
Sejak membuka mata Hikashi tak pernah berhenti memperhatikan bentuk tubuh Frayza. Dia merasa bangga dan bahagia, “Jujur, sebenarnya kehamilanmu inilah yang membuatku menjadi pria sempurna.”
“Kenapa?” Frayza meletakkan guntingnya.
“Entah kenapa kau begitu cantik dan menggairahkan ketika berbadan dua Sayang.” Tangannya mengambil gunting dan memotong tangkai bunga di Vas.
Dalam hati kecil Frayza, ini pengalaman yang luar biasa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Hanya saja, duku ia memiliki tekanan dan kesedihan. Frank tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Bahkan pria kejam itulah yang membunuh janin-janinnya.
“Suamiku, apakah kau tidak ada pekerjaan?”
Mata Hikashi menatap tajam dan bibirnya cemberut. Ia sepertinya tidak suka dikomentari Frayza. “Aku mau merias bunga, apa ada masalah?” Hikashi marah dan tersinggung, tanpa melihat tangkai bunga sudah ia potongi.
“Ups, lihatlah kau memotong tangkai bunganya kan.”
“Hah,” semua tangkai yang berbunga sudah putus, hanya berdiri tangkai dedaunan.
“Aduhhh, bagaimana ini.” Nasib bunga hias di vas menjadi korban.
“Aiissshhh sudah, ayo kita pergi saja. Masalah seperti ini bisa kita perbaiki.”
“Seharusnya kau minta maaf kepadaku, lihatlah ulahmu ini. Sekarang jelek bukan!”
“Hai! Kau yang mengajakku bicara, apa kau tidak tahu kalau aku ini memiliki banyak koleksi bongsai mahal?”
“Tapi kan kau yang memangkas habis tangkainya, bagaimana ini?” raut wajah Frayza sedih mengatai vas bunga yang gundul.
“Haiii wanita, tidak bisakah raut wajahmu itu dirubah?”
“Tidak bisa!”
“Membantah?”
“Eh tidak Suamiku hehehehehe,” padahal kesal tapi terpaksa berbohong. Demi menjaga emosi Hikashi, biasanya Frayza mengalah.
Datanglah Matsumoto, “Tuan Muda, mobilnya sudah siap.”
“Ayo kita pergi.” Menarik tangan Frayza.
“Tunggu dulu, kita mau pergi kemana?”
“Ke hutan, aku mau melihat musuh.”
“Hah, kau memiliki musuh di hutan?”
“Ya!”
Daripada kena marah lagi, Frayza berbegegas menuruti kemauan suaminya. Kendaraan yang mereka naiki sangat nyaman, sehingga kantuk pun datang menggelayut. Dilihatnya mata istrinya terpejam, Hikashi memulai pembicaraan dengan Matsumoto.
“Aku dengar disekitar sini ada tempat tersebut, kita kesana sana.”
“Baik Tuan muda.”
“Beritahu Patrick untuk segera keluar dari Inggris, katakan padanya liburannya sudah tiba.”
“Baik Tuan Muda, lalu bagaimana dengan Nona Franda?”
“Jika dia masih ingin hidup ajak saja, setidaknya dia dapat mengasuh Jade. Daripada dia masih di Kastil menjadi mengsa Damora.”
“Apakah Nona Damora akan melancarkan aksinya?”
“Sepertinya iya, jangan membunuh. Aku tidak mau anak yang dilahirkan Frayza seorang pembantai nyawa orang.”
“Saya akan ingat pesan anda Tuan Muda.”
Tibalah mereka ditempat yang dimaksut tadi sebuah toko bunga yang bernuansa kebun alam yang asli. “Cuphs...” Hikashi mencium pipi istrinya.
__ADS_1
“Heekkssss hoaammm, aku ketiduran ya.”
“Sejak kau hamil menjadi pemalas, apa begitu santai kehidupanmu disini? Mulai mengomel lagi.
“Sayang, aku mengembang beban yang berat ditubuhku.” Menunjuk perutnya.
“Hai anak Papa sayang, cepat keluar ya biar Papa bisa gantian menggendongmu.” Mencandai perut Frayza seperti lelucon saja.
“Pfffttttt,” melipat bibirnya menahan tawa.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Oh itu, soal menggendong. Kau kan sangat sibuk sekali, mana ada waktumu untuk menggendong anak?”
“Itu... Eng... Nganu enggg.”
“Ssstttttt,” menempelkan jari telunjuknya dibibir Hikashi. Frayza mendekatkan wajahnya dan terlihat jelas wajahnya di bola matanya. “Sayang, jangan menjanjikan apapun. Karena itu akan menjadi hutang, kau kan sibuk. Ya sudah, aku pun memakluminya.”
Frayza berjalan dipijakan batu, kiri dan kanannya ada banyak pohon serba hijau. Setelah itu ada beberapa rak bunga ditaruh pada pot. “Aduh hampir saja.” Permukaan lantai agak licin. Lantas dari belakang Hikashi memondong Frayza sampai di meja makan mereka. Orang-orang yang menyaksikannya tertegun melihatnya. Mungkin mereka menganggap jika mereka berdua adalah pasangan yang baru menikah.
Hikashi memesan meja makan yang paling Indah tempatnya. “Kenapa hidangannya sudah siapa?” karena diatas meja sudah terhidang makanan yang begitu asing.
“Husstt, jangan memelototi makanan seperti itu. Mereka untuk dimakan bukan untuk ditonton.”
“Tapi ini apa?” Frayza sedikit menggerutu karena dia sudah ingin makan buah segar dan asam.
“Sayang, ini semua makanan yang baik untuk badanmu. Bayi kita perlu banyak nutrisi untuk perkembangannya. Kemarikan piringmu,” Hikashi mengambilkan porsi makan untuk disantap Frayza.
Awalnya Frayza baik-baik saja saat menelannya, “Hummmb,” dia tak tahan lagi dengan mualnya. Hikashi mengejar Frayza pergi, dia sudah kehilangan nafsu makannya.
“Kau kenapa?”
Frayza memuntahkan semua isi dalam perutny, “Jangan kemari, ini menjijikan.” Melarang Hikashi mendekatinya. Lalu Hikashi pergi menemui Manajer dan Koki. “Aku akan menuntut kalian karena sudah menaruh racun dimakanan istriku!”
Manajer dan Koki itupun tak bisa berbuat banyak kecuali berpikir. Mereka sudah menjalankan prosedurnya dengan benar. Tapi mendapat omelan dari tamu. “Matsumoto, laporkan hal ini kepada pihak berwajib!”
Frayza datang, ia mendengar jika Hikashi menuntut Restoran. Lelaki itu tak tahu jika wanita hamil mengalami perubahan hormon. “Sayang,” Frayza datang.
“Kalian lihat, istriku ini muntah karena makanan dari Restoran ini!” melempar kain ke tubuh Manajer. Demikian Koki yang memasak tak lepas dari ancaman Hikashi.
“Tunggu sebentar, mungkin kau salah paham sayang. Sebenarnya mereka tidak bersalah kok.”
“Apa? Mereka menaruh racun dimakananmu masih kau bela mereka!”
“Tidak begitu Sayang, kau juga tidak bersalah lagi dan sudah benar. Tapi aku tidak keracunan, dan terimakasih banyak kau sudah mengkhawatirkan aku. Aku mual karena tidak tahan mencium aroma daging. Aromanta begitu kuat dan pekat, asam lambungku langsung naik. Aku tidak diracuni Sayang, ini wajar terjadi pada wanita yang hamil.”
“Nona, kau jangan mencoba melindungi mereka!” Matsumoto ikut menuduh konspirasi makanan beracun.
Frayza tak enak hati dengan Manajer dan Koki yang bekerja. Dia hanya bisa mengelus dada sambil membatin, kenapa dua orang yang belum pernah menjadi calon ayah sudah berani menuduh.
“Maafkan kami Tuan Hikashi, kedepan akan lebih saya tingkatkan lagi pelayanan kami.”
“Tidak semudah itu!” gertak Matsumoto yang sudah panas.
Frayza menengahinya lagi, agar suasana tidak menjadi tegang. “Suamiku sayang, aku sedang hamil. Indra penciumanku kadang tidak kuat dengan aroma yang pekat, ini murni karena bayi kita.” Sambil memasang wajah imutnya.
Hikashi tentu tidak mudah percaya, sampai datanglah seorang wanita. “Tuan, dulu waktu aku hamil juga mengalami hal yang serupa. Lihatlah.” Perempuan itu menyantap bekas hidangan milik Frayza. “Aku tidak mati bukan?” sambil terus mengunyah.
“Kau sudah meminum anti racunnya, makanya kau kebal!”
“Tidak Tuan, kebetulan aku seorang bidan kandungan. Ini data diriku, silahkan periksa.”
Hikashi tak mau melihat kartu pengenal anggota dan acuh. Dia merasa benar dan yakin bila istrinya keracunan. “Matsumoto, cepat panggil Polisi!”
“Ya ampun kenapa menjadi kacau seperti ini sih, hufft.” Frayza benar-benar merasa kacau.
__ADS_1
Hingga Polisi datang bersama penguji bahan makanan, “Tidak ditemukan kandungan racun, makanan ini dalam keadaan layak makan.”
“Apa?”
“Artinya makanan ini tidak mengandung racun Sayang.”
“Cih,”
“Tuan muda, sepertinya kita akan malu deh.”
“Apa urusannya denganku, kau kan yang memanggil mereka datang kemari.”
“Hah, kenapa aku?” menunjuk hidungnya.
“Maafkan sikap Suami saya, sebentar lagi Suamiku akan menjadi ayah dari bayi yanh aku kandung. Dia tidak paham tentang kondisi wanita yang sedang hamil. Aku tadi merasa mual karena aroma daging yang kuat.” Sambil dpelototi Hikashi yang kepalang malu.
“Ohh begitu ya, ada-ada saja.” Ucap Polisi yang tiba di tempat kejadian.
“Haduuuhh bikin senam jantung saja.” Koki melepaskan topinya dan melenguh kesal.
“Bagaimana Tuan Hikashi, sekarang anda sudah yakin bukan kalau kami tidak meracuni istri anda?”
“Huh, percaya diri sekali kalian. Lagipula aku kan mengkhawatirkan istriku. Memangnya aku salah, cih.”
Benar-benar Tuan muda yang keparat sekali, seenaknya saja menuduh orang. Dan tidak merasa bersalah, sekarang Hikashi memalingkan wajahnya dan pura-pura tidak terlibat. Akhirnya Matsumoto meminta maaf dan memberikan uang damai. Supaya kejadian ini tidak menyebar sampai keluar. Acara makan diluar berakhir gagal. Hikashi tidak mau terlibat dalam. Kekacauan ini, dan mengalihkan pandangannya. Frayza menyadari suaminya memiliki sikap ke kanak-kanakan. “Pffftttt,” tertawa kecil.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Kau,” menowel perut Hikashi.
“Aku tampan?”
“Huuuu, kumat penyakitnya. Tidak akan ku beritahu, ini rahasiaku.”
“Fray, woi... Apa yang sembunyikan! Kau naksir dengan salah satu pria di Restoran tadi? Manajernya? Kokinya? Polisinya? Tenaga medisnya?”
“Pfffttt... Hush, diam!” menenangkan suaminya.
“Bagaiamana aku bisa tenang, kau mau mati disana. Dan sekarang kau memberikan senyumanmu itu kepada pria lain. Aku benci padamu!” Hikashi ngambek berjalan lebih cepat menuju mobilnya. Frayza yang sedang hamil tidak mampu menjangkau langkah lebar dan jenjang Hikashi.
“Auhhhh, perutku sakit.” Frayza mengusap perutnya yang tiba-tiba merasa sangat kencang. Ia meraba apapun untuk dijadikan pegangan.
“Nona, kau kenapa?” dibantu berdiri oleh Matsumoto.
“Ini kontraksi, aku belum biasa dengan keadaan ini. Bisa bantu aku berjalan?”
Matsumoto tidak melihat keberadaan Hikashi yang sudah dulu duduk didalam mobil. Pria itu menggerutu dan menendang kursi sopir berulang kali. Alangkah terkejutnya ia saat Matsumoto membuka pintu dan memapah Frayza. Awalnya Hikashi ingin marah, tapi melihat Frayza ngos-ngosan mengatur napasnya. Hikashi menjadi panik dan ketakutan.
“Tuan, tadi aku menemukan Nona tengah kontraksi. Maaf sudah lancang memegang tangan Nona.”
“Hemmb, potong gaji.” Jawab Hikashi menghukum Matsumoto karena sudah menyentuh wanita miliknya.
Penasaranlah Hikashi, ia mengusap perut istrinya. “Waw, bergerak.” Teriaknya antusias.
“Hehehe kau lihat Sayang, anakmu sedang menyapamu hehehe.”
“Dia sedang apa?”
“Papa, jangan marah-marah terus. Menurut sama Mama karena aku sudah merepotkannya. Hehehe begitu katanya.”
“Kau mengada-ada kan.”
“Mana mungkin aku begitu, bayinya kan terhubung denganku secara langsung. Sebagai ibunya aku tentu mewakili anakku. Bagaimana sih.”
“Benarkah? Katakan pada anak kita, Papa tidak akan marah kok sayang. Karena Papa sayang kalian berdua, muaaccchhh.”
__ADS_1
Mobil kemudian melaju membawa mereka pulang ke Villa. Didalam mobil, Matsumoto menjadi bingung, karena Bosnya mendadak melakukan hal aneh. Berbicara dengan bayi dalam perut Frayza. Mungkin naluri sebagai ayah pada Hikashi sudah mulai aktif.