TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PUDAR


__ADS_3

“Terimakasih,”


“Obat itu akan percuma jika kau aktif. Aku sarankan lebih baik kau berhenti saja.”


“Ini adalah pilihan yang berat bagiku, bagaimana dirinya akan baik-baik saja tanpaku?”


“Dia memiliki pengawal yang banyak, apalagi yabg khawatirkan.”


“Jade, kami memiliki Jade yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua lengkap.”


“Bukannya kau tahu jika Jade adalah anak kandung adikmu dan Hikashi.kau hanya Ibu angkatnya, Fray. Ayolah sadar, ini mengenai keselamatanmu dan...”


“Baiklah Dokter kelvin terimakasih atas nasehatmu. Aku harus menemui Hikashi terlebih dahulu. Kita bicarakan ini nanti, aku janji.”


“Fray, tidak ada Dokter dibelahan dunia manapun yang repa pasiennya terluka lagi. Sekali ia berhasil menyelamatkanmu, jangan sampai kau berhutang lagi.”


Frayza menutup pintu dengan perasaan sesak didalam dada. Baru saja ia mendapati kenyataan yang membuatnya berpikir ulang tentang keberadaanya.


Ia berjalan dengan meraba tubuhnya yang merasakan nyeri dan pegal-pegal. Tampak begitu kepayahan membawa tubuhnya bergerak. Ia menghampiri Matsumoto yang selesai melayani Hikashi minum obat.


“Apa lukamu masih sakit?”


“Hmmmmb, aku masih bisa menahannya. Kemarilah Frayza.” Frayza duduk disebelah bangsar Hikashi. Ia menatap tubuh suaminya yang penuh luka dan lemah.


“Istirahatlah Sayang, aku akan menjagamu.” Mengusap kepala suaminya yang mulai mengantuk.


Belaian lembut yang membelai rambutnya membuat nyaman Hikashi, ia perlahan terlelap tidur. Setelah dipastikan Hikashi benar-benar tidur nyenyak, Frayza menikmati malam yang sunyi. Dari jendela ini nampak lampu bersinar seperti Bintang. Perutnya merasakan kram dan tidak nyaman, diusapnya lagi agar enakan.


“Nona, ada kamar untuk anda. Silahkan istirahat, ini sudah larut.”


“Ehhmmmb, aku beluk mengantuk Ketua Matsumoto. Malam ini rasanya sedikit lama, jadi biarkan aku habiskan minuman ini dulu.”


“Tidurlah Nona, ini perintah Tuan Hikashi. Sebelumnya Beliau sudah membahas mengenai kepindahannya ke Inggris. Sembari proses penyembuhan dan istirahat. Kondisi di Jepang saat ini tidak aman lagi oleh karena ini, saya sarankan Nona menurut.”


“Baiklah,”


Malam ini Frayza tidur di sofa agar bisa sesekali memantau kalau-kalau Hikashi perlu sesuatu. Mungkin efek obat biusnya mulai hilang, Hikashi merintih kesakitan dan demam. Frayza mengompres bagian yang luka agar tidak kebas. Beberapa kali Hikashi mengigau dan bermimpi buruk. Frayza sedih dengan keadaan Hikashi, mungkin inilah sebagian karma yang dipetik Hikashi. Sebagai pengingat bila perbuatannya dulu salah dan merugikan.


*


*


*


“Nona, Nona Frayza sudah pagi. Kita harus segera berkemas.” Matsumoto membangunkan Frayza yang tertidur di sofa.


“Su-sudah pagar ya, hoaammb. Dimana Suamiku?”

__ADS_1


“Tuan Muda sedang melakukan pemeriksaan bersama Dokter Kelvin. Sebentar lagi Beliau akan kembali, Nona silahkan mempersiapkan diri. Keperluan Nona sudah Pelayan siapkan.”


Seorang wanita memakai seragang membawakan baju ganti untuk Frayza. Dia bertugas untuk melayani Frayza untuk bebenah. Pelayan yang sengaja didatangkan dari kediaman mereka.


“Sayang, sepertinya tubuhnya berubah. Apa kau tidak diet? “


“Aku? Mungkin beberapa hari ini aku tidak mengontrol pola makanku Sayang. Kedepan akan lebih ku perhatikan lagi tubuhku.”


“Emmmb, baguslah. Karena kau sedikit aneh saja, kuperhatikan.”


Hikashi duduk diatas kursi roda, karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Matsumoto sudah merawat Hikashi dengan baik, bahkan ia rela menjadi tangan dan kaki Hikashi. Didalam pesawat, Hikashi tak banyak bicara. Dirinya bahkan lebih banyak membuang pandangannya keluar. Sepertinya Hikashi mulai ingat bila dulu rasa sakit yang dirasakan selirnya seperti ini.


“Tuan muda, saatnya minum obat dan istirahat.” Matsumoto membawakan obat Hikashi dan mulai merawat Bosnya.


Dan saat bersamaan pula, Frayza mengambil obat juga dari dalam tasnya. Ia meminum obat dari Dokter Kelvin dengan cepat. Matsumoto tanpa sengaja melihat jenis obat yang diminum Frayza. Ia hendak menanyakan hal tersebut usai melayani Hikashi terlebih dahulu.


“Beritahu Patrick, suruh siapkan kamar untuk Nona. Setibanya di Inggris aku tidak ingin diganggu kecuali urusan pekerjaan.


“Baik Tuan Muda,”


Hati wanita mana yang tidak sakit? Mendengar suami sendiri sikapnya menjadi berubah. Lelaki yang biasanya tak bisa lepas darinya, kini perlahan mulai mengabaikannya. Frayza sudah menahan rasa sedih dan sakitnya. Semalam mungkin Hikashi lupa sudah mencaci maki Frayza saat kesakitan. Bahkan Hikashi juga tidak menyapanya ketika sudah bangun. Dengan begitu pula, Hikashi tidak meminta maaf. Atas sikapnya yang kasar dan cuek terhadap dirinya. Frayza menangis di toilet dengan membekap mulutnya dengan tangan. Ia merasakan sakit hati yang begitu dalam. Ayako adalah selir Hikashi yang menjadi pelopor penyiksaan. Sedangkan demi dirinya pula, Hikashi rela menyakiti dirinya sendiri. Frayza tidak minta dibela oleh Hikashi. Jika memang Ayako menargetkan dirinya, ya sudah Frayza siap menghadapi. Bila sekarang Hikashi terluka dan kesakitan, seolah-olah Frayza adalah wanita pembawa sial.


Sepanjang perjalanan menuju Kastil, mereka masih dia tak saling bicara. Frayza menoleh Hikashi yang menutup mata. Padahal Frayza sangat khawatir tentang keadaan Hikashi. Namun, niatnya ia urungkan saja. Setibanya di Kastil, Patrick menyambut Hikashi dengan tatapan mata yang sendu. Dia tanpa banyak bicara membawa masuk Hikashi ke dalam kamarnya pribadi sedangkan Pelayan wanita membawa Frayza di kamar yang bersebelahan dengan Jade. Saat melewati kamar Jade, terdengar suara gelak tawa bocah imut itu. Ternyata Jade tengau bermain bola, sesekali ia terjatuh. Karena baru belajar berjalan. Frayza masuk, dan memeluk Jade penuh kerinduan. Pelayan yang merawat Jade menjadi sungkan karena Nyonya mereka telah tiba.


“Nona, anda baru tiba dari perjalanan yang jauh. Lebih baik Nona membersihkan diri, dan bisa mengajak bermain Tuan Jade.”


Lagi-lagi Frayza merasa menjadi orang asing dirumah suaminya sendiri. Belum lama ia menyapa Jade harus disela peraturan. Rasanya, rumah besar ini menjadi bangunan es yang dingin dan tak ramah baginya. Pelayan sudah menyiapkan keperluannya didalam kamarnya. Seperti tamu dirumah orang asing, hal ini akan berlaku untuk waktu yang lama. Hikashi tak lagi menengoknya lagi, terakhir ia bertemu Hikashi saat tiba di Kastil. Dan kebersamaan Frayza dengan Jade juga dibatasi. Dengan alasan bila Jade memiliki waktu kegiatan yang sudah menjadi rutinitas.


“Ketua Matsumoto, apakah kau akan menemui Suamiku?”


“Iya Nona,tapi maaf sekarang saya sedang buru-buru. Permisi.”


“Oh baiklah, katakan bila aku merindukannya.”


“Iya Nona, nanti Saya sampaikan.”


Kejadian ini terus-menerus berlanjut hingamga berminggu-minggu berlangsung. Dan Frayza mulai lelah menghadapi keadaan yang menyulitkannya. Suaminya seolah tak peduli lagi keberadaannya disini. Frayza mendatangi Jade untuk menghibur laranya. Terkadang Patrick membatasi waktunya bermain putranya Jade. Dan akhirnya Frayza tidak keluar kamar selama 3 hari. Hanya Pelayan yang datang membawa makan dan mengambilnya lagi. Mereka tidak mengeluarkan suara dan mengerjakan tugasnya saja. Sampai pada akhirnya Frayza mengambil keputusan yang ia tahan-tahan.


Hari ini Hikashi dan Jade pergi keluar dengan urusan mereka masing-masing. Frayza sudah mengabari Dokter Kelvin kalau keberadaannya sudah tidak berarti lagi. Jadi Ramon muncul ke Inggris, menjemput Frayza di Kastil. Saat semua orang sedang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Frayza menyelinap pergi meninggalkan Kastil Indah.


“Yang ikhlas saja Fray, tidak ada yang tahu tentang masa depan. Setidaknya kau sudah berusaha menunjukkan keberadaanmu.”


“Iya,” menunduk sedih.


“Pakai sabuk pengamanmu, perjalanan kita jauh.”


Selama kepergian Frayza, ponselnya tidak berdering sama sekali. Rasa sedihnya semakin teriris saja. Seorang suami yang ia cintai tidak mengacuhkan keadaanya. Bahkan tidak menanyakan kabarnya, juga tidak menemuinya hingga berminggu-minggu.

__ADS_1


“Apa yang baru saja kau buang?”


“Ponsel!”


“Apa kau sudah tidak butuh benda itu?”


“Tidak!”


“Nanti kalau ada yang mencarimu?”


“Tidak ada!”


“Aku akan ambil kembali ponselmu, “ memutas haluan mobil.


“Biarkan saja, untuk apa berharap. Kepada orang yang acuh. Terus saja lakukan mobil ini, jangan berharap lebih kepada manusia.”


“Baiklah Fray, jika itu maumu.”


Kali ini Frayza memiliki bermacam-macam pikiran yang campur aduk. Mulai dari sikap Hikashi yang berubah, jade yang secara halus dijauhkan dari dirinya dan keberadaannya sudah tidak diakui. Ramon membawa Frayza pergi terbang jauh meninggalkan Inggris. Hatinya sudah terluka, seolah dirinya adalah sumber kesedihan.


“Fray,” memberikan tisu.


“Apaan sih, aku tidak menangis. Hanya mengantuk kok.”


“Bohong, sejak tadi kau tidak menguap.”


“Hoammbb, aku sudah menguap kan. Sekarang aku mengantuk mau tidur dulu,”memejamkan mata agar tidak dicela Ramon terus.


“Apa kau tidak penasaran kemana tujuan kita selanjutnya?”


“Tidak, bagiku sama saja!” bicara sambil merem.


“Bali.”


“Haaa, Bali? Serius?”


“Hu’um, disana lebih aman dari kejaran siapapun. Aku membeli Villa sekaligus pelayannya juga, jadi kau tidak akan kesepian.”


“Ramon, betapa baiknya kamu memilih Bali. Aku memang butuh tempat nyaman dan tenang hehehe.”


“Kalau begitu, apa imbalanku?”


“Aku tidak punya apapun, bahkan aku tidak membawa apapun.” Wajahnya murung.


“Cukup jaga dirimu sendiri dan ini,” mata Ramon memicingkan.


.

__ADS_1


Frayza hanya berharap jika kepergiannya ini menjadi titik awal hidupnya. Mungkin Hikashi adalah mimpi baginya. Sebelumnya dicintai sepenuh hati dan jiwa raga, sekarang diabaikan seperti barang yang usang. Ramon menguatkan hati Frayza agar lebuh tegar dan kuat menghadapi ujian hidup


__ADS_2