TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
TAK PERNAH AKUR


__ADS_3

“Haii... Lepaskan ikatan ini Begundal! Sejak kapan aku terikat dipesawar!” teriak Jade.


“Maafkan Saya, Tuan Muda. Sebaiknya Anda duduk dengan tenang dan mendoakan Tuan Besar yang tengah koma. Kita menuju Inggris Raya, Tuan Besar terkena stroke.” Tegas Kenzo.


Saat ini Jade sudah diborgol dikursi pesawat pribadi Alexander. Rasanya konyol jika harus meloncat dari atas awas. Apalagi ia tak bersayap, selain menuruti perkataan Kenzo yang menculiknya balik. Jade harua menahan diri agar tidak menimbulkan kegaduhan dalam pesawat.


Setelah Kenzo merasa Jade bisa diajak komunikasi, ia mulai menyodorkan beberapa nasehat bijaknya.


“Jangan bicara padaku!” gertak Jade geram.


“Huft... (Belum juga mukai bicara, anak muda ketua ini sudah tahu saja kalau mau dicereweti)” gumam dalam hati Kenzo.


“Apa kau, mau menggerutuku?” tantang Jade.


“Tidak,” jawab acuh Kenzo memalingkan wajahnya.


“Putar balik!” perintah Jade.


“Di awan ini ya Tuan Muda, tidak ada tikungan. Jadi pesawat maju terus, kecuali naik atau turun terbangnya.”


“Bawel!”


“Ya emang!”


“Ke wanita-wanita!”


“Kekanak-kanakan weekkk!”


“Dasar perjaka tua!”

__ADS_1


“Dasar perjaka labil!”


Teruslah mereka saling mengolok dan mengejek satu sama lain. Walaupun usia mereka terpaut jauh, Jade merasa kalau Kenzo pria seusianya. Dirinya memeiliki dendam kesumat terhadap Kenzo yang rahasia. Makanya, Jade rada berkonfrontasi tak pernah akur.


Matanya terpejam sejenak, dan muncullah sosok Frayza dalam kenangan terakhir bertemu.


“Mama... “ lirihnya.


Kenzi tahu jika, Jade sangat merindukan ibunya. Sampai-sampai air matanya menetes saat terpejam. Kenzo adalah salah satu saksi hidup perjalanan Frayza. Ia tahu betapa sayangnya Frayza terhadap Jade. Dan suatu luka baru kini berlubang dihati Jade. Kepergian Frayza yang mendadak dengan cara tragis.


“Nyonya adalah wanita yang sangat tangguh, dia sangat keren.” Kenang Kenzo.


“Benarkah? Ceritakan padaku!” pinta Jade membuka matanya perlahan.


“Dulu kami adalah teman satu tim pelatihan militer yang terpilih untuk menjadi pengawal khusus. Dibawah Katua Matsumoto, waktu itu dia dipanggil ‘Botak menyebalkan’.”


“Dan sekarang dia tidak lagi botak, tapi kau yang menyebalkan menurutku!” potong Jade.


“Kalau kau mengarang, ku tendang keluar dari pesawat!” ancam Kenzo.


“Berikan saja Aku parasut, akan ku lakukan maumu!” tantang Kenzo tak mau kalah.


“Sialan!” mengumpat.


“Lanjut ya, ehemb.”


Maka kenangan pertama kali Kenzo bertemu Frayza kini terlintas lagi.


“Kami menjalani sesi latihan berat dalam militer yang diselenggarakan secara ilegal. Pasukan terbaik dan pilihan dikirim untuk menjadi pengawal khusus Tuan Besar. Semuanya para pria yang hebat, dan Nyonya satu-satunya wanita disana.”

__ADS_1


“Kerennn...” sanjung Jade kagum terhadap ibunya.


“Bukan begitu, yang tak kalah kerennya itu. Nyonya menyamar sebagai pria, dan aku sering kalah latihan dariku.”


“Memalukan sekali, kau sungguh payah Kenzo.”


Kali ini Kenzo sedikit merendahkan diri, agar Jade bisa mengumpatnya dengan leluasa.


“Apakah Papa tidak menerima pengawal wanita? Kenapa bisa Mama seorang wanitanya? “


“Tuan besar memiliki rahasia yang harus kami jaga sampai mati. Intinya, Nyonya ialah wanita yang membuat pria berdarah dingin itu mempertaruhkan nyawanya. Walaupun hujan, petir, jurang, bom, tembakan, pedang tidak menyurutkan nyali Tuan Besar. Jika Anda bersikeras pergi meninggalkan Inggris. Sedangkan disana makam Nyonya belum kering, untuk apa? Tuan Besar dalam keadaan koma, apakah Tuan Muda tidak akan menyesal bila melewatkan ini?”


“Mulut kotormu itu perlu disumpal Kenzo, kalian memegang bukti kejahatan kriminal. Aku harus membunuh pelakunya!”


“Tidak! Anda tidak berhak mengotori tangan yang masih suci. Nyonya akan kecewa jika putranya menjadi pembunuh. Jangan membuat mendiang Nyonya menerima cap buruk memiliki putra seorang pembunuh.”


“DIA MERENGGUT NYAWA MAMA,KENZO!”


“Berulang kali, nyawa Nyonya selalu dalam bahaya. Dan Tuan Besarlah yang menyelamatkan beliau. Jadi biarkanlah tangan Tuan Besar lewat kami yang menghabisinya.”


“Aku tidak yakin dengan kemampuanmu, kau sendiri mengakui selalu kalah dari Mama.”


“Itu dulu, sekarang aku sudah profesional dan terampil.”


“Tapi aku bisa melakukannya Kenzo!”


“Tuan muda masih butuh banyak latihan jika ingin bersikap jagoan. Jika hanya menodongkan pistol saja, maka cara itu dilakukan seorang amatiran. Mudah dijebloskan di Penjara. Kuno!”


“Lalu aku harus bagaimana biar keren dan elegan?”

__ADS_1


“Pake akal dong!”


“Sok ah!”


__ADS_2