreas tidak berniat merebut targetnya.


“Aku ingin menikahi gadis itu, dalam waktu satu minggu akan ku bawa ia bertemu keluargaku.”


“Kau baru saja bertemu dengannya, bisa jadi ia pacarnya batal calon adii iparku!”


“Frank, kenapa kau tidak balikan saja dengan Franda?”


“Tidak, wanita itu adalah kesalahan.”


“Kata siapa, kau rela meninggalkan pacar pertamamu untuk mengencani adiknya. Aku pikir wanita yang cocok menjadi kandidat istri keduamu ya memang si Franda.”


“Tidakkk, aku masih punya Rose yang jago diranjang. Lagi pula aku dan Franda tidak pernah melakukan hal yang lebih. Tetapi dia menjadi wanita simpanan pria kaya.”


“Jangan menghujat mantanmu ditempat adiknya, mulutmu ini terkadang pedas juga.”


“Memang faktanya begitu, kalau aku dan Julian memang tidak ada masalah. Makanya hubungan kami baik sampai sekarang.”


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Julian turun dan melayani tamunya.


“Nah ini Kak Frank pesananmu semoga kau suka dengan rancangan terbaruku.”


“Memang ada yang berbeda?”


“Polanya dibuat khusus, pasti kau akan nyaman ketika memakainya. Oiya Kak, titip salam selamat ulang tahun untuk anakmu ya.”


“Jangan bilang begitu, kau harus datang juga ke pesta ulang tahunnya. Aku ingin memperkenalkan anak dan istriku kepadamu.”


“Apakah aku mendapatkan undangan?”


“Tentu saja, kalau perlu bawa pacarmu tadi.” Frank berbisik pelan ditelinga Julian agar tidak terdengar oleh Andreas.


Wajah Julian menjadi sedih jika Frank tahu bila wanita yanh baru saja ia lihat adalah Frayza. Wanita yang ia buang dan sudah mati baginya. Tentu saja Julian tidak mau Frayza terancam kembali nasibnya. Menjalani neraka ditangan Frank. Selama ini ia mau menerima pesanan dari Frank karena kebutuhan hidup.


“Siapa tadi?” Tanya Frayza sambil memijat kakinya memakai balsem.


“Pelanggan tetap,” ikut mengoleskan balsem di pergelangan kaki Frayza. Julian sangat menyayangi kakaknya ini melebihi apapun. Dia tidak mau memposisikan Frayza dalam bahaya Frank lagi.


“Oiya, aku tadi sudah menyelesaikan desain gambar diatas mejamu. Besok kau serahkan pada pihak produksi untuk membuat polanya. Aku sudah mencatat bagian pola berdasarkan bahannya.”


“Terimakasih Kak, ayo aku antar kau pulang.” Julian tampaknya kehilangan fokus dengan topik pembicaraan pekerjaan. Ia merasa membawa Frayza ke apartemen adalah cara terbaik.


Sepanjang perjalanan jalan kembali ke Apartemen, Julian melirik wajah kakaknya yang memang lebih cantik dari sebelumnya. Dirinya saja pernah jatuh cinta, apalagi pria lain. Dia mengantarkan Frayza sampai masuk kedalam dan menitipkannya kepada Bibi Fang. Ia mengatakan kalau akan lembur tidak pulang.

__ADS_1


__ADS_2