TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU TERBAKAR CEMBURU!


__ADS_3

Frayza mengantri di Kasir, dan ada seseorang yang menyapanya.


“Kak,” ternyata Rose yang menepuk bahunya.


“Rose, kau... “ melihat Julian berdiri disamping Rose.


“Kenapa kau tidak bilang kalau tiba di Singapura. Kau tinggal dimana? Berapa lama? Dan ayo kita berbincang-bincang lebih banyak lagi di apartemenku.” Ajak Rose menyambut kedatangan Frayza do Singapura.


“Setelah aku selesai membayar belanjaanku ya.” Hanya beberapa potong roti dan susu kotak yang dibelinya.


Rose merasa sedih dengan makanan yang dibeli Frayza itu tidak mengenyangkan perut.


“Kak, makanlah dirumahku. Aku sudah bisa memasak hidangan Indonesia.”


“Aku sedang diet, tidak berani makan-makanan berkabohidrat tinggi. Kita makan roti dan susu saja ya, kebetulan aku sudah menyetoknya.”


“Ahhh tidak-tidak, aku akan mengundangmu makan dirumahku. Kita akan makan besar disana, bagaimana?”


“Terserah kau sajalah Rose, aku ikut saja denganmu.” Sedikit melirik Julian yang bersikap tenang bersama Rose.


Ternyata Apartemen yang dihuni Rose ini ditinggali bersama orang tua dan adiknya yang masih sekolah SMA. Walaupun tempat tinggal Rose ini di Apartemen tapi luasnya sudah seperti rumah hunian permanen. Keluarga Rose jarang berkumpul, adiknya terkadang tidak pulang kerumah. Sedangkan orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi Julian sering mampir ketempat Rose untuk menemani teman barunya ini. Frayza memperhatikan jika Julian baik kepada Rose. Dia mau turun tangan ke dapur dan bantu Rose memasak. Mereka sangat kompak dan seolah sudah terbiasa melakukan hobi masak-memasak bersama. Frayza melihat foto-foto masa remaja Rose yang masih duduk di bangku sekolah. Gadis itu memakai kacamata tebal dan kriting. Kulitnya putih tapi banyak jerawatnya. Sekarang Rose sudah dewasa dan merawat diri. Lalu Frayza melihat album foto keluarganya yang tampak harmonis. Mereka berfoto mengenakan baju berwarna putih dengan gaya tersenyum lepas. Tidak kaku seperti foto keluarganya yang terdahulu.


“Kak, hidangannya sudah matang. Ayo kita serbu!”


“Kau sangat pandai memasak, berapa lama kau tinggal di Indonesia?”


“Sekitar 5 tahunan, ayo dicicipi masakannya; Hai Julian, kenapa kau diam saja? Biasanya kau yang paling semangat makan rendang.” Rose meledek Julian yang menjadi pemalu.


Frayza yang tahu kalau Julian tidak menyukai masakan pedas, dia menyingkirkan bumbu pada rendang itu. Lalu meletakkan diatas piring Julian. Dia terperangah, karena Frayza meladeninya diatas meja makan.


“Terimakasih,” ucapnya tertunduk malu.


“Sama-sama.” Balas Frayza.


“Bagaiamana Kak rasanya?”


“Memang pedas ya, kau tambahkan banyak cabe ya?”


“Benar hahaha, sejak aku di Indonesia level kepedasanku meningkat.”


Mereka bertiga bersantap sambil menceritakan pengalaman Rose yang kembali ke Negara. Banyak hal yang berubah dalam 5 tahun ini. Sedangkan Julian yang masih menyiratkan depresi dari wajahnya. Seolah masih trauma untuk menjalani hidupnya. Dia hanya mengenakan celana robek-robek dan kaos oblong warna hitam. Serta rambutnya yang mulai gondrong, karena enggan untuk memangkas. Tumbuh kumis diatas bibirnya, menjadikan umurnya lebih tua dari yang sebenarnya. Julian belum sepenuhnya melupakan kejadian di Indonesia, sejak kedatangannya sampai sekarang.


“Terimakasih atas jamuan makannya. Lain kali giliranku traktir kalian.”


“Tak apa Kak, anggap saja ini sebagai penyambutannya dirimu. Oiya Kak, sekarang kau tinggal dimana. Hampir lupa aku menanyakannya lagi.”


“Untuk sekarang aku masih numpang tinggal di kediaman kenalanku. Dia ada pekerjaan di luar negeri. Jadi aku yang menghuni rumahnya selama dia belum kembali.”


“Daerah mana itu Kak, bolehkan aku mampir kalau ada waktu.”


“Tentu saja, kita bisa bertemu di luar. Karena temanku berpesan jangan bawa tamu kerumahnya, dan aku sudah diberi ijin untuk menumpang. Jadi kau tahulah apa yang aku maksut.”


“Yah sayang sekali, ya sudahlah kalau begitu kita bertemunya di luar saja.”


“Sampai bertemu lagi, dadaaaa...” Pamit Frayza lebih dulu.


Rose dan Julian membereskan meja dan merapikannya kembali. Ketika Julian mengelap meja, dia membuka ponselnya.


“Gawat, Rose aku pulang dulu ya!”


“Hai kau janji akan membantuku menyelesaikan ini semua, ah kau curang Julian.”


“Lain kali saja ya, aku harus terburu-buru.” Julian mencopot celemeknya. Dan pamit pulang secepatnya.


Di Halte Bis, Julian melihat Frayza yang tengah berdiri menunggu Bisa datang. Beberapa mobil Taksi menghampirinya namun ia tolak. Julian berinisiatif untuk memberhentikan Taksi. Dan dapatlah 1 unit Taksi yang kosong.


“Didepan ada gadis di Halte, tolong berhenti ya.” Ucap Julian kepada si Sopir.


“Baik Tuan,” jawab Sopir mengerti.


Mobil Taksi itu berhenti, dan Frayza menolak tumpangan Sopir Taksi.


“Ayo kita pulang bersama, aku akan antar kau pakai Taksi. Jika sudah larut Bis jarang ada yang beroperasi.” Frayza percaya pada Julian, dan naik kedalam Taksi.


Dari belakang Kenzo naik mobil mengikuti mobil Taksi yang membawa Frayza pergi. Dia melaporkan kalau Frayza berada di Taksi bersama 2 orang pria. Seorang Sopir dan seorang lagi pria jangkung berambut gondrong. Hikashi marah dan panas tahu kalau Frayza naik Taksi bersama pria lain. Dia lantas memaki-maki Dokter Kelvin yang tidak memfasilitasi mobil untuk mobilisasi Frayza. Terang saja, Dokter Kelvin tidak menyediakan mobil. Karena Hikashi memerintahkannya untuk menyediakan hunian, bukan kendaraan. Hikashi tak bisa dibantah, dia lantas memotong gaji Dokter Kelvin karena bodoh dan lalai. Akhirnya Kenzo menerima seorang uang untuk membelikan mobil yang dapat Frayza gunakan. Malam itu juga, toko mobil bekerja lembur menyiapkan unit mobil untuk dikirim di Kondominium Frayza tinggal. Kunci dan surat kendaraan sudah dititipkan di bagian Resepsionis. Jika Frayza pulang bisa langsung diserahkan. Saat ini Frayza didalam mobil yang sama dengan Julian. Dia tak banyak bicara, karena dia sungkan untuk basa-basi. Nalurinya mengatakan bahwa saat ini biarlah Julian menjadi orang asing yang tak perlu banyak diwawancarainya.

__ADS_1


“Berhenti saja disini.”


“Kau serius?”


“The Golden Royal masih jauh, aku antar sampai lobi utamanya.”


“Kenapa kau tahu aku tinggal disana?”


“Bagaimana aku tidak tahu, Halte bis yang kau singgahi hanya untuk wilayah The Golden Royal. Kakak perempuanku tinggal disana, makanya aku tahu. Ngomong-ngomong apa pekerjaan teman yang menampingmu itu?”


“Seorang Ahli kesehatan, hehehe.”


“Di Perusahaan apa?”


“Apa? Apakah untuk tinggal disana harus orang yang memiliki strata tinggi?”


“Bukan begitu, seluruh negeri ini juga tahu bahwa tinggal disana itu buang tisu saja bisa buat pakir kendaraan satu minggu.”


“Seriuskah?” Frayza kaget tempat tinggalnya bukan kaleng-kaleng.


“Iya, Kau tahu Franda Xi Huang adalah artis papan atas Asia saat ini. Dialah kakakku, apa kau tidak mengenalnya?” Julian menceritakan detail Franda yang sedang naik daun.


Bukannya tidak kenal lagi, bahkan Franda dan Julian adalah saudara sedarah. Frayza tak banyak bersuara, karena yang asli dan tidak dirubah dari tubuhnya adalah suaranya.


“Sejak di rumah Rose, ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Jantung Frayza jedag-jedug tak karuan, dia takut kalau Julian mengenalinya.


“Apa?” nada yang rendah.


“Siapa namamu?” Julian menatap dalam bola mata Frayza.


“Namaku?” menanyakan lagi pada Julian.


“Iya, namamu siapa? Kau seperti tidak asing bagiku.”


(Kita bukanlah orang asing, tapi aku yang mengasingkan diri menjadi orang lain) Frayza bingung harus memakai nama apa lagi, “Namaku Frayza.” Dia memilih memakainnamanya asli.


“Itu...” Julian kaget ada nama yang sama denga kakak sulungnya.


“Apakah namaku aneh?”


Julian keluar lebih dahulu dari Taksi, dan membukakan pintu untuk Frayza. Tetibanya dari belakang ada suara klakson mobil derek kendaraan. Tiiinnnn... Suaranya nyaring sekali ditelinga.


“Hai kalian berdua, minggir dari lobi. Aku mau menurunkan mobil baru, cepat bergeser dari sini!” usir Sopir truk angkutan kendaraan.


Sebuah mobil mewah super berwarna merah. Lapisan catnya sangat mengkilap bagaikan cermin yang jernih. Dalam benak Frayza, orang yang tinggal di kawasan elit ini uang bukan masalah. Tapi yang jadi masalah ialah cara menghabiskan uang itu bagaimana.


“Wah keren sekali, warnanya juga bagus.” Frayza takjub melihat mobil mewah.


“Jangan heran, disini beli mobil itu seperti beli cemilan. Jika ini mobil milik Kakakku, aku janji akan mengajakmu jalan-jalan.”


“Hohoho tidak-tidak, aku lebih suka jalan kaki. Lebih sehat dan sesuai kemampuanku hihihi.”


“Tidak apa-apa, lagipula kakakku orangnya sibuk. Tidak ada waktu untuk melakukan hal sepele seperti jalan-jalan.”


“Dia kan artis yang super sibuk, jadi wajarlah kalau dia tidak ada waktu santai.”


Sopir itu menyerahkan kunci mobil kepada bagian Resepsionis. Dan tak lama kemudian Franda keluar mengambil kunci kendaraan di tempat yang sama. Dia menyalakan remot kunci kendaraan mobil super mewah itu.


“Kak, jadi ini mobilmu?” gelak Julian menyapa Franda.


Frayza tahu, selama ini kehidupan keluarganya jauh lebih baik setelah kepergiannya. Julian yang sedih saat bersamanya, sekarang berubah menjadi riang gembira mengelilingi mobil milik Franda yanh baru datang.


“Dan mobil hitam dibelakang itu milikmu.”


“Apa? Milikku?” Julian mendapat kado mobil dari Franda.


Dirinya lebih baik pergi, daripada menjadi sakit melihat ini semua. Frayza pergi dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Julian. Dirinya merasa sedih, saat ini hanya bisa berjalan kaki dan naik kendaraan umum kemanapun. Sedangkan adik-adiknya hidup berkecupan. Harusnya Frayza tak begitu mengkhawatirkan nasib Julian lagi. Dirinya yang sudah salah tebak, bahwa adiknya menderita.


“Agen Kenzo, berhentilah menguntitku!”


Perlahan Kenzo menampakkan dirinya dari balik tembok.


“Nona Frayza, sejak kapan kau tahu aku menguntitmu.”


“Sejak kau menyamar menjadi sopir taksi, dibelakangku.”

__ADS_1


“Apa aku terlalu mencolok ya menyamarnya?”


“Tidak mencolok, tapi mana ada sopir taksi pakai jas dan kacamata hitam macam kau ini!”


“Aku lupa mengganti kostumku, makanya aku pakai baju yang ada saja.”


“Apa yang sudah kau tahu tentangku?”


“Hanya mengabarkan kalau Nona naik Taksi bersama Sopir dan adik dari Artis Franda yang kontroversial.”


“Terussssss!”


“Iyayaya, aku tinggal disebelahmu juga.”


“Tuan muda Hikashi?”


“Bukaaannnnn, Si botak Matsumoto.” Berbohong.


“Kenapa bukan Tuan Muda Hikashi yang memerintahmu, apa hang ingin Ketua Matsumoto tahu tentang aku?”


“Ka-ka-karena kau cantik! Makanya dia naksir kamu nyuruh aku kemari ngawasi kamu!” Kenzo kabur tak kuat lagi harus berbohong.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hikashi menjentik-jentikkan jarinya membuat perhitungan dengan Kenzo. Wajah Matsumoto yang tak bersalah menjadi sasaran amukan Hi kash. Bagaimana bisa seorang Matsumoto melakukan hal posesif, jika bukan ide dari Hikashi.


“Awas saja kalau calon pacarku naksir sama kamu!” ancam Hikashi.


“Maafkan Kenzo yang salah bicara Tuan Hikashi. Anak itu benar-benar bodooohhhhh, mana mungkin aku yang botak ini bersaing dengan Tuan Muda yang sempurna. Dari segi rambut saja aku kalah, sudah pasti Nona Frayza tidak percaya pada Kenzo.” Dengkul Matsumoto lemas bergetar berdiri.


“Awas kau Matsumoto, jangan besar kepala ya! Kenzo benar-benar bodoh, aku yang menugaskannya kenapa namamu yang disebu!” Hikashi terus mengomel-ngomel.


“Tidak akan terjadi hal apapun Tuan Muda, besok aku akan menyuruh Kenzo meralat omongannya. Aku akan menghukum pemuda bodoh ituuu.”


Beeeppp... Beeppp... Beeepppp... Suara panggilan masuk di ponsel Matsumoto, nomor asing yang tidak dikenal.


• Matsumoto : hallo, dengan siapa ini?”


• Frayza : Aku Frayza, bisakah aku meminta waktumu sebentar?


• Matsumoto : Frayza? (Hikashi sudah menguping di belakang ponsel Matsumoto).


• Frayza : Tolong jangan melakukan hal yang aneh, aku bukan kriminal. Jika aku sudah mencuri hatimu, baiknya kau nyatakan saja cintamu.


• Matsumoto : Aku-akuuuuu tidak mengerti apa yang kau bicarakan Nona, ta-tapi sepertinya kau salah paham. (hikashi mencekik leher Matsumoto).


• Frayza : Agen Kenzo yang mengatakannya padaku, jujur aku sangat terharu mendengarnya. Ketua Matsumoto, apakah kau selalu mengkhawatirkanku sehingga kau menyuruh agen Kenzo memata-matai aku?”


• Matsumoto : Bu-bukaaann begini cerita sebenarnya Nona, kau salah paham. (Hikashi menggigit telinga Matsumoto).


• Frayza : Ketua Matsumoto, kau pria yanh sangat seksi dengan kepalamu yang botak hehehe.


• Matsumoto: Nonaaaa, jangan mengatakan hal yang tidak-tidakkk, kau ini salah pahammmmmm... (hikashi melotot dan membanting kepalanya dengan kepala Matsumoto.


Sudah habis Matsumoto dihajar Hikashi yang panas. Katanya tidak akan terjadi apa-apa, tapi Matsumoto di telepon langsung oleh Frayza.


“Kau penggoda!”


“Tuan Muda, ampuni aku. Aku tidak tahu kalau dia yang meneleponku baru saja.” Dia blutut memohon ampun pada Hikashi.


“Dia mengatakan kau seksi dengan kepala botakmu itu! Pengawal, bawakan obat penumbuh rambut sekarang!”


“Tuannn Mudaaa... Nona Frayza itu salah paham, dia begitu polos sehingga memujiku...”


“Berani-beraninya kau bilang dia memujimu seksi karena kepala botakmu!” Hikashi semakin naik pitam marah-marah.


Serba salah dengan yang dia ucapkan, akhirnya Matsumoto menerima hukuman dari Hikashi untuk memakai rambut palsu dan menyita ponsel Matsumoto. Hikashi tidak mau Frayza menghubungi Matsumoto lagi. Setiap saat Matsumoto berada dal pantuan Hikashi. Pria itu tidak terima jika saingan Cinta ya adalah seorang Matsumoto.


“Awas kau!”


Setiap kali Hikashi terpancing emosi, dia mengancam Matsumoto. Akhirnya Matsumoto memohon ampun dan mengiba agar Hikashi tidak marah-marah. Setiap pekerjaan yang dilakukan keryawan lain, pasti larinya ke Matsumoto semua. Sampai lampu merah menyala, Matsumoto yang disalahkan.


“Kau tahu kan kalau aku benci macet, gara-gara kau lampu menjadi merah semua. Hah!” Matsumoto menghela napas panjang diomeli Hikashi terus.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ternyata Frayza berkomplot dengan Kenzo untuk mengerjai balik Hikashi. Dia berpura-pura simpati kepada Matsumoto, agar Hikashi uring-uringan. Karena Matsumoto suka seenaknya saat masih jadi pengawal dulu. Memberikan tugas tak kenal waktu dan tempat. Sekarang Frayza berhasil mengerjai Hikashi dan Matsumoto, orang yang biasanya kompak. Sekarang saling membenci satu sama lain, apalagi Hikashi dia sebal sekali setiap Matsumoto tampak dihapannya. Rasanya ingin meledak saja.


__ADS_2