TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
HADIR DI DALAM MIMPIKU


__ADS_3

Usai menyantap harus hidangan makan siangnya, Julian mendapatkan pesan bahwa Frank akan terbang ke Bali untuk kunjungan bisnisnya. Sambil menanyakan berapa lama Frank di Bali, Julian tampaknya mulai kelelahan dan mengantuk.


“Adik, selamat pagi...” suara wanita yang selalu menyapanya setiap pagi.


“Hoaaammmbbb... Sudah pagi lagi ya. Padahal aku baru saja tidur.”


“Kau tidur larut malam lagi ya?”


“Tadi malam setelah pulang latihan aku langsung mengerjakan tugas sekolahku. Menjadi atlit dan siswa sekolah sangat berat dilakukan secara bersamaan. Kelak ketika aku dewasa, aku tidak mau melanjutkan kuliah lagi. Aku mau fokus pada karir basketku saja.” Gerutu Julian setiap bangun tidur.


“Dengarkan Kakak, wahai adik bungsuku. Tidak peduli kelak kau tidak menjadi apa, tapi tetaplah menjadi adikku yang memiliki jiwa yang baik. Karena kepribadian yang baik akan membawa dampak yang positif juga untuk lingkungnya.” Julian mengangguk ketika dinasehati Frayza.


Kala itu Frayza masih mengenakan gaun terusan bermotof bunga-bunga. Dengan bando warna putih di kepalanya. Hari ini Frayza kakaknya nampak lebih feminim dan manis. Dengan sedikit pelembab kulit wajah dan pemerah bibir, sepertinya dia berdandan untuk suatu hal yang penting.


“Kak, kau hari ini berbeda dari hari biasanya.”


“Benarkah, setiap pagi aku memasak, mencuci baju, dan membereskan rumah. Kemudian aku baru mandi, sekarang aku mau berangkat ke Butik ibu. Usai pulang kerja belanja kebutuhan rumah. Memangnya aku beru ah dibagian mana?” tanya Frayza kebingungan.


“Kakak jarang saja berdandan secantik ini, andai kakak 5 tahun lebih muda. Pasti teman-temanku akan naksir hehehehe.” Goda Julian kepada si sulung.


“Lekas mandi dan bersiap ke sekolah, aku sudah memasukkan bekal makan siangmu dan jus buah. Semoga harimu menyenangkan, kakak sudah harus ke Halte bis sekarang.”


“Kak,” Frayza menoleh ketika dipanggil Julian.


“Iya apa?”


“Terimakasih ya,” ucap Julian saat mengambil handuk untuk mandi.


“Hehehehe sama-sama.” Frayza membalasnya dengan senyuman yang manis.


Sejak saat itu mungkin Julian tahu bahwa kakak sulungnya sudah mengemban tugas sebagian Ibunya. Namun sayang, kakak sulungnya tidak pernah diperhatikan dengan baik. Julian lantas mengerjakan rutinitas hariannya, yaitu sekolah dan les. Usai melakukan kegiatan itu semua, kawan-kawan mengajak latihan basket di taman. Tentu saja Julian dengan senang hati meladeninya. Ketika dia istirahat, dia mengambil botol minuman karena kerongkongannya sudah haus.


“Yah, habis.” Dia menuangkan isinya dan ternyata air jus buah itu sudah habis.


“Minum saja punyaku ini.” Temannya datang menyodorkan air putih.


“Tidak usah, aku akan membelinya di toko terdekat. Sekalian aku pamit pulang dulu ya, cukup sekian untuk latihannya hari ini. Sampai jumpa besok.”

__ADS_1


Setelah membeli air dalam kemasan botol Julian berjalan menuju Halte bis terdekat.


Plakkk... Suara tamparan jelas terdengar dari telinga Julian. Ketika itu dia melewati sebuah mobil yang tengah terparkir. Dan muncullah seorang gadis yang keluar dengan memegang pipinya. Gadis itu lari menahan sebuah tamparan yang baru saja mendarat dipipinya. Lelaki yang bersamanya dari dalam mobil tak keluar dan mengejarnya. Lalu dia menurunkan kaca jendelanya dan tangannya keluar, sambil membuang sebuah benda yang berkilau. Kemudian mobil itu melaju pergi menjauh. Karena penasaran Julian pun mendekati barang yang terbuang dijalan.


“Sayang sekali hadiah sebagus ini dibuang begitu saja.” Julian memungut kotak kado dan gelang bermotif naga giok.


Kemudian memasukkannya dalam ranselnya, dan bergegas ke Halte yang sama. Dia tak menemukan gadis itu lagi, ketika naik keatas bis. Ternyata gadis yang keluar dari mobil tersebut melepaskan jaketnta. Dan mata Julian terbelalak bahwa gadis itu ialah kakak sulungnya yang tadi pagi berdandan cantik.


Saat Julian hendak mendekati kakaknya yang murung, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin kakaknya malu, kalau dirinya usai melihat perlakuan buruk yang baru saja dialaminya. Frayza menangis di kursi bis kala itu, dia menutup wajahnya dengan jaket dan menangis sedih. Hati Julian sangat sedih, inilah pertama kalinya dia melihat sosok yang ceria dan kuat begitu rapuh ketika sendirian. Dia mengepalkan tangannya karena geram, rasanya ingin membalas perlakuan buruk pria yang. sudah menampar kakaknya di dalam mobil.


“Huuuuffftttt aku mimpi hal buruk itu lagi.” Menelangkup kepalanya kedalam, Julian sepertinya benar-benar merindukan Frayza dimasa lalu.


*


*


*


Diruangan penyimpanan alat kebersihan, kedua pemuda tengah melampiaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Wayan yang sudah berhasil memperoleh jatah kenikmatan yang selama ini dirasakan James. Dia terus menikmati tubuh Tantri yang lihai memainkan banyak gaya ditempat yang sempit juga engap menjadi tempat yang penuh hawa nikmat.


“Ahhhh... Aku letih,” ucapnya kepayahan, seharian ini dia sudah bermain dengan dua orang lelaki yang berbeda.


“Rapikan bajumu, setelah itu kau keluar paling akhir.” Tantri mengangguk setengah sadar.


Setelah menikmati adegan yang banyak menguras tenaga, energi, suara dan kreatifitas saat kosong. Wayan akhirnya bisa tersenyum lega, karena sudah beberapa minggu dia tidak jatah isi ulang dari Tantri.


Dengan sangat kepayahan, Tantri memakai baju kerjanya lagi. Dan merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan karena ulah tangan Wayan.


“Hampir saja lupa.” Tantri mencopot gelang naga milik Julian yang dia kenakan di pergelangan tangan kirinya.


Dia keluar ruangan dengan wajah biasa, dengan wajah datar-datar saja. Kakinya melenggang menuju dapur, dimana dia ingin mengisi perutnya usai olah raga ketangkasan dan gerak badan. Dirinya ingin mengisi tenaganya kembali agar tidak loyo.


Saat makan di dapur, tiba-tiba Wayan memberikan secarik kertas kepada pelayan wanita lain. Dan Tantri melihatnya dengan jelas. Wayan lantas dilabrak Tantri yang sudah cemburu kepada kekasihnya, yang usai menikmati kue apem lempit slai coklatnya.


“Apa yang kau berikan kepada Nimas?” Wayan kaget tiba-tiba Tantri berkata demikian.


“Memberikan apa?”

__ADS_1


“Aku melihat kau memberikan secarik kertas kepada Nimas, apa itu?” desak Tantri yang mulai mendidih darahnya.


“Ck, nanti kau juga tahu.” Sebuah tamparan melayang di pipi Wayan yang menyepelekan pertanyaan Tantri.


“JAWAN WAYAN! APA KAU TULI!”


“Aku memberikan nomor kamar James untuk Nimas, kenapa memang?”


“Kau bodoh ya, James adalah tambang uangku. Bagaimana bisa kau berikan tambang emasku kepada Nimas, dia sama sekali tidak berpengalaman.”


“Kau pikir dirimu apa hah!” Wayan ikut emosi juga.


“Kenapa kau sekarang membentakku?” Tantri menurunkan nada bicaranya.


“Karena aku tidak mau membagi tubuhmu dengan pria lain, apalagi sekarang kau sedang hamil dan berencana memberitahukan kepada James. Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau kau sampai menikahi James...” Wayan memegang pundak Tantri dengan meremasnya kuat dan mulutnya menyusuri wajah Tantri yang menolak ciumannya.


“Lepaskan... Lepaskan aku!” Tantri mengelak dari serangan Wayan yang sudah terbakar api cemburu.


Datanglah Nimas yang melerai mereka. Agar menghentikan perbuatan yang tidak senonoh itu dilingkungan kerjanya.


“Kalian apa tidak bisa menyelesaikan masalah dengan duduk dan kepala dingin?”


“TIDAK!” jawab Wayan dan Tantri bersamaan.


“Kalau begitu selesaikan dengan cara lain.”


“APA?” jawab keduanya serempak lagi.


“TIDUR BERSAMA!” teriak Nimas kepada kedua rekan kerjanya.


“Kau dengar saran dari Nimas?” bujuk Wayan yang siap diajak berkolaborasi adu ketahanan fisik melawan Tantri.


“Tak sudi aku, lagipula aku sudah bosan denganmu.”


“Tapi tadi kau sangat menikmatinya waktu digudang.”


“Aku melakukannya karena tak tahan dengan pesona tamu Hotel dari Singapura itu. Saat aku bersamamu, yang kubayangkan adalah dirinya. Bukan dirimu, jadi jangan terlalu bangga dulu. Kau sekarang bukan lagi seleraku. Kupastikan, diriku sudah tak memandangmu lagi.” Tantri melambaikan tangan dan pergi tanpa hati yang berbelas kasih.

__ADS_1


__ADS_2