TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU BUTUH DIRIMU DAN SAYANGMU


__ADS_3

Seperti yang Hikashi pesankan, Kenzo tidak boleh mengambil tindakan apapun tanpa ijin darinya. Dia hanya menunggu diluar ruang operasi. Sedangkan Frayza berpamitan dengan Kenzo, agar segera mengabari keadaan Hikashi. Kenzo tidak keberatan jika Frayza pergi. Karena itu bukan dari perintag Hikashi untuk menahan gadis itu.


“Tuan muda, bangun.” Dokter Kelvin membangunkan Hikashi dalam ruangam operasi.


“Sudah selesai?” dia bangkit dan mengganti baju pasien.


“Dia pergi, yang menangis malah Kenzo.”


“Apa, dia pergi? Ck, seharusnya dia bersedih jika aku celaka arggghhh.” Hikashi kesal.


“Mungkin dia mencari Ramon dan memutuskan berpisah.”


“Aku tidak akan membiarkan mereka bersama lagi?”


“Tidak, kita lihat saja besok.”


“Lalu aku untuk apa pura-pura kritis, huh.”


“Tenang saja tuan muda, jika saja tadi Ramon menembak di bagian lain pasti sekarang aku yang akan kau hantui hehehe.”


“Untung saja aku memakai rompi anti peluru, dan kantor darah. Jadi terkesan alami bekas tembakannya.”


“Kenzo tidak tahu ya jika pistol itu berisi peluru karet. Atau curiga?”


“Aku mengetes pengawalku, apakah dia setia atau pembelot. “


“Jangan pikirkan lagi, setidaknya kita sudah tahu kalau Fred masih hidup sebagai wanita.”


“Tapi aku tidak suka, aku lebih senang dengan kepribadiannya yang menjadi lelaki. Wanita bagiku mahkluk yang berisik dan manja. Bisakah kau mengubahnya menjadi pria lagi?”


“Bercandanya Tuan Muda suka keterlaluan, mari kita pindah diruangan perawatan pasien.”


Dokter Kelvin sudah memperkirakan hal ini akan terjadi sebelumnya. Hikashi menyetujui ide Dokter Kelvin untuk berjaga-jaga saja jika Ramon bertindak gegabah. Dan dia juga memiliki pistol karet sebagai mainan kala senggang.


*


*


*


#DI VILLA RAMON,


Ramon sedang membereskan isi rumah iti sendirian, nampaknya dia meluapkan kekesalannya dengan cara berbenah. Dia mengelap lantai, mengepel meja dan mengecat piring. Berapa perabotan yang menurutnya tidak penting dia jual secara daring.


“Tuan Hikashi sudah dilarikan di Rumah Sakit, ketika aku pulang dia masih menjalani operasinya. Semoga saja dia tertolong.” Frayza membantu Ramon memunguti beras dilantai.


“Aku akan menyerahkan diri ke Polisi, bagaimanapun juga tanganku ini sudah mencelakai orang.”


“Tidak perlu sungkan-sungkan untuk masuk penjara, sepertinya hidup bebas perlu kurungan agar tahu bosan itu hal membosankan hehehehe.”

__ADS_1


“Sudah jangan punguti beras ini, lebih baik kau menyedot debu dalam galon air!” usir Ramon agar Frayza tidak berada didepan matanya.


“Sejak tadi kita bicara hal yang tidak nyambung, juga mengerjakan hal yang tidak waras. Apakah kita ini kebanyakan hidup dalam penyamaran dan pengejaran?”


“Apakah kita pernah hidup normal? Orang yang berada disekitar kita saja tidak ada yang waras.”


“Kau benar, dan parahnya lagi. Aku bertemu dengan Frank. Dia berkomplot dengan James, sepertinya aku harus cepat-cepat pergi dari Bali.”


“Frank mantan terbusukmu? Kenapa? Hatimu gempa? Matamu Tsunami? Tubuhmu kemarau atau kepalamu ****** beliung? “


“Iya, semuanya disebut bencana alam teori konstirpasi!” Frayza melemparkan ember berisi susu sapi yang usai dibuat minum Ramon.


“Jiaaaahhhhh, kenapa kau mengguyurku dengan air susu. Kenapa tidak kau balas aku dengan air tuba sekalian? “


“Air ketuban mau?” canda Frayza.


“Bisa-bisanya kau ini, ada yang mau aku berikan kepadamu.”


Sebuah tiket perjalanan ke Amerika, Ramon membeli tiket untuk mereka pergi ke Negara selanjutnya.


“Aku kita akan memulai hidup baru disana?”


“Aku akan bekerja di Perusahaan komunikasi Nasional. Ada beberapa perusahaan asing yang bersedia membayarku untuk mengambil data pribadi orang-orang penting.”


“Dan seperti biasa kau akan memperoleh uang yang besar dari caramu bekerja seperti ini.”


“Bingggoooooo, tapat sekali.”


“Yah, itu akan selesai.”


“Lalu dengan Damora bagaimana?”


“Damora akan frustasi dan mengkonsumsi psikotropika dari gudang rumahnya. Ayahnya adalah seorang distributor barang haram jaringan internasional. Tuan Hikashi pernah membawaku ke Belanda ketika kami sedang lawatan.”


“Selain pengumpul benda seni dan sejarah, apa pekerjaan lain Tuan Hikashi?”


“Dia memiliki saham di kasino dibeberapa Negara. Dubai, Singapura, China, Belanda dan Rusia. Selain itu aku dengar-dengar dia mulai tertarik bisnis keuangan. Beberapa petinggi dan tokoh keuangan ia temui untuk membahas rencana jangka panjang dan keuntungan.”


“Darimana dia mendapatkan modal tak habis-habis itu, diakan yatim piatu.”


“Selain dari uang warisan mendiang orang tuanya yang memiliki garis keturunan Raja. Ibunya juga masih memiliki darah Bangsawan yang sempat di hapus akibat krisis. Aku memperoleh informasi dari Dokter Kelvin jika Tuan Hikashi dibesarkan oleh gangster jaringan besar di Inggris. Mereka memiliki jaringan di afrika Selatan untuk bisnis tambang ilegal.”


“Waw...” Frayza tak bisa membayangkan berapa banyak pundi-pundi uang yang tak akan habis oleh Hikashi.


Itulah sebabnya Hikashi tak pernah khawatir tahta Putra Mahkota lepas dari dirinya. Karena latar belakangnya yang gelap sebagai pengusaha, sekaligus kolektor benda antik.


Usai merapikan Villan, seorang pemborong membeli Villa tersebut. Kini tidak ada alasan lagi bagian Ramon untuk berdiam lebih lama di Bali. Selain kemungkinan buruk Hikashi tewas, dia juga tak ingin menjadi buronan di Negara orang.


“Fray, aku bukan pengecut yang lari dari masalah. Aku hanya membayar lunas perbuatan Damora. Dia harus tahu betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat dikasihani. Penyiksaan ini seimbang dengan yang aku alami.”

__ADS_1


“Pergilan, Ramon.” Frayza berhenti dan tidak menyeret kopernya lagi.


Ramon menoleh “ Apa yang kau lakukan, pesawat akan lepas landas Frayza. Ayo kita berangkat!” perintah Ramon.


“Emmmbbbb...” menggelengkan kepalanya.


“Kita harus berangkat, ayo! Anak buah Hikashi berkeliaran banyak sekali. Jika kita tertangkap akan sangat berbahaya.”


“Pergilah tanpaku, dendam itu sudah impas.” Frayza memilih pergi membawa kopernya.


“Frayza, aku hitung sampai 3 lo ya. Jika kau tidak kembali kepadaku, jangan pernah merengek untuk dibayarkan bedak!”


“Aku pakai cap Badak yang asli, bukan bedak lagi!” jawab Frayza nyeleneh.


“Aku tidak akan beri kau sinya internet!”


“Aku bisa beli quota isi ulang, yang sekali pakai buang.” Frayza masih bisa membantah Ramon.


“Kau akan ditangkap Frank lagi jika berkeliaran disini!” Perkataan Ramon akhirnya berhasil menghentikan langkah Frayza.


“Dokter Kelvin sudah merubah diriku, Frank tidak akan mengenaliku. Aku adalah manusia baru, yang dulunya jelek sekarang nasibnya masih jelek saja. Tapi, beruntunglah aku cakep kok hehehe.” Kali ini Frayza benar-benar membuat mulut Ramon berhenti berkicau.


Sudah menjadi pilihan Frayza untuk menyelamatkan Julian sampai selesai. Itu sebabnya dia masih bertahan di Bali agar bisa membuat Nimas selamanya dibawah kendali James. Namun, dia mengalami kendala yang besar. Yaitu James berpatner dengan Frank mantan kekasihnya, sekaligus tunangan adik perempuannya Franda. Rose masih rajin mengirimkan kabar tentang Julian dan Franda yang sekarang di Singapura. Ditambah lagi, Damora yang terbakar cemburu tahu pernyataan Cinta secara tidak langsung oleh Franda untuk Hikashi. Padahal Matsumoto dengan mengadakan kesepakatan dengan pihak Franda. Andai Damora tahu hal ini, pasti seluruh keluarga Franda akan bernasib seperti Digna.


*


*


*


#RUMAH SAKIT,


Kenzo meracik obat yang akan diminum Hikashi, itu semua bukan obat melainkan multivitamin, tambah darah dan suplemen. Hikashi yang pura-pura menjadi korban penembakan sengaja membalut perbang di badannya. Mulutnya mengenyot permen loli, dan mondar-mandir menengok keluar apakah Frayza datang atau tidak.


“Tuan Muda, anda sedang sakit usai menjalani operasi. Mohon kerjasamanya untuk minum obat dan rebahan saja. Kalau ada tamu istimewa yang mau datang akan saya laporkan.”


“Tamu? Tamu apaaaaahhh? Ini sudah jam besuk perawat, dia harus memeriksa suhu tubuhku. Mengecek kekenyalan kulitku, bukannya aku panik ini karena ada tamu spesial yang tidak tahu diri. Kalau aku sedang terluka dia harusnya ada, tapi malah dia pergi menyusul pria yang menembakku! Sakit badanku bisa kutahan, sakit hatiku karena rindu ini yang tak bisa kubendung!”


Kenzo terperangah Hikashi mengoceh seperti burung kontes. Tanpa disadari, Hikashi sedang menyindir Frayza yang seharusnya datang membesukknya. Merengek-rengek meminta agar Ramon tidak diproses lewat jalur Pengadilan. Harusnya Frayza datang dan berterimakasih sudah menyelamatkannya dengan membawakan sup abalon dan buah segar. Duduk. Disebelahnya dan mengupas apel, menyuapinya sambil menceritakan rencana mengambil hati Hikashi yang baik dan manis. Tapi Hikashi harus menelan kekecewaan saat Kenzo mendapat pesan masuk, jika di Bandara Ramon dan Frayza tengah mengantri di bagian pemberangkatan. Rusak sudah khayalan tingkat tinggi Hikashi yang ia damba-dambakan. Badannya gerah berkeringat karena dibalut perban di luka bohongannya. Sekarang ria harus menerima kenyataan bahwa Frayza tak akan datang menemuinya lagi.


“Kenzo, bantu aku lepas belitan kassa ini. Gerah!”


“Ba-baikkk Tuan Muda,” Kenzo mulai mencari ujung kan terluar yang bisa ia urai. Perlahan-lahan belitan itu mulai habis, kriiiieeetttt “Tuan Hikashi, kau sudah siuman?” Suara Frayza datang saat dirinya tengah dibantu Kenzo melepas kain kassa.


“Aiaaaaaa—aaaaaku itu aaaaakuuuuu...sedang muntah dan mengenai ininya, jaaaaaa-jadddiii Kenzo membantuku melepaskan nya aaaaa... Kaaaauuuu.... Kauuuuu se-sesseeeeeeedaaaangg apaaaa kemari?”


Frayza berjalan dan meletakkan keranjang berisi buah segar diatas meja. Hikashi yang kalang kabur kepergok oleh Frayza panik. Dia memberi isyarat pada Kenzo agar mencari alibi Frayza keluar sebentar. Dan Kenzo memanggil perawat untuk memasangkan kan ulang kain kassa perban. Frayza datang dan menanyakan keadaan Hikashi usai melewati masa kritisnya dan berterimakasih sudah menyelamatkannya. Serta Frayza mengupas apel hijau yang paling manis untuk disuapkan kepada Hikashi. Namun, Hikashi kepalang malu dia pura-pura tak nafsu makan karena menahan sakit. Dengan begitu, Frayza akan membujuknya dengan minum obat.


“Li-lidahku pahit, aku tidak mau minum obat. Aku maunya makan coklat dan soda.” Rengek Hikashi yang manja seperti anak kecil sakit demam.

__ADS_1


Kenzo menahan tawanya yang melihat Bosnya yang mati rasa, sekarang kebanyakan gaya. Semua khayalan tentang Frayza seolah menjadi kenyataan seperti yang ia keluhkan saat panik. Frayza memang sabar dan membujuk Hikashi agar menurutnya. Dalam hatinya Hikashi, dia meledakkan kembang api kebahagiaan. Ocehannya yang terlanjur terlontar seolah menjadi doa yang terkabulkan. Dia rasanya sangat malu dan salah tingkah, saat Frayza menatap wajahnya dengan tersipu. Bibir Hikashi digigit kecil, seolah gemas melihat jari Frayza yang sibuk menyuapinya. Kenzo menjadi saksi keajaiban dunia ini heran, sejak kapan Frayza begitu perhatian kepada Hikashi. Padahal dia kan tidak lama bertemu, namun sudah bisa mengakrabkan diri.


__ADS_2