
“Lihat kesana!”
Mengarah pada Matsumoto yang keluar dari mobil berjalan di teras utama.
“Bawa apa dia ditangannya?”
“Entahlah, sepertinya dari saat ia turun sudah melihatmu. Sepertinya itu untukmu.”
“Jangan bercanda kau Seven, dia tidak ada urusan lain kecuali Papa.”
“Tuan muda Jade, ini surat rekomendasi dari sekolah Anda.”
“Benar kan Jade, apa yang baru aku bilang baru saja tadi hemmm.”
“Diam kau, Seven!”
Bola mata Jade bergerak mengikuti arah baca pada lembaran surat.
“Apa isinya Jade?”
“Tidak mungkin!” Jade berlari kedalam rumah lagi.
“Husssss... Huusssss... “ berjongkok kelelahan.
“Apalah kau ini Jade, tidak bisakah kau memberikan waktu 2 menit untuk Papa mu ini?” mengelap bibirnya yang memerah bekas bibir Frayza.
“Ini apa maksudnya?”
“Oh jadi sudah datang ya suratnya, baguslah kalau begitu.”
“Surat apa? Mana Jade suratnya?”
“Tidak usah dibaca Sayang, rambutmu berantakan sisir sana lagu geh dikamar.” Memutar badan istrinya.
“Papaaaaa....” eram Jade kesal.
“Apa kau! Mau macam-macam sama Raja dirumah ini?”
“Papaa pasti sengaja kan untuk menendangku keluar rumah ini.”
“Fiuh apaan sih Jade, Papa sekarang sibuk mengurus Negara. Selesai pesta pernikahan istana, Matsumoto akan mengantarmu ke Inggris.”
“TIDAK MAU! AKU MAUNYA SEKOLAH DI JEPANG POKOKNYA!”
“Memang kalau kau membantah ada yang bakal belain kamu hahaha. Sudahlah Nak, menurut saja ya sama Papa. Dijamin enak kok sekolah di Inggris, nanti kamu bisa tinggal di kastil setiap akhir pekannya.”
“Papa, Mama dan Seven tinggal disini, kenapa aku harus terpelanting ke Inggris? Aku menolak kebijakan yang Papa buat, aku mau mengajukan banding. Mamahhhh...”
Andalan anak ketika tertindas oleh ayahnya, ialah dengan mengadu kepada ibunya.
“Iya Jade, kenapa.”
Gawat, Hikashi tidak mau terjadi keributan pagi ini. Soal mengirim Jade keluar negeri kan idenya. Frayza pasti marah jika putranya akan dikirim jauh. Karena ini rencana licik Hikashi sebenarnya. Ia masih dendam. Ketika dulu Jade masuk kedalam kamarnya yang tengah bercumbu. Sengaja ia menyusun serangan balasan kepasa Jade. Agar kegiatan rutinnya tidak diganggu lagi kecebongnya. Tanpa disadari oleh Jade, selama ini Hikashi memasukkan kelas akselerasi. Dengan kemampuan kecerdasan Jade, ia sangat layak naik jenjang sekolah berikutnya.
“Inggris, Belgia, Jerman, Polandia, Amerika, Autralia...”
Seven membaca surat yang menjadi rekomendasi untuk Jade. Adiknya yang polos ini mengumpulkan amplop untuk Jade.
“Buang itu semua Seven, aku tidak akan berangkat ke Negara itu satupun!”
“Seven, berangkat sekolah Nak.” Perintah hikashi lembut, karena tangannya bergandengan erat.
“Dah Mama, Dah Papa...” melambaikan tangan.
“Manis sekali ya ank kita yang bungsu, tidak sepeti si sulung.” Sindir Hikashi untuk Jade.
“Papa, aku mau protes!”
“Protes ditolak!” mencium pipi istrinya dan masuk kedalam mobil.
Matsumoto menutup pintu dan duduk disebelah supir. Jade berlari mengejar mobil sedan dinas ayahnya.
“Papa curang!!!” teriak Jade.
Didalam mobil, Hikashi tersenyum simpul sudah mengalahkan putranya yang jahil.
“Segera urus proses pemindahan Jade, kirim di ke Inggris setelah pesta pernikahan sepupuku.”
“Baik Tuan Hikashi.” Jawab Matsumoto.
__ADS_1
Kasihan sekali si Jade, mesti diterbangkan ke Inggris lagi. Padahal dia lagi nya mana nyamannya sekolah di Jepang. Tapi nasibnya sudah ditentukan oleh Hikashi ayahnya. Sebagai putra pertama Alexander, beban dipundak Jade tentulah berat. Selain kelak meneruskan kerajaan bisnis. Hikashi tidak ingin putranya menjadi anak manja. Dengan begini, Jade akan dilatih sendiri di sekolah asrama para bangsawan.
“Mama... Aku tidak mau sekolah selain di Jepang. Papa mau menjauhkan kita, aku tidak mau Mama...”
“Tenanglah Jade, nanti Mama akan temui Papa mu.”
“Sekarang Mamaaaaa... “
“Tapi Mama harus berangkat kerja Nak.”
“Mama itu anaknya Butik apa aku?”
“Baiklah Nak baiklah, Mama akan ke kantor Papa ya nanti.”
“Sekarang Maaaaa... Sekarang Mama huaaaa.”
“Ya ampun Jade, jangan guling-guling di rumput Nak. Nanti rumputnya rusak, itu rumput mahal.”
“Mamaaaaa...”
“Hahaha... Maaf Nak, Mama hanya bercanda sayang. Ayo berdiri dan ganti bajumu lagi, Mama akan menyusul Papamu.”
“Jangan menemui Papa pas jam makan siang, itu terlalu lama. Aku akan ikut bersama Mama ke kantor Papa. Kan Papa selalu menerima Mama kapan pun.”
“Ya ampun anak ini, tidak bisa diajak nego barang sekecil apapun. Apa-apa mintanya harus dikerjakan sekarang hemmm.”
“Mama...ayoooo temui Papa.”
“Iya Jade, iya. Mama telepon pegawai di Butik ya Nak. Sabar ya Nak, sabar.”
“Kelamaan, teleponnya dijalan saja. Ayo bergegas!”
Menuju Kantor pemerintahan urusan luar negeri. Yang sekarang menjadi tempat bertugasnya Hikashi sekarang.
“Maaf, Nyonya. Saat ini Tuan Hikashi sedang ada tamu penting. Silahkan buat janji terlebih dahulu. Nanti pihak kami akam segera mengabari.”
“Maaf Nona, aku sudah menunggu selama 1 jam disini. Tidakkah kau lihat putraku dari tadi merajuk. Dia hanya ingin bertemu ayahnya.”
“Nyonya, Tuan Hikashi tidak pernah mempublikasi keluarganya. Bahkan jika anda berbohong sekalipun aku tertawa geli saja hehehe.”
“Aku Nyonya Hikashi Alexander, dan dia putraku Jade Demitri Alexander. Tidakkah kau melihat ciri fisiknya sama?”
“Dasar kau keterlaluan.”
“Pulanglah dan bawa anakmu pergi ke sekolah. Tidak baik membawa nak dijam sekolah.”
Frayza kesal karena pihak resepsionis menyepelekannya. Jabatan penting Hikashi membuat urusan dengannya harus lewat birokrasi.
“Mama mau telepon siapa?”
“Bayi kingkong nakal, Nak!”
“Xixixix Papa ya maksudnya?”
“Siapa lagi bedebah menyebalkan yang merekrut Resepsionis sialan itu!”
• Frayza : Kau sibuk?”
• Hikashi : Tidak Sayang.
• Frayza : Aku merindukanmu amat berat, sekarang aku ada di lobi bawah.
• Hikashi : Apa, baru 1 jam kita berpisah kau sudah rindu? Ayo kita ketemuan kalau begitu.
• Frayza : Cepat!
• Hikashi : Baik Sayang, baik istriku yang cantik. Ini sudah berlari kok. Jangan kemana-mana ya.
Menutup panggilan ponselnya, Frayza duduk bersila dengan angkuh.
“Mama yakin Papa mau turun.”
“Lihat saja kalau Papa mu tidak segera turun. Aku akan buat dia emosi cemburu.”
“Kenapa Mama melepaskan blazer?”
“Lihat saja aksi Mama mu, Nak.”
“Lihat, itu Papa.”
__ADS_1
Semua karyawan dan pegawai pemerintahan memberi hormat kepada Hikashi. Pria itu bergegas lari melihat belahan dada istrinya yang agak kebawah. Dia panik jika mata pria liar melihatnya. Segera ia lepaskan jas, dan menutupnya.
“Apa-apaan kau ini, mau mancing keributan apa!”
“Aku gerah menunggu lama disini.”
“Ulah siapa yang tidak membawamu naik ke kantorku?”
“Itu.” Resepsionis lagi bedakan.
“Ck!” kesal.
“Dia bilang kalau Mama sedang menipu, bahkan mengatakan aku anak dari sekolah akting yang disewa.”
“Benarkah itu Sayang?”
“Iya Papa. Dia membuat kami menunggu sangat lama.”
“Sayangku, kenapa kau tidak bilang kalau kau kemari. Tahu kau rindu, tamuku segera ku usir, aku juga rindu padamu.”
“Ehemmbb ehemm, Papa sedari tadi aku menyahut pertanyaanmu. Tidak bisakah kau melihat aku ada disini.”
“Ssttt ada Jade, hehehe.”
“Hih anak ini lagi, ngapain sih ikut Mama mu segala.”
“Sayang, aku kemari karena Jade merengek butuh bantuanku.”
“Mau apa lagi dia?”
“Sayang...”
“Iyalah iya ah, ayo bicara dikantorku saja.”
“Ayo Nak, kita ke kantor Papamu.”
“Eits, kau pulang sana.”
“Tidak mau, aku mau pulang kalau sama Mama titik.”
“Aku panggilkan Matsumoto apa?”
“Mama...”
“Suamiku sayang, nanti aku akan tinggal lebih lama dikantormu.”
“Benarkah?”
“Hu’um, jika kau haus akan ku buatkan minum. Jika kepalamu pusing akak ku pijit.”
“Janji ya?”
“Iya janji.”
“Ya ayolah kau ikut, dasar.”
“Huuu Papa itu yang dasar!”
“Sudah hai kalian ini berhenti bermusuhan kenapa?”
“Suasana hatiku rusak melihatmu Jade, ku pikir Mamamu saja yang datang. Tahunya kecebongnya juga ikut.” Gerutu Hikashi tak habis-habis.
“Sayang... Jangan nakal, tidak boleh.”
“Baiklah istriku, aku akan menurut padamu.”
“Hihihi Bagus Mama, memang begitu seharusnya sama Papa.”
“Kau juga Jade, jangan nakal.”
“Aku tidak berbuat apapun Mama, kenapa kena getahnya.”
“Kau kan yang rewel minta Mama kemari.”
“Owh jadi ini akal-akalannya si kecebong ya?” Hikashi naik darahnya.
“Ampun Papa... Mama lindungi aku tolong.”
“Hentikan tingkah kalian ini, lif ini sangat sempit jangan banyak bergerak.”
__ADS_1
Bersabarlah wahai Frayza, kau dikelilingi bayi-bayi yang bandel. Banyak-banyak istighfar ya Frayza, memang kudu sabar super panjang kalau menghadapi pria dari Alexander. Manjanya sudah diatas level normal, salah-salah nanti ayah dan anak ini saling jambak-jambakan. Hahahahaha