
“Pakai parasut ini!” melemparkan kepangkuan Frayza.
“Hah?” tidak paham.
“Lima menit lagi kita akan terjung dari pesawat ini, cepat pakai parasut ini sebelum pilot membuka pintu daruratnya. Itu artinya kau akan terpelanting dan terjun bebas tanpa parasut!” frayza lalu mengenakan tas yang berisi parasut juga helem dan kacamata.
Memang Ramon sudah berubah tidak waras, tapi ini adalah kegiatan latihan militer yang sering ia lakukan. Dan pintu pesawat terbuka, awan beriringan yang cerah mulai tampak jelas. Ramon berlari lalu meloncat keluar dan melayang-layang diudara. Ini adalah kesempatan pertama Frayza terjung bebas tanpa arahan Kaptenya. Dirinya sempat gugup, dan bila dia nekat apakah bisa mendarat dengan sempurna.
“Sa-ssssaatu, du-du-duaa.... Aaaaakkk tiga!” pada hitungan kedua Frayza meloncat keluar pesawat.
Ramon mengacungkan jempolnya lalu membalikkan tanda payah, dan hal yang mengerikan ialah memandang dibawah. Gunung berapi tepat berada diatas mereka. Dalam hatinya, Frayza ingin memaki Ramon tentang misi yang membahayakan ini. Setelah Ramon membukan parasutnya, kemudian Frayza mengikutinya. Mereka mengarahkan pendaratan disebuah pulau yang terpencil. Setelah berputar-putar diatas daratan luas, akhirnya mereka mendaratkan dirinya disebuah pulau pribadi. Keduanya terpelanting saat melakukan pendaratan dadakan.
“Hahaha bagaimana Frayza?” Ramon lega melihat Frayza kepayahan.
“Kau lebih kejam daripada pelatih di Militer!”
“Sudah ada yang menantimu, lihatlah.” Frayza menolah arah yang dituju Ramon.
Ternyata ada sebuah bangunan yang berbentuk Benteng. Ternyata ada Digna yang memakai kursi roda keluar bersama perawat.
“Fred!!!” teriak Digna.
Kondisi Digna ternyata sudah sakit parah selama ini, Ramon tidak mau menjelaskan. Biar Frayza sendiri yang mendeskripsikannya sendiri kondisi Digna.
“Ramon, kau belum memberitahu Digna kalau aku ini perempuan?”
“Tidak akan, maka dari itu sembunyikan jati dirimu. Kau adalah Fred selamanya.” Pinta Ramon.
“Baiklah,” Frayza mengangguk.
“Ayo kita sapa Digna, dia sudah menunggumu lama.”
Mereka masuk ke sebuah Benteng yang sudah berumur tua namun masih kokoh. Dalamnya terdapat barang-barang yang modern dan canggih. Bahkan ada jaringan satelit pribadi untuk akses internetnya.
“Selama beberapa tahun ini, darimana kalian mendapatkan semua ini?”
“Jangan terburu-buru bertanya, kau baru saja lulus ujian militer. Ayo kita rayakan pesta kelulusanmu.” Ramon membawa anggur tahun 1870.
“Ayolah Fred, ini adalah cara kami mendapatkan kekayaan. Kau akan kami ajari hingga pintar.” Imbuh Digna yang berada di kursi roda.
“Kau pasti bertanya-tanya bukan, kenapa Digna berada diatas kursi roda?”
__ADS_1
“Jika kalian sungkan jangan ceritakan.”
“Aku menderita kangker tulang Fred, dan belum dapat donor sumsum yang tepat. Mungkin umurku sudah tidak akan lagi hiks hiks hiks.”
“Sayang, aku akan mencari alternatif lain memperpanjang umurmu.” Ramon memeluk kekasihnya.
“Apakah sumsumku bisa didonorkan?”
“Sangat sulit peluangnya, tapi apa kau mau mencobanya?”
“Aku mau seumur hidupku menjadi donaturnya, asal Digna sembuh.”
“Fred, apakah kau serius.”
“Tapi, sumsum tulang itu sulit menentukan kecocokannya, walaupun susunannya sama, belum tentu tubuh nona digna mau menerimanya.” Ujar perawat membawa obat penenang.
Saat situasi malam mulai larut, Frayza hendak beristirahat tidur. Namun, sepertinya dia mendengar langkah orang berjalan. Dan ada bayangan yang sekelebat liwat melalui terawan jendela. Dia merogoh pistol yang berada di bawah bantalnya.
Prang... Klotak... Klotak... Dug bag bug diaarrr... Suara gadus dibawah sangat berisik. Frayza bangkit dari ranjangnya, namun kamarnya terkunci dari luar. Ternyata kursi mengganjal pegangan pintu kamarnya. Dia tidak mungkin berteriak, takutnya membahayakan dirinya. Dia akhirnya menyobek sprai mengikatnya menjadi tali yabg panjang. Kemudian menjulurkan keluar hingga ke tanah. Sebelum, dia menuruni jendela ada suara helikopter yang hendak mendarat. Dia melihat wajah dua orang wajah pria dalam kegelapan.
“Cepat kita harus pergi sebelum dia datang!” ucap pria yang memakai baju serba hitam.
Mereka ada tiga orang, dan mamakai pedang panjang khas ninja. Frayza ingat pelajaran menembak, dia menembak punggung salah satu ninjanya. Duoorrr, tepat sasaran mengenai punggung ninja. Kedua rekannya yang sudah berlari jauh itupun memilih kabur dan tidak menolongnya. Digna dan perawatnya sudah terkapar di lantai, kondisi ruangan sudah porak poranda berantakan.
“Jaga Ramon,” sekali lenguhan dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Perawatnya sudah meninggal bersimbah darah, dengan posisi ditikam pedang dalam keadaan yang sama mengenaskan.
“Hiks... Hiks... Ramon!!! Kau kemana Ramon!!!” begitulah Frayza berteriak sekencang-kencangnya.
Salah satu ninja yang terluka itu, melompat kelaut, dan berenang kesebuah kapal misi mereka. Diatas kapal, dia ditolong krunya. Darahnya masih mengalir karena tembakan peluru dari Frayza.
*
*
*
Rencananya Ramon pergi menjemput Dokter Kelvin untuk mengecek kecocokan donor sumsum untuk Digna. Ketika sudah mendaratkan helikopter, Ramon mendengar suara teriakan memanggil namanya.
“Dokter, apa kau dengar orang memanggil namaku?”
__ADS_1
“Iya, aku dengar. Sepertinya dari dalam bentengmu.”
Seketika ia mendapati Benteng yang sudah jadi rumahnya berantakan dan hancur. Perawatnya sudah meninggal dan Frayza memangku kepala Digna yang sudah tidak bernyawa. Gadis itu menangisi kekasih sahabatnya.
“Apa yang terjadi Fred?” Ramon mendekati keduanya.
“Kami diserang kelompok tidak dikenal, dan aku telat menyelamatkan Digna huaaaa hiks hiks hiks.”
“Sayang, ayo bangun hai bangun. Aku bawa Dokter Kelvin untuk memeriksamu, ayo bangun?” Ramon menepuk pipi Digna berulang kalinya.
“Dia sudah tiada,” Dokter Kelvin usai memeriksa denyut nadi Digna.
“Fred, aku turut berduka cita. Maafkan aku yang gagal menyelamatkan Digna.”
“Kau kan bisa bela diri, kenapa tidak cepat!” membentak.
“Aku terkunci dikamar, pintunya tak bisa aku buka. Aku saja lewat dari jendela kamarku, Mon!”
“Ada bekas darah, mungkin ini bisa jadi petunjuk kejadian ini.”
Dokter Kelvin yakin kalau ini adalah sabotase yang direncanakan. Dan pintu kamar Frayza sudah diganjal kursi agar tidak bisa keluar. Serta mengulur waktu pertolongan. Malam harinya Dokter Kelvin membuat catatan kematian untuk Digna dan Perawat yang Malang. Dan Ramon bersama Frayza menggali kuburan untuk memakamkan segera. Mereka berdua kelelahan, dan belum sempat istirahat. Lantas mengebumikan jasad kedua orang yang bernasib naas itu.
“Pulau ini sudah tidak aman lagi, kita harus pergi meninggalkan Pulau ini.”
“Apa kau akan menyerah?” tanya Dokter Kelvin.
“Tidak, aku rasa ini ada hubungannya dengan beberapa misiku yang terdeteksi.”
“Misi apa?” Frayza penasaran.
“Siapa kau?” tanya Dokter Kelvin.
“Dia anak didikku, patner baru kita dalam dunia kita.”
“Oh begitu ya, selamat datang di tim kami. Perkenalkan aku Dokter Kelvin.”
“Aku Fred,”
“Dia perempuan, nama aslinya Frayza. Aku yang menyamakannya, sebenarnya dia adalah jasad yang kita palsukan kematiannya.”
“Astagah!” menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
“Aku hampir lupa kalau anda adalah Dokter waktu itu, terimakasih atas pertolongan anda dulu Dokter.”
Kilas baliknya,Dokter Kelvin merupakan anggota peretas yang bekerja sebagai Dokter untuk penyamarannya. Dan posisi Digna sebagai pengendali di balik layar, bagian eksekusi lapangan adalah Ramon. Hasil kekayaan mereka meretas berbagai situs judi besar dan beberapa rekening bank perusahaan gelap.